30 Tahun Perjalanan Gagasan INSPEX (Indonesian Space Experimant) 1985 -2015

Lebih seminggu yang lalu, AIPI telah memperingati jubelium perak 25 tahun usia akademi dengan rangkaian kegiatannya yang mantap. Kejadian dan peristiwa telah berlangsung dan dari hari setelah peristiwa itu kita lanjutkan kegiatan dan mengikuti perkembangannya sampai pada saat-saat tertentu di kemudian hari dimana kita tandai sebagai tonggak sejarah untuk memantau dan menilai apa yang telah kita perbuat dalam kurun waktu dari awal terjadinya peristiwa tersebut. Tidak kita sadari bahwa di tahun 2015 ini telah berlangsung waktu 30 tahun lamanya dimana Indonesia disadarkan akan adanya kemungkinan menerbangkan angkasawan Indonesia, yang waktu itu ditawarkan oleh NASA kepada pemerintah Indonesia, sebagai uluran tangan bersahabat karena pemerintah Indonesia telah memakai jasa-jasa baik NASA dalam mengorbitkan beberapa satelit komunikasi Palapa di angkasa Nusantara. Terkait Program Antariksawan Indonesia itu terbukalah peluang untuk melakukan penelitian di ruang angkasa, yang secara luas dikenal dengan nama INSPEX singkatan dari Indonesian Space Experimant. Gagsan-gagasan itu telah menjadi berita nasional yang berdampak nyata pada kehidupan ipoleksosbud: politik-ekonomi-sosial-budaya-ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa. Segera saja Pemerintah mengadakan sayembara untuk menjaring calon astronaut dan mengundang usulan-usulan penelitian untuk diseleksi dan dipilih menjadi INSPEX. Maka pada tanggal 1 November 1985 dengan SK No 306/M/Kp/XI/85 dengan lampirannya, Menteri Negara Riset dan Teknologi/Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi memutuskan pengangkatan para anggota Tim Pembina Antariksawan Indonesia (dimana Prof. Bambang Hidayat ada didalamnya) dan para anggauta Sub-tim Teknis Penelitian Antariksawan Indonesia (dimana Prof Bambang Hidayat dan Dr. R. Sunarjo [Lapan] ada didalamnya bersama calon astronot Dr. Pratiwi Sudarmono, Prof. Djokowoerjo S., Prof Samsoe’oed Sadjad dan Dr. Sulaksono). SK Menteri ini setiap tahun diperbaharui hingga 31 Maret 1994 dengan SK terakhir no. 239/Kp/M?IV/1993 tgl 10 April 1993 dimana Prof Sulaksono digantikan oleh Dr. Lien Sutasurya. Selain Prof Bambang dan Dr. Sunaryo, maka para anggota Sub-tim Teknis Penelitian adalah para penanggungjawab pelaksanaan penelitian INSPEX. Para anggota sub-tim teknis itu telah mempersiapkan tim penelitian masing-masing, misalnya untuk INSPEX III yang penulis pimpin telah siap Prof. Nawangsari yang pakar dalam studi embriologi katak dengan cara-cara mikrotekniknya dan tim juga mempersiapkan penguasaan teknik otoradiografi untuk studi pertumbuhan termasuk differiential growth. Prof. Sadjad dibantu Dr. Eni Widayati membuat klinostat untuk disertasi S-3 nya. Prof. Reviany bersama penulis membimbing Dr. Rita Ekastuti memahiri teknik pemeliharaan ulat sutera berdasarkan pemberian pakan buatan yang akhirnya membuahkan disertasi S-3 Ibu Rita dengan studinya pada ulat sutera hingga aspek pengukuran metabolism tubuh. Tim-tim peneliti yang lainpun mempunyai agenda persiapannya masing-masing. Pada saat ini sebagian pribadi tersebut dengan tim penelitian masing-masing masih dikarunia Tuhan YME status kesehatan jasmani dan rohani yang memadai, sedangkan yang sudah berpulang sudah mewariskan ilmu dan pengalamannya meneliti kepada generasi penerus.
Sebagaimana kita saksikan bersama, program penerbangan antariksawan Indonesia dengan INSPEX-nya akhirnya tidak mewujud yang disebabkan oleb berbagai sebab yang bersifat politis maupun teknis. Namun sebab utama sebenarnya adalah setelah ide itu berjalan 8 tahun, dinnilai bahwa program itu tidak saja mempunyai kejelasan prospek kelanjutannya dan pada tahun 1994 saja fihak NASA tidak ada penjadwalan rencana mengikutkan astronaut Indonesia dalam penerbangan shuttle NASA. Dengan demikian maka cita-cita Indonesia melakukan penelitian di angkasa luar menjadi tertutup (sementara). Oleh karena itu penulis berpendapat bahwa kita masih dapat berpartisipasi melakukan eksperimen yang bebas pengaruh microgravitas (MG), hanya apabila kita dapat menciptakan di muka bumi ini simulator MG. Literatur memang menyajikan bacaan adanya dan pembuatan klinostat (model ciptaan Graham) dan berbagai modifikasinya. Penulis membayangkan meniru membuat kondisi tanpa bobot yang dialami para awak pesawat terbang yang terbang menukik kebawah atau membuat lup selama sekitar 25 detik, tetapi keadaan utuk menaruh sampel eksperiman makhluk hidup (biologis) dengan cara itu dan untuk diamati demikian itu teramat singkat untuk mencatat pengaruhi proses-proses kehidupan makhluk coba. Penulis membayangkan bahwa jika medium tempat hidup makhluk itu merupakan medium air dan bukan udara pesawat terbang, maka misalnya didalam tangki air dimana maskhluk tersebut ditaruh, maka karena bobot jenis makhluk hidup itu mendekati 1.00 = BJ air, maka jatuhnya sampai dasar akan mengambil waktu yang cukup lama karena adaya gaya keatas Hukum Archimedes oleh air (medium) yang dipindahkan. Kondisi itulah simulasi MG tetapi kita harus menggunakan pipa vertikal amat tinggi yang diisi medium air yang sesuai untuk dapat memantau pengamatan-oleh perlakuan sampai beberapa hari, atau kalau diperlukan waktu pengamatan yang lebih panjang maka dapat dikembalikan benda-benda experimen yang sudah jatuh sampai ke bawah untuk dikembalikan dijatuhkan lagi dari atas dan diulang-ulang lagi seperlunya. Terus terang perhatian kepada experimen MG menjadi kurang mendapat prioritas perhatian penulis karena masih banyak tugas penelitian lain, pembimbingan dan pengajaran waktu itu. Sampai tiba waktunya penulis masuk kedalam status purnabakti, 100% pensiun tanpa terlibat lagi dalam kegiatan tridarma PT berarti tidak produktif lagi sebagai ilmuwan. Namun, penulis bersyukur bahwa mulai tahun 2002 penulis mendapat kehormatan untuk bergabung dalam AIPI, masuk dalam Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar. Sejak saat itu hingga sekarang, penulis berusaha untuk tetap berfikir ilmiah menjalankan tugas sebagai anggota AIPI dan salah satu obsesi penulis adalah “menindaklanjuti-rampungkan” gagasan INSPEX yang “berhenti di tengah jalan” tanpa pertanggung jawaban terhadap masyarakat akan perkembangan dan manfaatnya. Maka sampailah suatu saat membaca di internet menemukan berita bahwa NASA berhasil sekitar 1990 menciptakan simulasi MG dengan menciptakan Rotating Wall Vessel Cell Incubator RWVCI yaitu bejana silinder berputar pada poros horizontal dan berisi medium akwatik dan sel/jaringan yang dibiakan. Keuntungannya ialah dengan system pembiakan ini sel/jaringan itu mendapat kesempatan tumbuh 3D yang ternyata banyak mendapat keuntungan. Penulis terhenyak adanya temuan ini, sebab hakekatnya silinder berisi penuh medium akwatik ini (tanpa gelembung udara atau kocokan mekanis) tidak lain adalah pipa panjang angan-angan penulis yang berdiri tegak berisi penuh cairan akwatik tanpa gelembung udara bertutup rapat itu, tetapi disini bayangkan digulung pada satu bidang vertical. Kalau ada benda dengan BJ sedikit lebih besar dari air dari ujung atas dilepaskan maka perlahan ia akan jatuh tetapi kalau gulungan pipa itu diputar pada bidang gulungannya, maka dengan kecepatan yang dipilih sesuai kecepatan jatuh benda tadi, maka posisi benda kordinat ruangnya akan tetap di tempat sampai akhirnya mencapai ujung satunya gulungan pipa itu. Maka, jikalau dibayangkan gulungan pipa itu dindingnya yang digulung-gulung dibuang sehingga dindingnya tinggal selongsong silinder terluar yang rapat mewadahi cairan medium akwatik tersebut, maka itulah RWV! Dari penelitian-pemnelitian NASA didukung laboratorium-laboratorium andal lainnya, dibuktikan bahwa system RWV itu bebas shear force (gaya-gaya yang timbul antara lapisan-lapisan cairan yang bergerak), gaya coriolis, turbulensi dan gaya gravitasi dimentahkan [1]. Pada hakekatnya semua bejana berputar memberi dampak bebas gaya-gaya yang bekerja akibat fluid physics itu dan menjadikan suatu cara yang kini lebih populer dikenal, dari istilah simulasi MG menjadi kondisi pertumbuhan 3D. RWVCI NASA ini sudah menempuh upaya penyempurnaan dan kini dibuat berbagai modelnya untuk tujuan-tujuan biakan khas dari yang ukuran sampel kecil hingga ke sampel yang banyak hingga beberapa liter, dan dipasarkan oleh Synthecon Corp. [2] dari Korea Selatan.
Baik, fikir penulis, sekarang sudah tersedia RWVICI tersebut dalam bentuk komersial, yang tentu saja dapat dipakai di mana-mana termasuk Indonesia asal ada tersedia dana untuk mengimpor-impor alat-alat yang mahal tersebut. Dalam rangka pengurangan “kebutahurufan iptek” (science illiteracy) maka keadaan itu belum kondusif untuk menyebarluarkan semangat ikut bergabung dalam kegiatan ilmiah sampai di pelosok-pelosoh tanah air, maka penulis berketetapan hati menciptakan modifikasi RWVCI itu dan berhasillah tercipta Jongawur Modified RWVCI, yang pada hakekatnya adalah kimograf yang dipakai untuk penelitian/praktikum ilmu faal yang dibuat berdiri horizontal pada dinding vertical dan diputar mengitari as trommol berputar secara horizontal. Jika pada dinding tromol kimograf itu ditempeli tabung-tabung silinder berisi medium pertumbuhan dan sel-sel/jaringan biakan, maka itulah Jongawur RWVCI. Sistem ini telah di coba tes sekedarnya dengan bergerilya karena suatu saat penulis diminta memberi “kuliah tamu” dalam mk Biakan Sel/Jaringan dan melibatkan praktikumnya yang terkait. Maka JMRWVCI di publis dalam JMVI (2007) [3] dan dukungan datanya oleh [4a dan b]. Adapun keuntungan RWV Jongawur , dissamping kemampuannya untuk menciptakan kondisi simulasi MG untuk waktu yang dapat lama sekali, lainnya ialah karena menggunakan trommol kimograf itu maka yang dipasang tidak hanya tabung-tabung inkubasi, melainkan juga benda hewani utuh seperti telur ayam, burung puyuh, aves dan reptilia, sebab telur utuh itu sebenarnya dapat dipandang sebagai system akwatik dalam wadah cangkang telur yang menggantikan tabung sebagai wadah incubator. Jika diperlukan suhu pengeraman diatas suhu kamar , maka system seluruhnya dimasukkan ke dalam alat penetas telur yang mudah didapat di pasaran. Jika telur-telur itu tidak memerlukan inkubasi pada suhu tubuh, maka system dibiarkan saja bekerja pada suhu kamar. Dengan demikian maka studi embriogenesia avertebrata dan vertebrata dapat dilakukan yang dipengaruhi MG, tidak hanya itu melainkan seluruh julat waktu hidup dengan fenomena pertumbuhan diferiensial seperti metamorphosis dari larva menjadi kupu-kupu. Juga tuhbuh mutuh adalah bejana bermedium aquatic dimana solids terdistribusi sernasama disitu, dus juga sama dengan tabung incubator. Tubuh-tubuh hewan individual bole ditempelkan pada trommol dan diperlakukan lingkungan MG terhadap tubuh utuh. Dapatlah dipelajari phase-phase seluruh hidup hewan seperti ulat sutera. Namun karena status penulis dengan tiadanya hubungan dengan masyarakat peneliti praktis dan tanpa wewenang dan kemampuan memperoleh dana, maka meskipun sudah ada juga pemberitaan di Koran Jakiarta [5], namun sosialisasi Jongawur melempem. Kendala sebenarnya juga ada pada keinginan penulis yang belum terpenuhi yaitu mengadakan uji apakah gaya-gaya terkait fluid physics pada alat tersebut memang minimal. Tanpa data solkid ini rasanya penerapan system Jongawur belum ilmiah mantap.
Alkisah terjadilah perkembangan baru setelah pada 6 Desember 2014 penulis dengan tidak sengaja bertemu dengan Prof. Hendra Gunawan dari ITB yang sama-sama menghadiri workshop tentang pendidikan pascasarjan yang diselenggarakan olehg AIPI Komisi Ilmu Sosial di kampus IPB Baranangsiang. Mengetahui bahwa beliau dari ITB maka pada kesempatan berbincang di sela-sela pertemuan, penulis menceriterakan keinginan penulis untuk mengukur besarnya shear force, gaya Coriolis dan turbulensi pada system RWVI Jongawure. Beliau menceriterakan bahwa di STIH ITB ada dilakukan program penelitian menggunakan simulasi MG klinostat yang dibuat oleh Prof Khairurrijal. Alat tersebut digunakan oleh Dr. Fenny Martha Dwivanny dan timnya yang bekerjasama dengan Lapan melakukan experimen-experimen menumbuhkan tanaman tomat dan biji-biji lain dan pisang. Kerjasama dengan Lapan ini diperluas sehingga tim penelitian tersebut bergabung dalam kerjasama Lapan dengan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dan meluncurkan biji tomat [5] untuk ditempatkan di stasiun Ruang Angkasa Internasional. Untuk kedua kalinya peulis terhenyak, bukan hanya kaget-kagum melainkan bergembira bahwa experiment-experimen yang dilakukan Tim Bu Fenny itu yang sudah nyata dilaksanakan dan telah menghasilkan data penting dan beberapa publikasi taraf internasional, maka itulash INSPEX sejati yang dilakukan oleh putra-putri bangsa sendiri mengisi ide yang awalnya dicetuskan dalam tahun 1985. Dengan demikian maka gagasan INSPEX itu ternyata tidak berhenti ditengah jalan melainkan berkembang maju dengan signifikan dan produktif menghasilkan hasil penelitian nyata. Dalam waktu dekat Lembaga Eijkmanpun akan menempatkan tikus yang diinfeksi dengan agens penyakit malaria di ruang ankasa melalui kerjasama ini. Bertumpu pada keberhasilan Tim Ibu Fenny [7,8] ini yang penulis namakan kelompok Flora, maka tim Bogor atau Tim Fauna harus bangun dan merencanakan untuk adanya pertemuan antara beberapa tokoh Young Scientists minggu depan ini untuk menggalang tekad menindaklanjuti percaturan INSPEX fauna dan mengagendakan rencana penelitian untuk dilaksanakan di masadepan. Telaah akan dikembangkan menyentuh inkubasi 3D untuk embryogenesis dan biakan sel/jaringan dan organoid untuk tujuan trnsplantasi terapeutik, studi kanker dan faal sel beberapa sel normal dan pembuatan organoid (misalnya dari kelenjar susu) untuk transplantasi mendukung produksi ternak (produksi susu).
Dari ceritera yang disajikan diatas, penulis merasa perlu untuk pada saat ini, pada waktu ide INSPEX menginjak usianya 30 tahun, maka sekaranglah waktunya tiba dimana gagasan INSPEX itu harus dipantau dan dikaji perkembangannya dalam perjalanan hidupnya. Kiranya tidak berlebihan kalau penulis mengusulkan agar AIPI cq Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar (atau AIPI keseluruhannya) mengambil inisiatif untuk mengkaji “ 30 Tahun Perjalanan Gagasan INSPEX 1985 -2015” dengan bekerjasama dengan Lapan dan fihak-fihak lain yang terkait, dalam bentuk yang dimulai dengan menyelenggarakan SEMNAS tahun ini juga dan diakhiri dengan pembuatan buku antologi yang mudah-mudahan dapat terbit tahun depan 2016 sebagau ujud pertanggungjawaban para pemangku gagasan INSPEX awal. Isi buku antologi itupun kini sudah dapat penulis bayangkan pula. Saat sekarang ini dipilih mengingat sebagian dari para pelaku awal masih dikaruniai kesehatan badaniah dan rohaniah yang sehat, meskipun penanggungjawab dari kegiatan ini harus dilaksanakan oleh ilmuwan yang relative masih muda sedangkan yang berusia lanjut masih dapat dilibatkan sebagai unsur pendukung. Semoga usulan ini berkenan di hati para ilmuwan utama yang terkait. Salam hormat.
Bogor, 5 Juni 2015.

ACUAN
[1] Am J Physiol Renal Physiol 281: F12-F25, 2001;
Optimized suspension culture: the rotating-wall vessel T. G. Hammond1 and J. M. Hammond2
1 Nephrology Section, Tulane University Medical Center, Tulane Environmental Astrobiology Center, Center for BioEnvironmental Research, Louisiana Veterans Research Corporation, and Veterans Affairs Medical Center, New Orleans 70112; and 2 Screaming Jeanne’s, Incorporated, New Orleans, Louisiana 70115 INVITED REVIEW
[2] Synthecon Incorporated. Brochure: Rotary Cell Culture SystemsTM. 3D Culture Systems for a 3D World. www.synthecon.com
[3] J. Med. Vet. Indones vol. 11 no. 1 Januari 2007 hal. 22-35 ISSN 1858-4489. MIKROGRAVITAS DAN PERTUMBUHAN SEL: INKUBATOR SEL DINDING BEJANA BERPUTAR MODIFIKASI ‘JONGAWUR’@
[4] a). KULTUR SEL LIMFOSIT DENGAN MENGGUNAKAN ALAT ROTATING-WALL VESSEL “JONGAWUR”
Muharam Saepulloh, I Nyoman Suarsana, Ketut Karuni N Natih, Sophia Setyawati, dan Sutiastuti Wahyuwardani
Sekolah Pascasarjana, IPB: b) RWVC Jongawur.pdf
[5] “Jongawur “ Penelitian Antariksa Bersandi INSPEX III. Koran Jakarta 16 Des 2014 hal. 18.
[6] SITH ITB Indonesia(SITH) Kirim Biji Tomat ke Stasiun Antariksa
Posted 21 Januari 2011 by purnama in Berita
[7] SOSOK:Rabu, 08 Agustus 2012
Fenny Martha Dwivany: “Banana Lady” dan Rahasia Etilen Pisang
[8] TOUGHTS. Berkebun di bulan

Djokowoerjo Sastradipradja
AIPI Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar; Mantan Anggota Sub-Tim Teknis Penelitian Antariksawan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>