Madurologi: Lahan Penelitian Tak Terjamah!

OLEH : MOHAMMAD SUBHAN ZAMZAMI, http://stainpamekasan.ac.id/detberita/177-madurologi-lahan-penelitian-tak-terjamah.  Selasa, 8 Nopember 2016

Pernahkah kita berpikir bahwa banyak orang Madura justru menyianyiakan Madura, bahkan memandangnya sebelah mata? Apakah kita belum sadar betul bahwa Madura sangat kaya, baik dari SDA, SDM, dan kebudayaan? Percayakah kita bahwa Madura benar-benar unik, sehingga diam-diam banyak mata tertuju padanya? Ataukah kita baru akan menyadari semua itu setelah kita dikejutkan oleh, salah satunya, sebagian lahan di pesisir timur Madura sudah dikuasi oleh investor-investor luar? Atau kita hanya akan menutup mata dengan semua itu tanpa mau melakukan penelitian tentang Madura yang akan membuat kita lebih bangga menjadi orang Madura, sehingga kita bisa membangun jiwa dan raganya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul saat kita berdiskusi tentang Madura, tapi kita masih sulit menjawabnya karena data penelitian tentang Madura masih sangat terbatas. Di tengah kegetiran seperti ini, Prof. Mien A. Rifai, M. Sc., Ph. D., turut mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk meneliti Madura, terutama pada aspek kebudayaannya. Di saat usianya tak belia lagi, ia masih mampu menghasilkan sejumlah karya ilmiah tentang Madura dan mempresentasikannya di seminar tentang Madura berskala nasional dan internasional. Menurutnya, Madurologi merupakan objek penelitian yang belum banyak dijamah orang, padahal masih banyak celah yang bisa diteliti. Bahkan 70% artikel tentang Madura yang dipresentasikan dalam kongres tentang Madura ditulis oleh bukan orang Madura.

Sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional yang sedang go international dan menjadi Madurologi sebagai brandnya, KARSA: Jurnal Sosial & Budaya Keislaman STAIN Pamekasan memprakarsai Seminar Peta Riset Sosial Budaya Keislaman Madura Untuk Peningkatan Mutu Artikel Jurnal Terakreditasi Menuju Jurnal Internasional dengan menghadirkan pemerhati budaya Madura dan dewan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tersebut sebagai narasumber. KARSA, menurutnya, sebagai jurnal yang paling banyak memuat artikel penelitian tentang Madura harus benar-benar menjaga dan meningkatkan mutu jurnal, baik dari segi kualitas artikel, lay out, transliterasi, dan pengelolaan secara elektronik, setidaknya karena dua faktor utama: kesatu, standar internasionalisasi jurnal sangat berat, sehingga mutu jurnal harus dipertahakankan. Scopus, misalnya, menghapus banyak jurnal dari indexingnya karena tidak bisa mempertahankan mutu. Kedua, DIKTI mengurangi nilai jurnal yang tidak dikelola secara elektronik.

Sebagai peneliti Madura sekaligus panitia Akreditasi Jurnal Ilmiah Direktorat Pendidikan Tinggi, Rifai menginginkan KARSA membulatkan tekad, tidak setengah hati, untuk go international. Wujud kebulatan tekad tersebut, misalnya, dengan membuat KARSA seperti betul-betul baru lahir; penampilan baru dengan merujuk pada penampilan jurnal-jurnal internasional, pengelolaan full elektronik (OJS), survei kepuasan dari penulis, dan penerjemahan bahasa artikel sesuai dengan jiwa bahasa pemakainya. Dengan demikian, artikel tentang Madura yang dipublikasikannya akan diakses para peneliti tentang Madura di seluruh dunia. Selain itu, karena peserta seminar berasal dari para pengelola jurnal di lingkungan STAIN Pamekasan, ia juga menginginkan adanya kesamaan transliterasi yang digunakan oleh jurnal-jurnal di lingkungan STAIN Pamekasan, sehingga memudahkan para peneliti yang ingin mempublikasikan artikelnya. Bahkan lebih dari itu, STAIN Pamekasan diharapkan bisa membangun unit khusus untuk penerjemahan artikel. Di sesi diskusi, Zainal Abidin, Umar Bukhory, Hafid Effendy, dan Usman mengajukan pertanyaan dan usulan tentang Madurologi. Abidin mempertanyakan tentang globalisasi dan pola pikir deadline method serta kaitannya dengan kuantitas dan kualitas artikel penelitian, sedangkan Bukhory dan Effendy mempersoalkan tentang penelitian Madurologi yang menyita waktu sangat lama, asal-usul sebagian kosakata bahasa Madura, dan wacana tentang kepunahan bahasa Madura. Agak sedikit berbeda, selain bertanya tentang generalisasi dan spesialisasi peta riset Madura, Usman juga mengusulkan tentang kemungkinan mengumpulkan para periset tentang Madura dari kampus-kampus dalam satu pertemuan.

Menanggapi pertanyaan dan usulan tersebut, Rifai menegaskan bahwa globalisasi mengharuskan kita untuk ikut di dalam persaingan. Bila tidak, kita ketinggalan. Nguan bhekto atau jam karet adalah tradisi buruk yang harus ditinggalkan. Berhubungan dengan nguan bhekto, sebagian kita memang masih menggunakan pola pikir deadline method, sehingga perlu diubah dan kita bisa menghasilkan artikel yang baik dari segi kualitas dan kuantitas. Penelitian tentang Madurogi yang berkualitas, misalnya, bisa dimulai dengan hal sepele, seperti meneliti tentang macam-macam rujak di Madura. Perlu diketahui, penelitian tentang rujak ini sudah berhasil mengantarkan peserta didik Rifai menyandang gelar doktor. “Doktor rujak,” selorohnya. Selain rujak, bahasa Madura juga menarik dikaji. Ia menegaskan, “Tidak benar orang Madura buta warna karena tidak persoalan warna hijau. Dalam warna, bahasa Madura justru lebih kaya daripada bahasa Indonesia.” Jawaban Rifai bukan sekadar kelakar kosong, karena ia

tercatat sebagai salah satu penyusun KBBI dan kini sedang merampungkan ensiklopedi serapan kosakata Madura dari bahasa Arab. Menanggapi usulan terakhir, ia mengatakan bahwa pertemuan itu sudah dilakukan. Bahkan ia berharap STAIN Pamekasan menggagas International Workshop of Madurology tahun depan.

Melalui Madurologi, KARSA bisa menjadi wadah utama penelitian tentang Madura. Penelitian adalah, sebagaimana ditegaskan Rifai, berpikir lain dan didukung dengan data-data yang tidak bisa dibantah. Orang Madura sebagai pemilik sah Madura yang tahu betul dan menjiwai Madura seharusnya berada di garis terdepan Madurologi, sehingga Madurologi tidak lagi dikuasai oleh bukan orang Madura. Sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional dan terindeks di lembaga-lembaga index jurnal internasional, KARSA dengan brand Madurologinya siap membantu merealisasikannya. [Mohammad Subhan Zamzami]

Microsporidia lack conventional mitochondria, services where they will write your essay and represent something of a taxonomic mystery

Bagaimana Merawat Budaya Madura? Berikut Nasihat Mien Achmad Rifai

Jiwa kemaduraan dan bahasa berperan penting dalam menjaga jati diri. Generasi muda harus berperan aktif. Sederhananya, menjaga Madura ialah merawat bahasanya dan menggunakannya dengan bangga, begitu yang diyakini Mien Achmad Rifai.

mien-rifai

MataMaduraNews.comPAMEKASAN-Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat agamis, ramah dan menjunjung tinggi harga diri. Dalam perkembangannya, nilai-nilai kemaduraan mulai tergerus oleh pengaruh budaya asing. Salah satu indikasi yang paling nampak adalah semakin berkurangnya penutur bahasa Madura di kalangan generasi muda.

Dua pekan lalu, Mata Madura berhasil menemui Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Mien Achmad Rifai, M.Sc.,Ph.D. untuk berbincang seputar budaya Madura. Menurutnya, untuk merawat budaya Madura bisa dilakukan dengan hal yang sangat sederhana, yakni merawat bahasa Madura dan menggunakannya dengan bangga. Ia yakin budaya Madura yang khas dan unik tidak akan lenyap apabila para generasi muda memiliki akar budaya yang kuat. Dan bahasa, menurutnya, adalah inti dari budaya. Bahasa juga menunjukkan jati diri suatu masyarakat. ”Budaya itu intinya di bahasa. Kalau hilang ya sudah,” katanya di salah satu hotel di Pamekasan.

Menurut Pak Mien, panggilan akrabnya, ada anggapan yang keliru tentang bahasa Madura. Masyarakat banyak yang menganggap bahasa Madura sebagai bahasa daerah. Padahal istilah yang tepat adalah bahasa ibu. Penggunaan bahasa Madura misalnya, tidak terbatas pada daerah tertentu. Karena masyarakat Madura atau keturunan Madura yang berada di daerah lain juga masih memakai bahasa Madura untuk berkomunikasi. ”Bahasa Indonesia banyak yang tercampur-campur. Bahasa lokal, dalam hal ini dikatakan sebagai bahasa ibu, semakin terpinggirkan, semakin hilang, dianggap tidak gaul, ketinggalan zaman,” terang putra Gapura Sumenep ini.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2012 menunjukkan, ada sebanyak 546 bahasa di seluruh nusantara. Dari sekian banyak bahasa yang ada di nusantara, bahasa Madura berada di urutan ketiga dalam hal jumlah penutur terbanyak. Namun menurut Pak Mien ia beberapa kali menemukan orang Madura yang enggan menggunakan bahasa Madura di daerah lain. “Orang Madura di luar Madura terkadang merasa malu untuk mengaku sebagai orang Madura, merasa tidak percaya diri,” katanya.

Secara umum menurut Pak Mien tidak ada perbedaan yang kentara antara penutur bahasa Madura yang menetap di Madura dan yang berada di luar Madura. Hanya saja dialeknya cenderung berbeda. ”Kalau saya dialeknya agak campur dengan Sunda karena sekarang tinggal di Bogor. Tapi istri saya jawanya medok sekali. Namun sehari-hari saya di rumah tetap memaka bahasa Madura,” ujarnya.

Mien A. Rifa’i mengatakan, kita sudah kehilangan dua generasi pembicara bahasa Madura. Bahkan sejumlah kajian menunjukkan, anak-anak sekarang sudah mulai kehilangan bahasa ibu, bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Sejak kecil anak-anak sudah diajari bahasa Indonesia atau bahasa asing. Bahasa Madura dianggap berada di urutan kedua. Padahal selain penguasaan bahasa asing, ada hal lain yang perlu ditonjolkan, yakni bahasa ibu. ”Yang lebih penting adalah bahasa ibu kita, bahasa Madura,” katanya.

Ia merasa sebaiknya di usia dini, anak-anak tidak usah diajari bahasa lain selain bahasa Madura. Hal ini agar fondasi bahasa Madura dalam diri sang anak terbangun dengan baik. Lagipula, bahasa lain di luar bahasa ibu akan lebih mudah dipelajari ketika usia anak sudah beranjak remaja. ”Selain itu menurut saya kalau masih anak-anak tidak perlu diajari bahasa Madura yang enggi bunten, agar anak-anak tidak merasa kesulitan,” katanya.

Minimnya buku-buku berbahasa Madura juga ditengarai menjadi penyumbang tergerusnya bahasa Madura. Buku-buku berbahasa Madura sampai saat ini bisa dihitung dengan jari. Sulitnya menemukan tulisan berbahasa Madura menyebabkan generasi muda tidak memiliki dasar untuk menggali Madura lebih banyak. ”Tidak ada sekarang buku-buku berbahasa Madura, sehingga yang membaca karya berbahasa Madura juga tidak ada. Yang tinggal cuma bahasa lisannya saja. Bahasa tertulis tidak ada, padahal sangat penting,” ujar Prof Mien.

Karya dan publikasi seputar Madura menurut Prof Mien masih terbatas. Padahal tulisan adalah elemen yang sangat penting untuk meneruskan budaya dan peradaban suatu masyarakat. Dalam berbagai kesempatan ia mendorong semua kalangan untuk membuat karya tentang Madura, terlebih dalam bahasa Madura, yang mampu mengabadikan Madura melalui tulisan. ”Kita sekarang kekurangan karya-karya tentang Madura. Ada beberapa, tapi dangkal. Saya ingin ada orang Madura yang mau mengembangkan karya berbahasa Madura,” ujarnya.

Penanaman jiwa kemaduraan menjadi penting agar masyarakat Madura tidak melupakan jati dirinya. Dalam hal ini menurut Prof Mien kita harus bisa mencontoh Bali. Di tengah pusaran budaya asing yang selalu berdatangan ke Bali, pulau Dewata itu masih bisa mempertahankan eksistensinya. Bukannya terbawa oleh arus globalisasi, justru bisa memanfaatkan globalisasi untuk mempromosikan budaya. ”Intinya tetap menjadi orang Madura. Memanfaaatkan arus globalisasi, bukan terhanyut,” katanya.

Semua orang bisa ikut serta menjadi penjaga bahasa dan budaya Madura. Keduanya bagi pria kelahiran Gapura Sumenep ini sangat berkaitan. “Sebenarnya kalau Anda bekerja dengan maksimal tanpa melupakan jati diri Madura, bahasa dan budaya Madura akan tetap eksis. Kita harus jadi diri sendiri, tetap menjadi orang Madura, dan harus bangga menjadi orang Madura,” katanya.

Terkait anggapan negatif sebagian masyarakat daerah lain tentang orang Madura, Prof Mien menilai hal itu terjadi karena belum bersentuhan langsung dengan orang Madura. Stigma negatif itu bisa terhapuskan dengan sendirinya apabila orang Madura menunjukkan kemaduraan dalam pergaulan dengan masyarakat dari daerah lain.

Hal lain yang juga tak kalah penting bagi Prof Mien adalah perlunya pakar-pakar yang fokus mendalami bahasa Madura. Hingga saat ini, menurutnya doktor yang mempelajari bahasa Madura bisa dihitung dengan jari. Perlu juga adanya jurusan bahasa Madura agar bisa menghasilkan pakar-pakar baru di bidang ini. ”Harus ada jurusan bahasa Madura. Kita sangat kekurangan doktor di bidang bahasa Madura,” saran Prof Mien.

Ia menekankan pentingnya peran generasi muda untuk mengadakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kemaduraan. Karena ia melihat, jarang sekali pemuda di Madura melakukan hal semacam itu. Apabila pemuda tidak turun tangan dalam melestarikan bahasa dan budaya Madura, ia khawatir suatu saat nanti jiwa kemaduraan yang menjadi ciri khas orang Madura akan hilang. ”Kalau yang tua-tua mungkin masih terpelihara kemaduraannnya, tapi yang muda-muda ini sangat rentan,” ujarnya.

Jamal, Mata Madura

I find myself in the dredges of excuse-itis more often than https://essay4today.com I care to admit