HENDRA GUNAWAN DI AJANG “BICARA INDONESIA”

Talkshow bersama Hendra Gunawan Matematikawan dari ITB, Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar-AIPI dengan pewawancara Vela Andapita dari Jawapos TV, 7 Nov 2016, mengangkat tajuk “Bicara Indonesia seputar Matematika”hg-2.

Matematika selama ini kita kenal sebagai ilmu menghitung. Namun lebih dari itu, matematika mempelajari gagasan dan logika. Sosok yang satu ini berupaya menyampaikan hal tersebut melalui banyak cara, agar lebih banyak orang dapat memahami matematika.

Pada Segmen 1 dan 2, selain kegiatan Hendra Gunawan di kampus sehari-hari, terdapat testimoni dari beberapa rekan kerja dan mahasiswa beliau.
hg-4

hg-5

hg-6
Selengkapnya silahkan tengok di:
Segmen1: https://www.youtube.com/watch?v=cCy5d_Q1HqU&feature=youtu.be
Segmen2: https://www.youtube.com/watch?v=psyk7Ryrls8
Segmen3: https://www.youtube.com/watch?v=wi6eaS32VgU
Segmen4: https://www.youtube.com/watch?v=teORIKjyKb4
hg-1

I do love reading the classics as an adult, and I naturally ponder the material in my mind, so I guess that is a form write my essay for me cheap and original of analysis

INSIGHT Paris Agreement to test Jakarta’s Commitment on carbon emissions

By: Daniel Murdiyarso; Bogor, West Java | October 19, 2016;  http://www. thejakartapost. com/academia/2016/10/19/insight-paris-agreement-to-test-jakartas-commitment-on-carbon-emissions. html

(In this July 30, 2015 file photo, air conditioners and power generators are displayed on a street in central Baghdad, Iraq. Nations reached a deal Saturday, Oct. 15, 2016 to limit the use of hydrofluorocarbons, or HFCs – greenhouse gases far more powerful than carbon dioxide that are used in air conditioners and refrigerators, in a major effort to fight climate change. (AP/Khalid Mohammed)).

The ratification of the Paris Agreement by the EU, representing 28 countries, on Oct. 4 marked the surpassing of the 55 percent global emissions threshold for the agreement to enter into force. Having been ratified by 75 countries that account for 58. 9 percent of global emissions, the agreement will enter into force on Nov. 4 (30 days after EU submission), just a few days before the 22nd session of the Conference of Parties ( COP22 ) starts on Nov. 7 in Marrakech, Morocco. Although Indonesia is not one of the parties that make the Paris Agreement enter into force, the House of Representatives’ Commission VII approved its ratification bill on Monday. The House has set Oct. 19 as date for ratifying the agreement. Like in other cases of international treaty ratification, the House only adopts one article stating that Indonesia ratifies the treaty. The process took longer than expected because the Nationally Determined Contribution (NDC) document was attached to it. The know thyself 30 day writing challenge want to bring your friends along homework assignment https://justdomyhomework.com/ on this challenge. Lawmakers needed to be convinced that the intention to reduce national emissions by 29 percent from the business-as-usual level in 2030 will not harm economic development. Now, Indonesian delegates are full of confidence as they head to Marrakech. There are at least four reasons for Indonesia to get excited and work harder. First, ratification will allow Indonesia to sit in the first Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties to the Paris Agreement, known as CMA1. Indonesia can take part in shaping the new treaty that will be implemented in 2020. It is important to set the new tone of the common but differentiated responsibility and respective capacity (CBDR-RC) principle. Second, Indonesia can start interacting in the funding mechanism under the Paris Agreement, including the Green Climate Fund. It is well known that Indonesia’s bulk work in the NDC is land use. Early action may be pursued to realize the implementation of the long-awaited REDD+ mechanism under the Paris Agreement. Third, being an archipelagic country that is vulnerable to sea level rise, it is also timely to explore adaptation mechanisms under the Paris Agreement, such as joint mitigation and adaptation and legally binding loss and damage. Fourth, Indonesia is to expand coal-fired power generation, which will be the biggest emission factor after land use. Technology transfer under the Paris Agreement has to be tapped and integrated into the domestic development agenda. The main goal of the Paris Agreement is to strengthen the global response to the threat of climate change by keeping the global temperature rise this century well below 2 degrees Celsius above pre-industrial levels. The Paris Agreement pursues efforts to limit the temperature increase even further to 1. 5 degrees. That does not mean that the agreement only deals with climate change mitigation. The Paris Agreement also aims at strengthening the ability of countries to adapt to the impacts of climate change. After two decades of climate negotiations, Paris finally managed to put mitigation and adaptation measures on equal footing. The notion of integrating climate change adaptation and mitigation in the Paris Agreement is very strong. To meet these ambitious goals, a new technology framework and an enhanced capacity building framework will be put in place, supporting action by developing countries and the most vulnerable countries in line with their national objectives. Starting in 2020 the Green Climate Fund will be mobilized to raise US$100 billion per annum. Globally, under the Intergovernmental Panel on Climate Change high scenario parties have pledged to reduce greenhouse gas emissions by 36 billion tons of CO2 equivalent by 2030. The pledge was initiated at COP15 in Copenhagen in 2009, known as the Copenhagen Accord, within which countries were encouraged to state their emission reduction target, base year and date of achievement. After five years of waiting, COP20 in Lima came out with the so-called Intended Nationally Determined Contribution to guide parties to submit their pledge prior to COP21 in Paris, which then transformed into NDC to be submitted prior to Marrakech’s COP22 this year. Domestically, Indonesia will have to nurture the submitted pledge. Ratification places responsibility on the entire society. It is the role of the government to address any identified weaknesses and mobilize strength, including by enhancing the capacity to combat land-based emissions, which are by far the largest burden as far as emission reduction is concerned. ___________________________
The writer is a professor at the Department of Geophysics and Meteorology at the Bogor Agriculture University (IPB), principal scientist at the Center for International Forestry Research (CIFOR), member of the Indonesian Academy of Sciences (AIPI) and former national focal point to the UNFCCC.

AKI 2016 Bidang Komunikasi Pendidikan Diraih Prof Hendra Gunawan

Anugerah Komunikasi Indonesia (AKI) kedua digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) pada hari kedua pelaksanaan Hari Komunikasi Nasional (Harkomnas) Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) di Hotel Gammara, 12 Oktober.

Pada AKI 2016 ini, ada dua kategori penerima penghargaan, yaitu pegiat komunikasi publik dan lembaga komunikasi publik. Untuk pegiat diberikan kepada empat orang penerima penghargaan, sementara untuk lembaga diberikan kepada tiga penerima. Empat pegiat itu terpilih untuk kategori penggiat komunikasi publik bidang komunikasi sosial, bidang komunikasi perdamaian, bidang komunikasi pendidikan, dan bidang komunikasi kebangsaan.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo, Rosita Niken Widyastuti, menjelaskan, pemberian penghargaan ini sangat penting, lantaran komunikasi merupakan interaksi seseorang untuk menyampaikan pesan. Proses tersebut akan memberi manfaat, jika pesannya informatif, edukatif, dan layak, serta disampaikan secara benar.

Untuk tiga lembaga penerima AKI 2016, yaitu pada kategori Lembaga Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Sosial, Bidang Literasi Media, dan Bidang Komunikasi Pemberdayaan.
“Saat ini, kemajuan teknologi komunikasi dan informatika, tidak serta merta membuat masyarakat menjadi pandai dalam melakukan aktivitas komunikasi. Terbukti, adanya fenomena sosial di masyarakat yang menyebar informasi untuk menghasilkan konflik. Itu terjadi karena tidak berimbangnya informasi,” jelas Rosita.

Mereka yang menerima penghargaan tersebut, baik yang perorangan atau lembaga, merupakan orang atau lembaga terpilih yang mampu menyampaikan pesan positif, dan memberi manfaat, inspirasi, serta kegiatan komunikasi lainnya, bagi orang dan lingkungan di sekitarnya. Setelah dilakukan penjurian, maka ditentukanlah penerima penghargaan AKI 2016, dari pegiat yaitu Edi Fadhil dari Pontianak untuk kategori Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Sosial, Prof Yusny Saby dari Banda Aceh untuk kategori bidang komunikasi perdamaian, Prof Hendra Gunawan dari ITB Bandung, untuk kategori bidang komunikasi pendidikan dan Romses Ohee dari Papua, untuk komunikasi kebangsaan.
img-20161013-wa001

img-20161013-wa002

AKI ini, merupakan stimulus untuk membangkitkan semangat diseminasi informasi yang cerdas dan berkualitas melalui media di ruang publik. Tujuan utamanya juga, bisa berimplementasi agar stabilitas sosial terjaga,” lanjut Rosita. Ia juga menjelaskan, AKI 2016 ini bisa menyadarkan, meningkatkan, mengajak, meningkatkan partispasi masyarakat, akan pentingnya memproduksi informasi dan memanfaatkan media publik secara etis dan berkualitas. Serta menjadikan komunikasi media publik Indonesia beretika dan berkualitas.

Sementara itu, Ketua Tim Juri AKI 2016 Prof Sasa Djuarsa, yang merupakan seorang akademisi menambahkan, AKI kali ini mengambil tema ‘Komunikasi Cerdas dan Mencerahkan’, yang menganut tujuh prinsip, yaitu informatif, bermanfaat, inspiratif, inovatif, edukatif, etis, dan partisipatif.

“Para penerima AKI 2016 ini, terbagi dari Sabang sampai Merauke. Yang mencakup seluruh lapisan masyarakat, tergantung segmen demografi, segmen geografi, dan segmen psikografi,” kata Prof Sasa.

Para penerima penghargaan tersebut tidak asal langsung jadi penerima. Ada riset yang dilakukan selama enam bulan di lima kota, yaitu Bandung-Jabar, Pontianak-Kalbar, Banda Aceh-Aceh, Makassar-Sulsel, dan Denpasar-Bali.

Penjurian pun berlangsung terbuka. Dan dewan juri berasal dari tokoh media, akademisi komunikasi, pengamat media serta praktisi komunikasi. Sedangkan untuk lembaga, tiga penerima AKI 2016 adalah Kelompok Informasi Masyarakat Mekarjaya, dari Bandung, untuk kategori komunikasi publik bidang komunikasi sosial, kemudian Ruang Antara dari Makassar untuk kategori bidang literasi media, serta yang terakhir Sloka Institute dari Denpasar dengan kategori bidang komunikasi pemberdayaan.

Malam Anugerah Komunikasi Indonesia (AKI) 2016, penghargaan diberikan pada penggiat dan lembaga komunikasi dengan 7 kategori.
Adapun 7 penggiat dan lembaga peraih Anugerah Komunikasi Indonesia 2016, sebagai berikut :
1) Edi Fadli, Banda Aceh
Kategori Penggiat Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Sosial
2) Prof Yusni Sabri, Banda Aceh
Kategori Penggiat Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Perdamaian
3) Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Mekarjaya, Bandung
Kategori Lembaga Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Sosial
4) Prof Hendra Gunawan, Bandung
Kategori Penggiat Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Pendidikan.
5) Ruang Antara, Makassar
Kategori Lembaga Komunikasi Publik Bidang Literasi Media
6) Sloka Institute, Bali
Kategori Lembaga Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Pemberdayaan
7) Ramse Ohee, Papua
Kategori Penggiat Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Kebangsaan.

Ketujuh peraih penghargaan AKI 2016, dipilih berdasar atas inspiratif, edukatif, dan partisipatif. Peraih AKI 2016 bidang Komunikasi Kebangsaan, Ramse Ohee, mengatakan jiwa nasionalisme masyarakat papua dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah diturunkan dari leluhur tanah papua.

Sumber: http://mediaindonesia.com/news/read/72093/kemenkominfo-beri-anugerah-komunikasi-indonesia/2016-10-13#; http://inspiratifnews.com/raih-anugerah-komunikasi-indonesia-ini-pesan-ramse-ohee/; dll.

Note verbs in the active voice may be either writepaper4me.com/ transitive or intransitive

Prof. Hendra Gunawan Raih Habibie Award 2016 Bidang Ilmu Dasar

 

Yayasan Pembinaan, Pengembangan Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDM Iptek) menganugerahi Habibie Award Periode ke-18 kepada empat orang-orang yang dinilai berkontribusi pada pengembangan iptek dan kebudayaan di Indonesia. Profesor dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ), dua ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB), dan penemu tujuh produk farmasi meraih Habibie Award ke-18 dari Yayasan Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Rabu (5/10/2016). Mereka adalah Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Prof. Hendra Gunawan, Ph. D, Prof. Ir. Tommy Firman, M. Sc. , Ph. D,  dan Raymond R. Tjandrawinata, Ph. D. , M. S. The nematodes include many species that are important agricultural pests that https://eduessayhelper.org attack plant roots? , M. B. A. MI/Galih Pradipta. “Program ini sudah berlangsung sejak 1999, dan telah memberikan Habibie Award kepada 55 orang, dan beasiswa S3 kepada 97 orang. Mereka terpilih dalam proses seleksi oleh panitia seleksi yang dibentuk secara independen,” kata Ketua Pengurus Yayasan SDM Iptek Wardiman Djojonegoro dalam Penganugerahan Habibie Award Periode XVIII, Jakarta, Rabu. Kali ini, ia mengatakan, Habibie Award yang memang dianugerahkan kepada perseorangan atau badan yang dinilai aktif dan berjasa besar dalam menemukan, mengembangkan dan menyebarluaskan berbagai kegiatan iptek yang baru (innovative) ini diberikan kepada Prof. Hendra Gunawan, Ph. D untuk bidang ilmu dasar, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB. Peraih Habibie Award bidang ilmu dasar adalah Hendra Gunawan. Ia adalah Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB dan inovator dalam area analisis fourier modern, yakni proses matematika yang digunakan untuk memecahkan masalah bentuk gelombang kompleks dengan menguraikan gelombang tersebut menjadi komponen sinusoidanya. Matematikawan paling produktif di Indonesia ini konsisten dalam area Analisis Fourier modern dengan banyak publikasi pada area yang sama dan Teori Interpolasi. Bersama dengan beberapa rekan peneliti, dirinya berhasil mendapatkan suatu karakterisasi dari operator integral fraksional yang diperumum pada ruang Morrey. Hingga saat ini, Profesor kelahiran Bandung, 52 tahun lalu ini, telah menulis 30 makalah dalam area Analisis Fourier, 32 dalam area Analisis Fungsional, dan 14 area lainnya. Peraih Habibie Award bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi adalah Raymond R. . Tjandrawinata, Ph. D. , M. S. , M. B. A yang juga Direktur Pengembangan Perusahaan di PT Dexa Medica. Pria yang pernah berkarier di NASA Center dan SmithKline Beecham Pharmaceutica ini merupakan penemu tujuh produk farmasi. Raymond juga memegang empat hak paten di dalam negeri, serta 16 hak paten lainnya di beberapa negara. Raymond. untuk bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi yang merupakan Direktur Pengembangan Perusahaan di PT Dexa Medica. Sebagai pemenang di bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi dirinya begitu dekat dalam peneliti farmasi. Dalam pidato ilmiahnya di kediaman BJ Habibie usai menerima Habibie Award ke-18, ia mengatakan pentingnya penelitian untuk mengungkap khasiat dari sekitar 32. 000 jenis tumbuhan yang ada di Indonesia demi menemukan obat-obat baru. Tidak ada cara lain selain meningkatkan jumlah penelitian dan meningkatkan dana riset. Karena itu, dirinya memaparkan tentang Penemuan Obat Baru di Indonesia dalam era Revolusi Industri Wilayah. Tommy Firman yang merupakan Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB aktif di berbagai International board member jurnal internasional terkemuka, dan telah menerima berbagai penghargaan diantaranya Ristek Award, Rockefeller Award dan Otto Kornigsberger. Prof. Ir. Tommy Firman, M. Sc. , Ph. D. Ia berharap dengan anugerah tersebut dapat mendorong pengembangan dan kesadaran akan teknologi, sekaligus memberi semangat para peneliti Indonesia untuk terus berkarya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta kontribusi nyata untuk bangsa. Dalam pidato ilmiahnya yang bertema Meningkatkan Efektivitas Penataan Ruang Untuk Pengembangan Wilayah dan Kota di Indonesia, ia mengatakan bahwa tata ruang dan penataan ruang sebenarnya bukan tujuan akhir, melainkan sebuah alat mencapai tujuan-tujuan pembangunan yang lebih luas. Dirinya juga menekankan pentingnya masukan dari kepakaran dalam penyusunan Rencana Tata Ruang. Tata ruang yang ada sering kali dipandang sebagai sektor sendiri, padahal diharapkan menjadi instrumen sinkronisasi dan integrasi antar antarsektor di dalam ruang utuk mencapai tujuan pengembangan wilayah dan kota. Sedangkan Sapardi Djoko Damono yang telah menerbitkan berbagai sajak sejak 1957 ini merupakan Profesor di bidang sastra, di mana sajak hingga novel karyanya bahkan diterbitkan dalam sejumlah bahasa. untuk bidang ilmu rekayasa, dan Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono untuk bidang ilmu kebudayaan. Dalam pidato ilmiahnya, ia menyebut sastra yang pada hakikatnya adalah teknologi, jika seseorang mengartikannya sebagai konsep tersebut sebagai cara melakukan sesuatu. Dirinya juga menyebutkan perkembangan teknologi telah menyebabkan munculnya berbagai wahana baru dalam upaya berkomunikasi lewat sastra. Dan perubahan mendasar antara lain diakibatkan berubahnya status dari citizen menjadi netizen. Penyerahan Habibie Award untuk kali ke-18 ini dilakukan di Pendopo Habibie dan Ainun, Jakarta, Rabu (5/10). Turut hadir dalam penyerahan anugerah tersebut presiden ke-3 RI, BJ Habibie. Ketua Yayasan SDM Iptek Wardiman Djojonegoro mengatakan, keempat sosok yang mendapat Habibie Award masing-masing juga menerima hadiah sebesar 25 ribu dolar AS, sertifikat dan medali. Habibie Award diberikan pada orang-orang yang dinilai sangatbaktif dan berjasa besar dalam menemukan, mengembangkan, dan menyebarluaskan berbagai kegiatan iptek. Serta, bermanfaat secara berarti bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan dan perdamaian.

Reference:

  1. Metrotvnews. com,
  2. http://www. aktual. com/habibie-award-18-anugerahi-empat-ilmuwan/
  3. AntaraNews
  4. Kompas. com
  5. Jakarta, Aktual. com –

 

 

Biologi Sintetik dan Keanekaragaman Hayati – Peluang dan Tantangan

Kuliah Inaugurasi

Biologi Sintetik dan Keanekaragaman Hayati – Peluang dan Tantangan

Prof. Dr. Endang Sukara ( Komisi Bidang Ilmu Pengetahuan Dasar -AIPI)

Tema yang diusung pada sidang paripurna Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tahun  2016 ini adalah “PENGERAHAN/PENGUASAAN ILMU DASAR  SEBAGAI BASIS PEMAJUAN DAN PEMANFAATAN IPTEK UNTUK PEMBANGUNAN BANGSA”. Tema ini sangat relevan dan bahkan perlu kita cermati secara lebih sungguh-sungguh perkembangannya di bidang biologi. Pengerahan/penguasaan ilmu dasar/mendasar di bidang biologi ini sangat penting agar pemahaman tentang keanekaragaman hayati khususnya dalam tingkat genetika molekular dapat kita pahami untuk masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.

 

Keanekaragaman hayati adalah basis untuk menjaga keajegan fungsi ekosistem dan kemapanan daya dukung planet bumi. Keanekaragaman hayati mutlak adanya bagi keberlangusung kehidupan. Keanekaragaman hayati adalah penyedia sandang, pangan, dan papan, obat/kesehatan, dan energy bagi manusia sekarang dan dimasa yang akan datang. Keanekaragaman hayati adalah basis untuk mengelola sumber daya air, siklus nutrisi, pembentukkan tanah, penyerap karbon, pengatur iklim, pengontrol penyakit, pelindung dari bencana alam, sumber spiritual, pendidikan, estetika dan untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

 

Menurut catatan yang ada saat ini, tercatat ada sekitar 2 juta jenis mahluk hidup yang sudah diketahui dan didokumentasikan. Jumlah ini akan terus bertambah karena ada fakta, bahwa setiap tahun, ilmuwan masih menemukan setidaknya 18.000 jenis baru. Ilmuwan menduga, bahwa setidaknya ada 5 juta atau bahkan lebih dari 50 juta jenis mahluk hidup yang menghuni planet bumi kita ini (May, 2007) dan sebagian besar ada di laut (Mora, 2011). Sekalipun demikian, tidak ada seorangpun yang mengetahui secara pasti tentang berapa jenis mahluk hidup yang seharusnya disisakan di planet bumi ini untuk tetap menjaga keajegan dan kemampuannya menopang hidup dan kehidupan. Sudah menjadi kesepakatan umum, bahwa semakin banyak jenis dalam suatu ekosistem, maka akan semakin mapan ekosistem tersebut. Semakin banyak jenis mahluk hidup di planet ini akan semakin tinggi pula jasanya untuk menunjang kehidupan terutama kehidupan umat manusia.

 

Dari peta distribusi, pusat keanekaragaman hayati dunia itu ada di kawasan tropis di benua Afrika, Amerika dan Asia. Indonesia kondisinya sangat berbeda dengan kondisi di benua Afrika maupun Amerika. Indonesia bukan negara kontinen malainkan negara maritime bertabur pulau. Jumlah pulau di Indonesia ada 17.000 buah dengan panjang garis pantai 99.090 km atau kedua terpanjang setelah Kanada (Widjaja et al., 2014). Indonesia juga memiliki keragaman ekosistem alami (Kartawinata, 2013, Widjaja et al., 2014) yang tersebar mulai dari palung laut dalam sampai puncak gunung dengan salju abadi. Kondisi ini lah yang menjadikan Indonesia memiliki keanekaragman hayati yang sangat tinggi, unik/khas dan endemik. Endemik artinya jenis mahluk hidup ini tidak dijumpai dimanapun di dunia kecuali di habitat tertentu di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukti penelitian mengungkapkan, bahwa sebagian besar jenis flora (van Heist et al., 2010) dan fauna yang dijumpai di Papua dan Papua Barat bersifat endemik. Peneliti Conservasi Internasional Indonesia bersama LIPI dalam ekspedisinya di di kawasan Pengunungan Foja dan Membramo Papua pada tahun 2003 menemukan 40 jenis mamalia unik termasuk Golden Kanguru (Dendrolagus pulcherrimus) dan Zaglossus sp. serta mamalia paling kecil, Mosia nigrscens yang beratnya hanya 2 g.

 

Indonesia adalah negara mega-biodiversity. Dengan luas kawasan yang hanya 1.3% dari total luas kawasan di planet bumi ini, Indonesia memiliki lebih dari 12% jenis flora dan fauna. Tidak kurang dari 25.000 jenis tumbuhan berbunga, 250.000 jenis serangga, 20.000 jenis moluska, 8.500 jeis ikan, 1.500 jenis burung, 500 jenis mamalia, 2000 jenis reptile, dan 12.000 jenis jamur yang sudah diketahui dijumpai disini.

 

Disanping keanakaragaman hayati, Indonesia juga memiliki keragaman budaya yang tinggi. Setidaknya, Indonesia, memiliki tidak kurang dari 400 etnik dengan 665 bahasa. Hubungan budaya dengan keanekaragaman hayati telah memunculkan begitu banyaknya pengetahuan tradisional. Pengetahuan tradisional dapat kita jumpai dengan jelas dalam praktek pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam bidang pertaian dan pengobatan tradisional. Bagi bangsa Indonesia, keanekaraganan hayati ini akan semakin penting maknanya jika disandingkan dengan kekayaan budayanya/pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan moderen.

Hadirin yang saya muliakan,

 

Namun demikian, kondisi keanekaragaman hayati di dunia termasuk di Indonesia sangat memprihatinkan. Jumlah keanekaragaman hayati di planet bumi ini terus mengalami penyusutan. Penyebab utamanya adalah karena ulah kita sendiri. Dengan seribu satu macam dalih, banyak lahan hutan yang kaya akan keanekaragaman hayati dirusak, atau dikonversi menjadi ladang tambang atau diubah menjadi jalan dan perkotaan. Laut dengan keanekaragaman hayati tinggi juga dikorbankan. Dasar laut dikeruk untuk pertambangan atau diambil pasirnya untuk perluasan daratan. Laut dicemari dengan berbagai polutan termasuk plastik. Laut dijadikan tempat pembuangan sampah terakhir. Pencemaran laut Indonesia adalah no 2 tertinggi di dunia. Laut menjadi kotor dan juga mengalami asidifikasi. Tentu saja, hal ini telah mengakibatkan ancaman terhadap keberadaan keanekaragaman hayati laut. Dengan demikian, kepunahan jenis tidak hanya terjadi di daratan tetapi juga terjadi diperairan dan dilautan.

 

Sebenarnya, kesadaran umat manusia tentang perlunya mempertahankan eksistensi keanekaragaman hayati terus menguat dan puncaknya terjadi pada tahun 1992 ketika para Kepala Negara bertemu di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) bumi di Rio de Jeneiro, Brazil. Dalam KTT itu telah disepakati tiga konvensi penting dan salah satunya adalah Konvensi Keanekaragaman Hayati atau Convention on Biological Diversity (CBD). Konvensi ini mempunyai tiga obyektif yaitu konservasi, pemanfaatan secara berkelanjutan dan pembagian keuntungan dari pemanfaatannya. Konvensi ini telah diratifikasi oleh bangsa Indonesia dengan Undang-Undang No. 5 tahun 1994. Dengan meratifikasi konvensi ini, maka adalah kewajiban seluruh rakyat Indonesia untuk mengamankan 3 obyektif CBD tersebut diatas. Tidak berhenti disitu, Konferensi Para Pihak (Conference of the Parties/COP –CBD) telah menyepakati 2 protokol penting yait Protocol Cartagena dan Protocol Nagoya. Indonesia pun telah meratifikasi kedua protocol ini. Protocol Cartagena diratifikasi dengan UU No. 21 tahun 2004 dan protocol Nagoya diratifikasi dengan UU No 11 tahun 2013. Dengan kata lain, bangsa Indonesia dengan sadar, turut menjaga keanekaragaman hayati dan turut memanfaatkan keanekaragaman hayati mulai ekosistem, jenis, gen hingga molekul kimia yang terkandung di dalamnya dan turut serta pula dalam pengaturan pembagian keuntungan dari pemanfaatan keanekaragaman hayati tersebut. Dengan meratifikasi ketiga instrumen internasional yang mengikat itu, Idonesia bersama seluruh negara pihak di dunia bertekad untuk melestarikan keanekaragaman hayati, memanfaatkan keanekaragaman hayati sampai ketingkat gen dan molekul serta perlindungan terhadap pengetahuan tradisional yang terkait dengan isu keanekaragaman hayati dan sumber daya genetiknya.

Hadirin yang saya muliakan,

Perkembangan Ilmu Pengetahuan Hayati di Indonesia

Kemajuan Ilmu pengetahuan tentang keanekaragaman hayati di Indonesia berjalan sangat lamban. Pada awal kemerdekaan, fokus perhatian diutamakan pada ekspedisi dan eksplorasi dan pengenalan jenis baik flora maupun fauna berbasis pada morfologi dan sifat-sifat biologinya dengan maksud untuk memberikan nama ilmiah terhadap jenis dan melakukan pengklasifikasian mahluk hidup yang ada di bumi pertiwi ini dan memahami betapa tingginya keanekaragaman hayati yang kita miliki. Koleksi ilmiah flora dan fauna terus bertambah dan disimpan dengan cermat mengikuti kaidah-kaidah ilmiah yang berlaku dan diakui di seluruh dunia. Koleksi ilmiah flora dan fauna awetan ini dilakukan di Herbarium Bogoriense dan di Museum Zoologicum Bogorience dan koleksi tumbuhan hidup dilakukan di Kebun Raya diakui dunia dan dipakai sebagai rujukan penelitian keanekaragaman hayati. Berjalan dengan waktu, koleksi terus bertambah dan menjadikan Herbarium Bogoriense  menjadi top 3 besar dunia dalam hal koleksi specimen tumbuhan/herbarium setelah Leiden di Belanda dan Kew Garden di Inggris.  Sementara itu Museum Zoologicum Bogoriense termasuk 10 besar dunia menyamai Natur Kunde di Jerman dalam hal koleksi specimen faunanya. Koleksi tumbuhan hidup juga terus bertamah tidak hanya di Bogor (Kebun Raya Bogor) tetapi juga di Kebun Raya Cibodas), Kebun Raya Purwodadi, Kebun Raya Bedugul dan di Pusat-Pusat Konservasi Ex situ tumbuhan di lebih dari 21 tampat tersebar seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada awal tahun 1970-an, beberapa ilmuwan muda yang dikirim ke luar negeri untuk melanjutkan studinya berangsur kembali ke Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan hayati terus berkembang. Kegiatan eksplorasi dan penamaan jenis tumbuhan dan hewan masih terus dilanjutkan. Pendekatannya masih seperti peneliti-peneliti terdahulu, α-taksonomi, dengan pendekatan yang lebih maju  menggunakan pendekatan biokimia dan analisis di tingkat molekular, β-taksonomi, serta menyusunnya dalam system klasifikasi modern yang kemudian disusul dengan studi lebih mendalam termasuk meneliti aspek-aspek biologis lainnya, γ-taksonomi. Dengan demikian, informasi ilmiah untuk setiap takson yang dipelajari bertambah, dan arti serta makna dari setiap koleksi ilmiah keanekeragaman hayati yang ada di Herbarium Bogoriese, di Museum Zoologicum Bogoriense dan Kebun Raya menjadi lebih paripurna sebagai koleksi ilmiah rujukan.

Awal tahun 1980-an aspek genetic mulai diperhitungkan. Istilah germplasm/plama nutfah, morfo-genetik dan cyto-genetic mulai muncul kepermukaan. Awal tahun 1990, kemampuan membaca gen juga mulai berkembang di Indonesia dan istilah bioteknologi mulai diperkenalkan. Pemerintah kemudian menetapkan 3 pusat unggulan bioteknologi. Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI dan Badan Litbang Pertanian ditetapkan sebagai Pusat Bioteknologi Pertanian. Sementara itu BPPT ditetapkan sebagai Puat Bioteknologi Industri. Di perguruan tinggi ditetapkan Pusat Antar Universitas Bioteknologi dengan anggota IPB, ITB dan UGM. Pemerintah juga membangun Lembaga Biologi Molecular Eijkman di Jakarta.

Segala upaya yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia sejak akhir 1990-an hingga sekarang baru terbatas pada peningkatan kemampuan dalam MEMBACA gen. Kemampuan membaca gen di Indonesia dipelopori oleh Lembaga Eijkman dengan fokus pada DNA mitochodria manusia terkait dengan berbagai penyakit pada manusia. Kemampuan membaca gen ini dalam dua dasawarsa terakhir ini juga berkembang di Lembaga Riset Nasional termasuk LIPI. Perkembangan diintensifkan melalui kerjasama internasional dalam bidang ilmu pengetahuan hayati, termasuk dalam bidang mikrobiologi. Dengan kemampuan membaca gen, penemuan jenis-jenis bahkan marga baru mikroba mengalami percepatan (Sukara et al., 2009, Sukara and Melliawaty, 2007, Lisdiyanti et al., 2010, Desriani et al., 2012, Kanti at al., 2013 and Sulistiani et al., 2014). Bertambahnya koleksi dan terakumulasinya informasi gen mikroba Indonesia telah mendorong LIPI membangun Pusat Depositori Koleksi Mikroba hidup (Microbial Culture Collection) yang diberinaman Indonesian Culture Collection (InaCC). Fasilitas ini menjadi bagian tidak terpisahkan dengan Pusat Koleksi Referesi di bidang Botani dan Zoologi (Herbarium Bogoriense/HB, Kebun Raya dan Museum Zoologicum Bogoriense/MZB) .

Kemampuan membaca gen pada mikroorganisme asli Indonesia telah mendorong microbiologiwan/wati di tanah air meningkat kemampuannya untuk melihat potensi dari setiap jenis mikroba yang dikumpulkan (Tanaka et al., 2002, Sukara, 2005, Sukara, 2007a, b., Fahrurrozi et al., 2010, Lisdiyanti et al., 2010, Desriani et al., 2012, Kanti et al., 2012, Sukara and Melliawaty, 2014). Penelaahan lebih seksama dilakukan terhadap kelompok actynomicetes non Streptomyces yang berhasil diisolasi dari berbagai tempat di seluruh wilayan NKRI. Studi awal diduga, bahwa kelompok ini memiliki segudang potensi. Diatara potensi yang dapat digali adalah potensi untuk mendegradasi polyacetate resin dan plastic, antikholesterol, antifungal, antibacterial, peptide antiviral, peptide antibiotic, anti tumor termasuk inhibitor FGF, penghasil quinone-anthracycline dan antineoplastic untuk khemoterafi, penstabil obat, makanan, kosmetik dan enzim untuk keperuan industry. Kelompok mikroba ini juga berpotensi untuk pengembangan bahan baku alat alat diagnostic, pewarna makanan, anthelmintic dan novel paints coating. Menarik untuk disimak, ketika dilakukan kerjasama dengan negara maju, e,g, Chugai Pharma Company, dengan menggunakan kemampuan HTS, beberapa strain jamur dan actynomycetes ada yang diketahui mempunyai potensi menghasilkan obat anti infeksi, kelainan metabolism dan immunology. Sementara itu, Kyowa Hakko Kirin Co., melaporkan bahwa ada isolate actinomycetes dan jamur asli Indonesia yang mungkin bisa dipakai untuk pengembangan pengobatan kelainan system syaraf pusat dan terapi tumor. Kikkoman melaporkan ada strain yang mampu menghasilkan Fru-6P oxidase yang dianggap penting untuk mengembangkan alat diagnostic gula pengganti diagnostic yang saat ini ada dipasaran. Dalam koleksi yang kita miliki ada juga jamur yang sangat menarik perhatian, Pseudobotrytis terrestris yang dilaporkan dapat menghasilkan enzyme untuk menghancurkan lemak dan berguna untuk menghilangkan timbunan lemak pada penderita obesitas dan mengobatai penyakit atherosclerosis (Uchida et al., 2008). Kerjasama LIPI dengan Zeziang University dengan pendekatan metabolit profiling berhasil menemukan beberapa senyawa aktif untuk pengobatan penyakit penyumbatan pembuluh darah, jantung, hepatitis dan diabetes dari jenis-jenis tumbuhan asli Indonesia.

Namun demikian, upaya pemanfaatan keanekaragaman hayati yang kita miliki apalagi gennya sampai hari ini belum ada yang bisa dicatat sebagai ceritera sukses anak bangsa.  Kegiatan pemanfaatan gen dalam proses rekayasa genetic khususnya rekayasa genetic di bidang pangan masih sangat sedikit. Itupun masih tergantung kepada gen dan teknik rekayasa yang dikembangkan oleh ilmuwan negara maju. Pemenfaatan gen yang berasal dari keanekaragaman hayati milik kita sendiri masih belum terjadi dan mungkin memerlukan waktu yang tidak sedikit.

Perkembangan Ilmu Pengetahuan Hayati Dunia

Kemajuan ilmu pengetahuan di bidang keanekaragaman hayati di negara-negara maju mengalami percepatan yang luar biasa dan tidak dapat dibendung. Kemampuan membaca gen semakin maju. Kemampuan memilih gen fungsional juga sangat cerdas. Demikian juga kemampuan mereka dalam memanfaatkan gen baik dalam sektor pertanian maupun industry farmasi dan kesehatan. Dalam bidang pertanian, gen yang berasal dari bakteri, Bacillus thuringiensis, yang bertanggung jawab untuk memproduksi racun serangga, Bt toxin, telah berhasil dengan sempurna diisolasi dan dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai jenis tanaman pangan melalui rekayasa genetik. Dengan menggunakan rekayasa genetik ini, komoditi pertanian penting seperti jagung dan kedelai berhasil dikembangkan menjadi genetically modified crops (GMC) yang sangat strategis. Kini telah ditanam secara masal di Amerika dan Brazil. Luas tanaman GMC, sekarang telah mencapai lebih dari 160 juta ha. Produk GMC akhirnya menguasai dunia. Indonesia-pun sangat tergantung kepada produk-produk GMC ini. Produk GMC termasuk jagung dan kedelai lebih unggul, lebih baik dan lebih murah jika dibandingkan dengan produk tanaman pangan konvensional. Di bidang farmasi, penggunaan gen dalam proses rekayasa genetika untuk memproduksi obat-obatan bahkan jauh lebih maju dibandingkan dengan kemajuan di sektor pertanian. Dalam kesempatan ini, saya mengambil contoh tentang gen penyandi ziconotida dari siput laut, Conus sp. Ziconotida adalah obat pembunuh rasa sakit dan keampuhannya 1.000 kali jika dibandingkan dengan morphin. Senyawa ini tidak menimbulkan adiktif pada penggunanya. Sekarang ziconotide dijual dengan merk dagang Prialt. Ziconotide ini dijual sebagai selective antagonist dari N-Type Voltage Sensitive Calcium Channels (VSCC) dengan harga US$ 6.500.000 per gram.

Kemajuan dalam membaca gen terus berlanjut. Pendekatan yang dilakukan tidak lagi menggunakan pendekatan alpha/beta/gama taksonomi tetapi menggunakan teknologi DNA Sequencing. Teknologi ini juga berkembang sangat pesat. Awalnya menggunakan Sanger’s chain termination (Sanger 454) pada pada tahun 1997-an. Pada tahun 2001, diperkenalkan alat yang jauh lebih canggih yang disebut dengan Next Generation Sequencing (NGS). NGS menggunakan teknik Pyro sequencing. Belum lima tahun umur NGS, pada tahun 2005 Illumina atau sequencing berbasis pada Reversible Terminator Sequencing diperkenalkan. Pada tahun 2011 beralih lagi ke Ion Torrents’ Ion Proton sequencer (Bleidorn, 2016). Dengan kemajuan-kemajuan ini  telah mengantarkan para ilmuwan negara maju lebih piawai lagi dalam hal membaca gen dan menemukan jenis-jenis molekul yang berguna dalam pencarian obat baru (Takano et al., 2012, Medena et al., 2011, Wright, 2014, Trosset and Carbonell, 2015). Orientasi ilmuwan di negara maju kini beralih dari membaca ke menulis gen. Dengan kata lain, DNA sekarang dapat disintesis dan diedit. Dalam 5 tahun terakhir ini, para ilmuwan berlomba untuk membuat DNA secara sintetis, merancang untaian DNA tersebut dengan maksud agar untaian DNA tersebut memiliki fungsi khusus untuk menghasilkan senyawa atau molekul kimia khusus tanpa harus menggunakan mahluk hidup yang ada di alam melainkan menggunakan jasa mikroba. Kemajuan dalam menulis gen telah melahirkan disiplin ilmu baru yaitu SYNTHETIC BIOLOGY (BIOLOGI SINTETIK).

Synthetic Biology (SB) is a multidisciplinary and rapidly evolving field – rational design and construction of new biological parts, devices and systems with predictable and reliable functional behavior that do not exist I nature, and re-design of existing, natural biological systems for basic research and useful purposes (Pauwels et al, 2012). There are 4 basic approaches for SB a. Engineering DNA-based biological circuits, b. Defining a minimal genome/minimal life (top-down approach), c. Constructing protocells or synthetic cells from scratch (bottom-up approach) and d. Developing orthogonal biological systems (Xenobiology) (Pauwels et al., 2012)

Sintetik biologi kini menjadi pusat perhatian negara-negara maju untuk memproduksi bahan baku industry yang lebih murah dengan presisi tinggi. Dengan kemajuan ini, perusahaan-perusahaan raksasa dunia tidak lagi menggantungkan dirinya kepada impor bahan baku yang dihasilkan oleh petani di negara berkembang dan meninggal sintetik kimia konvensional yang dianggapnya sangat mahal. Sintetik biologi kini menjadi basis industri mereka dengan mengandalkan kepada rekayasa genetik, pengaturan alur biosintesis/ metabolomic, dan rekayasa perangkat lunak untuk memproduksi molekul kimia menggantikan molekul kimia yang selama ini diekstraksi dari produk pertanian. Biosintesis molekul kimia telah mampu menggantikan produk apapun yang dihasilkan secara alami oleh tanaman. Menggunakan metabolic pathways engineering, biologi sintetik, bahkan dapat merubah sel mikroba menjadi pabrik kimia hidup (living chemical factories) (Liu et al., 2013, Liu et al., 2015, Breitling and Tanako, 2015) yang bahkan dapat diinduksi dengan mudah untuk memproduksi bahan kimia yang sebelumnya tidak pernah diproduksi oleh mahluk hidup biasa. Sintetik biologi diprediksi akan mampu mempercepat proses dengan menggunakan prinsip-prinsip rekayasa komputer, otomasi tinggi, dan sistem robotik. Dengan peranti lunak yang dikembangkan ini, perusahaan biologi sintetik akan mampu secara acak merancang, mensintesis molekul, menguji dan menganalisis untaian DNA dan untuk menghasilkan senyawa aktif dengan sangat mudah. Proses ini dapat dihubungkan dengan pembuatan jutaan variasi molekul yang jauh melebihi kemampuan industri kimia yang ada. Peneliti di Amyris Inc. (California) berhasil melakukan rekayasa alur metabolisme dari kamir untuk memproduksi artemisinic acid sebagai prekursor untuk membuat artemisinin, obat yang sangat ampuh untuk mengobati penyakit malaria. Artemisinin sebelumnya hanya dapat diekstraksi dari tanaman Artemisia anua. Rekayasa biologi untuk proses ini melibatkan 12 alur sintesis. Perusahaan ini mengeluarkan dana lebih dari 53 juta dolar. Evolva di Swedia mengkomersialkan kamir untuk memproduksi vanilin (Dressel, 2016) dan banyak lagi contoh produk yang telah berhasil dibuat melalui biologi sintetik. Produk-produk itu ada yang sudah dikomersialisasikan dan ada pula yang masih dihorizon

Saat ini, produk synthetic biology yang sudah masuk ke pasar meliputi Enabling Products: DNA Synthesis, Oligonucleotide Synthesis; dan enabled Products: Pharmaceuticals, Chemicals, Biofuels, Agriculture; Core Products: Synthetic DNA, Synthetic Genes, Synthetic Cells, XNA, Chassis Organisms). Sementara itu dalam bentuk technology yang sudah dipasarkan meliputi Enabling Technology: Genome Engineering, Microfluidics technologies, DNA synthesis & sequencing technologies, Bioinformatics technologies, Biological components and integrated systems technologies dan enabled Technology: Pathway engineering, Synthetic microbial consortia, Biofuels technologies. Synthetic Biology Market dalam aplikasi meliputi Research & Development: Chemicals, Agriculture, Pharmaceuticals & Diagnostics, Biofuels; Others: Environment, Biotechnology & Biomaterials, etc. Kegiatan perdagangan synthetic Biology sekarang terjadi di North America, Europe, dan di kawasan Asia Pacific. Menurut laporan Allied Market Research, pasar untuk synthetic biology akan mencapai $ 38.7 milyar pada tahun 2020 nanti. Saat ini setidaknya ada 22 perusahaan raksasa yang bergerak dalam perdagangan produk-produk synthetic biology termasuk Algenol Biofuels Inc., Allylix, Inc., Amyris, BASF, BioAmber, Codexis, Inc., DNA2.0, Inc, Evolva, GEN9 Inc., GeneArt (Life Technologies), Green Biologics Limited, Halozyme, Integrated DNA Technologies, Inc., Invista, Twist Bioscience, Verdezyne, Ziopharm, Thermo Fisher Scientific, Inc., Novozymes, Oakbio, OPX Biotechologies, dan OriGene Technologies, Inc.

Tantangan bagi Indonesia

Kita bangsa Indonesia tidak pernah ragu, bahwa kita memiliki sumber daya alam yang tidak ternilai. Kita berbeda dengan negara-negara di Eropa, Amerika, Jepang, Singapur, Korea, dan lainnya. Kita juga berbeda dengan kebanyakan negara di kawasan Sub-Sahara. Kita menyaksikan, bahwa negara-negara yang mencapai tingkat kemakmuran tinggi adalah negara yang memiliki sumber daya alam yang tidak banyak namun mereka memiliki ilmu pengetahuan tentang bagaimana mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam bagi kemakmuran negerinya. Sementara itu beberapa negara di Sub-Shara sumber daya alam terbatas dan tidak memiliki teknologi yang tinggi. Sementara itu kita menyadari bahwa sekalipun memiliki sumber daya alam yang berlimpah, kita belum memiliki cukup ilmu untuk memanfaatkannya. Pertanyaan :” Apakah kita akan segera memiliki ilmu pengetahuan yang memadai untuk dapat memanfaatkan sumber daya alam bagi kemakmuran negeri ?” Jawabannya sangat mungkin, namun banyak yang harus dibenahi. Pengerahan/penguasaan ilmu dasar/mendasar khususnya yang terkait dengan keanekaragaman hayati sangat mendesak. Dengan pengerahan/penguasaan ilmu di bidang ini termasuk ilmu membaca dan menulis gen, Indonesia akan mampu memainkan pernnya untuk melindungi dan memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati tidak hanya untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakatnya tetapi juga ikut berpartisipasi untuk menyumbangkan manfaatnya yang lebih besar bagi kesejahteraan seluruh umat manusia.

Permasalahan besar yang kita hadapi adalah rendahnya dana penelitian dan rendahnya jumlah peneliti di negeri ini. Menurut Data Bank Dunia Th 2012, jumlah peneliti di Indonesia sangat rendah. Menurut Kementerian Riset dn Pendidikan Tinggi, jika seluruh peneliti yang ada di Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian Nasional dan Swasta digabungkan, jumlah peneliti di Indonesia sekitar 40,000 orang atau sekitar 158 orang per satu juta penduduk. Smentara itu, berdasarkan data World Bank 2012, jumlah peneliti di negara tetangga kita, Singapura, adalah llebih dari 6.000 orang per satu juta penduduknya. Jumlah yang sangat besar ini juga ditandai dengan kualitas peneliti di Singapore yang sangat tinggi. Singapura melakukan rekrutmen peneliti yang berasal dari seluruh dunia. Hanya peneliti yang berkualitas tinggi bisa bekerja sebagai peneliti di Singapura. Insentif untuk penelitinya juga sangat besar dan didukung oleh dana penelitian yang sangat tinggi. Tidak lah mengherankan jika negara ini berada pada Quadrant kiri atas dari Quadrant Pasteur. Korea Selatan juga memiliki jumlah peneliti yang banyak, mendekati 6.000 orang per satu juta penduduknya. Peneliti di Korea Selatan dianggap sebagai pejuang, sangat dihormati oleh rakyat Korea Selatan dan bahkan dibebaskan dari Wajib Militer.

Penutup

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Dalam dua dasa warsa terakhit ini, perkembangan ilmu pengetahuan di bidang biologi berlangsung dengan sangat cepat. Perkembangan ini terutama terjadi di negara-negara maju. Sementara perkembangnnya di tanah air tidak begitu menggembirakan. Kemampuan manusia dalam membaca gen, potensi keanekaragaman hayti bagi kepentingan umat manusia dan juga bagi kepentingan dunia usaha menjadi lebih terang benderang. Minat dunia maju untuk eksplorasi dan mengeksplotasi keanekaragaman hayati Indonesia terus meningkat. Pelaksanaan kesepakatan global terkait dengan pengelolaan keanekaragaman hayati dan ilmu pengetahuan tradisional terkait perlu dicermati secara seksama. Namun demikian, dengan kemampuan menulis dan mengedit gen, kepentingan terhadap keanekaragaman hayati Indonesia diperkirakan akan berubah. Berbagai substansi kimia penting yang tadinya diekstraksi dari sumber daya alam, kini bisa disintesis dan diproduksi di laboratorium, Biologi Sintetik. PENGERAHAN/PENGUASAAN ILMU DASAR  SEBAGAI BASIS PEMAJUAN DAN PEMANFAATAN IPTEK TERKAIT DENGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA menjadi suatu keniscayaan. Tidak ada pilihan bagi bangsa Indonesia, kecuali menaikan jumlah peneliti, meningkatkan kualitasnya, meningkatkan dana penelitian, memperbaiki infrastruktur penelitian, dan memperbaiki insentif  kepada para penelitinya. Peneliti di negeri ini seharusnya tidak bekerja untuk mencari nafkah melainkan bekerja untuk bela negara. Olehkarenanya, jaminan kesehatan dan kesejahteraannya, jaminan kesehatan dan sekolah anak-anaknya, dan jaminan hari tuanya harus ditanggung oleh negara.

Pustaka Acuan

Bleidorn, C. 2016. Third generation sequencing: technology and its potential impact on evolutionary Biodiversity research. Systematics and Biodiversity, 14(1): 1 – 8.

Breitling, R. and E. Tanako. 2015. Synthetic biology advances for pharmaceutical production. Current opinion in Biotechnology, 35: 46 – 51.

Desriani, W. Amrinola, N. Hasanah, Rivai, B. Prasetya, and P. Lisdiyanti. 2012. Isolation and screening of fungi producing cellobiose dehydrogenase: “Enzymes for animal feed preparations based on enzymatic process”. International Journal of Pharma and Bio Science, 3 (1): B 576 – B 580.

Dressel, H. 2016. Synthetic Biology, Biodiversity and Farmers. EIC Communiqué, 116: 3 – 11.

Fahrurrozi, S. Ratnakomala, T. Anindyawati, P. Lisdiyanti and E. Sukara. 2010. Rapid Assessment of Diverse Trichodermal Isolates of Indonesia Origin for Cellulases Production. Annales Bogorienses, Vol. 14, No. 1 pp. 39-44.

Kanti, A., E. Sukara, K. Latifah, N. Sukarno and K. Boundy-Mills. 2013. Indonesian oleaginous yeasts isolated from Piper betle and P. ningrum. Mycosophere Online – Journal of Fungal Biology – ISSN 2077 7019, 4(6): 1015 – 1026.

Kanti, A., E. Sukara, N. Sukarno, and L. K. Darusman. 2012. Cellulolytic  yeast Isolated from Raja Ampat Indonesia. Annales Bogoriences. 16 (1): 27 – 34.

Kartawinata, K. 2013. Diversitas Ekosistem Alami Indonesia: Ungkapan singkat dan sajian foto dan gambar. Jakarta: LIPI Press bekerjasama dengan Yayasan Obor. Indonesia.

Lisdiyanti, P., M. Otogura, S. Ratnakomala, Y. Lestari, R. D. Hastuti, E. Triana, A. Katsuhiko and Y. Widyastuti. 2010. Actinokineospora baliensis sp. nov., Actinokineospora cibodasensis sp. nov. and Actinokineospora cianjurensis sp. nov., isolated from soil and plant litter

Liu, L. Y. Liu, H. Shin, R. R. Chen, N. S. Wang, J. Li,  G. Du and J. Chen. 2013. Developing Bacillus spp. as a cell factory for production of microbial enzymes and industrially important biochemicals in the context of systems and synthetic biology. Appl Microbiol Biotechnol. 97:6113–6127

Liu, Y., H. Shin, J. Li and L. Liu. 2015. Toward metabolic engineering in the context of system biology and synthetic biology: advances and prospects. Appl Microbiol Biotechnol (2015) 99:1109–1118

May, R. M. 2007. How many species are there on Earth? Science, New Series, 241 (4872): 1441 – 1449.

Medema, M. H., R.  Breitling, R. Bovenberg and E. Takano. 2011. Exploiting plug-and-play synthetic biology for drug discovery and production in microorganismsNature Review: Microbiology. 9: 131 – 137.

Mora, C., D. P. Tittensor, S. Adi, A, G. B. Simpson, and B. Worm. 2011. How many species are there on Earth and in the Ocean? PloS Biology, 9 (8): 1 – 8.

Pauwels, K., N. Willemarck, D. Breyer, and P. Herman. 2012. Synthetic Biology – latest developments, biosafety considerations and regulation challenges. In Biosafety and Biotechnology Unit (J. Peeters ed.), Institute Scientifique de Sante Publique, Brussels – Belgium, 43 p.

Sukara, E. 2005. Biodiversity (green gold) exit alternative for Indonesia from multi-dimensial crisis (Indonesian). Berita Biologi 7(6): vii-xx.

Sukara, E. 2007. Penerapan dan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Bidang Bioteknologi – untuk Pembangunan Kesejahteraan Rakyat. BioTrends, Vo. 2., No. 1 pp. 8 – 10.

Sukara, E. 2007. Present status and challenges on agriculture microbe bio-prospecting in Indonesia (review paper). Annales Bogorienses n. S. Vol 11 No. 1. Pp. 31 – 39.

Sukara, E., P. Lisdyanti, H. Yamamura, JY Park, Y. Kuribara, N. Sukarno., W. Sjamsuridzal, K. Ando, and Y. Widyastuti. 2009. Potential of the Wallacea Biodiversity in Bioprospecting – Honoring the Past – Celebrating the Future. Berita IPTEK Th ke 47 No. 1 pp. 9 – 18.

Sukara, E., and R. Melliawati. 2013. Isolation of Endophytic Microbes from Gunung Halimun National Park, West Java, Indonesia and Bioassay Their Potency for Eradicating Microbial Crops Pathogen. Annales Bogorienses, Vol. 17, No. 1 pp. 15 – 23.

Sukara, E. 2014. Tropical Forest Biodiversity to provide food, health, and energy solution of the rapid growth of modern society. Procedia Environment Sciences, 20: 803 – 808.

Sukara, E., and R. Melliawati. 2014. Potential values of bacterial cellulose for industrial application. Jurnal Selulosa, 4(1): 7 – 16inaugurasi ESK 2016 inaugurasi-2 inaugurasi-3 inaugurasi-4 inaugurasi-6

Sulistiani, Abinawanto, E. Sukara, A. Salamah, A. Dinoto. And W. Mangunwardoyo. 2014. Indentification of lactic acid bacteria in sayur asin from Central Java (Indonesia) based on 16S rDNA sequence. International Food Research Journal, Vol 21 (2): 527 – 532.

Takano, E., R. A. L. Bovenberg, and R. Breitling. 2012. A turning point for natural product discovery – ESF-EMBO research conference: synthetic biology of antibiotic production. Molecular Microbiology, 83(5), 884–893mmi_

Tanaka, M., M. Yoshimura, M. Suto, A. Yokota, K. Asano, E. Sukara, and F. Tomita. 2002. Production of lepidimoide by an endophytic fungus from polysaccharide extracted from Abelmoschus sp.: Identification of the product and the organisms producing it. Journal of Bioscience and Bioengineering, Vol. 93 (6): 531 – 536.

Trosset, J-Y and P. Carbonell. 2015. Synthetic biology for pharmaceutical drug discovery.  Drug Design, Development and Therapy 9: 6285–6302.

van Heist, M., D. Sheil, I. Rachman, P. Gusbager, C.O. Raweyai and H.S.M. Yoteni. 2010. The forests and related vegetation of Kwerba, on the Foja Foothills, Mamberamo, Papua (Indonesian New Guinea). Blumea 55, 2010: 153–161.

Uchida, R., Y. Pil Kim, I Namatame, H. Tomoda and S Omura. 2006. Sespendole, new inhivitor of lipid droplet synthesis in macrophages, produced by Pseudobotrytis terrestis FKA 25. The Journal of Antibiotics 59 (2): 93 – 97

Widjaja, E. A., Y. Rahayuningsih, J. S. Rahajoe, R. Ubaidillah, I. Maryanto, E. B. Waluyo dan G. Semiadi. 2014. Kekinian Keanekaragamti Indonesia 2014. Jakarta: LIPI Press, xxiv + 344 hal.

Wright, G. 2014. Synthetic biology revives antibiotics – Re-engineering natural products provides a new route to drug discovery. Nature 509: 513.