BENCANA ALAMI DAN BUATAN (Dalam kenyataan, maya dan potensinya)

”Bencana mengancam Indonesia” ini, yang disunting oleh Stania Soelarto, redaksi senior Kompas, menemui khalayak tatkala banyak bagian dunia, terentang mulai dari Chili sampai ke New Zealand, dari Indonesia sampai ke Jepang dan dalam wilayah tudung es Bumi di utara maupun selatan, sedang merasakan dan melihat ancaman karena dinamika ubahan fisik bumi dan angkasanya. Dua kategori besar terangkum kedalam pengertian ubahan: yang sudah nyata dan yang masih berujud potensi tetapi pada saatnya akan mendorong menggugah bencana. Bencana dalam konteks ini ialah ancaman terhadap keselarasan dan keselamatan tata kehidupan manusia yang bermasyarakat. Banyak diantara kita tidak perduli dengan ancaman terhadap sistem kehidupan lain, yang nilai dan bobotnya berat, tidak dapat kita abaikan. Kepunahan berbagai spesies dalam suatu kawasan hanya dianggap bencana kalau dampaknya sudah melebar dan melebur kemanusiaan. Hati kita tidak tergerak kalau predator merajalela menghilanglan walang sangit atau beberapa jenis avian, bahkan kadang kala kita acuh terhadap kenaikan tak sengaja persentase jasad karsinogenik di lingkup kehidupan kita. Padahal kemusnahan beberapa spesies tidak hanya merusak peri kebinatangan tetapi keberadaannya juga merupakan kehidupan, pembentuk mata-rantai yang melanggengkan sistem ekologi penunjang kemasahalatan penyelenggaraan kemanusian.

Dalam kategori bencana yang masih potensial ini terselubung ubahan maya yang tersulut oleh perilaku manusia baik disengaja maupun oleh karena karena kekurang pahaman terhadap lingkungan. Kaidah-kaidah etika lingkungan sering di perkosa tidak hanya oleh Pemerintah rerapi kadangkala oleh kita sendiri sebagai anggauta masyarakat. Pelindung hijau yang mempunyai sifat peneduh dan pengaplos udara diluluh lantakan demi kesenangan. Kejadian-kejadian kecil mulai dari pembuangan sampah penyebar ketak nyamanan indera dan penimbul kerapuhan kehidupan sistem yang sederhana sampai kepada upaya organisasi tertata bermunculan. Kasus terakir itu terbetik, umpama, dari pembangkitan Lusi (Lumpur Sidoarjo) yang tidak hanya merusak tatanan kehidupan generasi kini tetapi, seperti diramalkan oleh beberapa ahli kebumian, akan terus berlangsung sampai tahun 2080-an. Bencana ini akan merupakan pengalaman traumatik beberapa generasi yang tidak hanya terbuang habitat alaminya, tetapi juga menyandang duka kehilangan warisan budaya.

Contoh tersebut diatas adalah bencana yang sudah mengejawantah menjadi kenyataan dan yang menyengat pancaindera serta kehidupan.. Bencana dalan statue-nascendi, masih maya, terjadi karena tidak sengaja kita memperkosa hukum-hukum pengaturan hidup dan tatakrama. Pengaturan itu ada yang riil, legalistik, dinyatakan dalam serangkaian kalimat dalam Undang-Undang ataup yang terpateri kedalam peraturan lain. Tetapi ada yang hanya merupakan kode etika perilaku turun temurun suatu kebenaran dan dirasakan kebaikannya oleh kelompok masyarakat. Hukum tersebut tidak tertulis seperti halnya suatu etika dalam menggalang kebersamaan dan kebaikan. Disini rasanya patut kita ketengahkan pepatah Jawa yang menyembulkan pengambilan keputusan dengan ”bener” dan ”pener”. Benar didukung oleh logika keadaan sesaat tetapi arahnya tidak lurus menuju ke kebahagiaan atau keselarasan hidup bersama yang merangkai antar generasi. Bismar Siregar (1995) sudah mengurai tentang ”politik Hukum dan Sistem Hukum di Indonesia”. Ijinkan saya mencuplik sebagian dari fatwa beliau bahwa yang harus kita upayakan ialah agar sikap kita, kata dan perbuatan, menjiwai dan mewarnai perwujudan insan yang beragama dan berkepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dampak pengertian itu luas sekali sehingga Satjipto Rahardjo (2009) menyatakan dalam ”Hukum dan perilaku”-nya bahwa ”hidup baik adalah dasar hukum yang baik jadi bersumber pada kepribadian yang berpengetahuan, berperasaan dengan ”tepo sliro”. Hukum dan peraturan berfasade legalistik namun yang penting untuk pagar penjelengraan hidup adalah roh yang tersimpan didalamnya. Pengabaian terhadap nilai itu berpotensi menimbulkan bencana dalam tata kehidupan dan bermasyarakat, tidak ubahnya seperti dampak banjir yang secara fisik melebur suatu perkampungan.

Memandang sumbernya kita melihat adanya bencana bersifat alami dan berdampak ragawi, nyata meluluh lantakkan sendi-sendi kemasyarakatan. Krida pencetus bencana ini bersumber pada alam besar mulai dari gerak kerak Bumi, atau terhunjamnya lempeng benua satu ke lempeng lain sampai kepada ketidak panggahan pancaran radiasi surya. Terpicu ulah dan kekurang tahuan manusia bencana laten dapat berkembang menjadi bencana riil, nyata.. Masyarakat yang telah dianugerahi kemampuan berpkir, mengindera, menimbang dan memilah fenomena tentunya tidak akan tinggal diam. Benar peristiwa alam besar tak dapat dhindari bahkan tidak dapat selalu diramal kedatangannya, tetapi canang awal suatu peristiwa biasanya memanifestasikan peringatan dini untuk disikapi, setidaknya dengan upaya mengurangi derita yang timbul. Peringatan itu ada yang bisa di raba dengan naluri etnik dan memori publik, tetapi pengetahuan jangka panjang terletak diwilayah tatamuka ilmu pengetahuan kealaman dan keilmuan sosial. Negera berkewajiban mempertemukan dua buah muka budaya ini. Beberapa pengarang sudah menata usulannya dengan sederetan logika yang transformatif.

Itu merupakan sikap terpuji karena mengingatkan masyarakat untuk menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi. Sikap positif dan kebapakan negara yang bertanggung jawab adalah meminimalkan derita kemanusiaan dan, lebih utama, mempersiapkan langkah restorasi dan rehabilitasi sistem masyarakat yang terlanda bencana. Usaha perbaikan itu sangat luas dan memerlukan visi jangka panjang, dibarengi dengan misi, meliputi upaya rekonstruksi ranah kejiwaan: etika dan moralita menolong nir pamrih, dan, sampai titik tertentu, perilaku kehidupan. Bahwasanya tantangan selalu muncul dalam lingkup pembauran antar budaya adalah wajar dan harus diterima dengan diktum pembaharuan.

Penulis ini tidak tidak dapat menyembunyikan kegembiraan dan kebahagiaannya, ketika membaca kumpulan karangan berbobot, yang sebagian telah penulis baca pada hari terbitnya karangan itu. Bukan hanya karena tersanjung diminta menuliskan kata pengantar buku ini, tetapi kegembiraan penulis terseret oleh kedalaman dan seleksi cermat Redaksi antologi yang menghimpun pemikiran para pemikir Kompas 2010. Kamandulan alam pikiran penulis ini terangsang oleh kejelian redaksi dan para penulisnya mengutarakan bahasan ”bencana” yang terhimpun kedalam 7 bab pokok kebencanaan. Antologi itu menyajikan masalah riil, akut dan besar. Pada mulanya penulis ragu menamakan buku ini sebagai sekedar himpunan tulisan karena penulis yakin bahwa kumpulan itu merupakan sebuah antologi. Setelah membaca keseluruhan pokok pikiran penulis cenderung mengemukakan buku ini lebih dari sekedar kumpulan makallah tetapi harus dipandang sebagai sebuah antologi mengenai bencana. Dalam definisi Dick Hartoko dan Harmanto (1985) dalam bukunya ”Pemandu di dunia Satra” menyatakan antologi adalah bunga rampai, kumpulan fragmen dari salah seorang atau berbagai pengarang. Melihat ke-dalam-an isi dan bahasan hampir setiap bab dan sub-bab, penulis ini cenderung memahaminya dengan definisi klasik (yang sering dipergunakan dalam keilmuan monodisiplin) J.S. Badudu. Dalam ”Kamus:Kata-Kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia” (2009) Badudu menyatakan bahwa antologi ialah kumpulan karya pilihan dari seorang pengarang atau dari beberapa pengarang terkenal. Memang benar secara implisit karya yang terangkum kedalam ”Bencana” adalah hasil seleksi dan pilahan.
Alur logika ”Bencana” ini secara tematik tergolong runut kedalam 7 bab besar. Diawali dengan gemuruhnya bencana alam riil serta upaya penanggulangan dan peyelamatan masyarakat penderita, disambung dengan bencana potensial yang masih tersimpan dibelakang kabut ketakacuhan dalam kehidupan konstitusionil, hukum dan ekonomi serta di akiri dengan perilaku yang menggejala, tetapi berpotensi menjadi jeram bencana yang akan menyeret massa ke kedung kesulitan.jika tidak diwaspadai sedini mungkin. Penyaji makallah mengetahui medannya dengan baik dan akan merupakan vista panoramik yang baik, diseling adonan skeptisisma dengan konsensus untuk menolong memperbaiki kenyataan dan citra negeri ini.

Sebenarnya berbicara tentang bencana yang melanda kemanusiaan di Bumi, hanya sekejap netra dibanding dengan umur Bumi yang semenjak kelahirannya, 4,5 miliar tahun yang lalu selalu di rundung perubahan besar, kecil, transformatif tetapi juga penyanjung dan perbaikan kehidupan. Ada bencana yang membawakan sesumber alami menjadi kenikmatan bagi manusia. Tetapi proses penyaringan dan pengubahannya nya berlangsung dalam sumbu waktu jutaan dan miliaran tahun. Manusia yang hanya hidup sesaat tentu harus berusaha menapis gejala sesaat yang mengancamnya. Karya di Bab ke-satu dan ke-dua mengutarakan ketegaran dan kelemahan pemenang lomba evolusi organik di dunia ini menghadapi cobaannya. Dia harus kekar dan cerdas.

Kita dapat merasakan kritik tajam tentang kebijakan luar ngeri bersama rengkuhan lemah Pemerintah tentang pertanian. Jika terus diabaikan negara kita ini tampak seperti rumah besar tak berpagar yang rentan pencurian. Ketahanan dan kehormatan, serta wajah Negara dan Bangsa, adalah taruhannya. Pengabaian kaidah hukum formil, yang sering permainan kata dan olah pikir hanya berujud interpretasi kata atau kalimat, bukan keseluruhan roh yang menjiwai. Hal itu melahirkan keluruhan etika dalam bernegara yang pada dasarnya bersifat pluralistik ini. Sahetapy (2009) dalam dalam karyanya ”Runtuhnya Etik Hukum” mengingatkan kita semua bahwa etika profesi (hukum) harus dipergunakan untuk mengasah kepekaan dalam usaha membangun negara dan rakyat. Kepekaan itu harus dipergunakan untuk menghidarkan diri dari jebakan-jebakan yang terselubung. Semoga harapan penyaji makalah dalam waktu yang tak panjang didepan mata akan menjadi kenyataan.

Ancaman potensial pada Bab ke-enam ”Bencana” sebenarnya masih maya, namun bobot bencananya berat. Kerancuan sebuah kota besar dan olahraganya menjadi pokok bahasan. Saran sugestif sudah dikemuakan oleh beberapa penulis, namun perkenankan saya mengulang keinginan pakar perkotaan yang ingin melihat kotanya lebih manusiawi dan berkebudayaan. Lebih dari seperempat abad yang yang lalu budayawan Soetjipto Wirosardjono merumuskan dengan singkat sebuah kota, apalagi metropolitan, harus mempunyai ”Lima P”, yang berati memperhatikan P(erut warganya), P(akaian, sandang yang pantas dan bermartabat), P(erumahan, yang layak dan pantas huni untuk semua golongan), P(ergaulan, yang santun, berbudaya, berachlak) serta P(engetahuan, dan seni).

Genre itu secara tak langsung mengungkap agar jika ada pendatang mengunjungi ”Metropolitan” Jakarta jangan merasa sebagai terjerumus ke dalam inferno, tetapi juga jangan tertatih-tatih seperti diajar di purgatorio. Keluar dari Jakarta harus merasa dirinya baru saja meninggalkan paradiso yang mendambakan kedatangannya kembali.

Bandung medio Maret 2011
Bambang Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>