GMT Palu 0902166

AIPI Sosialisasi Gerhana Matahari Total (GMT) di Palu

Dalam sejarah perkembangannya, ilmu pengetahuan atau sains sering dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok ilmu murni dan kelompok ilmu terapan. Sesuai dengan penamaannya, kelompok ilmu murni, yang lebih dikenal pula sebagai ilmu dasar atau sains dasar, dikembangkan dengan tujuan utama memperluas cakrawala ilmu pengetahuan tentang alam, melalui pengamatan, penemuan dan pemahaman perilaku dan hukum-hukum alam, dengan tanpa harus memperhatikan kegunaan hasilnya secara langsung. Sebaliknya, kelompok ilmu terapan sedari awal dalam rencana pengembangannya memang ditujukan untuk mendapatkan kegunaan dan manfaat dari sifat-sifat dan hukum alam yang telah diketahui dan difahami. Walau pada awal pengembangannya tidak ditujukan mencari kegunaaan, namun banyak pula hasil-hasil pengembangan sains dasar yang memiliki potensi kegunaan, terutama yang membuka wacana keilmuan yang baru.
Cabang sains dasar yang berurusan dengan fenomena dan benda-benda di angkasa luar adalah astronomi. Benda-benda angkasa luar, tidak diragukan, pasti telah menarik perhatian manusia sejak jaman prasejarah. Bagaimana tidak, Bulan yang biasanya berwarna kuning tiba-tiba, pada saat terjadinya gerhana bulan total, warnanya berubah menjadi merah. Atau lebih dahsyat lagi, Matahari yang biasanya bersinar terang tiba-tiba, pada saat terjadinya gerhana matahari total, menjadi gelap. Seiring dengan berkembangnya ilmu astronomi, sekarang manusia sudah memahami bahwa fenomena gerhana terjadi mengikuti hukum-hukum gerak dan gravitasi. Kapan suatu gerhana akan terjadi, dan dari daerah mana di muka Bumi gerhana tersebut dapat diamati, saat ini sudah dapat diramalkan dengan presisi yang sangat tinggi.
Indonesia kembali akan menjadi negara yang beruntung karena sebuah gerhana matahari total (GMT) akan melintasinya pada tanggal 9 Maret 2016 (untuk selanjutnya disebut GMT 2016). Jalur totalitasnya hanya akan melalui samudera Hindia, Indonesia, dan samudera Pasifik. Daratan berpenghuni yang dilalui jalur totalitas GMT 2016 tersebut antara lain adalah Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.
Gerhana matahari total yang pernah melintasi Indonesia pada tahun 1983 dapat menjadi pelajaran bagi pemerintah dan masyarakat. Di tahun 1983 semua orang dilarang untuk menyaksikan Gerhana Matahari Total, dokter-dokter menghimbau dengan ancaman mereka akan buta karena menatap cahaya ultraviolet. Hal itu tidak boleh terulang pada GMT 2016. Perkembangan teknologi yang pesat dewasa ini diharapkan dapat menjadi media yang efektif untuk menyampaikan potensi nasional yang seharusnya dapat mengembangkan Indonesia khususnya di sektor pariwisata. GMT 2016 ini membawa peluang besar bagi seluruh daerah di Indonesia baik dari segi bisnis maupun pengenalan budaya, khususnya daerah-daerah yang dilintasi GMT.
GMT 2016 yang layak disebut “gerhana matahari Indonesia” itu tentu akan menjadi “terlalu besar” jika hanya diantisipasi oleh sekelompok orang yang profesi atau minatnya berkaitan dengan benda langit. Saat ini bahkan ribuan orang dari luar negeri telah memesan tempat penginapan untuk sekitar tanggal 9 Maret 2016, di semua kota yang dekat dengan lintasan GMT 2016. Peristiwa alam langka ini harus diantisipasi/dipersiapkan infra-strukturnya oleh berbagai pihak antar-disiplin. Tengok misalkan, bagaimana daerah-daerah favorit harus menangani ribuan wisatawan yang datang dan pergi pada waktu yang bersamaan. Atau, bagaimana pihak yang berwenang “mendidik” masyarakat di sekitar lintasan totalitas GMT 2016 tentang bagaimana mengamati GMT dengan aman.
Gerhana matahari total dalam sejarah telah tercatat pernah menjadi saat yang unik untuk dilakukannya sebuah pengamatan/pengukuran ilmiah. Misalnya, kelengkungan ruang waktu yang diramalkan oleh teori Relativitas Umum Einstein, salah-satunya, dapat dilihat dengan berubahnya letak semu bintang-bintang yang posisinya dekat dengan piringan Matahari. Pengukuran posisi itu hanya dapat dilakukan pada saat GMT terjadi.
Ketika perhatian masyarakat banyak sedang tertarik ke sebuah fenomena alam yang berkaitan dengan Matahari, sangat relevan jika informasi-informasi ilmiah yang berkaitan dengan interaksi Bumi-Matahari juga disampaikan. Informasi itu misalnya tentang climate change, biodiversity, atau bahkan tentang aspek-aspek yang tidak berkaitan dengan Matahari secara langsung seperti pariwisata, sosial-budaya, dan lain sebagainya. Adalah wajar jika AIPI, dalam hal ini Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, memberi perhatian pada masalah ini, melalui penyelenggaraan ”Sosialisasi Gerhana Matahari Total”.

Maksud dan Tujuan
Sejalan tujuan tersebut, Sosialisasi ini dirancang selain untuk menggali berbagai masalah yang menyangkut pegembangan sains antardisiplin terkait GMT, tetapi juga akan memberikan informasi mengenai potensi ilmu-ilmu antardisiplin, baik sebagai ajang pengembangan ilmu yang subur maupun sebagai penunjang dalam pemecahan berbagai masalah terapan. antara lain:
•Menyajikan gambaran tentang perlu dikembangkannya bidang-bidang sains antar-disiplin sebagai bidang-bidang ilmu yang subur untuk dilakukan penelitian, yang tumbuh sebagai simbiosis antara dua atau lebih bidang ilmu yang kajiannya bersinggungan dalam berbagai masalah, serta potensinya sebagai penunjang dalam berbagai pengembangan ilmu terapan maupun dalam penanggulangan berbagai permasalahan.
•Memperkenalkan permasalahan-permasalahan nyata, dimana diperlukan potensi dari sains-sains antar-disiplin dalam memberi sumbangan bagi pemecahannya, serta effek timbal-balik yang didapat bagi mendorong pengembangannya, melalui paparan dari para pelaku, tentang perannya dalam memecahkan berbagai permasalahan ilmu dasar, rekayasa, kedokteran, lingkungan dan sosial di Indonesia.
•Mengungkap berbagai macam kendala dalam pengembangan bidang-bidang ilmu antar-disiplin terkait GMT, sebagai akibat kebijakan peraturan pemerintah, dan keterbukaan lapangan kerja di luar pemereintah. Khusus bagi pengembangan aspek akademik adalah peran peraturan kurikulum dalam permasalahan perpindahan antar jalur pendidikan.
•Menggali dan mendapatkan pemahaman tentang peran sains dasar antar-disiplin dalam menunjang pengembangan ilmu-ilmu rekayasa, serta berbagai upaya yang perlu dilakukan berbagai pemangku kepentingan di Indonesia, seperti: perguruan tinggi, pemerintah dan industri untuk mewujudkannya, yang akan membuat studi tentang sains dasar antar-disiplin menarik, menjamin kelestarian dan ketersediaan pakarnya terkait GMT
•Mendapatkan masukan dari dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, tentang kemampuannya menghasilkan pakar-pakar ilmu antardisiplin terkait keastronomian, khususnya program-program pasca sarjana yang tersedia dan rentang bidang-bidang yang mampu disajikannya, serta program-program lain dalam rangka pelestariannya. Selain itu juga mengungkap kendala-kendala yang dihadapi dalam usaha tersebut, antara lain peraturan kurikulum dan kepagawaian, serta upaya mengatasinya.
•Hasil Lokakarya/diskusi ini diharapkan dapat menjadi bahan bagi penyusunan rekomendasi AIPI kepada pemerintah dalam mengantisipasi perkembangan sains ke masa depan.

Pelaksanaan Kegiatan
•Tanggal 8-9 Maret 2016, Di Universitas Tadulako dengan peserta 200 org, TVRI Palu, dan Pelataran Pantai Pemda Palu Sulawesi Tengah dengan pengunjung umum.
•Pelaksanaan “Sosialisasi Gerhana Matahari Total” dilakukan atas kerja sama antara AIPI, LAPAN, ITB dengan Universitas Tadulako dan Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah. Penyelenggaraan ini telah mendapatkan kesanggupan dari Universitas Tadulako Palu, khususnya Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, TVRI Palu, dan Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah sebagai Tuan Rumah, dimana kegiatan akan diselenggarakan sebagai kegiatan terbuka.

Inti sambutan Prof. Hendra Gunawan mewakili AIPI berintikan:
•Pemilihan hari kegiatan sosialisasi lebih awal terkait dengan alasan padatnya kesibukan padap H-2 atau H-1 dari GMT.
•Tugas utama AIPI adalah mengawal dan mengawasi pengembagan ilmu pengetahuan di Indonesia. Untuk itu AIPI sangat tertarik untuk mensosialisasikan keterkaitan GMT dengan ilmu dengan pengetahuan
•GMT bukan fenomena alam biasa namun terkait dengan banyak fenomena ilmiah yang terjadi, misalnya: – Penentuan jarak bumi-matahari atau bumi-bulan dilakukan pada saat gerhana matahari,
•Ilmuwan Inggris pada Tahun 1919, memanfaatkan GM untuk membuktikan Teorema
Einstein.
•GMT akan berulang pada tempat yang sama dalam kurun waktu ±350 tahun ( 5-6 turunan lagi).
•Palu akan tercatat dalam sejarah dengan adanya fenomena penting ini. Untuk itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan.

Inti sambutan Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata Kota Palu (Goenawan, S.SPT.)
•Apresiasi akan pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini.
•Fasilitas yang mendukung Kota Palu menjadi destinasi para tamu pada saat GMT dipersiapkan
•Tempat-tempat tujuan: – Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tojo Una Una, dan Kabupaten Luwuk
•Kegiatan yang akan dilakukan:
*) Penyambutan wisatawan di Bandara Udara Mutiara-Sis Aljufri
*) Event-event, seperti penyajian kuliner asli Sulawesi Tengah, Pagelaran wisata, Marchandise, dsb
*) Pendataan tamu hotel untuk alasan keamanan dan kenyamanan selama berada di Kota Palu

Inti sambutan Rektor Untad (Prof. Dr. Ir. Muhammad Basir, MS.) sekaligus membuka acara:
•Kebanggaan dan rasa terima kasih kepada para pemateri dan Tim AIPI atas terlaksananya kegiatan ini. Ini merupakan suatu kepercayaan bagi Universitas Tadulako.
•Ada dua segi yang terkait dengan GMT: Segi Ilmu pengetahuan dalam rangka GMT (ada banyak hasil penelitian yang diperoleh melalui GMT ini) dan segi fenomena religi (ada kekuatan yang luar biasa (Tuhan) yang mengatur semuanya itu terjadi).
•GMT juga mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat, misalnya: hotel-hotel dan penginapan penuh dan hasil-hasil kerajinan, kuliner, dan lainnya akan terjual baik.
•GMT menjadi catatan sejarah yang menjadi bagian dari Kota Palu dan Universitas Tadulako

Materi 1: Prof. Dr. Bambang Hidayat (AIPI).
•Memperlihatkan hasil pemantauan awal lokasi-lokasi yang strategis di Kota Palu untuk pengamatan GMT, seperti Pantai Talise, Jembatan Kuning, dan lapangan depan Univeristas Tadulako.
•Tiga (3) unsur yang ada pada peristiwa GMT adalah: Sains Matahari/Bumi/Bulan, Sains Tentang Alam kita, dan Sains Ekologi
•Hal lain yang terkait adalah perekonomian. Hal ini sangat berkolerasi dengan jumlah pengunjung/wisatawan local maupun wisatawan asing pada saat GMT.
•Sektor pariwisata juga mengalami peningkatan. Sebagai bandingan, akan datang 5000 wisatawan mancanegara yang sebagian besar merupakan ilmuwan. Para ilmuwan akan membawa 15 buah teropong pengamatan untuk keperluan penelitan mereka.
•Apakah dinas pariwisata sudah siap untuk itu? Misalnya:
•Penyiapan masyarakat akan kedatangan para wisatawan/ilmuwan luar negeri (Sosial)
•IPTEK (Apakah peneliti Untad siap untuk menerbitkan paper sehubungan dengan GMT)
•Kenyamanan/Keamanan dan Kesehatan, misalnya: tersedianya toilet umum
•Rekapitulasi selama GMT
•Contoh peneltian yang terkait dengan IPTEK, pada peristiwa GMT 1983 yang melewati daerah Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan, peneliti Inggris, John Parkinson memamfaatkan siswa-siswa di daerah Pekalongan untuk melihat perubahan jari-jari matahari pada saat GMT. Mengapa hal ini dilakukan? Pekalongan adalah wilayah yang menjadi daerah terluar yang dilintasi GMT. Metodenya adalah pada setiap jarak 2km tegak lurus lintasan berdiri 10 orang siswa dan mengamati besar diameter matahari. Hasil yang diperoleh adalah adanya perubahan jari-jari matahari. Ini sangat menarik untuk diulang pada saat GMT nanti. Persoalannya apakah ada yang mau jadi relawan untuk itu?
•Tahapan terjadinya gerhana matahari total tebagi atas 5 tahap kontak yaitu:
•K1 adalah kontak pertama piringan luar bulan dan piringan luar matahari
•K2 adalah kontak awal piringan dalam bulan dan piringan luar matahari
•M adalah tahap dimana seluruh bagian matahari tertutupi oleh bulan
•K3 adalah kontak akhir piringan dalam bulan dan piringan luar matahari
•K4 adalah kontak terakhir piringan luar bulan dan piringan luar matahari

Untuk Kota Palu, waktu untuk setiap tahapan tersebut adalah:
•K1 pada 07:27:51 WITA
•K2 pada 08:37:47 WITA
•M pada 08:38:50 WITA
•K3 pada 08:39:53 WITA
•K4 pada 10:00:35 WITA

•Mengapa tidak setiap bulan terjadi gerhana matahari? Hal ini tidak terjadi karena lintasan/orbit bulan dan orbit bumi berbentuk elips dan tidak sebidang. Sudut maksimum yang terjadi antara bidang orbit bumi dan bidang orbit bulan adalah 5°. Gerhana matahari total akan terjadi jika keduanya sebidang.
•Hal yang dapat teramati secara langsung pada saat GMT adalah Bailey’s beads dan beberapa planet terlihat Merkurius dan Venus.
•Adakah cerita rakyat atau mitos tentang gerhana matahari dan apakah sudah dibukukan? Jika belum maka saatnya untuk membuatnya dan mensosialisasikannya.
•Kalau pada Tahun 1983, pemerintah dengan terang-terangan melarang masyarakat tidak melakukan pengamatan langsung pada saat GMT dan melarang aktivitas diluar rumah pada saat itu. Ini adalah suatu sosialisasi yang tidak benar. GMT adalah hal yang langkah maka perlu dinikmati oleh seluruh masyarakat yang dilalui GMT tersebut. Yang utama adalah sosialisasi yang benar berdasar ilmu pengetahuan.
• Pada dasarnya terdapat banyak objek penelitian yang potensial untuk diteliti berkaitan dengan GMT, misalnya: bidang biologi khususnya perilaku hewan/binatang 3 hari sebelum, selama, dan 3 hari setelah GMT, perilaku tumbuhan fototaksis (Mimosa/Caliandra/Crotalaria/Trembesi), dampak sosial GMT, pengaruh GMT terhadap budaya, melakukan pemotretan multiexplosure dan diabadikan dalam suatu album dengan judul GMT dan lain sebagainya.

Materi 2: Keunikan Sulawesi, Gerhana Matahari, dan Perilaku Satwa Dr. Jatna Supriatna (AIPI/UI)
•Indonesia merupakan daerah dengan megadiversity untuk flora dan fauna. Khusus untuk daerah Sulawesi merupakan suatu wilayah yang unik yang diapit oleh dua lempeng (Lempeng Sunda dan Lempeng Sahul).
•Sulawesi kaya akan biodiversity endemic dan merupakan Laboratorium Alam (Research Station) terbagus di Indonesia dan dunia (Zona Wallacea). Sebagai contoh: keanekaragaman monyet di Sulawesi. Daerah Kebun Kopi merupakan daerah pertemuan monyet dari utara (Ampibabo) dan monyet dari daerah selatan Kebun Kopi. Dari perkawinan silang spesies ini sangat potensial untuk menghasilkan semua ekspresi genetik. Untuk itu research station ini perlu dijaga kelestatiannya.
•Contoh lain adalah adanya keanekaragaman binatang Tarsius di Sulawesi, di mana terdapat banyak spesies (lebih dari 5 spesies) sementara di Kalimatan dan Filipina masing-masing hanya memiliki 1 species. Masih banyak spesies endemik lagi yang terdapat di Sulawesi seperti: Burung Maleo dan Cecak Terbang. Keanekaragaman ini perlu dijaga dan diupayakan dikembangkan sebagai objek wisata wildlife sama seperti Komodo (NTT) dan orang utan (Kalimantan).
•Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) sangat potensial untuk pengamatan/penelitian ilmiah:
a.Bagaimana perilaku satwa untuk aktivitas persiapan tidur (roosting) dan tidur (bedding)?
b.Bagaimana panic behavior pada hewan endemik seperti Tarsius dan monyet? Bagaimana kalau Tarsius dikandangkan dan diamati perilakunya sebelum, selama, dan sesudah peristiwa gerhana matahari dalam hubungannya dengan persepsi terhadap cahaya dan perubahan suhu.
Penelitian ini sangat publicible karena meninjau perilaku hewan endemik Sulawesi.

Matri 3: “Bagaimana Gerhana Matahari Total (GMT) Mempengaruhi Cuaca Bumi?” (Prof. Dr.Daniel Murdiyarso)
•Pada saat GMT terjadi penurunan radiasi matahari. Hal ini akan berpengaruh pada perubahan suhu udara dan kecepatan angin.
•Pada saat GMT di Inggris tahun 2015 (20 Maret 2015) dilakukan penelitian tentang bagaimana perubahan temperatur udara. Diperoleh kesimpulan bahwa suhu turun sebesar 2°C dalam beberapa saat selama GMT tersebut.
•Akan dilakukan kerja sama dengan BMKG untuk melakukan eksperimen kecil di mana dilakukan pengamatan suhu setiap setengah jam, tinggi tempat sensor/termometer 2 meter di atas tanah, dan dilakukan oleh banyak orang. Untuk pengambilan data dilakukan mulai dari 07.30 – 11.00 WITA dan dicatat setiap 30 menit. Kirim datanya kepada BMKG Bandara Mutiara Bp Kasiron (HP 081341080675). Hal ini tentu sangat memotivasi siswa-siswi untuk mengamati peristiwa ilmiah.

Materi 4: “Peranan Pemerintah Kota Palu Dalam Menyambut Fenomena Gerhana Matahari Total 2016?” (Goenawan, S.SPT).
•Pemateri memberikan paparan tentang sekilas Kota Palu, Reservasi Hotel oleh Ilmuwan/wisatawan mancanegara, itenaray perjalanan wisata selama GMT, dan pernak-pernik sebagai kenangan GMT 2016 yang membawa Palu sebagai destinasi para wisatawan/ilmuwan mancanegara.
•Kota Pulu dipilih sebagai tujuan utama karena tempa ini mengalami durasi GMT yang lebih lama dari Kota Palu dan tempat yang memadai untuk pengamatan GMT.
•Dibuka peluang untuk menjadi relawan Tour Guide pada even GMT. Untuk hal ini silahkan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kota Palu.

Sesi Diskusi:
1.Azwar, Jurusan Fisika, FMIPA
Bagaimana kondisi cuaca pada saat GMT?
Jawaban Bpk. Warjono dari BMKG Kota Palu:
Pola hujan di Kota Palu selama ini adalah pada siang hari dan terjadi setiap dua mingguan. Dengan demikian pada saat GMT, cuaca diperkirakan cerah. Hal lain yang mendukung adalah selama ini Kota Palu memiliki curah hujan yang rendah. Untuk melihat perubahan cuaca tersebut BMKG membuat akun di Facebook dengan nama BMKG Kota Palu untuk keadaan seminggu sebelum dan sesudah GMT.

2.Dwi Setyo Wardani, Fak. Ilmu Kedokteran dan Kesehatan untuk Dinas Pariwisata Kota Palu
Apa ada fasilitas untuk warga Kota Palu dan apa ada kegiatan lain seperti festival?
Jawaban dari Bpk. Goenawan BMKG:
Kegiatan yang dilakukan dalam bentuk pameran jadi dapat dinikmati oleh siapa saja. Selain itu ada souvenir untuk dijadikan ole-oleh para wisatawan mancanegara maupun lokal. Kegiatan lain adalah dibuka peluang untuk menjadi relawan guide.
Tambahan jawaban dari Prof. Bambang Hidayat:
Selain hal di atas, coba ikut dalam kegiatan penelitian yang menyangkut GMT dan publikasi.

3.Eko Putra, FKIP Pordi Pendidikan Kimia
1.Palu tidak masuk dalam zona utama dari jalur GMT. Apakah pengambilan data di Palu layak dibandingkan dengan daerah yang dilalui jalur utama (yang terlama peristiwa GMT)?
2.Untuk dinas Pariwisata
Apakah ada jaminan untuk mengakses tempat-tempat yang strategis yang telah ditujukan untuk wisatawan/ilmuwan mancanegara?
Jawaban:
1.Data tetap layak, persoalan hanya pada durasi GMT.
2.Untuk mengakses tempat strategis tidak ada masalah walaupun nantinya ada pemeriksaan dari petugas keamanan. Hal ini ditujukan untuk menjamin keamanan dan keselamatan semuanya.

4.Fajri, Jurusan Fisika FMIPA
Bagaimana kondisi pasang surut pada saat GMT dan bagaimana anomaly medan magnet bumi? Apakah berbeda dari hari biasanya?
Jawaban:
Apakah yang kamu maksud pasang surut air laut? Kalau ya, maka GMT tidak memberi perubahan signifikan pada peristiwa pasang surut air laut tersebut karena pasang surutnya air laut tidak hanya ditentukan oleh benda-benda angkasa tersebut namun oleh suhu dana rah angina juga. Demikian juga dengan medan magnet bumi.

5.Kurniawan, Jurusan Biologi FMIPA
Apakah ada adaptasi tingkah laku hewan dan bagaimana pula dengan tumbuhan seperti trembesi, mimosa, dan tumbuhan endemik (pitopangi)?
Jawaban:
Apresiasi yang tinggi bagi dosen yang peduli tentang penelitian dan bangga akan adanya Prof Ramadhanil yang terus mendukung mahasiswanya. Tentu akan ada adaptasi tersebut dan seperti yang disebutkan sebelumnya untuk GMT 2016 ini perlu dilakukan penelitian yang sama dengan penelitian sebelumnya untuk melihat kembali tentang apa yang terjadi.

6.Hapsah, dosen Fakultas Pertanian untuk Dr. Jatna
Apakah selama ini ada dampak GMT terhadap perilaku satwa?
Jawaban:
Tentu ada dampaknya namun tidak permanen. Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa Sulawesi Tengah adalah Laboratorium Alam terbesar dan terhebat dunia, miris kalua orang lokal tidak siap untuk bekompetisi dengan turis asing yang rela datang ke daerah ini hanya untuk GMT. Jadi, jangan terpesona dengan datangnya turis/ilmuwan asing tersebut.

7.Siswa SMP Neg. 1: Ardhian
1.Banyak orang asing yang datang untuk meneliti dalam rangka GMT, bagaimana dengan orang lokal?
2.Bagaimana cara menampilkan kuliner dan fauna? Apakah ditampilkan pada saat itu?
Jawaban:
1.Orang asing harus jadi motivasi bagi orang lokal dalam hal “Temper Ilmiah” untuk melakukan penelitian-penelitian yang menyangkut peristiwa-peristiwa penting dan langkah seperti GMT ini.
2.Penyajian kuliner dalam bentuk pameran dan demonstrasi langsung.

8.Siswa SMP Neg.1: Brenda Wongsonegoro
Banyak turis asing yang datang ke Palu, bagaimana kesiapan pemerintah?
Jawaban:
Pemerintah melalui Dinas Pariwisata siap untuk menerima dengan menyiapkan penyambutan, tempat/destinasi para tamu tersebut dan juga penjagaan keamanan yang menjamin bagi para wisatawan dan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>