Refleksi Direktur Jenderal PKH 2015-2016

Rabu, 1 Pebruari 2017 , http://www.trobos.com/detail-berita/2017/02/01/72/8427/muladno–refleksi-direktur-jenderal-pkh-20152016

Muladno: Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar -AIPI menuliskan:  Suatu pengalaman menarik dan sangat saya syukuri ketika saya diberi amanah menjadi Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Direktur Jenderal PKH) Kementerian Pertanian mulai 1 Juni 2015 melalui mekanisme lelang jabatan. Saya membawa konsep Sentra Peternakan Rakyat (SePR) sebagai pelengkap dan penguat konsep Sekolah Peternakan Rakyat (SoPR) yang telah diterapkan sejak awal 2013 melalui Institut Pertanian Bogor (IPB). Ini merupakan konsep pembangunan peternakan melalui penguatan kapasitas teknis dan nonteknis peternak kecil dengan syarat mereka harus bersatu dan berjamaah dalam bisnis, dengan skala kepemilikan kolektif ternak (dalam hal ini sapi pedaging) minimal 1.000 indukan.

Pada tahun anggaran 2016, awalnya direncanakan akan didirikan 500 SePR se-Indonesia dan pengadaan 5.000 ekor sapi indukan lokal. Mayoritas dana yang tersedia di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian disiapkan untuk kedua kegiatan tersebut. Salah satu tujuan utama yang ingin dicapai melalui dua program itu adalah untuk mempercepat penambahan populasi sapi di Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri. Namun dalam pembahasan akhir antara ekskutif (Kementerian Pertanian RI) dan legislatif (Komisi IV DPR RI), ditetapkan hanya ada 50 SePR yang dibentuk tetapi ada penambahan impor 25.000 sapi indukan dari Australia.

Menyedihkan sekali keputusan yang diambil oleh pemerintah dan wakil rakyat di DPR RI tersebut karena anggaran yang direncanakan untuk penguatan kapasitas peternak diturunkan 10 kali lipat sedangkan belanja sapi indukan dari Australia dinaikkan 5 kali lipat. Dalam perjalanannya, hanya sekitar 2.900 ekor sapi indukan dari Australia dapat diimpor sedangkan 50 SePR yang dibentuk secara nasional di beberapa provinsi belum semuanya berjalan sebagaimana yang diharapkan. Namun demikian beberapa SoPR binaan Institut Pertanian Bogor telah berkembang baik diantaranya di Bojonegoro, Banyuasin, Musi Banyusin, dan Ogan Komiring Ilir (OKI).

Salah satu SoPR yang secara lengkap menerapkan konsepnya adalah SPR Mega Jaya di Dusun Ngantru Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Dimulai awal 2013, jalannya SPR ini sangat tertatih-tatih. Para tokoh peternaknya bahkan sempat mencurigai IPB yang hanya memanfaatkan peternak dan ternaknya untuk media penelitian dan pengabdian mahasiswa/dosen IPB. Namun secara konsisten dan konsekuen IPB berjalan sesuai rel yang digariskan dalam konsep SoPR hingga saat ini. Melalui sinergi yang baik antara Dinas Peternakan Bojonegoro, IPB, para tokoh peternak, dan instansi yang terlibat, pada akhirnya SPR Mega Jaya saat ini telah dapat dinyatakan berhasil menjalankan konsep SoPR.

Secara bergotong royong, para tokoh peternak di Kasiman menunjukkan soliditas tim yang kuat dan mampu meyakinkan berbagai pihak untuk memperoleh fasilitas kerjasama Indonesia-Australia dalam program Indonesia Cattle Breeding. SPR Mega Jaya yang dibina Dinas Peternakan Kabupaten Bojonegoro dan IPB mendapat bimbingan teknis dari PT Santosa Agrindo (Santori) serta hibah sapi indukan dari proyek kerjasama Indonesia-Australia tersebut. Atas perkembangan yang cukup pesat, Desa Ngantru yang terletak hampir 40 km dari pusat kota Bojonegoro dikunjungi lebih dari 1.200 orang dari berbagai kabupaten dan provinsi. Alasan pengunjung bertemu para tokoh SPR Mega Jaya adalah ingin belajar cara memperkuat dan mempertahankan persatuan peternak hingga terjadi militansi tinggi untuk bersatu menjalankan bisnis kolektif.

Membangun kebersamaan para peternak SPR Mega Jaya melalui konsep SPR dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan peternak merupakan contoh riil upaya mencapai penerapan salah satu butir Nawacita pemerintahan Jokowi-JK. Itu juga menunjukkan terjadinya revolusi mental bagi para peternaknya di dusun tersebut. Diharapkan

Memperhatikan dinamika dalam menyusun rencana kegiatan dan penganggaran di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, ada beberapa catatan penting yaitu ;

  1. Perlunya grand design pengembangan populasi ternak sapi pedaging. Mendatangkan 25 ribu ekor sapi indukan dari Australia bukan pekerjaan ringan dan harus melibatkan banyak pihak, baik dari Indonesia maupun Australia. Implementasi pengadaan 25 ribu ekor sebaiknya disiapkan empat tahun sebelumnya. Tahun pertama, misalnya, dilakukan kesepakatan dengan semua pihak di Australia yang terlibat dalam jual beli sapi di Indonesia. Ini untuk memastikan ketersediaan dan kelancaran pengiriman sapi dari Australia ke Indonesia. Tahun kedua, dilakukan penyusunan panduan pelaksanaan, pembentuk tim lintas instansi yang melibatkan unsur pemerintah (pusat dan daerah), perguruan tinggi maupun lembaga penelitian, instansi swasta, tokoh peternak, dan aparat penegak hukum/pengamanan. Tahun ketiga, penguatan keterampilan peternak calon penerima sapi dan pembangunan/perbaikan fasilitas kandang sapi. Juga persiapan sumberdaya pakan. Tahun keempat konsolidasi semua instansi yang terlibat dalam pengadaan sapi serta pengiriman sapi dari Australia ke Indonesia secara tertib, tersistem, dan terkontrol.

Pasca penerimaan sapi, pengawalan dan pendampingan kepada peternak terus dilakukan, serta dilakukan evaluasi secara berkala secara nasional. Organisasi juga disusun secara rapi dan direktur jenderal PKH harus menjadi pemimpin dalam pengadaan sapi indukan tersebut. Anggaran juga harus disiapkan secara cukup karena ini menangani barang hidup. Target kematian nol % harus dicanangkan sehingga semua harus bekerja secara maksimal. Pengalaman belasan tahun dalam pengadaan sapi dari luar negeri yang tidak terlalu sukses harus dijadikan guru terbaik untuk meraih keberhasilan yang sempurna. Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 209/Februari 2017.

http://www.trobos.com/detail-berita/2017/02/01/72/8427/muladno–refleksi-direktur-jenderal-pkh-20152016

(Muladno : Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar –AIPI, 2014)

Resilience using the steps above will help you develop the ability i need help with my homework why not try these to recover and adjust easily to the rejection that is a necessary part of your writing life

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>