In Memoriam Prof. Dr. H. Umar Anggara Jenie

2. Prof Umar JenieSuatu kehilangan besar bagi keluarga besar AIPI dan LIPI serta UGM  serta handai taulan atas berpulangnya salah satu anak bangsa yang banyak jasanya bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada Kamis (26/1) tepatnya pukul 03.30 WIB di Yogyakarta dalam usia 67 tahun, sesaat sedang menjalankan shalat malam. Semoga arwah beliau beristirahat dalam damai abadi dan keluarga besar Prof. Dr. Umar Anggara Jenie dikuatkan dalam keteguhan iman.

Dunia ilmu pengetahuan kembali berduka, sosok ilmuwan yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) periode 2002-2010 Prof. Umar Anggara Jenie berpulang.   Menurut keluarga, almarhum disemayamkan di Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM) pukul 12.30 WIB dan dimakamkan di makam Sewu Sentul pukul 14.00 WIB.

Kepala LIPI  Iskandar Zulkarnaen mengatakan, sosok Umar Anggara Jennie ketika menjabat sebagai Kepala LIPI saat itu tampil sebagai sosok yang sangat perhatian untuk memajukan ilmu pengetahuan. “Kontribusinya dalam pembangunan melalui upaya mempertemukan para ilmuwan Indonesia dalam event-event nasional seperti Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional dan Widya Pangan dan Gizi yang membahas perkembangan ilmu pengetahuan dan menghasilkan rekomendasi untuk pemerintah yang dapat menjadi dasar untuk melahirkan kebijakan,” katanya di Jakarta, Kamis (26/1).

Selain itu tambahnya, pada masa kepemimpinannya juga dilahirkan gelar profesor riset sebagai puncak karier seorang peneliti, tentu dengan persyaratan akademis yang layak.

Prof Umar Anggara Jenie lahir di Solo, Jawa Tengah, 22 Agustus 1950. Beliau adalah seorang ilmuwan dan pengajar Indonesia. Ia resmi menjabat Kepala LIPI menggantikan pejabat sebelumnya Taufik Abdullah sejak 27 September 2002.

Ia berprofesi sebagai pengajar dengan menjadi Guru Besar Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi di UGM Yogyakarta, dan pernah menjabat wakil rektor bidang penelitian dan pengabdian masyarakat di salah satu universitas terbesar di tanah air tersebut.

Umar merupakan salah seorang ilmuwan Indonesia yang juga mendapatkan apresiasi di tingkat internasional. Ia adalah orang Indonesia satu-satunya yang pernah menjadi anggota salah satu kegiatan internasional yang peduli terhadap etika di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi baru, yakni International Dialogue on Bioethics of European Group on Ethics of Sciences and New Technology (IDB-EGE).

Karena jasa-jasanya dalam bidang ilmu pengetahuan, Umar bersama saudara kembarnya, Said Djauharsyah Jenie yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan yang telah berpulang tahun 2008 diberi penghargaan Bintang Jasa Utama Republik Indonesia oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan keduanya sebagai kembar pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut.

Prof. Umar Anggara Jenie adalah seorang Guru Besar Kimia Medisinal Organik di Universitas Gadjah Mada yang banyak berperan dalam mengembangkan kehidupan berilmu pengetahuan di Indonesia di bidang etika ilmiah, mendorong riset strategis, serta meningkatkan status pembinaan profesionalitas fungsional peneliti di tingkat nasional.

Umar Anggara Jenie, telah menginisiasi Komisi Bioetika Nasional dan menggolkan deklarasi internasional Universal Declaration on Bioethics and Human Rights serta membawa Pluralisme dan Keragaman Budaya serta Perlindungan Lingkungan, Biosfer, dan Biodiversitas menjadi bagian dari prinsip bioetika yang sebelumnya ditentang.

Pidato Pengukuhan: Kimia Sintesis Obat: Kompleksitas, Modifikasi, dan Konfirmasi Struktur Kimia Bahan Aktif Obat, tahun 2000. Selanjutnya Penghargaan: Piagam Kesetiaan 25 tahun mengabdi UGM, 2001. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberi penghargaan Sarwono Prawirohardjo IX 2010 kepada Prof Dr Umar Anggara Jenie MSc Apt. dan Dr BRAy Mooryati Soedibyo M Hum pada Hari Ulang Tahun LIPI ke-43 di Jakarta, Senin. Mantan Kepala LIPI Umar A Jenie mendapat penghargaan di bidang Etika Keilmuwan dan Mooryati Soedibyo di bidang Iptek Jamu dan Kosmetik Tradisional

Guru Besar Fakultas Farmasi, Prof. Dr. Umar Anggara Jenie, M.Sc., Apt, memaparkan sejarah berdirinya UGM, 19 Desember 1949, di tengah kancah revolusi Indonesia yang saat itu tengah menghadapi penjajah Belanda yang akan kembali. Jika dilihat secara fisik, UGM merupakan penggabungan dari beberapa perguruan tinggi yang sudah ada sebelumnya, yaitu perguruan tinggi keilmuwan yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Yogyakarta dan Solo. Berdirinya UGM sebagaimana semangat para founding father, kata Anggara jenie, adalah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Dikenal sebagai ilmuwan sains, mantan Kepala LIPI Umar Anggara Jenie ternyata sangat relijius. Umar memiliki kebiasaan menyelesaikan bacaan Alquran sehari satu juz.
Satu bulan atau 30 hari, dia bisa sekali tamat (khatam). Kebiasaan tersebut tetap dia lakukan meski sibuk mengikuti pertemuan-pertemuan keilmuan internasional. Umar adalah satu-satunya orang Indonesia yang menjadi anggota International Dialogue ono Bioethics of European Group on Ethics of Sciences and New Technology (IDB-EGE).

Umar selalu mencatat kapan khatam dan di mana. “Jadi ada yang khatam di Perancis, London, Mekkah, Turki dan lain-lain,’’ ujar Umar yang mendapat Bintang Jasa Utama RI untuk pengabdiannya pada Riset Saintifik di Indonesia bersama pasangan kembarnya, Said Djauharsyah Jenie (almarhum). Umar dan Said menjadi kembar pertama yang meraih bintang jasa utama.

Doktor lulusan Australian National University (ANU) menegaskan nilai reliji yang diyakininya sangat erat dengan ilmu sains yang ditekuninya. Dalam setiap sidang IDB-EGE, Umar selalu diminta memberikan pandangannya sebagai ilmuwan mengenai persoalan yang dibahas IDB-EGE.

Keterkaitan ilmu dan agama bagi Guru Besar Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi UGM ini juga ditunjukkan saat sebagai ketua LIPI diminta menjadi tim tafsir Alquran. Saat itu, Departemen Agama (Kementerian Agama) membentuk tim tafsir. Satu tim dari Depag dan satu tim dari LIPI yang ditunjuk Menristek. Tim Depag disebut Tim Syar’i, tim dari LIPI disebut Tim Kauni. ‘’Tim Kauni ini terdiri dari ahli di bidang sains, bioteknologi, kesehatan dan astronomi. Tim ini berhasil memberi pandangan tafsir kauniyah atau tafsir ilmi. Tahun ini, tafsir ilmi tersebut akan dicetak massal dan diedarkan,’’ tambah pria yang pernah menduduki jabatan wakil rektor UGM bidang penelitian dan pengabdian masyarakat ini.

Sosok Umar Anggara Jenie bisa menjadi cermin betapa pergaulannya begitu luas. Diterima di kalangan ilmuwan hingga tingkat dunia, tapi juga diterima di lingkungan keagamaan. Terlihat networkingnya sangat luas. Dan itu tidak diraih secara instan. “Ya, kita harus membangun networking sejak mahasiswa. Kita jangan melulu fokus pada bidang kita saja. Bidang keilmuan kita butuh ilmu-ilmu lain.

Umar adalah anak dari pasangan Nahar Jenie yang berdarah Minangkabau dengan Isbandiyah dari suku Jawa. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Titiek Setyanti dan telah dikaruniai tiga orang anak, yakni Siti Nurul Aisyiyah Jenie, Iffat Lamya Jenie dan Yazdi Ibrahim Jenie.
Ia merupakan salah seorang yang memakai nama belakang “Jenie” di antara beberapa orang kerabatnya, seperti Adlinsjah Jenie, Rezlan Ishar Jenie dan saudara kembarnya sendiri, Said Djauharsyah Jenie.

Ia berprofesi sebagai pengajar dengan menjadi Guru Besar Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan pernah menjabat wakil rektor bidang penelitian dan pengabdian masyarakat di salah satu universitas terbesar di tanah air tersebut. Ia juga aktif sebagai dewan kurator Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ).

Karena jasa-jasa mereka dalam bidang ilmu pengetahuan, Umar bersama saudara kembarnya, Said Djauharsyah Jenie (almarhum) diberi penghargaan Bintang Jasa Utama Republik Indonesia oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan mereka sebagai kembar pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut. Pada 2015 Umar Anggara Jenie Memperoleh Penghargaan UNESCO (14 September 2015).

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Prof. Dr. Umar Anggara Jenie merupakan satu di antara 14 tokoh nasional mendapatkan penghargaan dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis (27/8), di Jakarta. Umar, demikian ia akrab dipanggil, menerima penghargaan UNESCO di bidang sains. Selain Umar, dua orang tokoh penerima penghargaan yang sama adalah Prof. Sangkot Marzuki dan Prof. Indrawati Gandjar.

Ditemui di ruang kerjanya di Fakultas Farmasi UGM, Senin (14/9), Umar mengatakan penghargaan yang diterimanya merupakan apresiasi dari UNESCO atas kiprahnya telah mengembangkan bidang sains di Indonesia. Salah satu yang pernah dirintis oleh Umar adalah memfasilitasi para ilmuwan muda untuk mengikuti Lindau Nobel Laureate Meeting sepanjang tahun 2004 hingga 2008. Ketika itu ia masih sebagai ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Menurutnya, pertemuan itu sangat prestisius karena mempertemukan para ilmuwan muda yang berumur kurang dari 40 tahun dari negara dunia berkembang dengan para tokoh peraih nobel bidang fisika, biologi dan kedokteran. “Saat itu saya pernah berhasil mengirim 15 orang peneliti muda Indonesia setiap tahunnya dalam pertemuan tersebut,” ujarnya.

Dikatakan Umar, tidak mudah bagi ilmuwan muda bisa mengikuti pertemuan tahunan yang digelar di sebuah pulau di Jerman tersebut. Paling tidak salah satu syaratnya memiliki reputasi dalam publikasi riset sains. “Ilmuwan yang mengikuti ini memiliki reputasi baik dalam publikasi dan kemampuan berkomunikasi,” kata pria kelahiran Solo 67 tahun lalu ini.

Bagi Umar, apa yang dilakukannya bukan semata-mata menjalankan program UNESCO, melainkan mendorong ilmuwan muda menimba pengalaman lebih banyak dengan para peraih nobel di bidang sains. Lewat pertemuan itu pula memungkinkan para ilmuwan membangun kerja sama peneliti antarnegara. “Pengalaman tidak hanya ikut pertemuan, kita bisa menjalin kerja sama dan menggunakan fasilitas laboratorium riset dari negara maju,” tuturnya.

Meski demikian, Umar menyesalkan jika pengiriman ilmuwan muda dari Indonesia ke Lindau Nobel Laureate Meeting ini tidak diteruskan lagi sejak sepeninggalan dirinya sebagai ketua LIPI. Ia berharap program semacam ini bisa dilanjutkan kembali karena dalam pertemuan tersebut ilmuwan dari Indonesia dapat mengetahui tangga karier sesorang peneliti untuk bisa meraih hadiah nobel. “Tentu bisa menginspirasi mereka untuk terus meneliti,” terangnya.

Selain itu, Umar mengatakan ia melaksanakan program UNESCO lainnya dalam pengembangan basic science di Indonesia. Menurutnya banyak peneliti di Indonesia bahkan di negara dunia ketiga tidak banyak tertarik dengan riset penelitian dasar, mereka lebih banyak tertarik pada riset ilmu terapan. Padahal menurut Umar penelitian dasar merupakan kunci bagi sebuah bangsa dalam penguasaan ilmu sains. “Banyak program yang sudah diterapkan di Indonesia. Salah satunya yang berhasil kita lakukan dengan mengajak UNESCO untuk mendirikan pusat riset ekohidrologi dunia di tingkat Asia Pasifik,” katanya.

Menyinggung dengan perkembangan kemajuan sains di tanah air, Umar mengatakan kemajuan sains di Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Namun minimnya fasilitas dan pendanaan menyebabkan banyak peneliti yang setelah berhasil mengambil doktor sains di luar negeri, setelah pulang ke tanah air, tidak bisa mempraktikkan ide dan ilmunya. “Kita bisa maju dan berkembang dengan membentuk kerja sama terbuka dengan negara lain. Bisa dikatakan selama ini memang agak kurang,” paparnya.

Menurutnya bagi anak bangsa setelah selesai menyelesaikan pendidikan doktor di luar negeri seharusnya diberi kesempatan untuk mengembangkan karirnya baik di Indoenaisa maupun di luar negeri. Hal itu yang dilakukan India dimana para ilmuwan mereka saat ini banyak bekerja di lembaga riset dan beberapa universitas terkemuka di dunia. Menurutnya hal itu lebih penting ketimbang ilmuwan muda tidak bisa merealisasikan apa yang diinginkannya. “Orang pintar itu seperti orang gila, segera ingin melaksanakan idenya, tentu dengan fasilitas yang baik dan dana yang cukup. Kalo ke sana (bekerja) baik-baik, biarkan saja. Seperti Habibie dan Sangkot (Sangkot Marzuki), mereka mau kembali, mau mendidik anak-anak kita,” pungkasnya.

1. IMG_20170126_121012 Selamat Jalan Prof. Umar Anggara Jenie…. R.I.P

 (asw, 020217 dari berbagai sumber).