Pengukuhan Guru Besar UI, Prof Jatna Supriatna di Biologi Konservasi dan Prof Dewi di Bidang Kedokteran Gigi

Universitas Indonesia (UI) kembali menambah jumlah guru besar dengan mengukuhkan dua Profesor dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Mereka adalah Profesor drg Dewi Fatma Suniarti Sastradipura sebagai Guru Besar Tetap bidang Ilmu Biologi Oral FKG UI dan Prof Jatna Supriatna sebagai Guru Besar Tetap bidang Biologi Konservasi FMIPA UI.

1. tb_social_feed_img_1489210483.png

Pengukuhan Guru Besar (GB) kali ini merupakan pengukuhan GB pertama FMIPA UI di tahun 2017, sehingga saat ini FMIPA UI total memiliki 11 orang Guru Besar.

Tugas pakar biologi konservasi adalah menghentikan gelombang kepunahan dan membuat serangkaian rencana yang menyertakan keanekaragaman hayati tidak hanya sebagai sumber daya untuk kesejahteraan manusia secara langsung, tetapi juga memiliki arti bagi nilai-nilai kemanusiaan. Di masa yang akan datang, konservasi alam harus dilakukan bersamaan dengan eksploitasi sumber daya alam, bukan setelah eksploitasi terjadi. Demikian disampaikan Prof. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap FMIPA UI dalam bidang Ilmu Biologi, pada Sabtu 11 Maret 2017 bertempat di Balai Sidang Djokosoetono Fakultas Hukum Universitas Indonesia Depok yang dipimpin oleh Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met.

Prof. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D  menyampaikan pidato berjudul “Peran Biologi Konservasi Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”. Biologi konservasi ditopang oleh berbagai rumpun keilmuan yaitu ilmu alam, ilmu rekayasa, ilmu humaniora, ilmu kedokteran, ilmu agama dan ilmu lainnya. Sehingga sering dinyatakan bahwa biologi konservasi adalah ilmu multi-inter trans disiplin. Ilmu biologi konservasi berkembang karena pendekatan teori yang lebih terintegrasi dari berbagai disiplin ilmu yang memberi penekanan pada pemeliharaan jangka panjang bagi seluruh komunitas biologi, dan sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi & sosial.

2. DSC_7651-740x450

Diharapkan perkembangan ilmu biologi konservasi dapat membantu pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan bersama di seluruh dunia yang dalam hal ini diformulasikan dalam 17 tujuan SDG yang diharapkan menjadi motor pembangunan dunia dari tahun 2015 sampai 2030.

Prof. Dewi menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Peran Farmakologi di Bidang Kedokteran Gigi dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pelayanan Dokter Gigi’. Farmakologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang obat. Dokter gigi tidak hanya perlu mengetahui obat analgesik-antiinflamasi, antibiotik dan obat kumur, melainkan juga perlu memahami berbagai jenis obat dan implikasinya pada pasien, memperhatikan Indikasi dan kontra indikasi obat, memahami tentang efek yang tidak diharapkan, interaksi obat dan tentang harga obat yang akan diberikan pada pasien.

“Penggunaan obat yang rasional adalah penggunaan obat yang indikasinya sesuai dengan kebutuhan pasien, diberikan dengan dosis dan lama pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan individual pasien dan dengan biaya paling ekonomis. Namun pelaksanaannya pengobatan rasional adalah sesuatu yang baik namun masih sulit dilaksanakan di negara berkembang seperti Indonesia. Penggunaan obat yang irasional masih merupakan masalah,” ujar Prof Dewi.

Menurut Prof Dewi berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan peran Farmakologi pada pelayanan kesehatan gigi diantaranya melalui penataan, agar penggunaan obat lokal di bidang kedokteran gigi menjadi rasional, terselenggaranya pendidikan Farmakologi untuk mahasiswa tingkat sarjana pada setiap tahap pendidikannya, mengupayakan terselenggaranya pendidikan Farmakologi pada mahasiswa kedokteran gigi tingkat profesi dan membuat buku Farmakologi Kedokteran Gigi sebagai panduan bagi mahasiswa.

Sedangkan Prof Jatna menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Peran Biologi Konservasi Mendukung Pembangunan Berkelanjutan’. Dalam pidatonya Prof Jatna memaparkan Indonesia berkelimpahan Sumber Daya Alam (SDA) hayati sebagai SDA terbarukan. Jika dikelola dengan baik dan benar dapat memberikan bagi kemaslahatan manusia. Konservasi merupakan salah satu upaya mengelola SDA hayati.

Pemanfaatan sumber daya alam bisa berjalan berkelanjutan dan tidak bertentangan dengan konservasi jika memanfaatkan hasil-hasil riset dalam pengambilan kebijakan. Sayangnya, selama ini ada kesenjangan antara akademisi dan pemerintah. Demikian disampaikan Jatna Supriatna seusai pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Biologi pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.

Tugas pakar biologi konservasi adalah menghentikan gelombang kepunahan dan membuat serangkaian rencana yang menyertakan keanekaragan hayati, tidak hanya sebagai sumber daya untuk kesejahteraan manusia secara langsung, tetapi juga memiliki arti bagi nilai-nilai kemanusiaan. Pengembangan keilmuan biologi konservasi dapat membantu pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang menyepakati 17 tujuan, di mana beberapa tujuan dari pembangunan berkelanjutan tersebut sangat erat berhubungan dengan tugas-tugas pakar biologi konservasi.

“Perlindungan keanekaragaman hayati dapat menggunakan pendekatan Save (perlindungan), Study (penelitian) dan Use (pemanfaatan). Save dapat dijabarkan sebagai usaha pengelolaan, legislasi, perjanjian internasional dan sebagainya. Studi dalam keanekaragaman hayati sangat penting, karena penggunaan maupun pelestariannya tidak dapat dilakukan tanpa penelitian ilmiah. Penelitian dapat meliputi penelitian dasar seperti penelitian keragaman spesies, habitat komunitas, ekosistem dan juga perilaku serta ekologi dari spesies. Terakhir Use, perencanaan program-program manfaat bagi masyarakat, berbagai komoditi perdagangan turisme dan jasa,” kata Prof Jatna yang baru saja menerima penghargaan Lifetime Achievement Award and Leadership on  iodiversity Conservation dari Organisasi Conservation International ini.

Kedua profesor dikukuhkan di Auditorium Djokosoetono Kampus Fakultas Hukum UI, Depok yang dipimpin oleh Rektor UI Prof Dr Ir Muhammad Anis.

Dikatakan Prof Anis, saat ini jumlah guru besar di UI ada sebanyak 307 orang, diantaranya 16 orang dari FKG dan 12 orang dari FMIPA.”Prof Dewi adalah guru besar pertama yang dikukuhkan pada 2017, dan Prof Jatna adalah yang kedua di 2017,” tukas Prof Anis.

Prof.Jatna Supriatna adalah Anggota AIPI untuk Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar sejak tahun 2014.

(dari berbagai sumber)

A big passage about a small http://overnightessay.co.uk endangered bird in australia

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>