Игровые Автоматы Онлайн Слоты Аппараты Бесплатно

Мы искренне верим что вы оцените фрукты нашего труда, присоединившись к количеству азартных игроков. Если хотя бы один из них попытается вас обмануть, тогда немедленно обратитесь в службу поддержки нашего сайта. Lanjutkan membaca Игровые Автоматы Онлайн Слоты Аппараты Бесплатно

30 Tahun Perjalanan Gagasan INSPEX (Indonesian Space Experimant) 1985 -2015

Lebih seminggu yang lalu, AIPI telah memperingati jubelium perak 25 tahun usia akademi dengan rangkaian kegiatannya yang mantap. Kejadian dan peristiwa telah berlangsung dan dari hari setelah peristiwa itu kita lanjutkan kegiatan dan mengikuti perkembangannya sampai pada saat-saat tertentu di kemudian hari dimana kita tandai sebagai tonggak sejarah untuk memantau dan menilai apa yang telah kita perbuat dalam kurun waktu dari awal terjadinya peristiwa tersebut. Tidak kita sadari bahwa di tahun 2015 ini telah berlangsung waktu 30 tahun lamanya dimana Indonesia disadarkan akan adanya kemungkinan menerbangkan angkasawan Indonesia, yang waktu itu ditawarkan oleh NASA kepada pemerintah Indonesia, sebagai uluran tangan bersahabat karena pemerintah Indonesia telah memakai jasa-jasa baik NASA dalam mengorbitkan beberapa satelit komunikasi Palapa di angkasa Nusantara. Terkait Program Antariksawan Indonesia itu terbukalah peluang untuk melakukan penelitian di ruang angkasa, yang secara luas dikenal dengan nama INSPEX singkatan dari Indonesian Space Experimant. Gagsan-gagasan itu telah menjadi berita nasional yang berdampak nyata pada kehidupan ipoleksosbud: politik-ekonomi-sosial-budaya-ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa. Segera saja Pemerintah mengadakan sayembara untuk menjaring calon astronaut dan mengundang usulan-usulan penelitian untuk diseleksi dan dipilih menjadi INSPEX. Maka pada tanggal 1 November 1985 dengan SK No 306/M/Kp/XI/85 dengan lampirannya, Menteri Negara Riset dan Teknologi/Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi memutuskan pengangkatan para anggota Tim Pembina Antariksawan Indonesia (dimana Prof. Bambang Hidayat ada didalamnya) dan para anggauta Sub-tim Teknis Penelitian Antariksawan Indonesia (dimana Prof Bambang Hidayat dan Dr. R. Sunarjo [Lapan] ada didalamnya bersama calon astronot Dr. Pratiwi Sudarmono, Prof. Djokowoerjo S., Prof Samsoe’oed Sadjad dan Dr. Sulaksono). SK Menteri ini setiap tahun diperbaharui hingga 31 Maret 1994 dengan SK terakhir no. 239/Kp/M?IV/1993 tgl 10 April 1993 dimana Prof Sulaksono digantikan oleh Dr. Lien Sutasurya. Selain Prof Bambang dan Dr. Sunaryo, maka para anggota Sub-tim Teknis Penelitian adalah para penanggungjawab pelaksanaan penelitian INSPEX. Para anggota sub-tim teknis itu telah mempersiapkan tim penelitian masing-masing, misalnya untuk INSPEX III yang penulis pimpin telah siap Prof. Nawangsari yang pakar dalam studi embriologi katak dengan cara-cara mikrotekniknya dan tim juga mempersiapkan penguasaan teknik otoradiografi untuk studi pertumbuhan termasuk differiential growth. Prof. Sadjad dibantu Dr. Eni Widayati membuat klinostat untuk disertasi S-3 nya. Prof. Reviany bersama penulis membimbing Dr. Rita Ekastuti memahiri teknik pemeliharaan ulat sutera berdasarkan pemberian pakan buatan yang akhirnya membuahkan disertasi S-3 Ibu Rita dengan studinya pada ulat sutera hingga aspek pengukuran metabolism tubuh. Tim-tim peneliti yang lainpun mempunyai agenda persiapannya masing-masing. Pada saat ini sebagian pribadi tersebut dengan tim penelitian masing-masing masih dikarunia Tuhan YME status kesehatan jasmani dan rohani yang memadai, sedangkan yang sudah berpulang sudah mewariskan ilmu dan pengalamannya meneliti kepada generasi penerus.
Sebagaimana kita saksikan bersama, program penerbangan antariksawan Indonesia dengan INSPEX-nya akhirnya tidak mewujud yang disebabkan oleb berbagai sebab yang bersifat politis maupun teknis. Namun sebab utama sebenarnya adalah setelah ide itu berjalan 8 tahun, dinnilai bahwa program itu tidak saja mempunyai kejelasan prospek kelanjutannya dan pada tahun 1994 saja fihak NASA tidak ada penjadwalan rencana mengikutkan astronaut Indonesia dalam penerbangan shuttle NASA. Dengan demikian maka cita-cita Indonesia melakukan penelitian di angkasa luar menjadi tertutup (sementara). Oleh karena itu penulis berpendapat bahwa kita masih dapat berpartisipasi melakukan eksperimen yang bebas pengaruh microgravitas (MG), hanya apabila kita dapat menciptakan di muka bumi ini simulator MG. Literatur memang menyajikan bacaan adanya dan pembuatan klinostat (model ciptaan Graham) dan berbagai modifikasinya. Penulis membayangkan meniru membuat kondisi tanpa bobot yang dialami para awak pesawat terbang yang terbang menukik kebawah atau membuat lup selama sekitar 25 detik, tetapi keadaan utuk menaruh sampel eksperiman makhluk hidup (biologis) dengan cara itu dan untuk diamati demikian itu teramat singkat untuk mencatat pengaruhi proses-proses kehidupan makhluk coba. Penulis membayangkan bahwa jika medium tempat hidup makhluk itu merupakan medium air dan bukan udara pesawat terbang, maka misalnya didalam tangki air dimana maskhluk tersebut ditaruh, maka karena bobot jenis makhluk hidup itu mendekati 1.00 = BJ air, maka jatuhnya sampai dasar akan mengambil waktu yang cukup lama karena adaya gaya keatas Hukum Archimedes oleh air (medium) yang dipindahkan. Kondisi itulah simulasi MG tetapi kita harus menggunakan pipa vertikal amat tinggi yang diisi medium air yang sesuai untuk dapat memantau pengamatan-oleh perlakuan sampai beberapa hari, atau kalau diperlukan waktu pengamatan yang lebih panjang maka dapat dikembalikan benda-benda experimen yang sudah jatuh sampai ke bawah untuk dikembalikan dijatuhkan lagi dari atas dan diulang-ulang lagi seperlunya. Terus terang perhatian kepada experimen MG menjadi kurang mendapat prioritas perhatian penulis karena masih banyak tugas penelitian lain, pembimbingan dan pengajaran waktu itu. Sampai tiba waktunya penulis masuk kedalam status purnabakti, 100% pensiun tanpa terlibat lagi dalam kegiatan tridarma PT berarti tidak produktif lagi sebagai ilmuwan. Namun, penulis bersyukur bahwa mulai tahun 2002 penulis mendapat kehormatan untuk bergabung dalam AIPI, masuk dalam Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar. Sejak saat itu hingga sekarang, penulis berusaha untuk tetap berfikir ilmiah menjalankan tugas sebagai anggota AIPI dan salah satu obsesi penulis adalah “menindaklanjuti-rampungkan” gagasan INSPEX yang “berhenti di tengah jalan” tanpa pertanggung jawaban terhadap masyarakat akan perkembangan dan manfaatnya. Maka sampailah suatu saat membaca di internet menemukan berita bahwa NASA berhasil sekitar 1990 menciptakan simulasi MG dengan menciptakan Rotating Wall Vessel Cell Incubator RWVCI yaitu bejana silinder berputar pada poros horizontal dan berisi medium akwatik dan sel/jaringan yang dibiakan. Keuntungannya ialah dengan system pembiakan ini sel/jaringan itu mendapat kesempatan tumbuh 3D yang ternyata banyak mendapat keuntungan. Penulis terhenyak adanya temuan ini, sebab hakekatnya silinder berisi penuh medium akwatik ini (tanpa gelembung udara atau kocokan mekanis) tidak lain adalah pipa panjang angan-angan penulis yang berdiri tegak berisi penuh cairan akwatik tanpa gelembung udara bertutup rapat itu, tetapi disini bayangkan digulung pada satu bidang vertical. Kalau ada benda dengan BJ sedikit lebih besar dari air dari ujung atas dilepaskan maka perlahan ia akan jatuh tetapi kalau gulungan pipa itu diputar pada bidang gulungannya, maka dengan kecepatan yang dipilih sesuai kecepatan jatuh benda tadi, maka posisi benda kordinat ruangnya akan tetap di tempat sampai akhirnya mencapai ujung satunya gulungan pipa itu. Maka, jikalau dibayangkan gulungan pipa itu dindingnya yang digulung-gulung dibuang sehingga dindingnya tinggal selongsong silinder terluar yang rapat mewadahi cairan medium akwatik tersebut, maka itulah RWV! Dari penelitian-pemnelitian NASA didukung laboratorium-laboratorium andal lainnya, dibuktikan bahwa system RWV itu bebas shear force (gaya-gaya yang timbul antara lapisan-lapisan cairan yang bergerak), gaya coriolis, turbulensi dan gaya gravitasi dimentahkan [1]. Pada hakekatnya semua bejana berputar memberi dampak bebas gaya-gaya yang bekerja akibat fluid physics itu dan menjadikan suatu cara yang kini lebih populer dikenal, dari istilah simulasi MG menjadi kondisi pertumbuhan 3D. RWVCI NASA ini sudah menempuh upaya penyempurnaan dan kini dibuat berbagai modelnya untuk tujuan-tujuan biakan khas dari yang ukuran sampel kecil hingga ke sampel yang banyak hingga beberapa liter, dan dipasarkan oleh Synthecon Corp. [2] dari Korea Selatan.
Baik, fikir penulis, sekarang sudah tersedia RWVICI tersebut dalam bentuk komersial, yang tentu saja dapat dipakai di mana-mana termasuk Indonesia asal ada tersedia dana untuk mengimpor-impor alat-alat yang mahal tersebut. Dalam rangka pengurangan “kebutahurufan iptek” (science illiteracy) maka keadaan itu belum kondusif untuk menyebarluarkan semangat ikut bergabung dalam kegiatan ilmiah sampai di pelosok-pelosoh tanah air, maka penulis berketetapan hati menciptakan modifikasi RWVCI itu dan berhasillah tercipta Jongawur Modified RWVCI, yang pada hakekatnya adalah kimograf yang dipakai untuk penelitian/praktikum ilmu faal yang dibuat berdiri horizontal pada dinding vertical dan diputar mengitari as trommol berputar secara horizontal. Jika pada dinding tromol kimograf itu ditempeli tabung-tabung silinder berisi medium pertumbuhan dan sel-sel/jaringan biakan, maka itulah Jongawur RWVCI. Sistem ini telah di coba tes sekedarnya dengan bergerilya karena suatu saat penulis diminta memberi “kuliah tamu” dalam mk Biakan Sel/Jaringan dan melibatkan praktikumnya yang terkait. Maka JMRWVCI di publis dalam JMVI (2007) [3] dan dukungan datanya oleh [4a dan b]. Adapun keuntungan RWV Jongawur , dissamping kemampuannya untuk menciptakan kondisi simulasi MG untuk waktu yang dapat lama sekali, lainnya ialah karena menggunakan trommol kimograf itu maka yang dipasang tidak hanya tabung-tabung inkubasi, melainkan juga benda hewani utuh seperti telur ayam, burung puyuh, aves dan reptilia, sebab telur utuh itu sebenarnya dapat dipandang sebagai system akwatik dalam wadah cangkang telur yang menggantikan tabung sebagai wadah incubator. Jika diperlukan suhu pengeraman diatas suhu kamar , maka system seluruhnya dimasukkan ke dalam alat penetas telur yang mudah didapat di pasaran. Jika telur-telur itu tidak memerlukan inkubasi pada suhu tubuh, maka system dibiarkan saja bekerja pada suhu kamar. Dengan demikian maka studi embriogenesia avertebrata dan vertebrata dapat dilakukan yang dipengaruhi MG, tidak hanya itu melainkan seluruh julat waktu hidup dengan fenomena pertumbuhan diferiensial seperti metamorphosis dari larva menjadi kupu-kupu. Juga tuhbuh mutuh adalah bejana bermedium aquatic dimana solids terdistribusi sernasama disitu, dus juga sama dengan tabung incubator. Tubuh-tubuh hewan individual bole ditempelkan pada trommol dan diperlakukan lingkungan MG terhadap tubuh utuh. Dapatlah dipelajari phase-phase seluruh hidup hewan seperti ulat sutera. Namun karena status penulis dengan tiadanya hubungan dengan masyarakat peneliti praktis dan tanpa wewenang dan kemampuan memperoleh dana, maka meskipun sudah ada juga pemberitaan di Koran Jakiarta [5], namun sosialisasi Jongawur melempem. Kendala sebenarnya juga ada pada keinginan penulis yang belum terpenuhi yaitu mengadakan uji apakah gaya-gaya terkait fluid physics pada alat tersebut memang minimal. Tanpa data solkid ini rasanya penerapan system Jongawur belum ilmiah mantap.
Alkisah terjadilah perkembangan baru setelah pada 6 Desember 2014 penulis dengan tidak sengaja bertemu dengan Prof. Hendra Gunawan dari ITB yang sama-sama menghadiri workshop tentang pendidikan pascasarjan yang diselenggarakan olehg AIPI Komisi Ilmu Sosial di kampus IPB Baranangsiang. Mengetahui bahwa beliau dari ITB maka pada kesempatan berbincang di sela-sela pertemuan, penulis menceriterakan keinginan penulis untuk mengukur besarnya shear force, gaya Coriolis dan turbulensi pada system RWVI Jongawure. Beliau menceriterakan bahwa di STIH ITB ada dilakukan program penelitian menggunakan simulasi MG klinostat yang dibuat oleh Prof Khairurrijal. Alat tersebut digunakan oleh Dr. Fenny Martha Dwivanny dan timnya yang bekerjasama dengan Lapan melakukan experimen-experimen menumbuhkan tanaman tomat dan biji-biji lain dan pisang. Kerjasama dengan Lapan ini diperluas sehingga tim penelitian tersebut bergabung dalam kerjasama Lapan dengan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dan meluncurkan biji tomat [5] untuk ditempatkan di stasiun Ruang Angkasa Internasional. Untuk kedua kalinya peulis terhenyak, bukan hanya kaget-kagum melainkan bergembira bahwa experiment-experimen yang dilakukan Tim Bu Fenny itu yang sudah nyata dilaksanakan dan telah menghasilkan data penting dan beberapa publikasi taraf internasional, maka itulash INSPEX sejati yang dilakukan oleh putra-putri bangsa sendiri mengisi ide yang awalnya dicetuskan dalam tahun 1985. Dengan demikian maka gagasan INSPEX itu ternyata tidak berhenti ditengah jalan melainkan berkembang maju dengan signifikan dan produktif menghasilkan hasil penelitian nyata. Dalam waktu dekat Lembaga Eijkmanpun akan menempatkan tikus yang diinfeksi dengan agens penyakit malaria di ruang ankasa melalui kerjasama ini. Bertumpu pada keberhasilan Tim Ibu Fenny [7,8] ini yang penulis namakan kelompok Flora, maka tim Bogor atau Tim Fauna harus bangun dan merencanakan untuk adanya pertemuan antara beberapa tokoh Young Scientists minggu depan ini untuk menggalang tekad menindaklanjuti percaturan INSPEX fauna dan mengagendakan rencana penelitian untuk dilaksanakan di masadepan. Telaah akan dikembangkan menyentuh inkubasi 3D untuk embryogenesis dan biakan sel/jaringan dan organoid untuk tujuan trnsplantasi terapeutik, studi kanker dan faal sel beberapa sel normal dan pembuatan organoid (misalnya dari kelenjar susu) untuk transplantasi mendukung produksi ternak (produksi susu).
Dari ceritera yang disajikan diatas, penulis merasa perlu untuk pada saat ini, pada waktu ide INSPEX menginjak usianya 30 tahun, maka sekaranglah waktunya tiba dimana gagasan INSPEX itu harus dipantau dan dikaji perkembangannya dalam perjalanan hidupnya. Kiranya tidak berlebihan kalau penulis mengusulkan agar AIPI cq Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar (atau AIPI keseluruhannya) mengambil inisiatif untuk mengkaji “ 30 Tahun Perjalanan Gagasan INSPEX 1985 -2015” dengan bekerjasama dengan Lapan dan fihak-fihak lain yang terkait, dalam bentuk yang dimulai dengan menyelenggarakan SEMNAS tahun ini juga dan diakhiri dengan pembuatan buku antologi yang mudah-mudahan dapat terbit tahun depan 2016 sebagau ujud pertanggungjawaban para pemangku gagasan INSPEX awal. Isi buku antologi itupun kini sudah dapat penulis bayangkan pula. Saat sekarang ini dipilih mengingat sebagian dari para pelaku awal masih dikaruniai kesehatan badaniah dan rohaniah yang sehat, meskipun penanggungjawab dari kegiatan ini harus dilaksanakan oleh ilmuwan yang relative masih muda sedangkan yang berusia lanjut masih dapat dilibatkan sebagai unsur pendukung. Semoga usulan ini berkenan di hati para ilmuwan utama yang terkait. Salam hormat.
Bogor, 5 Juni 2015.

ACUAN
[1] Am J Physiol Renal Physiol 281: F12-F25, 2001;
Optimized suspension culture: the rotating-wall vessel T. G. Hammond1 and J. M. Hammond2
1 Nephrology Section, Tulane University Medical Center, Tulane Environmental Astrobiology Center, Center for BioEnvironmental Research, Louisiana Veterans Research Corporation, and Veterans Affairs Medical Center, New Orleans 70112; and 2 Screaming Jeanne’s, Incorporated, New Orleans, Louisiana 70115 INVITED REVIEW
[2] Synthecon Incorporated. Brochure: Rotary Cell Culture SystemsTM. 3D Culture Systems for a 3D World. www.synthecon.com
[3] J. Med. Vet. Indones vol. 11 no. 1 Januari 2007 hal. 22-35 ISSN 1858-4489. MIKROGRAVITAS DAN PERTUMBUHAN SEL: INKUBATOR SEL DINDING BEJANA BERPUTAR MODIFIKASI ‘JONGAWUR’@
[4] a). KULTUR SEL LIMFOSIT DENGAN MENGGUNAKAN ALAT ROTATING-WALL VESSEL “JONGAWUR”
Muharam Saepulloh, I Nyoman Suarsana, Ketut Karuni N Natih, Sophia Setyawati, dan Sutiastuti Wahyuwardani
Sekolah Pascasarjana, IPB: b) RWVC Jongawur.pdf
[5] “Jongawur “ Penelitian Antariksa Bersandi INSPEX III. Koran Jakarta 16 Des 2014 hal. 18.
[6] SITH ITB Indonesia(SITH) Kirim Biji Tomat ke Stasiun Antariksa
Posted 21 Januari 2011 by purnama in Berita
[7] SOSOK:Rabu, 08 Agustus 2012
Fenny Martha Dwivany: “Banana Lady” dan Rahasia Etilen Pisang
[8] TOUGHTS. Berkebun di bulan

Djokowoerjo Sastradipradja
AIPI Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar; Mantan Anggota Sub-Tim Teknis Penelitian Antariksawan Indonesia

BENCANA ALAMI DAN BUATAN (Dalam kenyataan, maya dan potensinya)

”Bencana mengancam Indonesia” ini, yang disunting oleh Stania Soelarto, redaksi senior Kompas, menemui khalayak tatkala banyak bagian dunia, terentang mulai dari Chili sampai ke New Zealand, dari Indonesia sampai ke Jepang dan dalam wilayah tudung es Bumi di utara maupun selatan, sedang merasakan dan melihat ancaman karena dinamika ubahan fisik bumi dan angkasanya. Dua kategori besar terangkum kedalam pengertian ubahan: yang sudah nyata dan yang masih berujud potensi tetapi pada saatnya akan mendorong menggugah bencana. Bencana dalam konteks ini ialah ancaman terhadap keselarasan dan keselamatan tata kehidupan manusia yang bermasyarakat. Banyak diantara kita tidak perduli dengan ancaman terhadap sistem kehidupan lain, yang nilai dan bobotnya berat, tidak dapat kita abaikan. Kepunahan berbagai spesies dalam suatu kawasan hanya dianggap bencana kalau dampaknya sudah melebar dan melebur kemanusiaan. Hati kita tidak tergerak kalau predator merajalela menghilanglan walang sangit atau beberapa jenis avian, bahkan kadang kala kita acuh terhadap kenaikan tak sengaja persentase jasad karsinogenik di lingkup kehidupan kita. Padahal kemusnahan beberapa spesies tidak hanya merusak peri kebinatangan tetapi keberadaannya juga merupakan kehidupan, pembentuk mata-rantai yang melanggengkan sistem ekologi penunjang kemasahalatan penyelenggaraan kemanusian.

Dalam kategori bencana yang masih potensial ini terselubung ubahan maya yang tersulut oleh perilaku manusia baik disengaja maupun oleh karena karena kekurang pahaman terhadap lingkungan. Kaidah-kaidah etika lingkungan sering di perkosa tidak hanya oleh Pemerintah rerapi kadangkala oleh kita sendiri sebagai anggauta masyarakat. Pelindung hijau yang mempunyai sifat peneduh dan pengaplos udara diluluh lantakan demi kesenangan. Kejadian-kejadian kecil mulai dari pembuangan sampah penyebar ketak nyamanan indera dan penimbul kerapuhan kehidupan sistem yang sederhana sampai kepada upaya organisasi tertata bermunculan. Kasus terakir itu terbetik, umpama, dari pembangkitan Lusi (Lumpur Sidoarjo) yang tidak hanya merusak tatanan kehidupan generasi kini tetapi, seperti diramalkan oleh beberapa ahli kebumian, akan terus berlangsung sampai tahun 2080-an. Bencana ini akan merupakan pengalaman traumatik beberapa generasi yang tidak hanya terbuang habitat alaminya, tetapi juga menyandang duka kehilangan warisan budaya.

Contoh tersebut diatas adalah bencana yang sudah mengejawantah menjadi kenyataan dan yang menyengat pancaindera serta kehidupan.. Bencana dalan statue-nascendi, masih maya, terjadi karena tidak sengaja kita memperkosa hukum-hukum pengaturan hidup dan tatakrama. Pengaturan itu ada yang riil, legalistik, dinyatakan dalam serangkaian kalimat dalam Undang-Undang ataup yang terpateri kedalam peraturan lain. Tetapi ada yang hanya merupakan kode etika perilaku turun temurun suatu kebenaran dan dirasakan kebaikannya oleh kelompok masyarakat. Hukum tersebut tidak tertulis seperti halnya suatu etika dalam menggalang kebersamaan dan kebaikan. Disini rasanya patut kita ketengahkan pepatah Jawa yang menyembulkan pengambilan keputusan dengan ”bener” dan ”pener”. Benar didukung oleh logika keadaan sesaat tetapi arahnya tidak lurus menuju ke kebahagiaan atau keselarasan hidup bersama yang merangkai antar generasi. Bismar Siregar (1995) sudah mengurai tentang ”politik Hukum dan Sistem Hukum di Indonesia”. Ijinkan saya mencuplik sebagian dari fatwa beliau bahwa yang harus kita upayakan ialah agar sikap kita, kata dan perbuatan, menjiwai dan mewarnai perwujudan insan yang beragama dan berkepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dampak pengertian itu luas sekali sehingga Satjipto Rahardjo (2009) menyatakan dalam ”Hukum dan perilaku”-nya bahwa ”hidup baik adalah dasar hukum yang baik jadi bersumber pada kepribadian yang berpengetahuan, berperasaan dengan ”tepo sliro”. Hukum dan peraturan berfasade legalistik namun yang penting untuk pagar penjelengraan hidup adalah roh yang tersimpan didalamnya. Pengabaian terhadap nilai itu berpotensi menimbulkan bencana dalam tata kehidupan dan bermasyarakat, tidak ubahnya seperti dampak banjir yang secara fisik melebur suatu perkampungan.

Memandang sumbernya kita melihat adanya bencana bersifat alami dan berdampak ragawi, nyata meluluh lantakkan sendi-sendi kemasyarakatan. Krida pencetus bencana ini bersumber pada alam besar mulai dari gerak kerak Bumi, atau terhunjamnya lempeng benua satu ke lempeng lain sampai kepada ketidak panggahan pancaran radiasi surya. Terpicu ulah dan kekurang tahuan manusia bencana laten dapat berkembang menjadi bencana riil, nyata.. Masyarakat yang telah dianugerahi kemampuan berpkir, mengindera, menimbang dan memilah fenomena tentunya tidak akan tinggal diam. Benar peristiwa alam besar tak dapat dhindari bahkan tidak dapat selalu diramal kedatangannya, tetapi canang awal suatu peristiwa biasanya memanifestasikan peringatan dini untuk disikapi, setidaknya dengan upaya mengurangi derita yang timbul. Peringatan itu ada yang bisa di raba dengan naluri etnik dan memori publik, tetapi pengetahuan jangka panjang terletak diwilayah tatamuka ilmu pengetahuan kealaman dan keilmuan sosial. Negera berkewajiban mempertemukan dua buah muka budaya ini. Beberapa pengarang sudah menata usulannya dengan sederetan logika yang transformatif.

Itu merupakan sikap terpuji karena mengingatkan masyarakat untuk menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi. Sikap positif dan kebapakan negara yang bertanggung jawab adalah meminimalkan derita kemanusiaan dan, lebih utama, mempersiapkan langkah restorasi dan rehabilitasi sistem masyarakat yang terlanda bencana. Usaha perbaikan itu sangat luas dan memerlukan visi jangka panjang, dibarengi dengan misi, meliputi upaya rekonstruksi ranah kejiwaan: etika dan moralita menolong nir pamrih, dan, sampai titik tertentu, perilaku kehidupan. Bahwasanya tantangan selalu muncul dalam lingkup pembauran antar budaya adalah wajar dan harus diterima dengan diktum pembaharuan.

Penulis ini tidak tidak dapat menyembunyikan kegembiraan dan kebahagiaannya, ketika membaca kumpulan karangan berbobot, yang sebagian telah penulis baca pada hari terbitnya karangan itu. Bukan hanya karena tersanjung diminta menuliskan kata pengantar buku ini, tetapi kegembiraan penulis terseret oleh kedalaman dan seleksi cermat Redaksi antologi yang menghimpun pemikiran para pemikir Kompas 2010. Kamandulan alam pikiran penulis ini terangsang oleh kejelian redaksi dan para penulisnya mengutarakan bahasan ”bencana” yang terhimpun kedalam 7 bab pokok kebencanaan. Antologi itu menyajikan masalah riil, akut dan besar. Pada mulanya penulis ragu menamakan buku ini sebagai sekedar himpunan tulisan karena penulis yakin bahwa kumpulan itu merupakan sebuah antologi. Setelah membaca keseluruhan pokok pikiran penulis cenderung mengemukakan buku ini lebih dari sekedar kumpulan makallah tetapi harus dipandang sebagai sebuah antologi mengenai bencana. Dalam definisi Dick Hartoko dan Harmanto (1985) dalam bukunya ”Pemandu di dunia Satra” menyatakan antologi adalah bunga rampai, kumpulan fragmen dari salah seorang atau berbagai pengarang. Melihat ke-dalam-an isi dan bahasan hampir setiap bab dan sub-bab, penulis ini cenderung memahaminya dengan definisi klasik (yang sering dipergunakan dalam keilmuan monodisiplin) J.S. Badudu. Dalam ”Kamus:Kata-Kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia” (2009) Badudu menyatakan bahwa antologi ialah kumpulan karya pilihan dari seorang pengarang atau dari beberapa pengarang terkenal. Memang benar secara implisit karya yang terangkum kedalam ”Bencana” adalah hasil seleksi dan pilahan.
Alur logika ”Bencana” ini secara tematik tergolong runut kedalam 7 bab besar. Diawali dengan gemuruhnya bencana alam riil serta upaya penanggulangan dan peyelamatan masyarakat penderita, disambung dengan bencana potensial yang masih tersimpan dibelakang kabut ketakacuhan dalam kehidupan konstitusionil, hukum dan ekonomi serta di akiri dengan perilaku yang menggejala, tetapi berpotensi menjadi jeram bencana yang akan menyeret massa ke kedung kesulitan.jika tidak diwaspadai sedini mungkin. Penyaji makallah mengetahui medannya dengan baik dan akan merupakan vista panoramik yang baik, diseling adonan skeptisisma dengan konsensus untuk menolong memperbaiki kenyataan dan citra negeri ini.

Sebenarnya berbicara tentang bencana yang melanda kemanusiaan di Bumi, hanya sekejap netra dibanding dengan umur Bumi yang semenjak kelahirannya, 4,5 miliar tahun yang lalu selalu di rundung perubahan besar, kecil, transformatif tetapi juga penyanjung dan perbaikan kehidupan. Ada bencana yang membawakan sesumber alami menjadi kenikmatan bagi manusia. Tetapi proses penyaringan dan pengubahannya nya berlangsung dalam sumbu waktu jutaan dan miliaran tahun. Manusia yang hanya hidup sesaat tentu harus berusaha menapis gejala sesaat yang mengancamnya. Karya di Bab ke-satu dan ke-dua mengutarakan ketegaran dan kelemahan pemenang lomba evolusi organik di dunia ini menghadapi cobaannya. Dia harus kekar dan cerdas.

Kita dapat merasakan kritik tajam tentang kebijakan luar ngeri bersama rengkuhan lemah Pemerintah tentang pertanian. Jika terus diabaikan negara kita ini tampak seperti rumah besar tak berpagar yang rentan pencurian. Ketahanan dan kehormatan, serta wajah Negara dan Bangsa, adalah taruhannya. Pengabaian kaidah hukum formil, yang sering permainan kata dan olah pikir hanya berujud interpretasi kata atau kalimat, bukan keseluruhan roh yang menjiwai. Hal itu melahirkan keluruhan etika dalam bernegara yang pada dasarnya bersifat pluralistik ini. Sahetapy (2009) dalam dalam karyanya ”Runtuhnya Etik Hukum” mengingatkan kita semua bahwa etika profesi (hukum) harus dipergunakan untuk mengasah kepekaan dalam usaha membangun negara dan rakyat. Kepekaan itu harus dipergunakan untuk menghidarkan diri dari jebakan-jebakan yang terselubung. Semoga harapan penyaji makalah dalam waktu yang tak panjang didepan mata akan menjadi kenyataan.

Ancaman potensial pada Bab ke-enam ”Bencana” sebenarnya masih maya, namun bobot bencananya berat. Kerancuan sebuah kota besar dan olahraganya menjadi pokok bahasan. Saran sugestif sudah dikemuakan oleh beberapa penulis, namun perkenankan saya mengulang keinginan pakar perkotaan yang ingin melihat kotanya lebih manusiawi dan berkebudayaan. Lebih dari seperempat abad yang yang lalu budayawan Soetjipto Wirosardjono merumuskan dengan singkat sebuah kota, apalagi metropolitan, harus mempunyai ”Lima P”, yang berati memperhatikan P(erut warganya), P(akaian, sandang yang pantas dan bermartabat), P(erumahan, yang layak dan pantas huni untuk semua golongan), P(ergaulan, yang santun, berbudaya, berachlak) serta P(engetahuan, dan seni).

Genre itu secara tak langsung mengungkap agar jika ada pendatang mengunjungi ”Metropolitan” Jakarta jangan merasa sebagai terjerumus ke dalam inferno, tetapi juga jangan tertatih-tatih seperti diajar di purgatorio. Keluar dari Jakarta harus merasa dirinya baru saja meninggalkan paradiso yang mendambakan kedatangannya kembali.

Bandung medio Maret 2011
Bambang Hidayat