This is my first post

Without the oxford comma, you would end up with syrup all over your bacon and eggs

Insight: Coastal blue carbon: Why should we care?

Daniel Murdiyarso,
Bogor, West Java | Mon, November 7 2016

Delegates are gathering for the 22nd session of a climate conference in Marrakech, Morocco, from Nov. 7 to 18. It is interesting to note that after so many years, oceans will be part of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Conference of the Parties (COP) agenda. Why oceans? Why now?

Do oceans and seas have anything to do with the global climate? As a maritime continent with more than 90,000 kilometers of coastline, Indonesia has a lot of reasons to be concerned with the ocean agenda.

Coastal blue carbon is known as the carbon stored in tidal wetland ecosystems, which includes tidally influenced forests, mangroves, tidal marshes and seagrass meadows. It is kept within soil, living biomass and non-living biomass carbon pools.

Coastal blue carbon is a subset of blue carbon that also includes ocean blue carbon, which represents carbon stored in open ocean carbon pools.

Coastal wetland ecosystems are the most effective carbon storehouse on earth. They are capable of capturing and storing excessive atmospheric carbon with burial rates 20 times larger than any terrestrial ecosystems, including boreal and tropical forests. However, coastal wetlands are among the most threatened natural ecosystems.

Greenhouse gas emissions due to unsustainable coastal development are up to 1 billion tons per annum, 20 percent of the emissions from global deforestation. Indonesia, where almost a quarter of the world’s mangroves reside, contributes one-fifth (200 million tons CO2-eq) of its national emissions — an amount equal to 40 million fewer cars on the roads.

The sediment-trapping capacity of coastal blue carbon when restored and protected properly would facilitate these ecosystems to play an important role as “land builders”, a kind of ecosystem service that has never been monetized, in the face of a 1-meter sea level rise by the end of this century.

Oceans, along with marine and coastal resources, play an essential role in the well-being of people who live in coastal zones. In Indonesia, 60 percent of the population lives in coastal zones and globally it is around 37 percent. Coastal and marine resources contribute an estimated $28 trillion to the global economy each year through ecosystem services.

According to the Sustainable Development Goals (SDGs) Report, however, those resources are extremely vulnerable to environmental degradation, overfishing, climate change and pollution. Its 14th goal, SDG 14 “Life below water”, is to conserve and use the oceans, seas and marine resources for sustainable development.

One of the targets of SDG 14 is that by 2020 marine and coastal ecosystems should be sustainably managed, protected and restored to achieve healthy and productive oceans. We are nowhere near close enough to this target. In contrast, these ecosystems are disappearing very rapidly.

A new global climate treaty, the Paris Agreement, was adopted in December 2015. Its central aim is to strengthen the global response to the threat of climate change by keeping the global temperature rise this century well below 2 degrees Celsius above pre-industrial levels, and to pursue efforts to limit the temperature increase even further to 1. 5 degrees C.

The agreement requires all parties to put forward their best efforts through nationally determined contributions (NDCs) and to report regularly on their emissions and implementation efforts. Considering the potential of blue carbon to mitigate climate change, it is timely that blue carbon should be part of the national climate strategy.

In response to the new climate treaty, the International Partnership for Blue Carbon (IPBC) was established and participated in by a large number of countries, including Indonesia and various organizations. The momentum to work together to use the opportunities is ripe.

Blue carbon has huge potential for climate change mitigation and adaption. Mechanisms such as Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+), Nationally Appropriate Mitigation Actions (NAMA) and Joint Mitigation and Adaptation (JMA) should be utilized to enhance the resilience of coastal ecosystems and communities to cope with the changing climate and rising sea levels.

As far as the agreement is concerned, the financial arrangements may be consulted with the Green Climate Fund (GCF) through the Nationally Designated Authority (NDA). A number of accredited entities have been approved by the GCF’s board to implement the programs and projects at various levels. The trick is knowing what modern thinking about short story rules suggests and then deciding for yourself which rules to break and which to follow.

There are also a range of initiatives and like-minded groups, such as the Blue Carbon Initiative from Conservational International (CI), the International Union for the Conservation of Nature (IUCN) and UNESCO’s Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC), as well as the United Nations Environment Programme’s (UNEP) Blue Carbon Initiative, which are ready to lend their hands for capacity development purposes. They may be engaged in joint restoration and protection efforts.

Further steps need to be taken to improve the accountability of measurement, reporting and verification efforts in national communication and project development.

Blue carbon science is advancing to support policymakers with credible scientific information to make sound decisions relating to the sustainable use of coastal and marine resources. Scientists from research organizations and universities are continuously improving their understanding, hence reducing uncertainties around the fate of blue carbon.

At the Marrakech COP 22, where oceans will for the first time be part of the agenda, Indonesian delegates should strive to pave the way to meet common goals for humanity.

The suffering planet earth and vulnerable coastal communities cannot wait any longer for strong and ambitious decisions related to climate change mitigation and adaptation, of which blue carbon is an important component.
The writer is a professor at the Department of Geophysics and Meteorology at the Bogor Agriculture University (IPB), principal scientist at the Center for International Forestry Research (CIFOR), member of the Indonesian Academy of Sciences (AIPI) and former national focal point to the UNFCCC.
1. http://www. thejakartapost. com/news/2016/11/07/insight-coastal-blue-carbon-why-should-we-care. html
2. http://blog. cifor. org/46249/cop22-special-why-should-we-care-about-coastal-blue-carbon?fnl=en


Refleksi Direktur Jenderal PKH 2015-2016

Rabu, 1 Pebruari 2017 ,–refleksi-direktur-jenderal-pkh-20152016

Muladno: Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar -AIPI menuliskan:  Suatu pengalaman menarik dan sangat saya syukuri ketika saya diberi amanah menjadi Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Direktur Jenderal PKH) Kementerian Pertanian mulai 1 Juni 2015 melalui mekanisme lelang jabatan. Saya membawa konsep Sentra Peternakan Rakyat (SePR) sebagai pelengkap dan penguat konsep Sekolah Peternakan Rakyat (SoPR) yang telah diterapkan sejak awal 2013 melalui Institut Pertanian Bogor (IPB). Ini merupakan konsep pembangunan peternakan melalui penguatan kapasitas teknis dan nonteknis peternak kecil dengan syarat mereka harus bersatu dan berjamaah dalam bisnis, dengan skala kepemilikan kolektif ternak (dalam hal ini sapi pedaging) minimal 1.000 indukan.

Pada tahun anggaran 2016, awalnya direncanakan akan didirikan 500 SePR se-Indonesia dan pengadaan 5.000 ekor sapi indukan lokal. Mayoritas dana yang tersedia di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian disiapkan untuk kedua kegiatan tersebut. Salah satu tujuan utama yang ingin dicapai melalui dua program itu adalah untuk mempercepat penambahan populasi sapi di Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri. Namun dalam pembahasan akhir antara ekskutif (Kementerian Pertanian RI) dan legislatif (Komisi IV DPR RI), ditetapkan hanya ada 50 SePR yang dibentuk tetapi ada penambahan impor 25.000 sapi indukan dari Australia.

Menyedihkan sekali keputusan yang diambil oleh pemerintah dan wakil rakyat di DPR RI tersebut karena anggaran yang direncanakan untuk penguatan kapasitas peternak diturunkan 10 kali lipat sedangkan belanja sapi indukan dari Australia dinaikkan 5 kali lipat. Dalam perjalanannya, hanya sekitar 2.900 ekor sapi indukan dari Australia dapat diimpor sedangkan 50 SePR yang dibentuk secara nasional di beberapa provinsi belum semuanya berjalan sebagaimana yang diharapkan. Namun demikian beberapa SoPR binaan Institut Pertanian Bogor telah berkembang baik diantaranya di Bojonegoro, Banyuasin, Musi Banyusin, dan Ogan Komiring Ilir (OKI).

Salah satu SoPR yang secara lengkap menerapkan konsepnya adalah SPR Mega Jaya di Dusun Ngantru Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Dimulai awal 2013, jalannya SPR ini sangat tertatih-tatih. Para tokoh peternaknya bahkan sempat mencurigai IPB yang hanya memanfaatkan peternak dan ternaknya untuk media penelitian dan pengabdian mahasiswa/dosen IPB. Namun secara konsisten dan konsekuen IPB berjalan sesuai rel yang digariskan dalam konsep SoPR hingga saat ini. Melalui sinergi yang baik antara Dinas Peternakan Bojonegoro, IPB, para tokoh peternak, dan instansi yang terlibat, pada akhirnya SPR Mega Jaya saat ini telah dapat dinyatakan berhasil menjalankan konsep SoPR.

Secara bergotong royong, para tokoh peternak di Kasiman menunjukkan soliditas tim yang kuat dan mampu meyakinkan berbagai pihak untuk memperoleh fasilitas kerjasama Indonesia-Australia dalam program Indonesia Cattle Breeding. SPR Mega Jaya yang dibina Dinas Peternakan Kabupaten Bojonegoro dan IPB mendapat bimbingan teknis dari PT Santosa Agrindo (Santori) serta hibah sapi indukan dari proyek kerjasama Indonesia-Australia tersebut. Atas perkembangan yang cukup pesat, Desa Ngantru yang terletak hampir 40 km dari pusat kota Bojonegoro dikunjungi lebih dari 1.200 orang dari berbagai kabupaten dan provinsi. Alasan pengunjung bertemu para tokoh SPR Mega Jaya adalah ingin belajar cara memperkuat dan mempertahankan persatuan peternak hingga terjadi militansi tinggi untuk bersatu menjalankan bisnis kolektif.

Membangun kebersamaan para peternak SPR Mega Jaya melalui konsep SPR dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan peternak merupakan contoh riil upaya mencapai penerapan salah satu butir Nawacita pemerintahan Jokowi-JK. Itu juga menunjukkan terjadinya revolusi mental bagi para peternaknya di dusun tersebut. Diharapkan

Memperhatikan dinamika dalam menyusun rencana kegiatan dan penganggaran di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, ada beberapa catatan penting yaitu ;

  1. Perlunya grand design pengembangan populasi ternak sapi pedaging. Mendatangkan 25 ribu ekor sapi indukan dari Australia bukan pekerjaan ringan dan harus melibatkan banyak pihak, baik dari Indonesia maupun Australia. Implementasi pengadaan 25 ribu ekor sebaiknya disiapkan empat tahun sebelumnya. Tahun pertama, misalnya, dilakukan kesepakatan dengan semua pihak di Australia yang terlibat dalam jual beli sapi di Indonesia. Ini untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran pengiriman sapi dari Australia ke Indonesia. Tahun kedua, dilakukan penyusunan panduan pelaksanaan, pembentuk tim lintas instansi yang melibatkan unsur pemerintah (pusat dan daerah), perguruan tinggi maupun lembaga penelitian, instansi swasta, tokoh peternak, dan aparat penegak hukum/pengamanan. Tahun ketiga, penguatan keterampilan peternak calon penerima sapi dan pembangunan/perbaikan fasilitas kandang sapi. Juga persiapan sumberdaya pakan. Tahun keempat konsolidasi semua instansi yang terlibat dalam pengadaan sapi serta pengiriman sapi dari Australia ke Indonesia secara tertib, tersistem, dan terkontrol.

Pasca penerimaan sapi, pengawalan dan pendampingan kepada peternak terus dilakukan, serta dilakukan evaluasi secara berkala secara nasional. Organisasi juga disusun secara rapi dan direktur jenderal PKH harus menjadi pemimpin dalam pengadaan sapi indukan tersebut. Anggaran juga harus disiapkan secara cukup karena ini menangani barang hidup. Target kematian nol % harus dicanangkan sehingga semua harus bekerja secara maksimal. Pengalaman belasan tahun dalam pengadaan sapi dari luar negeri yang tidak terlalu sukses harus dijadikan guru terbaik untuk meraih keberhasilan yang sempurna. Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 209/Februari 2017.–refleksi-direktur-jenderal-pkh-20152016

(Muladno : Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar –AIPI, 2014)

Resilience using the steps above will help you develop the ability i need help with my homework why not try these to recover and adjust easily to the rejection that is a necessary part of your writing life

Simposium Konservasi Mamalia Besar Indonesia Satwa Liar Tidak Harus Dimiliki

2016 unas-jatna-supriatna-593x400

Jatna Suriatna, diposting pada 18 Agustus 2016,

Jakarta (Greeners) – Upaya pelestarian satwa liar, khususnya di Indonesia, terus menemui berbagai tantangan. Tidak hanya pada penegakkan hukum, penyampaian informasi mengenai pentingnya peran satwa liar di alam pun belum sepenuhnya diterima secara luas, termasuk di kalangan pemuda.

“Peran pemuda sangatlah penting. Mereka punya kekuatan sosial media dan aktivitas yang sangat besar. Kalau dari sekarang kita bekali dengan pengetahuan tentang pentingnya menjaga dan mengharmoniskan alam dengan pembangunan, mungkin dapat menyelamatkan satwa yang saat ini sedang dalam status ‘lampu merah’,” ujar Jatna Supriatna dalam Simposium Konservasi Mamalia Besar Indonesia di kampus Universitas Nasional, Jakarta, Selasa (16/08).

Peneliti yang pernah menjadi presiden di South East Asian Primatological Association tahun 2006 ini menjelaskan bahwa Indonesia paling banyak memiliki spesies mamalia, namun paling banyak pula satwanya dengan status terancam. Ia menyontohkan, pada tahun 1973, dirinya masih merasakan adanya harimau jawa, tetapi saat ini spesies tersebut sudah punah.

“Mamalia ini adalah aset kita. Kalau sampai harimau sumatera punah juga, rasanya tidak etis,” katanya menambahkan.

Hariyo Tabah Wibisono dari Flora Fauna International (FFI) yang turut hadir untuk membahas materi bertajuk “Pengenalan dan Konservasi Harimau Sumatera” menjelaskan, ancaman terhadap populasi harimau dan habitatnya diantaranya perburuan satwa langka, konflik dengan manusia yang biasanya berakhir pada kematian harimau, pembukaan lahan, hingga kebakaran hutan.

Hariyo memaparkan bahwa saat ini harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) hanya ditemukan di Sumatera, Indonesia. Padahal sebelumnya, populasi harimau sumatera tersebar hingga ke beberapa negara di wilayah Asia.

“Saat ini hanya sekitar tujuh persen saja yang tersisa. Status terancam punah terhadap harimau sumatera berlaku global karena kini hanya ada di Sumatera,” katanya.

Selain harimau, badak di Indonesia juga menyandang status terancam punah. Haerudin R Sadjuddin dari Yayasan Badak Indonesia mengatakan bahwa hasil penelitian pada tanggal 27 Juli 2016 menyatakan badak jawa hanya tinggal 62 ekor. Sementara populasi badak sumatera dalam rentang waktu 1986 hingga 2007 telah menurun hingga 82 persen.

“Setelah lebih dari dua dekade, delapan kantong populasi badak sumatera tidak ditemukan jejaknya lagi di Sumatera,” katanya menambahkan.

Koordinator Program Orangutan WWF Indonesia Chairul Saleh menyatakan, perburuan dan perdagangan liar adalah persoalan moral. Untuk itu, ia mendukung agar revisi terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Keanekaragaman Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya dapat segera diselesaikan.

Ia pun mengimbau agar publik turut berpartisipasi dalam penyadaran pelestarian satwa liar termasuk dengan tidak membeli satwa liar dan produk-produk satwa liar.

“Mencintai tidak harus memiliki. Kalau cinta kepada satwa, biarkan dia hidup liar di habitat dan ekosistemnya dan menjalankan perannya di alam,” ujarnya.


Sebagai informasi, Fakultas Biologi Universitas Nasional menggelar Simposium Konservasi Mamalia Besar Indonesia pada Selasa (16/08). Simposium yang mengangkat tema “Memaknai Kemerdekaan Dengan Memerdekakan Kuartet Mamalia Besar Indonesia” ini bertujuan untuk menggelorakan semangat perjuangan masyarakat dalam menyelamatkan, menjaga dan melestarikan populasi kuartet mamalia besar Indonesia, yaitu harimau, badak, gajah dan orangutan.

Dekan Fakultas Biologi Universitas Nasional Imran Said mengungkapkan bahwa kemerdekaan bisa dihubungkan dengan alam. “Kemerdekaan kita juga bisa dilekatkan dengan alam karena alam berdampak pada kemerdekaan spesies kita. Jangan sampai mereka terusir lagi dari tempat tinggal mereka,” pungkasnya. (Penulis: Renty Hutahaean)

Examples the faa’s ruling, the md’s diagnosis, usa’s stand rule 8 college essay writing service at to form the possessive of a plural abbreviation, add an s’