Jatna Supriatna Raih Penghargaan dari Organisasi Konservasi Internasional

Jumat, 03 March 2017, 08:34 WIB,  http://www. republika. co. id/berita/komunitas/aksi-komunitas/17/03/03/om7tos280-jatna-supriatna-raih-penghargaan-dari-organisasi-konservasi-internasional

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA —  Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Belantara Prof. Jatna Supriatna menerima penghargaan Life time Achievement Award and Leadership on Biodiversity Conservation oleh organisasi Conservation International. Penghargaan diberikan atas kiprah Jatna Supriatna atas kiprahnya di bidang konservasi. Penghargaan diberikan pada 27 Februari lalu di Bali dalame event yang diselenggarkan organisasi Conservation International, dimana Jatna Supriatna hadir selaku Vice President, menajemen berkebangsaan Indonesia pertama yang mengepalai sebuah program konservasi pada organisasi tersebut. Pada kesempatan yang sama Jatna Supriatna juga mendapatkan penghargaan yang sangat istimewa dari para peneliti yang tergabung dalam Primate Specialist Group dari IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebagai apresiasi untuk dedikasi yang dilakukan beliau pada bidang ini. Para peneliti tersebut mengumumkan persembahan kepada Jatna Supriatna dengan mencantukan nama beliau pada penamaan spesies primata yang baru mereka temukan, ‘Tarsius Supriatnai’. “Saya merasa sangat bersyukur dan sejujurnya sangat terkejut akan penghargaan ini,” ujar Jatna Supriatna. Ia mengatakan, penghargaan tersebut adalah hasil dari konsistensi yang ia lakukan dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati selama 42 tahun sejak tahun 1075. “Saya sangat senang karena hasil kerja saya diakui oleh dunia internasional, dan juga oleh seluruh kolega saya yang menggeluti hal yang sama. Saya juga memahami bahwa ini merupakan tanggung jawab serta tantangan yang besar untuk saya. Diperlukan adanya motivasi bersama untuk memperjuangkan isu konservasi ini,” kata dia. CEO Yayasan Belantara, Agus P. Sari memberikan selamat atas apa yang diraih Jatna Supriatna. It’s okay to mention your prior or online homework help https://pro-homework-help.com future books in conversation so you can both decide if those projects are mutually interesting. “Saya serta segenap management Yayasan Belantara mengucapkan selamat serta apresiasi yang tinggi kepada Prof. Jatna Supriatna, Wakil Ketua Dewan Pembina kami dan sahabat saya, atas capaiannya yang sangat menginsipirasi. Penghargaan ini sangat membanggakan karena tarafnya pada level global, merefleksikan betapa besarnya kontribusi beliau sebagai pakar di bidang ini,” kata dia. (Red: Hazliansyah)

 

Scopus, ISI-Thomson, dan Predator

Oleh: Terry Mart  ;    Dosen Fisika FMIPA UI;                                                                        Anggota KIPD-AIPI   

KOMPAS, 28 Februari 2017

Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 mewajibkan seorang profesor dalam tiga tahun menghasilkan satu karya ilmiah di jurnal internasional bereputasi, atau tiga karya ilmiah di jurnal internasional, serta menulis satu buku. Jika tidak, maka tunjangan kehormatan akan dihentikan. Hal yang mirip, tetapi lebih lunak, juga diberlakukan kepada dosen dengan jabatan lektor kepala. Untuk bidang-bidang tertentu, karya ilmiah tersebut dapat diganti paten atau karya monumental.

Peraturan baru ini memicu pelbagai diskusi. Tampaknya masalah penulisan buku jarang diributkan, yang sering diributkan adalah menulis di jurnal internasional bereputasi. Penyebabnya jelas, definisi jurnal internasional bereputasi sangat robust (kokoh) dan harus terindeks oleh basis data Scopus. Satu dekade lalu saya mengkritik penggunaan faktor dampak (impact factor) salah satu produk pengindeks ISI-Thomson (Counting Papers, Symmetry 2006). Im selben jahr schreib-essay.com/ nahm er an der synode von guastalla teil. Beberapa tahun kemudian merebak isu jurnal predator, jurnal abal-abal yang dieksploitasi untuk keuntungan finansial bagi si pembuat (Kompas, 2/4/2013). Kemudahan pembuatan jurnal predator dipicu oleh pesatnya perkembangan internet dan munculnya sistem jurnal open access. Jumlah penerbit jurnal predator pun meledak, hampir mencapai 1. 000 penerbit pada akhir 2016. Bayangkan berapa banyak jumlah jurnal predator jika setiap penerbit rata-rata menghasilkan 100 jurnal!

Indeks Scopus

Belakangan Dirjen Dikti menggunakan pengindeks Scopus sebagai acuan jurnal internasional bereputasi. Dengan bantuan Scopus, para pembuat kebijakan, panitia penilai kepangkatan, serta pemberi insentif publikasi sangat terfasilitasi. Penggunaan Scopus mungkin merupakan jalan tengah, mengingat ISI-Thomson sangat ketat sehingga hanya jurnal-jurnal papan atas yang terindeks. Hampir seluruh jurnal yang diindeks ISI-Thomson juga diindeks oleh Scopus. Meski demikian, Scopus memiliki beberapa kelemahan. Misalnya, Scopus adalah bagian dari Elsevier, penerbit ribuan jurnal ilmiah yang berpusat di Belanda. Scopus juga progresif memasukkan jurnal ke dalam basis data mereka sehingga cukup banyak jurnal kurang pantas dan predator ikut terindeks. Baru-baru ini kita dihebohkan dengan lenyapnya blog Jeffrey Beall yang memuat kriteria, daftar jurnal, dan penerbit predator. Belum ada penjelasan mengapa laman tersebut tiba-tiba hilang. Yang jelas jurnal abal-abal akan terus bertambah dan definisi jurnal predator akan tergerus. Pemerintah dan akademisi akan direpotkan dengan makalah abal-abal yang diklaim terbit di jurnal internasional. Tentu saja jalan keluar yang mudah adalah kembali ke Scopus atau mulai menggunakan basis data ISI-Thomson. Menarik untuk diamati bahwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sangat antisipatif menghadapi kerunyaman ini. Jauh sebelum lenyapnya blog Jeffrey Beall, LIPI sudah mengusulkan jurnal internasional yang dapat dinilai dibagi dalam lima peringkat, yaitu jurnal dengan peringkat Q1 hingga Q4 versi ISI-Thomson, sementara di peringkat kelima adalah jurnal yang hanya terdaftar di Scopus dengan terbitan perdana sebelum 2003. Definisi LIPI dapat saja diadopsi untuk perguruan tinggi (PT). Namun, atmosfer PT yang egaliter mungkin sulit menerima ini. Dibutuhkan definisi baru yang bebas Scopus, ISI-Thomson, dan sekaligus jurnal predator. Definisi yang lebih hakiki

Apa tujuan paling hakiki dari publikasi karya ilmiah? Jawaban sederhana tapi operasional adalah guna memberi tahu kepada kolega sebidang bahwa si penulis karya ilmiah telah mendapatkan satu temuan penting dari penelitiannya. Dalam banyak kasus, hanya kolega yang penelitiannya sama atau mirip saja yang dapat benar-benar paham. Di sini mulai terasa pentingnya eksistensi komunitas peneliti sebidang dalam memajukan ilmu mereka. Sebagai peneliti yang baik, seorang dosen tentu mengenal komunitas bidang ilmunya di tingkat nasional ataupun internasional. Sebab, dari waktu ke waktu, ia harus selalu meng-update diri dengan rutin membaca karya-karya ilmiah di bidangnya. Tentu saja masalah apakah ia dikenal atau terkenal di komunitas dapat dianggap pertanyaan sekunder karena sangat bergantung pada produk penelitiannya. Jadi, dosen tadi tahu persis siapa yang aktif atau bahkan leading (memimpin dan menjadi acuan) dalam bidangnya di tingkat nasional ataupun internasional. Boleh dikatakan, tidak ada yang tahu persis kontribusi seorang ilmuwan kecuali komunitasnya. Mereka yang leading di komunitas tentu saja merupakan pakar bidang tersebut. Dengan demikian, jurnal internasional bereputasi untuk satu bidang ilmu adalah jurnal tempat para pakar internasional bidang tersebut memublikasikan karya ilmiahnya. Analog untuk jurnal nasional bereputasi. Definisi ini perlu diperjelas ke tingkat yang lebih operasional. Hampir setiap bidang ilmu memiliki organisasi atau asosiasi bidang ilmu. Karena mereka yang aktif meneliti umumnya menjadi anggota asosiasi tersebut, asosiasi suatu bidang ilmu berperan penting dalam mengarahkan pengembangan bidang tersebut. Hampir semua asosiasi menerbitkan jurnal ilmiah yang menjadi rujukan anggotanya. Dengan demikian, jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh asosiasi bidang ilmu yang sudah mapan dan menjadi rujukan peneliti dunia dapat dipakai sebagai jurnal internasional bereputasi primer karena di sanalah para pakar bidang tersebut berkiprah. Umumnya, negara-negara maju memiliki asosiasi seperti ini. American Chemical Society, American Geophysical Union, dan American Medical Association adalah contoh asosiasi dari Amerika. Dari belahan lain ada Japan Physical Society dan European Physical Society. Bagaimana dengan jurnal-jurnal dari penerbit komersial, seperti Elsevier, Springer, dan Wiley? Di sini kita membutuhkan definisi jurnal internasional bereputasi sekunder. Apakah jurnal-jurnal tersebut juga dirujuk atau menjadi tempat publikasi para pakar internasional di atas? Jika jawabnya ya, maka jurnal-jurnal komersial ini haruslah sering dirujuk oleh jurnal internasional bereputasi primer. Dengan definisi yang lebih operasional, jurnal-jurnal tersebut haruslah sering ditemukan pada daftar acuan (referensi) jurnal internasional bereputasi primer. Idealnya, dengan definisi di atas, kita dapat menciptakan sistem pengindeksan sendiri, bebas dari Scopus dan Thomson. Seorang kolega dari bidang filsafat bercerita bahwa mereka lebih memilih menulis buku ketimbang menulis di jurnal ilmiah. Ketika di kampus kami diluncurkan program dosen inti penelitian, terlihat bahwa peneliti di bidang sains, teknologi, dan kedokteran lebih memilih jurnal ilmiah sebagai tempat publikasi, sementara untuk bidang lain penulisan buku menjadi favorit. Jadi, mungkin lebih baik kewajiban menulis di jurnal dan buku dalam peraturan di atas diganti dengan jurnal atau buku.

.

In Memoriam Prof. Dr. H. Umar Anggara Jenie

2. Prof Umar JenieSuatu kehilangan besar bagi keluarga besar AIPI dan LIPI serta UGM  serta handai taulan atas berpulangnya salah satu anak bangsa yang banyak jasanya bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada Kamis (26/1) tepatnya pukul 03.30 WIB di Yogyakarta dalam usia 67 tahun, sesaat sedang menjalankan shalat malam. Semoga arwah beliau beristirahat dalam damai abadi dan keluarga besar Prof. Dr. Umar Anggara Jenie dikuatkan dalam keteguhan iman.

Dunia ilmu pengetahuan kembali berduka, sosok ilmuwan yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) periode 2002-2010 Prof. Umar Anggara Jenie berpulang.   Menurut keluarga, almarhum disemayamkan di Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM) pukul 12.30 WIB dan dimakamkan di makam Sewu Sentul pukul 14.00 WIB.

Kepala LIPI  Iskandar Zulkarnaen mengatakan, sosok Umar Anggara Jennie ketika menjabat sebagai Kepala LIPI saat itu tampil sebagai sosok yang sangat perhatian untuk memajukan ilmu pengetahuan. “Kontribusinya dalam pembangunan melalui upaya mempertemukan para ilmuwan Indonesia dalam event-event nasional seperti Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional dan Widya Pangan dan Gizi yang membahas perkembangan ilmu pengetahuan dan menghasilkan rekomendasi untuk pemerintah yang dapat menjadi dasar untuk melahirkan kebijakan,” katanya di Jakarta, Kamis (26/1).

Selain itu tambahnya, pada masa kepemimpinannya juga dilahirkan gelar profesor riset sebagai puncak karier seorang peneliti, tentu dengan persyaratan akademis yang layak.

Prof Umar Anggara Jenie lahir di Solo, Jawa Tengah, 22 Agustus 1950. Beliau adalah seorang ilmuwan dan pengajar Indonesia. Ia resmi menjabat Kepala LIPI menggantikan pejabat sebelumnya Taufik Abdullah sejak 27 September 2002.

Ia berprofesi sebagai pengajar dengan menjadi Guru Besar Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi di UGM Yogyakarta, dan pernah menjabat wakil rektor bidang penelitian dan pengabdian masyarakat di salah satu universitas terbesar di tanah air tersebut.

Umar merupakan salah seorang ilmuwan Indonesia yang juga mendapatkan apresiasi di tingkat internasional. Ia adalah orang Indonesia satu-satunya yang pernah menjadi anggota salah satu kegiatan internasional yang peduli terhadap etika di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi baru, yakni International Dialogue on Bioethics of European Group on Ethics of Sciences and New Technology (IDB-EGE).

Karena jasa-jasanya dalam bidang ilmu pengetahuan, Umar bersama saudara kembarnya, Said Djauharsyah Jenie yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan yang telah berpulang tahun 2008 diberi penghargaan Bintang Jasa Utama Republik Indonesia oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan keduanya sebagai kembar pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut.

Prof. Umar Anggara Jenie adalah seorang Guru Besar Kimia Medisinal Organik di Universitas Gadjah Mada yang banyak berperan dalam mengembangkan kehidupan berilmu pengetahuan di Indonesia di bidang etika ilmiah, mendorong riset strategis, serta meningkatkan status pembinaan profesionalitas fungsional peneliti di tingkat nasional.

Umar Anggara Jenie, telah menginisiasi Komisi Bioetika Nasional dan menggolkan deklarasi internasional Universal Declaration on Bioethics and Human Rights serta membawa Pluralisme dan Keragaman Budaya serta Perlindungan Lingkungan, Biosfer, dan Biodiversitas menjadi bagian dari prinsip bioetika yang sebelumnya ditentang.

Pidato Pengukuhan: Kimia Sintesis Obat: Kompleksitas, Modifikasi, dan Konfirmasi Struktur Kimia Bahan Aktif Obat, tahun 2000. Selanjutnya Penghargaan: Piagam Kesetiaan 25 tahun mengabdi UGM, 2001. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberi penghargaan Sarwono Prawirohardjo IX 2010 kepada Prof Dr Umar Anggara Jenie MSc Apt. dan Dr BRAy Mooryati Soedibyo M Hum pada Hari Ulang Tahun LIPI ke-43 di Jakarta, Senin. Mantan Kepala LIPI Umar A Jenie mendapat penghargaan di bidang Etika Keilmuwan dan Mooryati Soedibyo di bidang Iptek Jamu dan Kosmetik Tradisional

Guru Besar Fakultas Farmasi, Prof. Dr. Umar Anggara Jenie, M.Sc., Apt, memaparkan sejarah berdirinya UGM, 19 Desember 1949, di tengah kancah revolusi Indonesia yang saat itu tengah menghadapi penjajah Belanda yang akan kembali. Jika dilihat secara fisik, UGM merupakan penggabungan dari beberapa perguruan tinggi yang sudah ada sebelumnya, yaitu perguruan tinggi keilmuwan yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Yogyakarta dan Solo. Berdirinya UGM sebagaimana semangat para founding father, kata Anggara jenie, adalah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Dikenal sebagai ilmuwan sains, mantan Kepala LIPI Umar Anggara Jenie ternyata sangat relijius. Umar memiliki kebiasaan menyelesaikan bacaan Alquran sehari satu juz.
Satu bulan atau 30 hari, dia bisa sekali tamat (khatam). Kebiasaan tersebut tetap dia lakukan meski sibuk mengikuti pertemuan-pertemuan keilmuan internasional. Umar adalah satu-satunya orang Indonesia yang menjadi anggota International Dialogue ono Bioethics of European Group on Ethics of Sciences and New Technology (IDB-EGE).

Umar selalu mencatat kapan khatam dan di mana. “Jadi ada yang khatam di Perancis, London, Mekkah, Turki dan lain-lain,’’ ujar Umar yang mendapat Bintang Jasa Utama RI untuk pengabdiannya pada Riset Saintifik di Indonesia bersama pasangan kembarnya, Said Djauharsyah Jenie (almarhum). Umar dan Said menjadi kembar pertama yang meraih bintang jasa utama.

Doktor lulusan Australian National University (ANU) menegaskan nilai reliji yang diyakininya sangat erat dengan ilmu sains yang ditekuninya. Dalam setiap sidang IDB-EGE, Umar selalu diminta memberikan pandangannya sebagai ilmuwan mengenai persoalan yang dibahas IDB-EGE.

Keterkaitan ilmu dan agama bagi Guru Besar Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi UGM ini juga ditunjukkan saat sebagai ketua LIPI diminta menjadi tim tafsir Alquran. Saat itu, Departemen Agama (Kementerian Agama) membentuk tim tafsir. Satu tim dari Depag dan satu tim dari LIPI yang ditunjuk Menristek. Tim Depag disebut Tim Syar’i, tim dari LIPI disebut Tim Kauni. ‘’Tim Kauni ini terdiri dari ahli di bidang sains, bioteknologi, kesehatan dan astronomi. Tim ini berhasil memberi pandangan tafsir kauniyah atau tafsir ilmi. Tahun ini, tafsir ilmi tersebut akan dicetak massal dan diedarkan,’’ tambah pria yang pernah menduduki jabatan wakil rektor UGM bidang penelitian dan pengabdian masyarakat ini.

Sosok Umar Anggara Jenie bisa menjadi cermin betapa pergaulannya begitu luas. Diterima di kalangan ilmuwan hingga tingkat dunia, tapi juga diterima di lingkungan keagamaan. Terlihat networkingnya sangat luas. Dan itu tidak diraih secara instan. “Ya, kita harus membangun networking sejak mahasiswa. Kita jangan melulu fokus pada bidang kita saja. Bidang keilmuan kita butuh ilmu-ilmu lain.

Umar adalah anak dari pasangan Nahar Jenie yang berdarah Minangkabau dengan Isbandiyah dari suku Jawa. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Titiek Setyanti dan telah dikaruniai tiga orang anak, yakni Siti Nurul Aisyiyah Jenie, Iffat Lamya Jenie dan Yazdi Ibrahim Jenie.
Ia merupakan salah seorang yang memakai nama belakang “Jenie” di antara beberapa orang kerabatnya, seperti Adlinsjah Jenie, Rezlan Ishar Jenie dan saudara kembarnya sendiri, Said Djauharsyah Jenie.

Ia berprofesi sebagai pengajar dengan menjadi Guru Besar Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan pernah menjabat wakil rektor bidang penelitian dan pengabdian masyarakat di salah satu universitas terbesar di tanah air tersebut. Ia juga aktif sebagai dewan kurator Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ).

Karena jasa-jasa mereka dalam bidang ilmu pengetahuan, Umar bersama saudara kembarnya, Said Djauharsyah Jenie (almarhum) diberi penghargaan Bintang Jasa Utama Republik Indonesia oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan mereka sebagai kembar pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut. Pada 2015 Umar Anggara Jenie Memperoleh Penghargaan UNESCO (14 September 2015).

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Prof. Dr. Umar Anggara Jenie merupakan satu di antara 14 tokoh nasional mendapatkan penghargaan dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis (27/8), di Jakarta. Umar, demikian ia akrab dipanggil, menerima penghargaan UNESCO di bidang sains. Selain Umar, dua orang tokoh penerima penghargaan yang sama adalah Prof. Sangkot Marzuki dan Prof. Indrawati Gandjar.

Ditemui di ruang kerjanya di Fakultas Farmasi UGM, Senin (14/9), Umar mengatakan penghargaan yang diterimanya merupakan apresiasi dari UNESCO atas kiprahnya telah mengembangkan bidang sains di Indonesia. Salah satu yang pernah dirintis oleh Umar adalah memfasilitasi para ilmuwan muda untuk mengikuti Lindau Nobel Laureate Meeting sepanjang tahun 2004 hingga 2008. Ketika itu ia masih sebagai ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Menurutnya, pertemuan itu sangat prestisius karena mempertemukan para ilmuwan muda yang berumur kurang dari 40 tahun dari negara dunia berkembang dengan para tokoh peraih nobel bidang fisika, biologi dan kedokteran. “Saat itu saya pernah berhasil mengirim 15 orang peneliti muda Indonesia setiap tahunnya dalam pertemuan tersebut,” ujarnya.

Dikatakan Umar, tidak mudah bagi ilmuwan muda bisa mengikuti pertemuan tahunan yang digelar di sebuah pulau di Jerman tersebut. Paling tidak salah satu syaratnya memiliki reputasi dalam publikasi riset sains. “Ilmuwan yang mengikuti ini memiliki reputasi baik dalam publikasi dan kemampuan berkomunikasi,” kata pria kelahiran Solo 67 tahun lalu ini.

Bagi Umar, apa yang dilakukannya bukan semata-mata menjalankan program UNESCO, melainkan mendorong ilmuwan muda menimba pengalaman lebih banyak dengan para peraih nobel di bidang sains. Lewat pertemuan itu pula memungkinkan para ilmuwan membangun kerja sama peneliti antarnegara. “Pengalaman tidak hanya ikut pertemuan, kita bisa menjalin kerja sama dan menggunakan fasilitas laboratorium riset dari negara maju,” tuturnya.

Meski demikian, Umar menyesalkan jika pengiriman ilmuwan muda dari Indonesia ke Lindau Nobel Laureate Meeting ini tidak diteruskan lagi sejak sepeninggalan dirinya sebagai ketua LIPI. Ia berharap program semacam ini bisa dilanjutkan kembali karena dalam pertemuan tersebut ilmuwan dari Indonesia dapat mengetahui tangga karier sesorang peneliti untuk bisa meraih hadiah nobel. “Tentu bisa menginspirasi mereka untuk terus meneliti,” terangnya.

Selain itu, Umar mengatakan ia melaksanakan program UNESCO lainnya dalam pengembangan basic science di Indonesia. Menurutnya banyak peneliti di Indonesia bahkan di negara dunia ketiga tidak banyak tertarik dengan riset penelitian dasar, mereka lebih banyak tertarik pada riset ilmu terapan. Padahal menurut Umar penelitian dasar merupakan kunci bagi sebuah bangsa dalam penguasaan ilmu sains. “Banyak program yang sudah diterapkan di Indonesia. Salah satunya yang berhasil kita lakukan dengan mengajak UNESCO untuk mendirikan pusat riset ekohidrologi dunia di tingkat Asia Pasifik,” katanya.

Menyinggung dengan perkembangan kemajuan sains di tanah air, Umar mengatakan kemajuan sains di Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Namun minimnya fasilitas dan pendanaan menyebabkan banyak peneliti yang setelah berhasil mengambil doktor sains di luar negeri, setelah pulang ke tanah air, tidak bisa mempraktikkan ide dan ilmunya. “Kita bisa maju dan berkembang dengan membentuk kerja sama terbuka dengan negara lain. Bisa dikatakan selama ini memang agak kurang,” paparnya.

Menurutnya bagi anak bangsa setelah selesai menyelesaikan pendidikan doktor di luar negeri seharusnya diberi kesempatan untuk mengembangkan karirnya baik di Indoenaisa maupun di luar negeri. Hal itu yang dilakukan India dimana para ilmuwan mereka saat ini banyak bekerja di lembaga riset dan beberapa universitas terkemuka di dunia. Menurutnya hal itu lebih penting ketimbang ilmuwan muda tidak bisa merealisasikan apa yang diinginkannya. “Orang pintar itu seperti orang gila, segera ingin melaksanakan idenya, tentu dengan fasilitas yang baik dan dana yang cukup. Kalo ke sana (bekerja) baik-baik, biarkan saja. Seperti Habibie dan Sangkot (Sangkot Marzuki), mereka mau kembali, mau mendidik anak-anak kita,” pungkasnya.

1. IMG_20170126_121012 Selamat Jalan Prof. Umar Anggara Jenie…. R.I.P

 (asw, 020217 dari berbagai sumber).

Madurologi: Lahan Penelitian Tak Terjamah!

OLEH : MOHAMMAD SUBHAN ZAMZAMI, http://stainpamekasan.ac.id/detberita/177-madurologi-lahan-penelitian-tak-terjamah.  Selasa, 8 Nopember 2016

Pernahkah kita berpikir bahwa banyak orang Madura justru menyianyiakan Madura, bahkan memandangnya sebelah mata? Apakah kita belum sadar betul bahwa Madura sangat kaya, baik dari SDA, SDM, dan kebudayaan? Percayakah kita bahwa Madura benar-benar unik, sehingga diam-diam banyak mata tertuju padanya? Ataukah kita baru akan menyadari semua itu setelah kita dikejutkan oleh, salah satunya, sebagian lahan di pesisir timur Madura sudah dikuasi oleh investor-investor luar? Atau kita hanya akan menutup mata dengan semua itu tanpa mau melakukan penelitian tentang Madura yang akan membuat kita lebih bangga menjadi orang Madura, sehingga kita bisa membangun jiwa dan raganya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul saat kita berdiskusi tentang Madura, tapi kita masih sulit menjawabnya karena data penelitian tentang Madura masih sangat terbatas. Di tengah kegetiran seperti ini, Prof. Mien A. Rifai, M. Sc., Ph. D., turut mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk meneliti Madura, terutama pada aspek kebudayaannya. Di saat usianya tak belia lagi, ia masih mampu menghasilkan sejumlah karya ilmiah tentang Madura dan mempresentasikannya di seminar tentang Madura berskala nasional dan internasional. Menurutnya, Madurologi merupakan objek penelitian yang belum banyak dijamah orang, padahal masih banyak celah yang bisa diteliti. Bahkan 70% artikel tentang Madura yang dipresentasikan dalam kongres tentang Madura ditulis oleh bukan orang Madura.

Sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional yang sedang go international dan menjadi Madurologi sebagai brandnya, KARSA: Jurnal Sosial & Budaya Keislaman STAIN Pamekasan memprakarsai Seminar Peta Riset Sosial Budaya Keislaman Madura Untuk Peningkatan Mutu Artikel Jurnal Terakreditasi Menuju Jurnal Internasional dengan menghadirkan pemerhati budaya Madura dan dewan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tersebut sebagai narasumber. KARSA, menurutnya, sebagai jurnal yang paling banyak memuat artikel penelitian tentang Madura harus benar-benar menjaga dan meningkatkan mutu jurnal, baik dari segi kualitas artikel, lay out, transliterasi, dan pengelolaan secara elektronik, setidaknya karena dua faktor utama: kesatu, standar internasionalisasi jurnal sangat berat, sehingga mutu jurnal harus dipertahakankan. Scopus, misalnya, menghapus banyak jurnal dari indexingnya karena tidak bisa mempertahankan mutu. Kedua, DIKTI mengurangi nilai jurnal yang tidak dikelola secara elektronik.

Sebagai peneliti Madura sekaligus panitia Akreditasi Jurnal Ilmiah Direktorat Pendidikan Tinggi, Rifai menginginkan KARSA membulatkan tekad, tidak setengah hati, untuk go international. Wujud kebulatan tekad tersebut, misalnya, dengan membuat KARSA seperti betul-betul baru lahir; penampilan baru dengan merujuk pada penampilan jurnal-jurnal internasional, pengelolaan full elektronik (OJS), survei kepuasan dari penulis, dan penerjemahan bahasa artikel sesuai dengan jiwa bahasa pemakainya. Dengan demikian, artikel tentang Madura yang dipublikasikannya akan diakses para peneliti tentang Madura di seluruh dunia. Selain itu, karena peserta seminar berasal dari para pengelola jurnal di lingkungan STAIN Pamekasan, ia juga menginginkan adanya kesamaan transliterasi yang digunakan oleh jurnal-jurnal di lingkungan STAIN Pamekasan, sehingga memudahkan para peneliti yang ingin mempublikasikan artikelnya. Bahkan lebih dari itu, STAIN Pamekasan diharapkan bisa membangun unit khusus untuk penerjemahan artikel. Di sesi diskusi, Zainal Abidin, Umar Bukhory, Hafid Effendy, dan Usman mengajukan pertanyaan dan usulan tentang Madurologi. Abidin mempertanyakan tentang globalisasi dan pola pikir deadline method serta kaitannya dengan kuantitas dan kualitas artikel penelitian, sedangkan Bukhory dan Effendy mempersoalkan tentang penelitian Madurologi yang menyita waktu sangat lama, asal-usul sebagian kosakata bahasa Madura, dan wacana tentang kepunahan bahasa Madura. Agak sedikit berbeda, selain bertanya tentang generalisasi dan spesialisasi peta riset Madura, Usman juga mengusulkan tentang kemungkinan mengumpulkan para periset tentang Madura dari kampus-kampus dalam satu pertemuan.

Menanggapi pertanyaan dan usulan tersebut, Rifai menegaskan bahwa globalisasi mengharuskan kita untuk ikut di dalam persaingan. Bila tidak, kita ketinggalan. Nguan bhekto atau jam karet adalah tradisi buruk yang harus ditinggalkan. Berhubungan dengan nguan bhekto, sebagian kita memang masih menggunakan pola pikir deadline method, sehingga perlu diubah dan kita bisa menghasilkan artikel yang baik dari segi kualitas dan kuantitas. Penelitian tentang Madurogi yang berkualitas, misalnya, bisa dimulai dengan hal sepele, seperti meneliti tentang macam-macam rujak di Madura. Perlu diketahui, penelitian tentang rujak ini sudah berhasil mengantarkan peserta didik Rifai menyandang gelar doktor. “Doktor rujak,” selorohnya. Selain rujak, bahasa Madura juga menarik dikaji. Ia menegaskan, “Tidak benar orang Madura buta warna karena tidak persoalan warna hijau. Dalam warna, bahasa Madura justru lebih kaya daripada bahasa Indonesia.” Jawaban Rifai bukan sekadar kelakar kosong, karena ia

tercatat sebagai salah satu penyusun KBBI dan kini sedang merampungkan ensiklopedi serapan kosakata Madura dari bahasa Arab. Menanggapi usulan terakhir, ia mengatakan bahwa pertemuan itu sudah dilakukan. Bahkan ia berharap STAIN Pamekasan menggagas International Workshop of Madurology tahun depan.

Melalui Madurologi, KARSA bisa menjadi wadah utama penelitian tentang Madura. Penelitian adalah, sebagaimana ditegaskan Rifai, berpikir lain dan didukung dengan data-data yang tidak bisa dibantah. Orang Madura sebagai pemilik sah Madura yang tahu betul dan menjiwai Madura seharusnya berada di garis terdepan Madurologi, sehingga Madurologi tidak lagi dikuasai oleh bukan orang Madura. Sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional dan terindeks di lembaga-lembaga index jurnal internasional, KARSA dengan brand Madurologinya siap membantu merealisasikannya. [Mohammad Subhan Zamzami]

Microsporidia lack conventional mitochondria, services where they will write your essay and represent something of a taxonomic mystery

Bagaimana Merawat Budaya Madura? Berikut Nasihat Mien Achmad Rifai

Jiwa kemaduraan dan bahasa berperan penting dalam menjaga jati diri. Generasi muda harus berperan aktif. Sederhananya, menjaga Madura ialah merawat bahasanya dan menggunakannya dengan bangga, begitu yang diyakini Mien Achmad Rifai.

mien-rifai

MataMaduraNews.comPAMEKASAN-Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat agamis, ramah dan menjunjung tinggi harga diri. Dalam perkembangannya, nilai-nilai kemaduraan mulai tergerus oleh pengaruh budaya asing. Salah satu indikasi yang paling nampak adalah semakin berkurangnya penutur bahasa Madura di kalangan generasi muda.

Dua pekan lalu, Mata Madura berhasil menemui Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Mien Achmad Rifai, M.Sc.,Ph.D. untuk berbincang seputar budaya Madura. Menurutnya, untuk merawat budaya Madura bisa dilakukan dengan hal yang sangat sederhana, yakni merawat bahasa Madura dan menggunakannya dengan bangga. Ia yakin budaya Madura yang khas dan unik tidak akan lenyap apabila para generasi muda memiliki akar budaya yang kuat. Dan bahasa, menurutnya, adalah inti dari budaya. Bahasa juga menunjukkan jati diri suatu masyarakat. ”Budaya itu intinya di bahasa. Kalau hilang ya sudah,” katanya di salah satu hotel di Pamekasan.

Menurut Pak Mien, panggilan akrabnya, ada anggapan yang keliru tentang bahasa Madura. Masyarakat banyak yang menganggap bahasa Madura sebagai bahasa daerah. Padahal istilah yang tepat adalah bahasa ibu. Penggunaan bahasa Madura misalnya, tidak terbatas pada daerah tertentu. Karena masyarakat Madura atau keturunan Madura yang berada di daerah lain juga masih memakai bahasa Madura untuk berkomunikasi. ”Bahasa Indonesia banyak yang tercampur-campur. Bahasa lokal, dalam hal ini dikatakan sebagai bahasa ibu, semakin terpinggirkan, semakin hilang, dianggap tidak gaul, ketinggalan zaman,” terang putra Gapura Sumenep ini.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2012 menunjukkan, ada sebanyak 546 bahasa di seluruh nusantara. Dari sekian banyak bahasa yang ada di nusantara, bahasa Madura berada di urutan ketiga dalam hal jumlah penutur terbanyak. Namun menurut Pak Mien ia beberapa kali menemukan orang Madura yang enggan menggunakan bahasa Madura di daerah lain. “Orang Madura di luar Madura terkadang merasa malu untuk mengaku sebagai orang Madura, merasa tidak percaya diri,” katanya.

Secara umum menurut Pak Mien tidak ada perbedaan yang kentara antara penutur bahasa Madura yang menetap di Madura dan yang berada di luar Madura. Hanya saja dialeknya cenderung berbeda. ”Kalau saya dialeknya agak campur dengan Sunda karena sekarang tinggal di Bogor. Tapi istri saya jawanya medok sekali. Namun sehari-hari saya di rumah tetap memaka bahasa Madura,” ujarnya.

Mien A. Rifa’i mengatakan, kita sudah kehilangan dua generasi pembicara bahasa Madura. Bahkan sejumlah kajian menunjukkan, anak-anak sekarang sudah mulai kehilangan bahasa ibu, bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Sejak kecil anak-anak sudah diajari bahasa Indonesia atau bahasa asing. Bahasa Madura dianggap berada di urutan kedua. Padahal selain penguasaan bahasa asing, ada hal lain yang perlu ditonjolkan, yakni bahasa ibu. ”Yang lebih penting adalah bahasa ibu kita, bahasa Madura,” katanya.

Ia merasa sebaiknya di usia dini, anak-anak tidak usah diajari bahasa lain selain bahasa Madura. Hal ini agar fondasi bahasa Madura dalam diri sang anak terbangun dengan baik. Lagipula, bahasa lain di luar bahasa ibu akan lebih mudah dipelajari ketika usia anak sudah beranjak remaja. ”Selain itu menurut saya kalau masih anak-anak tidak perlu diajari bahasa Madura yang enggi bunten, agar anak-anak tidak merasa kesulitan,” katanya.

Minimnya buku-buku berbahasa Madura juga ditengarai menjadi penyumbang tergerusnya bahasa Madura. Buku-buku berbahasa Madura sampai saat ini bisa dihitung dengan jari. Sulitnya menemukan tulisan berbahasa Madura menyebabkan generasi muda tidak memiliki dasar untuk menggali Madura lebih banyak. ”Tidak ada sekarang buku-buku berbahasa Madura, sehingga yang membaca karya berbahasa Madura juga tidak ada. Yang tinggal cuma bahasa lisannya saja. Bahasa tertulis tidak ada, padahal sangat penting,” ujar Prof Mien.

Karya dan publikasi seputar Madura menurut Prof Mien masih terbatas. Padahal tulisan adalah elemen yang sangat penting untuk meneruskan budaya dan peradaban suatu masyarakat. Dalam berbagai kesempatan ia mendorong semua kalangan untuk membuat karya tentang Madura, terlebih dalam bahasa Madura, yang mampu mengabadikan Madura melalui tulisan. ”Kita sekarang kekurangan karya-karya tentang Madura. Ada beberapa, tapi dangkal. Saya ingin ada orang Madura yang mau mengembangkan karya berbahasa Madura,” ujarnya.

Penanaman jiwa kemaduraan menjadi penting agar masyarakat Madura tidak melupakan jati dirinya. Dalam hal ini menurut Prof Mien kita harus bisa mencontoh Bali. Di tengah pusaran budaya asing yang selalu berdatangan ke Bali, pulau Dewata itu masih bisa mempertahankan eksistensinya. Bukannya terbawa oleh arus globalisasi, justru bisa memanfaatkan globalisasi untuk mempromosikan budaya. ”Intinya tetap menjadi orang Madura. Memanfaaatkan arus globalisasi, bukan terhanyut,” katanya.

Semua orang bisa ikut serta menjadi penjaga bahasa dan budaya Madura. Keduanya bagi pria kelahiran Gapura Sumenep ini sangat berkaitan. “Sebenarnya kalau Anda bekerja dengan maksimal tanpa melupakan jati diri Madura, bahasa dan budaya Madura akan tetap eksis. Kita harus jadi diri sendiri, tetap menjadi orang Madura, dan harus bangga menjadi orang Madura,” katanya.

Terkait anggapan negatif sebagian masyarakat daerah lain tentang orang Madura, Prof Mien menilai hal itu terjadi karena belum bersentuhan langsung dengan orang Madura. Stigma negatif itu bisa terhapuskan dengan sendirinya apabila orang Madura menunjukkan kemaduraan dalam pergaulan dengan masyarakat dari daerah lain.

Hal lain yang juga tak kalah penting bagi Prof Mien adalah perlunya pakar-pakar yang fokus mendalami bahasa Madura. Hingga saat ini, menurutnya doktor yang mempelajari bahasa Madura bisa dihitung dengan jari. Perlu juga adanya jurusan bahasa Madura agar bisa menghasilkan pakar-pakar baru di bidang ini. ”Harus ada jurusan bahasa Madura. Kita sangat kekurangan doktor di bidang bahasa Madura,” saran Prof Mien.

Ia menekankan pentingnya peran generasi muda untuk mengadakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kemaduraan. Karena ia melihat, jarang sekali pemuda di Madura melakukan hal semacam itu. Apabila pemuda tidak turun tangan dalam melestarikan bahasa dan budaya Madura, ia khawatir suatu saat nanti jiwa kemaduraan yang menjadi ciri khas orang Madura akan hilang. ”Kalau yang tua-tua mungkin masih terpelihara kemaduraannnya, tapi yang muda-muda ini sangat rentan,” ujarnya.

Jamal, Mata Madura

I find myself in the dredges of excuse-itis more often than https://essay4today.com I care to admit