Simposium Konservasi Mamalia Besar Indonesia Satwa Liar Tidak Harus Dimiliki

2016 unas-jatna-supriatna-593x400

Jatna Suriatna, diposting pada 18 Agustus 2016, http://www.greeners.co/aksi/simposium-konservasi-mamalia-besar-indonesia-satwa-liar-tidak-harus-dimiliki/

Jakarta (Greeners) – Upaya pelestarian satwa liar, khususnya di Indonesia, terus menemui berbagai tantangan. Tidak hanya pada penegakkan hukum, penyampaian informasi mengenai pentingnya peran satwa liar di alam pun belum sepenuhnya diterima secara luas, termasuk di kalangan pemuda.

“Peran pemuda sangatlah penting. Mereka punya kekuatan sosial media dan aktivitas yang sangat besar. Kalau dari sekarang kita bekali dengan pengetahuan tentang pentingnya menjaga dan mengharmoniskan alam dengan pembangunan, mungkin dapat menyelamatkan satwa yang saat ini sedang dalam status ‘lampu merah’,” ujar Jatna Supriatna dalam Simposium Konservasi Mamalia Besar Indonesia di kampus Universitas Nasional, Jakarta, Selasa (16/08).

Peneliti yang pernah menjadi presiden di South East Asian Primatological Association tahun 2006 ini menjelaskan bahwa Indonesia paling banyak memiliki spesies mamalia, namun paling banyak pula satwanya dengan status terancam. Ia menyontohkan, pada tahun 1973, dirinya masih merasakan adanya harimau jawa, tetapi saat ini spesies tersebut sudah punah.

“Mamalia ini adalah aset kita. Kalau sampai harimau sumatera punah juga, rasanya tidak etis,” katanya menambahkan.

Hariyo Tabah Wibisono dari Flora Fauna International (FFI) yang turut hadir untuk membahas materi bertajuk “Pengenalan dan Konservasi Harimau Sumatera” menjelaskan, ancaman terhadap populasi harimau dan habitatnya diantaranya perburuan satwa langka, konflik dengan manusia yang biasanya berakhir pada kematian harimau, pembukaan lahan, hingga kebakaran hutan.

Hariyo memaparkan bahwa saat ini harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) hanya ditemukan di Sumatera, Indonesia. Padahal sebelumnya, populasi harimau sumatera tersebar hingga ke beberapa negara di wilayah Asia.

“Saat ini hanya sekitar tujuh persen saja yang tersisa. Status terancam punah terhadap harimau sumatera berlaku global karena kini hanya ada di Sumatera,” katanya.

Selain harimau, badak di Indonesia juga menyandang status terancam punah. Haerudin R Sadjuddin dari Yayasan Badak Indonesia mengatakan bahwa hasil penelitian pada tanggal 27 Juli 2016 menyatakan badak jawa hanya tinggal 62 ekor. Sementara populasi badak sumatera dalam rentang waktu 1986 hingga 2007 telah menurun hingga 82 persen.

“Setelah lebih dari dua dekade, delapan kantong populasi badak sumatera tidak ditemukan jejaknya lagi di Sumatera,” katanya menambahkan.

Koordinator Program Orangutan WWF Indonesia Chairul Saleh menyatakan, perburuan dan perdagangan liar adalah persoalan moral. Untuk itu, ia mendukung agar revisi terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Keanekaragaman Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya dapat segera diselesaikan.

Ia pun mengimbau agar publik turut berpartisipasi dalam penyadaran pelestarian satwa liar termasuk dengan tidak membeli satwa liar dan produk-produk satwa liar.

“Mencintai tidak harus memiliki. Kalau cinta kepada satwa, biarkan dia hidup liar di habitat dan ekosistemnya dan menjalankan perannya di alam,” ujarnya.

2016Aksi-Simposium-Konservasi-Mamalia-Besar-Indonesia-Satwa-Liar-Tidak-Harus-Dimiliki

Sebagai informasi, Fakultas Biologi Universitas Nasional menggelar Simposium Konservasi Mamalia Besar Indonesia pada Selasa (16/08). Simposium yang mengangkat tema “Memaknai Kemerdekaan Dengan Memerdekakan Kuartet Mamalia Besar Indonesia” ini bertujuan untuk menggelorakan semangat perjuangan masyarakat dalam menyelamatkan, menjaga dan melestarikan populasi kuartet mamalia besar Indonesia, yaitu harimau, badak, gajah dan orangutan.

Dekan Fakultas Biologi Universitas Nasional Imran Said mengungkapkan bahwa kemerdekaan bisa dihubungkan dengan alam. “Kemerdekaan kita juga bisa dilekatkan dengan alam karena alam berdampak pada kemerdekaan spesies kita. Jangan sampai mereka terusir lagi dari tempat tinggal mereka,” pungkasnya. (Penulis: Renty Hutahaean)

Examples the faa’s ruling, the md’s diagnosis, usa’s stand rule 8 college essay writing service at https://pro-essay-writer.com to form the possessive of a plural abbreviation, add an s’

Pengukuhan Guru Besar UI, Prof Jatna Supriatna di Biologi Konservasi dan Prof Dewi di Bidang Kedokteran Gigi

Universitas Indonesia (UI) kembali menambah jumlah guru besar dengan mengukuhkan dua Profesor dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Mereka adalah Profesor drg Dewi Fatma Suniarti Sastradipura sebagai Guru Besar Tetap bidang Ilmu Biologi Oral FKG UI dan Prof Jatna Supriatna sebagai Guru Besar Tetap bidang Biologi Konservasi FMIPA UI.

1. tb_social_feed_img_1489210483.png

Pengukuhan Guru Besar (GB) kali ini merupakan pengukuhan GB pertama FMIPA UI di tahun 2017, sehingga saat ini FMIPA UI total memiliki 11 orang Guru Besar.

Tugas pakar biologi konservasi adalah menghentikan gelombang kepunahan dan membuat serangkaian rencana yang menyertakan keanekaragaman hayati tidak hanya sebagai sumber daya untuk kesejahteraan manusia secara langsung, tetapi juga memiliki arti bagi nilai-nilai kemanusiaan. Di masa yang akan datang, konservasi alam harus dilakukan bersamaan dengan eksploitasi sumber daya alam, bukan setelah eksploitasi terjadi. Demikian disampaikan Prof. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap FMIPA UI dalam bidang Ilmu Biologi, pada Sabtu 11 Maret 2017 bertempat di Balai Sidang Djokosoetono Fakultas Hukum Universitas Indonesia Depok yang dipimpin oleh Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met.

Prof. Jatna Supriatna, M.Sc., Ph.D  menyampaikan pidato berjudul “Peran Biologi Konservasi Mendukung Pembangunan Berkelanjutan”. Biologi konservasi ditopang oleh berbagai rumpun keilmuan yaitu ilmu alam, ilmu rekayasa, ilmu humaniora, ilmu kedokteran, ilmu agama dan ilmu lainnya. Sehingga sering dinyatakan bahwa biologi konservasi adalah ilmu multi-inter trans disiplin. Ilmu biologi konservasi berkembang karena pendekatan teori yang lebih terintegrasi dari berbagai disiplin ilmu yang memberi penekanan pada pemeliharaan jangka panjang bagi seluruh komunitas biologi, dan sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi & sosial.

2. DSC_7651-740x450

Diharapkan perkembangan ilmu biologi konservasi dapat membantu pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan bersama di seluruh dunia yang dalam hal ini diformulasikan dalam 17 tujuan SDG yang diharapkan menjadi motor pembangunan dunia dari tahun 2015 sampai 2030.

Prof. Dewi menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Peran Farmakologi di Bidang Kedokteran Gigi dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pelayanan Dokter Gigi’. Farmakologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang obat. Dokter gigi tidak hanya perlu mengetahui obat analgesik-antiinflamasi, antibiotik dan obat kumur, melainkan juga perlu memahami berbagai jenis obat dan implikasinya pada pasien, memperhatikan Indikasi dan kontra indikasi obat, memahami tentang efek yang tidak diharapkan, interaksi obat dan tentang harga obat yang akan diberikan pada pasien.

“Penggunaan obat yang rasional adalah penggunaan obat yang indikasinya sesuai dengan kebutuhan pasien, diberikan dengan dosis dan lama pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan individual pasien dan dengan biaya paling ekonomis. Namun pelaksanaannya pengobatan rasional adalah sesuatu yang baik namun masih sulit dilaksanakan di negara berkembang seperti Indonesia. Penggunaan obat yang irasional masih merupakan masalah,” ujar Prof Dewi.

Menurut Prof Dewi berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan peran Farmakologi pada pelayanan kesehatan gigi diantaranya melalui penataan, agar penggunaan obat lokal di bidang kedokteran gigi menjadi rasional, terselenggaranya pendidikan Farmakologi untuk mahasiswa tingkat sarjana pada setiap tahap pendidikannya, mengupayakan terselenggaranya pendidikan Farmakologi pada mahasiswa kedokteran gigi tingkat profesi dan membuat buku Farmakologi Kedokteran Gigi sebagai panduan bagi mahasiswa.

Sedangkan Prof Jatna menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Peran Biologi Konservasi Mendukung Pembangunan Berkelanjutan’. Dalam pidatonya Prof Jatna memaparkan Indonesia berkelimpahan Sumber Daya Alam (SDA) hayati sebagai SDA terbarukan. Jika dikelola dengan baik dan benar dapat memberikan bagi kemaslahatan manusia. Konservasi merupakan salah satu upaya mengelola SDA hayati.

Pemanfaatan sumber daya alam bisa berjalan berkelanjutan dan tidak bertentangan dengan konservasi jika memanfaatkan hasil-hasil riset dalam pengambilan kebijakan. Sayangnya, selama ini ada kesenjangan antara akademisi dan pemerintah. Demikian disampaikan Jatna Supriatna seusai pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Biologi pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.

Tugas pakar biologi konservasi adalah menghentikan gelombang kepunahan dan membuat serangkaian rencana yang menyertakan keanekaragan hayati, tidak hanya sebagai sumber daya untuk kesejahteraan manusia secara langsung, tetapi juga memiliki arti bagi nilai-nilai kemanusiaan. Pengembangan keilmuan biologi konservasi dapat membantu pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang menyepakati 17 tujuan, di mana beberapa tujuan dari pembangunan berkelanjutan tersebut sangat erat berhubungan dengan tugas-tugas pakar biologi konservasi.

“Perlindungan keanekaragaman hayati dapat menggunakan pendekatan Save (perlindungan), Study (penelitian) dan Use (pemanfaatan). Save dapat dijabarkan sebagai usaha pengelolaan, legislasi, perjanjian internasional dan sebagainya. Studi dalam keanekaragaman hayati sangat penting, karena penggunaan maupun pelestariannya tidak dapat dilakukan tanpa penelitian ilmiah. Penelitian dapat meliputi penelitian dasar seperti penelitian keragaman spesies, habitat komunitas, ekosistem dan juga perilaku serta ekologi dari spesies. Terakhir Use, perencanaan program-program manfaat bagi masyarakat, berbagai komoditi perdagangan turisme dan jasa,” kata Prof Jatna yang baru saja menerima penghargaan Lifetime Achievement Award and Leadership on  iodiversity Conservation dari Organisasi Conservation International ini.

Kedua profesor dikukuhkan di Auditorium Djokosoetono Kampus Fakultas Hukum UI, Depok yang dipimpin oleh Rektor UI Prof Dr Ir Muhammad Anis.

Dikatakan Prof Anis, saat ini jumlah guru besar di UI ada sebanyak 307 orang, diantaranya 16 orang dari FKG dan 12 orang dari FMIPA.”Prof Dewi adalah guru besar pertama yang dikukuhkan pada 2017, dan Prof Jatna adalah yang kedua di 2017,” tukas Prof Anis.

Prof.Jatna Supriatna adalah Anggota AIPI untuk Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar sejak tahun 2014.

(dari berbagai sumber)

A big passage about a small http://overnightessay.co.uk endangered bird in australia

Jatna Supriatna Raih Penghargaan dari Organisasi Konservasi Internasional

Jumat, 03 March 2017, 08:34 WIB,  http://www. republika. co. id/berita/komunitas/aksi-komunitas/17/03/03/om7tos280-jatna-supriatna-raih-penghargaan-dari-organisasi-konservasi-internasional

REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA —  Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Belantara Prof. Jatna Supriatna menerima penghargaan Life time Achievement Award and Leadership on Biodiversity Conservation oleh organisasi Conservation International. Penghargaan diberikan atas kiprah Jatna Supriatna atas kiprahnya di bidang konservasi. Penghargaan diberikan pada 27 Februari lalu di Bali dalame event yang diselenggarkan organisasi Conservation International, dimana Jatna Supriatna hadir selaku Vice President, menajemen berkebangsaan Indonesia pertama yang mengepalai sebuah program konservasi pada organisasi tersebut. Pada kesempatan yang sama Jatna Supriatna juga mendapatkan penghargaan yang sangat istimewa dari para peneliti yang tergabung dalam Primate Specialist Group dari IUCN (International Union for Conservation of Nature), sebagai apresiasi untuk dedikasi yang dilakukan beliau pada bidang ini. Para peneliti tersebut mengumumkan persembahan kepada Jatna Supriatna dengan mencantukan nama beliau pada penamaan spesies primata yang baru mereka temukan, ‘Tarsius Supriatnai’. “Saya merasa sangat bersyukur dan sejujurnya sangat terkejut akan penghargaan ini,” ujar Jatna Supriatna. Ia mengatakan, penghargaan tersebut adalah hasil dari konsistensi yang ia lakukan dalam bidang konservasi keanekaragaman hayati selama 42 tahun sejak tahun 1075. “Saya sangat senang karena hasil kerja saya diakui oleh dunia internasional, dan juga oleh seluruh kolega saya yang menggeluti hal yang sama. Saya juga memahami bahwa ini merupakan tanggung jawab serta tantangan yang besar untuk saya. Diperlukan adanya motivasi bersama untuk memperjuangkan isu konservasi ini,” kata dia. CEO Yayasan Belantara, Agus P. Sari memberikan selamat atas apa yang diraih Jatna Supriatna. It’s okay to mention your prior or online homework help https://pro-homework-help.com future books in conversation so you can both decide if those projects are mutually interesting. “Saya serta segenap management Yayasan Belantara mengucapkan selamat serta apresiasi yang tinggi kepada Prof. Jatna Supriatna, Wakil Ketua Dewan Pembina kami dan sahabat saya, atas capaiannya yang sangat menginsipirasi. Penghargaan ini sangat membanggakan karena tarafnya pada level global, merefleksikan betapa besarnya kontribusi beliau sebagai pakar di bidang ini,” kata dia. (Red: Hazliansyah)

 

Scopus, ISI-Thomson, dan Predator

Oleh: Terry Mart  ;    Dosen Fisika FMIPA UI;                                                                        Anggota KIPD-AIPI   

KOMPAS, 28 Februari 2017

Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 mewajibkan seorang profesor dalam tiga tahun menghasilkan satu karya ilmiah di jurnal internasional bereputasi, atau tiga karya ilmiah di jurnal internasional, serta menulis satu buku. Jika tidak, maka tunjangan kehormatan akan dihentikan. Hal yang mirip, tetapi lebih lunak, juga diberlakukan kepada dosen dengan jabatan lektor kepala. Untuk bidang-bidang tertentu, karya ilmiah tersebut dapat diganti paten atau karya monumental.

Peraturan baru ini memicu pelbagai diskusi. Tampaknya masalah penulisan buku jarang diributkan, yang sering diributkan adalah menulis di jurnal internasional bereputasi. Penyebabnya jelas, definisi jurnal internasional bereputasi sangat robust (kokoh) dan harus terindeks oleh basis data Scopus. Satu dekade lalu saya mengkritik penggunaan faktor dampak (impact factor) salah satu produk pengindeks ISI-Thomson (Counting Papers, Symmetry 2006). Im selben jahr schreib-essay.com/ nahm er an der synode von guastalla teil. Beberapa tahun kemudian merebak isu jurnal predator, jurnal abal-abal yang dieksploitasi untuk keuntungan finansial bagi si pembuat (Kompas, 2/4/2013). Kemudahan pembuatan jurnal predator dipicu oleh pesatnya perkembangan internet dan munculnya sistem jurnal open access. Jumlah penerbit jurnal predator pun meledak, hampir mencapai 1. 000 penerbit pada akhir 2016. Bayangkan berapa banyak jumlah jurnal predator jika setiap penerbit rata-rata menghasilkan 100 jurnal!

Indeks Scopus

Belakangan Dirjen Dikti menggunakan pengindeks Scopus sebagai acuan jurnal internasional bereputasi. Dengan bantuan Scopus, para pembuat kebijakan, panitia penilai kepangkatan, serta pemberi insentif publikasi sangat terfasilitasi. Penggunaan Scopus mungkin merupakan jalan tengah, mengingat ISI-Thomson sangat ketat sehingga hanya jurnal-jurnal papan atas yang terindeks. Hampir seluruh jurnal yang diindeks ISI-Thomson juga diindeks oleh Scopus. Meski demikian, Scopus memiliki beberapa kelemahan. Misalnya, Scopus adalah bagian dari Elsevier, penerbit ribuan jurnal ilmiah yang berpusat di Belanda. Scopus juga progresif memasukkan jurnal ke dalam basis data mereka sehingga cukup banyak jurnal kurang pantas dan predator ikut terindeks. Baru-baru ini kita dihebohkan dengan lenyapnya blog Jeffrey Beall yang memuat kriteria, daftar jurnal, dan penerbit predator. Belum ada penjelasan mengapa laman tersebut tiba-tiba hilang. Yang jelas jurnal abal-abal akan terus bertambah dan definisi jurnal predator akan tergerus. Pemerintah dan akademisi akan direpotkan dengan makalah abal-abal yang diklaim terbit di jurnal internasional. Tentu saja jalan keluar yang mudah adalah kembali ke Scopus atau mulai menggunakan basis data ISI-Thomson. Menarik untuk diamati bahwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sangat antisipatif menghadapi kerunyaman ini. Jauh sebelum lenyapnya blog Jeffrey Beall, LIPI sudah mengusulkan jurnal internasional yang dapat dinilai dibagi dalam lima peringkat, yaitu jurnal dengan peringkat Q1 hingga Q4 versi ISI-Thomson, sementara di peringkat kelima adalah jurnal yang hanya terdaftar di Scopus dengan terbitan perdana sebelum 2003. Definisi LIPI dapat saja diadopsi untuk perguruan tinggi (PT). Namun, atmosfer PT yang egaliter mungkin sulit menerima ini. Dibutuhkan definisi baru yang bebas Scopus, ISI-Thomson, dan sekaligus jurnal predator. Definisi yang lebih hakiki

Apa tujuan paling hakiki dari publikasi karya ilmiah? Jawaban sederhana tapi operasional adalah guna memberi tahu kepada kolega sebidang bahwa si penulis karya ilmiah telah mendapatkan satu temuan penting dari penelitiannya. Dalam banyak kasus, hanya kolega yang penelitiannya sama atau mirip saja yang dapat benar-benar paham. Di sini mulai terasa pentingnya eksistensi komunitas peneliti sebidang dalam memajukan ilmu mereka. Sebagai peneliti yang baik, seorang dosen tentu mengenal komunitas bidang ilmunya di tingkat nasional ataupun internasional. Sebab, dari waktu ke waktu, ia harus selalu meng-update diri dengan rutin membaca karya-karya ilmiah di bidangnya. Tentu saja masalah apakah ia dikenal atau terkenal di komunitas dapat dianggap pertanyaan sekunder karena sangat bergantung pada produk penelitiannya. Jadi, dosen tadi tahu persis siapa yang aktif atau bahkan leading (memimpin dan menjadi acuan) dalam bidangnya di tingkat nasional ataupun internasional. Boleh dikatakan, tidak ada yang tahu persis kontribusi seorang ilmuwan kecuali komunitasnya. Mereka yang leading di komunitas tentu saja merupakan pakar bidang tersebut. Dengan demikian, jurnal internasional bereputasi untuk satu bidang ilmu adalah jurnal tempat para pakar internasional bidang tersebut memublikasikan karya ilmiahnya. Analog untuk jurnal nasional bereputasi. Definisi ini perlu diperjelas ke tingkat yang lebih operasional. Hampir setiap bidang ilmu memiliki organisasi atau asosiasi bidang ilmu. Karena mereka yang aktif meneliti umumnya menjadi anggota asosiasi tersebut, asosiasi suatu bidang ilmu berperan penting dalam mengarahkan pengembangan bidang tersebut. Hampir semua asosiasi menerbitkan jurnal ilmiah yang menjadi rujukan anggotanya. Dengan demikian, jurnal-jurnal yang diterbitkan oleh asosiasi bidang ilmu yang sudah mapan dan menjadi rujukan peneliti dunia dapat dipakai sebagai jurnal internasional bereputasi primer karena di sanalah para pakar bidang tersebut berkiprah. Umumnya, negara-negara maju memiliki asosiasi seperti ini. American Chemical Society, American Geophysical Union, dan American Medical Association adalah contoh asosiasi dari Amerika. Dari belahan lain ada Japan Physical Society dan European Physical Society. Bagaimana dengan jurnal-jurnal dari penerbit komersial, seperti Elsevier, Springer, dan Wiley? Di sini kita membutuhkan definisi jurnal internasional bereputasi sekunder. Apakah jurnal-jurnal tersebut juga dirujuk atau menjadi tempat publikasi para pakar internasional di atas? Jika jawabnya ya, maka jurnal-jurnal komersial ini haruslah sering dirujuk oleh jurnal internasional bereputasi primer. Dengan definisi yang lebih operasional, jurnal-jurnal tersebut haruslah sering ditemukan pada daftar acuan (referensi) jurnal internasional bereputasi primer. Idealnya, dengan definisi di atas, kita dapat menciptakan sistem pengindeksan sendiri, bebas dari Scopus dan Thomson. Seorang kolega dari bidang filsafat bercerita bahwa mereka lebih memilih menulis buku ketimbang menulis di jurnal ilmiah. Ketika di kampus kami diluncurkan program dosen inti penelitian, terlihat bahwa peneliti di bidang sains, teknologi, dan kedokteran lebih memilih jurnal ilmiah sebagai tempat publikasi, sementara untuk bidang lain penulisan buku menjadi favorit. Jadi, mungkin lebih baik kewajiban menulis di jurnal dan buku dalam peraturan di atas diganti dengan jurnal atau buku.

.