Pengukuhan Guru Besar UI, Prof Jatna Supriatna di Biologi Konservasi dan Prof Dewi di Bidang Kedokteran Gigi

Universitas Indonesia (UI) kembali menambah jumlah guru besar dengan mengukuhkan dua Profesor dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Mereka adalah Profesor drg Dewi Fatma Suniarti Sastradipura sebagai Guru Besar Tetap bidang Ilmu Biologi Oral FKG UI dan Prof Jatna Supriatna sebagai Guru Besar Tetap bidang Biologi Konservasi FMIPA UI.

1. tb_social_feed_img_1489210483.png

Pengukuhan Guru Besar (GB) kali ini merupakan pengukuhan GB pertama FMIPA UI di tahun 2017, sehingga saat ini FMIPA UI total memiliki 11 orang Guru Besar.

Tugas pakar biologi konservasi adalah menghentikan gelombang kepunahan dan membuat serangkaian rencana yang menyertakan keanekaragaman hayati tidak hanya sebagai sumber daya untuk kesejahteraan manusia secara langsung, tetapi juga memiliki arti bagi nilai-nilai kemanusiaan. Di masa yang akan datang, konservasi alam harus dilakukan bersamaan dengan eksploitasi sumber daya alam, bukan setelah eksploitasi terjadi. Demikian disampaikan Prof. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap FMIPA UI dalam bidang Ilmu Biologi, pada Sabtu 11 Maret 2017 bertempat di Balai Sidang Djokosoetono Fakultas Hukum Universitas Indonesia Depok yang dipimpin oleh Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met.

Prof. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D  menyampaikan pidato berjudul “Peran Biologi Konservasi Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”. Biologi konservasi ditopang oleh berbagai rumpun keilmuan yaitu ilmu alam, ilmu rekayasa, ilmu humaniora, ilmu kedokteran, ilmu agama dan ilmu lainnya. Sehingga sering dinyatakan bahwa biologi konservasi adalah ilmu multi-inter trans disiplin. Ilmu biologi konservasi berkembang karena pendekatan teori yang lebih terintegrasi dari berbagai disiplin ilmu yang memberi penekanan pada pemeliharaan jangka panjang bagi seluruh komunitas biologi, dan sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi & sosial.

2. DSC_7651-740x450

Diharapkan perkembangan ilmu biologi konservasi dapat membantu pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan bersama di seluruh dunia yang dalam hal ini diformulasikan dalam 17 tujuan SDG yang diharapkan menjadi motor pembangunan dunia dari tahun 2015 sampai 2030.

Prof. Dewi menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Peran Farmakologi di Bidang Kedokteran Gigi dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pelayanan Dokter Gigi’. Farmakologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang obat. Dokter gigi tidak hanya perlu mengetahui obat analgesik-antiinflamasi, antibiotik dan obat kumur, melainkan juga perlu memahami berbagai jenis obat dan implikasinya pada pasien, memperhatikan Indikasi dan kontra indikasi obat, memahami tentang efek yang tidak diharapkan, interaksi obat dan tentang harga obat yang akan diberikan pada pasien.

“Penggunaan obat yang rasional adalah penggunaan obat yang indikasinya sesuai dengan kebutuhan pasien, diberikan dengan dosis dan lama pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan individual pasien dan dengan biaya paling ekonomis. Namun pelaksanaannya pengobatan rasional adalah sesuatu yang baik namun masih sulit dilaksanakan di negara berkembang seperti Indonesia. Penggunaan obat yang irasional masih merupakan masalah,” ujar Prof Dewi.

Menurut Prof Dewi berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan peran Farmakologi pada pelayanan kesehatan gigi diantaranya melalui penataan, agar penggunaan obat lokal di bidang kedokteran gigi menjadi rasional, terselenggaranya pendidikan Farmakologi untuk mahasiswa tingkat sarjana pada setiap tahap pendidikannya, mengupayakan terselenggaranya pendidikan Farmakologi pada mahasiswa kedokteran gigi tingkat profesi dan membuat buku Farmakologi Kedokteran Gigi sebagai panduan bagi mahasiswa.

Sedangkan Prof Jatna menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Peran Biologi Konservasi Mendukung Pembangunan Berkelanjutan’. Dalam pidatonya Prof Jatna memaparkan Indonesia berkelimpahan Sumber Daya Alam (SDA) hayati sebagai SDA terbarukan. Jika dikelola dengan baik dan benar dapat memberikan bagi kemaslahatan manusia. Konservasi merupakan salah satu upaya mengelola SDA hayati.

Pemanfaatan sumber daya alam bisa berjalan berkelanjutan dan tidak bertentangan dengan konservasi jika memanfaatkan hasil-hasil riset dalam pengambilan kebijakan. Sayangnya, selama ini ada kesenjangan antara akademisi dan pemerintah. Demikian disampaikan Jatna Supriatna seusai pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Biologi pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.

Tugas pakar biologi konservasi adalah menghentikan gelombang kepunahan dan membuat serangkaian rencana yang menyertakan keanekaragan hayati, tidak hanya sebagai sumber daya untuk kesejahteraan manusia secara langsung, tetapi juga memiliki arti bagi nilai-nilai kemanusiaan. Pengembangan keilmuan biologi konservasi dapat membantu pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang menyepakati 17 tujuan, di mana beberapa tujuan dari pembangunan berkelanjutan tersebut sangat erat berhubungan dengan tugas-tugas pakar biologi konservasi.

“Perlindungan keanekaragaman hayati dapat menggunakan pendekatan Save (perlindungan), Study (penelitian) dan Use (pemanfaatan). Save dapat dijabarkan sebagai usaha pengelolaan, legislasi, perjanjian internasional dan sebagainya. Studi dalam keanekaragaman hayati sangat penting, karena penggunaan maupun pelestariannya tidak dapat dilakukan tanpa penelitian ilmiah. Penelitian dapat meliputi penelitian dasar seperti penelitian keragaman spesies, habitat komunitas, ekosistem dan juga perilaku serta ekologi dari spesies. Terakhir Use, perencanaan program-program manfaat bagi masyarakat, berbagai komoditi perdagangan turisme dan jasa,” kata Prof Jatna yang baru saja menerima penghargaan Lifetime Achievement Award and Leadership on  iodiversity Conservation dari Organisasi Conservation International ini.

Kedua profesor dikukuhkan di Auditorium Djokosoetono Kampus Fakultas Hukum UI, Depok yang dipimpin oleh Rektor UI Prof Dr Ir Muhammad Anis.

Dikatakan Prof Anis, saat ini jumlah guru besar di UI ada sebanyak 307 orang, diantaranya 16 orang dari FKG dan 12 orang dari FMIPA.”Prof Dewi adalah guru besar pertama yang dikukuhkan pada 2017, dan Prof Jatna adalah yang kedua di 2017,” tukas Prof Anis.

Prof.Jatna Supriatna adalah Anggota AIPI untuk Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar sejak tahun 2014.

(dari berbagai sumber)

A big passage about a small http://overnightessay.co.uk endangered bird in australia

Jatna Supriatna Raih Penghargaan dari Organisasi Konservasi Internasional

Jumat, 03 March 2017, 08:34 WIB,  http://www. republika. co. id/berita/komunitas/aksi-komunitas/17/03/03/om7tos280-jatna-supriatna-raih-penghargaan-dari-organisasi-konservasi-internasional

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA —  Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Belantara Prof. Jatna Supriatna menerima penghargaan Life time Achievement Award and Leadership on Biodiversity Conservation oleh organisasi Conservation International. Penghargaan diberikan atas kiprah Jatna Supriatna atas kiprahnya di bidang konservasi. Penghargaan diberikan pada 27 Februari lalu di Bali dalame event yang diselenggarkan organisasi Conservation International, dimana Jatna Supriatna hadir selaku Vice President, menajemen berkebangsaan Indonesia pertama yang mengepalai sebuah program konservasi pada organisasi tersebut. Pada kesempatan yang sama Jatna Supriatna juga mendapatkan penghargaan yang sangat istimewa dari para peneliti yang tergabung dalam Primate Specialist Group dari IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebagai apresiasi untuk dedikasi yang dilakukan beliau pada bidang ini. Para peneliti tersebut mengumumkan persembahan kepada Jatna Supriatna dengan mencantukan nama beliau pada penamaan spesies primata yang baru mereka temukan, ‘Tarsius Supriatnai’. “Saya merasa sangat bersyukur dan sejujurnya sangat terkejut akan penghargaan ini,” ujar Jatna Supriatna. Ia mengatakan, penghargaan tersebut adalah hasil dari konsistensi yang ia lakukan dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati selama 42 tahun sejak tahun 1075. “Saya sangat senang karena hasil kerja saya diakui oleh dunia internasional, dan juga oleh seluruh kolega saya yang menggeluti hal yang sama. Saya juga memahami bahwa ini merupakan tanggung jawab serta tantangan yang besar untuk saya. Diperlukan adanya motivasi bersama untuk memperjuangkan isu konservasi ini,” kata dia. CEO Yayasan Belantara, Agus P. Sari memberikan selamat atas apa yang diraih Jatna Supriatna. It’s okay to mention your prior or online homework help https://pro-homework-help.com future books in conversation so you can both decide if those projects are mutually interesting. “Saya serta segenap management Yayasan Belantara mengucapkan selamat serta apresiasi yang tinggi kepada Prof. Jatna Supriatna, Wakil Ketua Dewan Pembina kami dan sahabat saya, atas capaiannya yang sangat menginsipirasi. Penghargaan ini sangat membanggakan karena tarafnya pada level global, merefleksikan betapa besarnya kontribusi beliau sebagai pakar di bidang ini,” kata dia. (Red: Hazliansyah)

 

Scopus, ISI-Thomson, dan Predator

Oleh: Terry Mart  ;    Dosen Fisika FMIPA UI;                                                                        Anggota KIPD-AIPI   

KOMPAS, 28 Februari 2017

Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 mewajibkan seorang profesor dalam tiga tahun menghasilkan satu karya ilmiah di jurnal internasional bereputasi, atau tiga karya ilmiah di jurnal internasional, serta menulis satu buku. Jika tidak, maka tunjangan kehormatan akan dihentikan. Hal yang mirip, tetapi lebih lunak, juga diberlakukan kepada dosen dengan jabatan lektor kepala. Untuk bidang-bidang tertentu, karya ilmiah tersebut dapat diganti paten atau karya monumental.

Peraturan baru ini memicu pelbagai diskusi. Tampaknya masalah penulisan buku jarang diributkan, yang sering diributkan adalah menulis di jurnal internasional bereputasi. Penyebabnya jelas, definisi jurnal internasional bereputasi sangat robust (kokoh) dan harus terindeks oleh basis data Scopus. Satu dekade lalu saya mengkritik penggunaan faktor dampak (impact factor) salah satu produk pengindeks ISI-Thomson (Counting Papers, Symmetry 2006). Im selben jahr schreib-essay.com/ nahm er an der synode von guastalla teil. Beberapa tahun kemudian merebak isu jurnal predator, jurnal abal-abal yang dieksploitasi untuk keuntungan finansial bagi si pembuat (Kompas, 2/4/2013). Kemudahan pembuatan jurnal predator dipicu oleh pesatnya perkembangan internet dan munculnya sistem jurnal open access. Jumlah penerbit jurnal predator pun meledak, hampir mencapai 1. 000 penerbit pada akhir 2016. Bayangkan berapa banyak jumlah jurnal predator jika setiap penerbit rata-rata menghasilkan 100 jurnal!

Indeks Scopus

Belakangan Dirjen Dikti menggunakan pengindeks Scopus sebagai acuan jurnal internasional bereputasi. Dengan bantuan Scopus, para pembuat kebijakan, panitia penilai kepangkatan, serta pemberi insentif publikasi sangat terfasilitasi. Penggunaan Scopus mungkin merupakan jalan tengah, mengingat ISI-Thomson sangat ketat sehingga hanya jurnal-jurnal papan atas yang terindeks. Hampir seluruh jurnal yang diindeks ISI-Thomson juga diindeks oleh Scopus. Meski demikian, Scopus memiliki beberapa kelemahan. Misalnya, Scopus adalah bagian dari Elsevier, penerbit ribuan jurnal ilmiah yang berpusat di Belanda. Scopus juga progresif memasukkan jurnal ke dalam basis data mereka sehingga cukup banyak jurnal kurang pantas dan predator ikut terindeks. Baru-baru ini kita dihebohkan dengan lenyapnya blog Jeffrey Beall yang memuat kriteria, daftar jurnal, dan penerbit predator. Belum ada penjelasan mengapa laman tersebut tiba-tiba hilang. Yang jelas jurnal abal-abal akan terus bertambah dan definisi jurnal predator akan tergerus. Pemerintah dan akademisi akan direpotkan dengan makalah abal-abal yang diklaim terbit di jurnal internasional. Tentu saja jalan keluar yang mudah adalah kembali ke Scopus atau mulai menggunakan basis data ISI-Thomson. Menarik untuk diamati bahwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sangat antisipatif menghadapi kerunyaman ini. Jauh sebelum lenyapnya blog Jeffrey Beall, LIPI sudah mengusulkan jurnal internasional yang dapat dinilai dibagi dalam lima peringkat, yaitu jurnal dengan peringkat Q1 hingga Q4 versi ISI-Thomson, sementara di peringkat kelima adalah jurnal yang hanya terdaftar di Scopus dengan terbitan perdana sebelum 2003. Definisi LIPI dapat saja diadopsi untuk perguruan tinggi (PT). Namun, atmosfer PT yang egaliter mungkin sulit menerima ini. Dibutuhkan definisi baru yang bebas Scopus, ISI-Thomson, dan sekaligus jurnal predator. Definisi yang lebih hakiki

Apa tujuan paling hakiki dari publikasi karya ilmiah? Jawaban sederhana tapi operasional adalah guna memberi tahu kepada kolega sebidang bahwa si penulis karya ilmiah telah mendapatkan satu temuan penting dari penelitiannya. Dalam banyak kasus, hanya kolega yang penelitiannya sama atau mirip saja yang dapat benar-benar paham. Di sini mulai terasa pentingnya eksistensi komunitas peneliti sebidang dalam memajukan ilmu mereka. Sebagai peneliti yang baik, seorang dosen tentu mengenal komunitas bidang ilmunya di tingkat nasional ataupun internasional. Sebab, dari waktu ke waktu, ia harus selalu meng-update diri dengan rutin membaca karya-karya ilmiah di bidangnya. Tentu saja masalah apakah ia dikenal atau terkenal di komunitas dapat dianggap pertanyaan sekunder karena sangat bergantung pada produk penelitiannya. Jadi, dosen tadi tahu persis siapa yang aktif atau bahkan leading (memimpin dan menjadi acuan) dalam bidangnya di tingkat nasional ataupun internasional. Boleh dikatakan, tidak ada yang tahu persis kontribusi seorang ilmuwan kecuali komunitasnya. Mereka yang leading di komunitas tentu saja merupakan pakar bidang tersebut. Dengan demikian, jurnal internasional bereputasi untuk satu bidang ilmu adalah jurnal tempat para pakar internasional bidang tersebut memublikasikan karya ilmiahnya. Analog untuk jurnal nasional bereputasi. Definisi ini perlu diperjelas ke tingkat yang lebih operasional. Hampir setiap bidang ilmu memiliki organisasi atau asosiasi bidang ilmu. Karena mereka yang aktif meneliti umumnya menjadi anggota asosiasi tersebut, asosiasi suatu bidang ilmu berperan penting dalam mengarahkan pengembangan bidang tersebut. Hampir semua asosiasi menerbitkan jurnal ilmiah yang menjadi rujukan anggotanya. Dengan demikian, jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh asosiasi bidang ilmu yang sudah mapan dan menjadi rujukan peneliti dunia dapat dipakai sebagai jurnal internasional bereputasi primer karena di sanalah para pakar bidang tersebut berkiprah. Umumnya, negara-negara maju memiliki asosiasi seperti ini. American Chemical Society, American Geophysical Union, dan American Medical Association adalah contoh asosiasi dari Amerika. Dari belahan lain ada Japan Physical Society dan European Physical Society. Bagaimana dengan jurnal-jurnal dari penerbit komersial, seperti Elsevier, Springer, dan Wiley? Di sini kita membutuhkan definisi jurnal internasional bereputasi sekunder. Apakah jurnal-jurnal tersebut juga dirujuk atau menjadi tempat publikasi para pakar internasional di atas? Jika jawabnya ya, maka jurnal-jurnal komersial ini haruslah sering dirujuk oleh jurnal internasional bereputasi primer. Dengan definisi yang lebih operasional, jurnal-jurnal tersebut haruslah sering ditemukan pada daftar acuan (referensi) jurnal internasional bereputasi primer. Idealnya, dengan definisi di atas, kita dapat menciptakan sistem pengindeksan sendiri, bebas dari Scopus dan Thomson. Seorang kolega dari bidang filsafat bercerita bahwa mereka lebih memilih menulis buku ketimbang menulis di jurnal ilmiah. Ketika di kampus kami diluncurkan program dosen inti penelitian, terlihat bahwa peneliti di bidang sains, teknologi, dan kedokteran lebih memilih jurnal ilmiah sebagai tempat publikasi, sementara untuk bidang lain penulisan buku menjadi favorit. Jadi, mungkin lebih baik kewajiban menulis di jurnal dan buku dalam peraturan di atas diganti dengan jurnal atau buku.

.

Madurologi: Lahan Penelitian Tak Terjamah!

OLEH : MOHAMMAD SUBHAN ZAMZAMI, http://stainpamekasan.ac.id/detberita/177-madurologi-lahan-penelitian-tak-terjamah.  Selasa, 8 Nopember 2016

Pernahkah kita berpikir bahwa banyak orang Madura justru menyianyiakan Madura, bahkan memandangnya sebelah mata? Apakah kita belum sadar betul bahwa Madura sangat kaya, baik dari SDA, SDM, dan kebudayaan? Percayakah kita bahwa Madura benar-benar unik, sehingga diam-diam banyak mata tertuju padanya? Ataukah kita baru akan menyadari semua itu setelah kita dikejutkan oleh, salah satunya, sebagian lahan di pesisir timur Madura sudah dikuasi oleh investor-investor luar? Atau kita hanya akan menutup mata dengan semua itu tanpa mau melakukan penelitian tentang Madura yang akan membuat kita lebih bangga menjadi orang Madura, sehingga kita bisa membangun jiwa dan raganya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul saat kita berdiskusi tentang Madura, tapi kita masih sulit menjawabnya karena data penelitian tentang Madura masih sangat terbatas. Di tengah kegetiran seperti ini, Prof. Mien A. Rifai, M. Sc., Ph. D., turut mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk meneliti Madura, terutama pada aspek kebudayaannya. Di saat usianya tak belia lagi, ia masih mampu menghasilkan sejumlah karya ilmiah tentang Madura dan mempresentasikannya di seminar tentang Madura berskala nasional dan internasional. Menurutnya, Madurologi merupakan objek penelitian yang belum banyak dijamah orang, padahal masih banyak celah yang bisa diteliti. Bahkan 70% artikel tentang Madura yang dipresentasikan dalam kongres tentang Madura ditulis oleh bukan orang Madura.

Sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional yang sedang go international dan menjadi Madurologi sebagai brandnya, KARSA: Jurnal Sosial & Budaya Keislaman STAIN Pamekasan memprakarsai Seminar Peta Riset Sosial Budaya Keislaman Madura Untuk Peningkatan Mutu Artikel Jurnal Terakreditasi Menuju Jurnal Internasional dengan menghadirkan pemerhati budaya Madura dan dewan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tersebut sebagai narasumber. KARSA, menurutnya, sebagai jurnal yang paling banyak memuat artikel penelitian tentang Madura harus benar-benar menjaga dan meningkatkan mutu jurnal, baik dari segi kualitas artikel, lay out, transliterasi, dan pengelolaan secara elektronik, setidaknya karena dua faktor utama: kesatu, standar internasionalisasi jurnal sangat berat, sehingga mutu jurnal harus dipertahakankan. Scopus, misalnya, menghapus banyak jurnal dari indexingnya karena tidak bisa mempertahankan mutu. Kedua, DIKTI mengurangi nilai jurnal yang tidak dikelola secara elektronik.

Sebagai peneliti Madura sekaligus panitia Akreditasi Jurnal Ilmiah Direktorat Pendidikan Tinggi, Rifai menginginkan KARSA membulatkan tekad, tidak setengah hati, untuk go international. Wujud kebulatan tekad tersebut, misalnya, dengan membuat KARSA seperti betul-betul baru lahir; penampilan baru dengan merujuk pada penampilan jurnal-jurnal internasional, pengelolaan full elektronik (OJS), survei kepuasan dari penulis, dan penerjemahan bahasa artikel sesuai dengan jiwa bahasa pemakainya. Dengan demikian, artikel tentang Madura yang dipublikasikannya akan diakses para peneliti tentang Madura di seluruh dunia. Selain itu, karena peserta seminar berasal dari para pengelola jurnal di lingkungan STAIN Pamekasan, ia juga menginginkan adanya kesamaan transliterasi yang digunakan oleh jurnal-jurnal di lingkungan STAIN Pamekasan, sehingga memudahkan para peneliti yang ingin mempublikasikan artikelnya. Bahkan lebih dari itu, STAIN Pamekasan diharapkan bisa membangun unit khusus untuk penerjemahan artikel. Di sesi diskusi, Zainal Abidin, Umar Bukhory, Hafid Effendy, dan Usman mengajukan pertanyaan dan usulan tentang Madurologi. Abidin mempertanyakan tentang globalisasi dan pola pikir deadline method serta kaitannya dengan kuantitas dan kualitas artikel penelitian, sedangkan Bukhory dan Effendy mempersoalkan tentang penelitian Madurologi yang menyita waktu sangat lama, asal-usul sebagian kosakata bahasa Madura, dan wacana tentang kepunahan bahasa Madura. Agak sedikit berbeda, selain bertanya tentang generalisasi dan spesialisasi peta riset Madura, Usman juga mengusulkan tentang kemungkinan mengumpulkan para periset tentang Madura dari kampus-kampus dalam satu pertemuan.

Menanggapi pertanyaan dan usulan tersebut, Rifai menegaskan bahwa globalisasi mengharuskan kita untuk ikut di dalam persaingan. Bila tidak, kita ketinggalan. Nguan bhekto atau jam karet adalah tradisi buruk yang harus ditinggalkan. Berhubungan dengan nguan bhekto, sebagian kita memang masih menggunakan pola pikir deadline method, sehingga perlu diubah dan kita bisa menghasilkan artikel yang baik dari segi kualitas dan kuantitas. Penelitian tentang Madurogi yang berkualitas, misalnya, bisa dimulai dengan hal sepele, seperti meneliti tentang macam-macam rujak di Madura. Perlu diketahui, penelitian tentang rujak ini sudah berhasil mengantarkan peserta didik Rifai menyandang gelar doktor. “Doktor rujak,” selorohnya. Selain rujak, bahasa Madura juga menarik dikaji. Ia menegaskan, “Tidak benar orang Madura buta warna karena tidak persoalan warna hijau. Dalam warna, bahasa Madura justru lebih kaya daripada bahasa Indonesia.” Jawaban Rifai bukan sekadar kelakar kosong, karena ia

tercatat sebagai salah satu penyusun KBBI dan kini sedang merampungkan ensiklopedi serapan kosakata Madura dari bahasa Arab. Menanggapi usulan terakhir, ia mengatakan bahwa pertemuan itu sudah dilakukan. Bahkan ia berharap STAIN Pamekasan menggagas International Workshop of Madurology tahun depan.

Melalui Madurologi, KARSA bisa menjadi wadah utama penelitian tentang Madura. Penelitian adalah, sebagaimana ditegaskan Rifai, berpikir lain dan didukung dengan data-data yang tidak bisa dibantah. Orang Madura sebagai pemilik sah Madura yang tahu betul dan menjiwai Madura seharusnya berada di garis terdepan Madurologi, sehingga Madurologi tidak lagi dikuasai oleh bukan orang Madura. Sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional dan terindeks di lembaga-lembaga index jurnal internasional, KARSA dengan brand Madurologinya siap membantu merealisasikannya. [Mohammad Subhan Zamzami]

Microsporidia lack conventional mitochondria, services where they will write your essay and represent something of a taxonomic mystery

Bagaimana Merawat Budaya Madura? Berikut Nasihat Mien Achmad Rifai

Jiwa kemaduraan dan bahasa berperan penting dalam menjaga jati diri. Generasi muda harus berperan aktif. Sederhananya, menjaga Madura ialah merawat bahasanya dan menggunakannya dengan bangga, begitu yang diyakini Mien Achmad Rifai.

mien-rifai

MataMaduraNews.comPAMEKASAN-Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat agamis, ramah dan menjunjung tinggi harga diri. Dalam perkembangannya, nilai-nilai kemaduraan mulai tergerus oleh pengaruh budaya asing. Salah satu indikasi yang paling nampak adalah semakin berkurangnya penutur bahasa Madura di kalangan generasi muda.

Dua pekan lalu, Mata Madura berhasil menemui Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Mien Achmad Rifai, M.Sc.,Ph.D. untuk berbincang seputar budaya Madura. Menurutnya, untuk merawat budaya Madura bisa dilakukan dengan hal yang sangat sederhana, yakni merawat bahasa Madura dan menggunakannya dengan bangga. Ia yakin budaya Madura yang khas dan unik tidak akan lenyap apabila para generasi muda memiliki akar budaya yang kuat. Dan bahasa, menurutnya, adalah inti dari budaya. Bahasa juga menunjukkan jati diri suatu masyarakat. ”Budaya itu intinya di bahasa. Kalau hilang ya sudah,” katanya di salah satu hotel di Pamekasan.

Menurut Pak Mien, panggilan akrabnya, ada anggapan yang keliru tentang bahasa Madura. Masyarakat banyak yang menganggap bahasa Madura sebagai bahasa daerah. Padahal istilah yang tepat adalah bahasa ibu. Penggunaan bahasa Madura misalnya, tidak terbatas pada daerah tertentu. Karena masyarakat Madura atau keturunan Madura yang berada di daerah lain juga masih memakai bahasa Madura untuk berkomunikasi. ”Bahasa Indonesia banyak yang tercampur-campur. Bahasa lokal, dalam hal ini dikatakan sebagai bahasa ibu, semakin terpinggirkan, semakin hilang, dianggap tidak gaul, ketinggalan zaman,” terang putra Gapura Sumenep ini.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2012 menunjukkan, ada sebanyak 546 bahasa di seluruh nusantara. Dari sekian banyak bahasa yang ada di nusantara, bahasa Madura berada di urutan ketiga dalam hal jumlah penutur terbanyak. Namun menurut Pak Mien ia beberapa kali menemukan orang Madura yang enggan menggunakan bahasa Madura di daerah lain. “Orang Madura di luar Madura terkadang merasa malu untuk mengaku sebagai orang Madura, merasa tidak percaya diri,” katanya.

Secara umum menurut Pak Mien tidak ada perbedaan yang kentara antara penutur bahasa Madura yang menetap di Madura dan yang berada di luar Madura. Hanya saja dialeknya cenderung berbeda. ”Kalau saya dialeknya agak campur dengan Sunda karena sekarang tinggal di Bogor. Tapi istri saya jawanya medok sekali. Namun sehari-hari saya di rumah tetap memaka bahasa Madura,” ujarnya.

Mien A. Rifa’i mengatakan, kita sudah kehilangan dua generasi pembicara bahasa Madura. Bahkan sejumlah kajian menunjukkan, anak-anak sekarang sudah mulai kehilangan bahasa ibu, bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Sejak kecil anak-anak sudah diajari bahasa Indonesia atau bahasa asing. Bahasa Madura dianggap berada di urutan kedua. Padahal selain penguasaan bahasa asing, ada hal lain yang perlu ditonjolkan, yakni bahasa ibu. ”Yang lebih penting adalah bahasa ibu kita, bahasa Madura,” katanya.

Ia merasa sebaiknya di usia dini, anak-anak tidak usah diajari bahasa lain selain bahasa Madura. Hal ini agar fondasi bahasa Madura dalam diri sang anak terbangun dengan baik. Lagipula, bahasa lain di luar bahasa ibu akan lebih mudah dipelajari ketika usia anak sudah beranjak remaja. ”Selain itu menurut saya kalau masih anak-anak tidak perlu diajari bahasa Madura yang enggi bunten, agar anak-anak tidak merasa kesulitan,” katanya.

Minimnya buku-buku berbahasa Madura juga ditengarai menjadi penyumbang tergerusnya bahasa Madura. Buku-buku berbahasa Madura sampai saat ini bisa dihitung dengan jari. Sulitnya menemukan tulisan berbahasa Madura menyebabkan generasi muda tidak memiliki dasar untuk menggali Madura lebih banyak. ”Tidak ada sekarang buku-buku berbahasa Madura, sehingga yang membaca karya berbahasa Madura juga tidak ada. Yang tinggal cuma bahasa lisannya saja. Bahasa tertulis tidak ada, padahal sangat penting,” ujar Prof Mien.

Karya dan publikasi seputar Madura menurut Prof Mien masih terbatas. Padahal tulisan adalah elemen yang sangat penting untuk meneruskan budaya dan peradaban suatu masyarakat. Dalam berbagai kesempatan ia mendorong semua kalangan untuk membuat karya tentang Madura, terlebih dalam bahasa Madura, yang mampu mengabadikan Madura melalui tulisan. ”Kita sekarang kekurangan karya-karya tentang Madura. Ada beberapa, tapi dangkal. Saya ingin ada orang Madura yang mau mengembangkan karya berbahasa Madura,” ujarnya.

Penanaman jiwa kemaduraan menjadi penting agar masyarakat Madura tidak melupakan jati dirinya. Dalam hal ini menurut Prof Mien kita harus bisa mencontoh Bali. Di tengah pusaran budaya asing yang selalu berdatangan ke Bali, pulau Dewata itu masih bisa mempertahankan eksistensinya. Bukannya terbawa oleh arus globalisasi, justru bisa memanfaatkan globalisasi untuk mempromosikan budaya. ”Intinya tetap menjadi orang Madura. Memanfaaatkan arus globalisasi, bukan terhanyut,” katanya.

Semua orang bisa ikut serta menjadi penjaga bahasa dan budaya Madura. Keduanya bagi pria kelahiran Gapura Sumenep ini sangat berkaitan. “Sebenarnya kalau Anda bekerja dengan maksimal tanpa melupakan jati diri Madura, bahasa dan budaya Madura akan tetap eksis. Kita harus jadi diri sendiri, tetap menjadi orang Madura, dan harus bangga menjadi orang Madura,” katanya.

Terkait anggapan negatif sebagian masyarakat daerah lain tentang orang Madura, Prof Mien menilai hal itu terjadi karena belum bersentuhan langsung dengan orang Madura. Stigma negatif itu bisa terhapuskan dengan sendirinya apabila orang Madura menunjukkan kemaduraan dalam pergaulan dengan masyarakat dari daerah lain.

Hal lain yang juga tak kalah penting bagi Prof Mien adalah perlunya pakar-pakar yang fokus mendalami bahasa Madura. Hingga saat ini, menurutnya doktor yang mempelajari bahasa Madura bisa dihitung dengan jari. Perlu juga adanya jurusan bahasa Madura agar bisa menghasilkan pakar-pakar baru di bidang ini. ”Harus ada jurusan bahasa Madura. Kita sangat kekurangan doktor di bidang bahasa Madura,” saran Prof Mien.

Ia menekankan pentingnya peran generasi muda untuk mengadakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kemaduraan. Karena ia melihat, jarang sekali pemuda di Madura melakukan hal semacam itu. Apabila pemuda tidak turun tangan dalam melestarikan bahasa dan budaya Madura, ia khawatir suatu saat nanti jiwa kemaduraan yang menjadi ciri khas orang Madura akan hilang. ”Kalau yang tua-tua mungkin masih terpelihara kemaduraannnya, tapi yang muda-muda ini sangat rentan,” ujarnya.

Jamal, Mata Madura

I find myself in the dredges of excuse-itis more often than https://essay4today.com I care to admit