In Memoriam Prof. Dr. H. Umar Anggara Jenie

2. Prof Umar JenieSuatu kehilangan besar bagi keluarga besar AIPI dan LIPI serta UGM  serta handai taulan atas berpulangnya salah satu anak bangsa yang banyak jasanya bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada Kamis (26/1) tepatnya pukul 03.30 WIB di Yogyakarta dalam usia 67 tahun, sesaat sedang menjalankan shalat malam. Semoga arwah beliau beristirahat dalam damai abadi dan keluarga besar Prof. Dr. Umar Anggara Jenie dikuatkan dalam keteguhan iman.

Dunia ilmu pengetahuan kembali berduka, sosok ilmuwan yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) periode 2002-2010 Prof. Umar Anggara Jenie berpulang.   Menurut keluarga, almarhum disemayamkan di Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM) pukul 12.30 WIB dan dimakamkan di makam Sewu Sentul pukul 14.00 WIB.

Kepala LIPI  Iskandar Zulkarnaen mengatakan, sosok Umar Anggara Jennie ketika menjabat sebagai Kepala LIPI saat itu tampil sebagai sosok yang sangat perhatian untuk memajukan ilmu pengetahuan. “Kontribusinya dalam pembangunan melalui upaya mempertemukan para ilmuwan Indonesia dalam event-event nasional seperti Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional dan Widya Pangan dan Gizi yang membahas perkembangan ilmu pengetahuan dan menghasilkan rekomendasi untuk pemerintah yang dapat menjadi dasar untuk melahirkan kebijakan,” katanya di Jakarta, Kamis (26/1).

Selain itu tambahnya, pada masa kepemimpinannya juga dilahirkan gelar profesor riset sebagai puncak karier seorang peneliti, tentu dengan persyaratan akademis yang layak.

Prof Umar Anggara Jenie lahir di Solo, Jawa Tengah, 22 Agustus 1950. Beliau adalah seorang ilmuwan dan pengajar Indonesia. Ia resmi menjabat Kepala LIPI menggantikan pejabat sebelumnya Taufik Abdullah sejak 27 September 2002.

Ia berprofesi sebagai pengajar dengan menjadi Guru Besar Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi di UGM Yogyakarta, dan pernah menjabat wakil rektor bidang penelitian dan pengabdian masyarakat di salah satu universitas terbesar di tanah air tersebut.

Umar merupakan salah seorang ilmuwan Indonesia yang juga mendapatkan apresiasi di tingkat internasional. Ia adalah orang Indonesia satu-satunya yang pernah menjadi anggota salah satu kegiatan internasional yang peduli terhadap etika di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi baru, yakni International Dialogue on Bioethics of European Group on Ethics of Sciences and New Technology (IDB-EGE).

Karena jasa-jasanya dalam bidang ilmu pengetahuan, Umar bersama saudara kembarnya, Said Djauharsyah Jenie yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan yang telah berpulang tahun 2008 diberi penghargaan Bintang Jasa Utama Republik Indonesia oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan keduanya sebagai kembar pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut.

Prof. Umar Anggara Jenie adalah seorang Guru Besar Kimia Medisinal Organik di Universitas Gadjah Mada yang banyak berperan dalam mengembangkan kehidupan berilmu pengetahuan di Indonesia di bidang etika ilmiah, mendorong riset strategis, serta meningkatkan status pembinaan profesionalitas fungsional peneliti di tingkat nasional.

Umar Anggara Jenie, telah menginisiasi Komisi Bioetika Nasional dan menggolkan deklarasi internasional Universal Declaration on Bioethics and Human Rights serta membawa Pluralisme dan Keragaman Budaya serta Perlindungan Lingkungan, Biosfer, dan Biodiversitas menjadi bagian dari prinsip bioetika yang sebelumnya ditentang.

Pidato Pengukuhan: Kimia Sintesis Obat: Kompleksitas, Modifikasi, dan Konfirmasi Struktur Kimia Bahan Aktif Obat, tahun 2000. Selanjutnya Penghargaan: Piagam Kesetiaan 25 tahun mengabdi UGM, 2001. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memberi penghargaan Sarwono Prawirohardjo IX 2010 kepada Prof Dr Umar Anggara Jenie MSc Apt. dan Dr BRAy Mooryati Soedibyo M Hum pada Hari Ulang Tahun LIPI ke-43 di Jakarta, Senin. Mantan Kepala LIPI Umar A Jenie mendapat penghargaan di bidang Etika Keilmuwan dan Mooryati Soedibyo di bidang Iptek Jamu dan Kosmetik Tradisional

Guru Besar Fakultas Farmasi, Prof. Dr. Umar Anggara Jenie, M.Sc., Apt, memaparkan sejarah berdirinya UGM, 19 Desember 1949, di tengah kancah revolusi Indonesia yang saat itu tengah menghadapi penjajah Belanda yang akan kembali. Jika dilihat secara fisik, UGM merupakan penggabungan dari beberapa perguruan tinggi yang sudah ada sebelumnya, yaitu perguruan tinggi keilmuwan yang tersebar di beberapa wilayah, seperti Yogyakarta dan Solo. Berdirinya UGM sebagaimana semangat para founding father, kata Anggara jenie, adalah ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Dikenal sebagai ilmuwan sains, mantan Kepala LIPI Umar Anggara Jenie ternyata sangat relijius. Umar memiliki kebiasaan menyelesaikan bacaan Alquran sehari satu juz.
Satu bulan atau 30 hari, dia bisa sekali tamat (khatam). Kebiasaan tersebut tetap dia lakukan meski sibuk mengikuti pertemuan-pertemuan keilmuan internasional. Umar adalah satu-satunya orang Indonesia yang menjadi anggota International Dialogue ono Bioethics of European Group on Ethics of Sciences and New Technology (IDB-EGE).

Umar selalu mencatat kapan khatam dan di mana. “Jadi ada yang khatam di Perancis, London, Mekkah, Turki dan lain-lain,’’ ujar Umar yang mendapat Bintang Jasa Utama RI untuk pengabdiannya pada Riset Saintifik di Indonesia bersama pasangan kembarnya, Said Djauharsyah Jenie (almarhum). Umar dan Said menjadi kembar pertama yang meraih bintang jasa utama.

Doktor lulusan Australian National University (ANU) menegaskan nilai reliji yang diyakininya sangat erat dengan ilmu sains yang ditekuninya. Dalam setiap sidang IDB-EGE, Umar selalu diminta memberikan pandangannya sebagai ilmuwan mengenai persoalan yang dibahas IDB-EGE.

Keterkaitan ilmu dan agama bagi Guru Besar Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi UGM ini juga ditunjukkan saat sebagai ketua LIPI diminta menjadi tim tafsir Alquran. Saat itu, Departemen Agama (Kementerian Agama) membentuk tim tafsir. Satu tim dari Depag dan satu tim dari LIPI yang ditunjuk Menristek. Tim Depag disebut Tim Syar’i, tim dari LIPI disebut Tim Kauni. ‘’Tim Kauni ini terdiri dari ahli di bidang sains, bioteknologi, kesehatan dan astronomi. Tim ini berhasil memberi pandangan tafsir kauniyah atau tafsir ilmi. Tahun ini, tafsir ilmi tersebut akan dicetak massal dan diedarkan,’’ tambah pria yang pernah menduduki jabatan wakil rektor UGM bidang penelitian dan pengabdian masyarakat ini.

Sosok Umar Anggara Jenie bisa menjadi cermin betapa pergaulannya begitu luas. Diterima di kalangan ilmuwan hingga tingkat dunia, tapi juga diterima di lingkungan keagamaan. Terlihat networkingnya sangat luas. Dan itu tidak diraih secara instan. “Ya, kita harus membangun networking sejak mahasiswa. Kita jangan melulu fokus pada bidang kita saja. Bidang keilmuan kita butuh ilmu-ilmu lain.

Umar adalah anak dari pasangan Nahar Jenie yang berdarah Minangkabau dengan Isbandiyah dari suku Jawa. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Titiek Setyanti dan telah dikaruniai tiga orang anak, yakni Siti Nurul Aisyiyah Jenie, Iffat Lamya Jenie dan Yazdi Ibrahim Jenie.
Ia merupakan salah seorang yang memakai nama belakang “Jenie” di antara beberapa orang kerabatnya, seperti Adlinsjah Jenie, Rezlan Ishar Jenie dan saudara kembarnya sendiri, Said Djauharsyah Jenie.

Ia berprofesi sebagai pengajar dengan menjadi Guru Besar Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dan pernah menjabat wakil rektor bidang penelitian dan pengabdian masyarakat di salah satu universitas terbesar di tanah air tersebut. Ia juga aktif sebagai dewan kurator Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ).

Karena jasa-jasa mereka dalam bidang ilmu pengetahuan, Umar bersama saudara kembarnya, Said Djauharsyah Jenie (almarhum) diberi penghargaan Bintang Jasa Utama Republik Indonesia oleh pemerintah Indonesia. Hal ini menjadikan mereka sebagai kembar pertama yang mendapatkan penghargaan tersebut. Pada 2015 Umar Anggara Jenie Memperoleh Penghargaan UNESCO (14 September 2015).

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM Prof. Dr. Umar Anggara Jenie merupakan satu di antara 14 tokoh nasional mendapatkan penghargaan dari Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis (27/8), di Jakarta. Umar, demikian ia akrab dipanggil, menerima penghargaan UNESCO di bidang sains. Selain Umar, dua orang tokoh penerima penghargaan yang sama adalah Prof. Sangkot Marzuki dan Prof. Indrawati Gandjar.

Ditemui di ruang kerjanya di Fakultas Farmasi UGM, Senin (14/9), Umar mengatakan penghargaan yang diterimanya merupakan apresiasi dari UNESCO atas kiprahnya telah mengembangkan bidang sains di Indonesia. Salah satu yang pernah dirintis oleh Umar adalah memfasilitasi para ilmuwan muda untuk mengikuti Lindau Nobel Laureate Meeting sepanjang tahun 2004 hingga 2008. Ketika itu ia masih sebagai ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Menurutnya, pertemuan itu sangat prestisius karena mempertemukan para ilmuwan muda yang berumur kurang dari 40 tahun dari negara dunia berkembang dengan para tokoh peraih nobel bidang fisika, biologi dan kedokteran. “Saat itu saya pernah berhasil mengirim 15 orang peneliti muda Indonesia setiap tahunnya dalam pertemuan tersebut,” ujarnya.

Dikatakan Umar, tidak mudah bagi ilmuwan muda bisa mengikuti pertemuan tahunan yang digelar di sebuah pulau di Jerman tersebut. Paling tidak salah satu syaratnya memiliki reputasi dalam publikasi riset sains. “Ilmuwan yang mengikuti ini memiliki reputasi baik dalam publikasi dan kemampuan berkomunikasi,” kata pria kelahiran Solo 67 tahun lalu ini.

Bagi Umar, apa yang dilakukannya bukan semata-mata menjalankan program UNESCO, melainkan mendorong ilmuwan muda menimba pengalaman lebih banyak dengan para peraih nobel di bidang sains. Lewat pertemuan itu pula memungkinkan para ilmuwan membangun kerja sama peneliti antarnegara. “Pengalaman tidak hanya ikut pertemuan, kita bisa menjalin kerja sama dan menggunakan fasilitas laboratorium riset dari negara maju,” tuturnya.

Meski demikian, Umar menyesalkan jika pengiriman ilmuwan muda dari Indonesia ke Lindau Nobel Laureate Meeting ini tidak diteruskan lagi sejak sepeninggalan dirinya sebagai ketua LIPI. Ia berharap program semacam ini bisa dilanjutkan kembali karena dalam pertemuan tersebut ilmuwan dari Indonesia dapat mengetahui tangga karier sesorang peneliti untuk bisa meraih hadiah nobel. “Tentu bisa menginspirasi mereka untuk terus meneliti,” terangnya.

Selain itu, Umar mengatakan ia melaksanakan program UNESCO lainnya dalam pengembangan basic science di Indonesia. Menurutnya banyak peneliti di Indonesia bahkan di negara dunia ketiga tidak banyak tertarik dengan riset penelitian dasar, mereka lebih banyak tertarik pada riset ilmu terapan. Padahal menurut Umar penelitian dasar merupakan kunci bagi sebuah bangsa dalam penguasaan ilmu sains. “Banyak program yang sudah diterapkan di Indonesia. Salah satunya yang berhasil kita lakukan dengan mengajak UNESCO untuk mendirikan pusat riset ekohidrologi dunia di tingkat Asia Pasifik,” katanya.

Menyinggung dengan perkembangan kemajuan sains di tanah air, Umar mengatakan kemajuan sains di Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Namun minimnya fasilitas dan pendanaan menyebabkan banyak peneliti yang setelah berhasil mengambil doktor sains di luar negeri, setelah pulang ke tanah air, tidak bisa mempraktikkan ide dan ilmunya. “Kita bisa maju dan berkembang dengan membentuk kerja sama terbuka dengan negara lain. Bisa dikatakan selama ini memang agak kurang,” paparnya.

Menurutnya bagi anak bangsa setelah selesai menyelesaikan pendidikan doktor di luar negeri seharusnya diberi kesempatan untuk mengembangkan karirnya baik di Indoenaisa maupun di luar negeri. Hal itu yang dilakukan India dimana para ilmuwan mereka saat ini banyak bekerja di lembaga riset dan beberapa universitas terkemuka di dunia. Menurutnya hal itu lebih penting ketimbang ilmuwan muda tidak bisa merealisasikan apa yang diinginkannya. “Orang pintar itu seperti orang gila, segera ingin melaksanakan idenya, tentu dengan fasilitas yang baik dan dana yang cukup. Kalo ke sana (bekerja) baik-baik, biarkan saja. Seperti Habibie dan Sangkot (Sangkot Marzuki), mereka mau kembali, mau mendidik anak-anak kita,” pungkasnya.

1. IMG_20170126_121012 Selamat Jalan Prof. Umar Anggara Jenie…. R.I.P

 (asw, 020217 dari berbagai sumber).

Madurologi: Lahan Penelitian Tak Terjamah!

OLEH : MOHAMMAD SUBHAN ZAMZAMI, http://stainpamekasan.ac.id/detberita/177-madurologi-lahan-penelitian-tak-terjamah.  Selasa, 8 Nopember 2016

Pernahkah kita berpikir bahwa banyak orang Madura justru menyianyiakan Madura, bahkan memandangnya sebelah mata? Apakah kita belum sadar betul bahwa Madura sangat kaya, baik dari SDA, SDM, dan kebudayaan? Percayakah kita bahwa Madura benar-benar unik, sehingga diam-diam banyak mata tertuju padanya? Ataukah kita baru akan menyadari semua itu setelah kita dikejutkan oleh, salah satunya, sebagian lahan di pesisir timur Madura sudah dikuasi oleh investor-investor luar? Atau kita hanya akan menutup mata dengan semua itu tanpa mau melakukan penelitian tentang Madura yang akan membuat kita lebih bangga menjadi orang Madura, sehingga kita bisa membangun jiwa dan raganya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul saat kita berdiskusi tentang Madura, tapi kita masih sulit menjawabnya karena data penelitian tentang Madura masih sangat terbatas. Di tengah kegetiran seperti ini, Prof. Mien A. Rifai, M. Sc., Ph. D., turut mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk meneliti Madura, terutama pada aspek kebudayaannya. Di saat usianya tak belia lagi, ia masih mampu menghasilkan sejumlah karya ilmiah tentang Madura dan mempresentasikannya di seminar tentang Madura berskala nasional dan internasional. Menurutnya, Madurologi merupakan objek penelitian yang belum banyak dijamah orang, padahal masih banyak celah yang bisa diteliti. Bahkan 70% artikel tentang Madura yang dipresentasikan dalam kongres tentang Madura ditulis oleh bukan orang Madura.

Sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional yang sedang go international dan menjadi Madurologi sebagai brandnya, KARSA: Jurnal Sosial & Budaya Keislaman STAIN Pamekasan memprakarsai Seminar Peta Riset Sosial Budaya Keislaman Madura Untuk Peningkatan Mutu Artikel Jurnal Terakreditasi Menuju Jurnal Internasional dengan menghadirkan pemerhati budaya Madura dan dewan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tersebut sebagai narasumber. KARSA, menurutnya, sebagai jurnal yang paling banyak memuat artikel penelitian tentang Madura harus benar-benar menjaga dan meningkatkan mutu jurnal, baik dari segi kualitas artikel, lay out, transliterasi, dan pengelolaan secara elektronik, setidaknya karena dua faktor utama: kesatu, standar internasionalisasi jurnal sangat berat, sehingga mutu jurnal harus dipertahakankan. Scopus, misalnya, menghapus banyak jurnal dari indexingnya karena tidak bisa mempertahankan mutu. Kedua, DIKTI mengurangi nilai jurnal yang tidak dikelola secara elektronik.

Sebagai peneliti Madura sekaligus panitia Akreditasi Jurnal Ilmiah Direktorat Pendidikan Tinggi, Rifai menginginkan KARSA membulatkan tekad, tidak setengah hati, untuk go international. Wujud kebulatan tekad tersebut, misalnya, dengan membuat KARSA seperti betul-betul baru lahir; penampilan baru dengan merujuk pada penampilan jurnal-jurnal internasional, pengelolaan full elektronik (OJS), survei kepuasan dari penulis, dan penerjemahan bahasa artikel sesuai dengan jiwa bahasa pemakainya. Dengan demikian, artikel tentang Madura yang dipublikasikannya akan diakses para peneliti tentang Madura di seluruh dunia. Selain itu, karena peserta seminar berasal dari para pengelola jurnal di lingkungan STAIN Pamekasan, ia juga menginginkan adanya kesamaan transliterasi yang digunakan oleh jurnal-jurnal di lingkungan STAIN Pamekasan, sehingga memudahkan para peneliti yang ingin mempublikasikan artikelnya. Bahkan lebih dari itu, STAIN Pamekasan diharapkan bisa membangun unit khusus untuk penerjemahan artikel. Di sesi diskusi, Zainal Abidin, Umar Bukhory, Hafid Effendy, dan Usman mengajukan pertanyaan dan usulan tentang Madurologi. Abidin mempertanyakan tentang globalisasi dan pola pikir deadline method serta kaitannya dengan kuantitas dan kualitas artikel penelitian, sedangkan Bukhory dan Effendy mempersoalkan tentang penelitian Madurologi yang menyita waktu sangat lama, asal-usul sebagian kosakata bahasa Madura, dan wacana tentang kepunahan bahasa Madura. Agak sedikit berbeda, selain bertanya tentang generalisasi dan spesialisasi peta riset Madura, Usman juga mengusulkan tentang kemungkinan mengumpulkan para periset tentang Madura dari kampus-kampus dalam satu pertemuan.

Menanggapi pertanyaan dan usulan tersebut, Rifai menegaskan bahwa globalisasi mengharuskan kita untuk ikut di dalam persaingan. Bila tidak, kita ketinggalan. Nguan bhekto atau jam karet adalah tradisi buruk yang harus ditinggalkan. Berhubungan dengan nguan bhekto, sebagian kita memang masih menggunakan pola pikir deadline method, sehingga perlu diubah dan kita bisa menghasilkan artikel yang baik dari segi kualitas dan kuantitas. Penelitian tentang Madurogi yang berkualitas, misalnya, bisa dimulai dengan hal sepele, seperti meneliti tentang macam-macam rujak di Madura. Perlu diketahui, penelitian tentang rujak ini sudah berhasil mengantarkan peserta didik Rifai menyandang gelar doktor. “Doktor rujak,” selorohnya. Selain rujak, bahasa Madura juga menarik dikaji. Ia menegaskan, “Tidak benar orang Madura buta warna karena tidak persoalan warna hijau. Dalam warna, bahasa Madura justru lebih kaya daripada bahasa Indonesia.” Jawaban Rifai bukan sekadar kelakar kosong, karena ia

tercatat sebagai salah satu penyusun KBBI dan kini sedang merampungkan ensiklopedi serapan kosakata Madura dari bahasa Arab. Menanggapi usulan terakhir, ia mengatakan bahwa pertemuan itu sudah dilakukan. Bahkan ia berharap STAIN Pamekasan menggagas International Workshop of Madurology tahun depan.

Melalui Madurologi, KARSA bisa menjadi wadah utama penelitian tentang Madura. Penelitian adalah, sebagaimana ditegaskan Rifai, berpikir lain dan didukung dengan data-data yang tidak bisa dibantah. Orang Madura sebagai pemilik sah Madura yang tahu betul dan menjiwai Madura seharusnya berada di garis terdepan Madurologi, sehingga Madurologi tidak lagi dikuasai oleh bukan orang Madura. Sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional dan terindeks di lembaga-lembaga index jurnal internasional, KARSA dengan brand Madurologinya siap membantu merealisasikannya. [Mohammad Subhan Zamzami]

Bagaimana Merawat Budaya Madura? Berikut Nasihat Mien Achmad Rifai

Jiwa kemaduraan dan bahasa berperan penting dalam menjaga jati diri. Generasi muda harus berperan aktif. Sederhananya, menjaga Madura ialah merawat bahasanya dan menggunakannya dengan bangga, begitu yang diyakini Mien Achmad Rifai.

mien-rifai

MataMaduraNews.comPAMEKASAN-Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat agamis, ramah dan menjunjung tinggi harga diri. Dalam perkembangannya, nilai-nilai kemaduraan mulai tergerus oleh pengaruh budaya asing. Salah satu indikasi yang paling nampak adalah semakin berkurangnya penutur bahasa Madura di kalangan generasi muda.

Dua pekan lalu, Mata Madura berhasil menemui Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Mien Achmad Rifai, M.Sc.,Ph.D. untuk berbincang seputar budaya Madura. Menurutnya, untuk merawat budaya Madura bisa dilakukan dengan hal yang sangat sederhana, yakni merawat bahasa Madura dan menggunakannya dengan bangga. Ia yakin budaya Madura yang khas dan unik tidak akan lenyap apabila para generasi muda memiliki akar budaya yang kuat. Dan bahasa, menurutnya, adalah inti dari budaya. Bahasa juga menunjukkan jati diri suatu masyarakat. ”Budaya itu intinya di bahasa. Kalau hilang ya sudah,” katanya di salah satu hotel di Pamekasan.

Menurut Pak Mien, panggilan akrabnya, ada anggapan yang keliru tentang bahasa Madura. Masyarakat banyak yang menganggap bahasa Madura sebagai bahasa daerah. Padahal istilah yang tepat adalah bahasa ibu. Penggunaan bahasa Madura misalnya, tidak terbatas pada daerah tertentu. Karena masyarakat Madura atau keturunan Madura yang berada di daerah lain juga masih memakai bahasa Madura untuk berkomunikasi. ”Bahasa Indonesia banyak yang tercampur-campur. Bahasa lokal, dalam hal ini dikatakan sebagai bahasa ibu, semakin terpinggirkan, semakin hilang, dianggap tidak gaul, ketinggalan zaman,” terang putra Gapura Sumenep ini.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2012 menunjukkan, ada sebanyak 546 bahasa di seluruh nusantara. Dari sekian banyak bahasa yang ada di nusantara, bahasa Madura berada di urutan ketiga dalam hal jumlah penutur terbanyak. Namun menurut Pak Mien ia beberapa kali menemukan orang Madura yang enggan menggunakan bahasa Madura di daerah lain. “Orang Madura di luar Madura terkadang merasa malu untuk mengaku sebagai orang Madura, merasa tidak percaya diri,” katanya.

Secara umum menurut Pak Mien tidak ada perbedaan yang kentara antara penutur bahasa Madura yang menetap di Madura dan yang berada di luar Madura. Hanya saja dialeknya cenderung berbeda. ”Kalau saya dialeknya agak campur dengan Sunda karena sekarang tinggal di Bogor. Tapi istri saya jawanya medok sekali. Namun sehari-hari saya di rumah tetap memaka bahasa Madura,” ujarnya.

Mien A. Rifa’i mengatakan, kita sudah kehilangan dua generasi pembicara bahasa Madura. Bahkan sejumlah kajian menunjukkan, anak-anak sekarang sudah mulai kehilangan bahasa ibu, bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Sejak kecil anak-anak sudah diajari bahasa Indonesia atau bahasa asing. Bahasa Madura dianggap berada di urutan kedua. Padahal selain penguasaan bahasa asing, ada hal lain yang perlu ditonjolkan, yakni bahasa ibu. ”Yang lebih penting adalah bahasa ibu kita, bahasa Madura,” katanya.

Ia merasa sebaiknya di usia dini, anak-anak tidak usah diajari bahasa lain selain bahasa Madura. Hal ini agar fondasi bahasa Madura dalam diri sang anak terbangun dengan baik. Lagipula, bahasa lain di luar bahasa ibu akan lebih mudah dipelajari ketika usia anak sudah beranjak remaja. ”Selain itu menurut saya kalau masih anak-anak tidak perlu diajari bahasa Madura yang enggi bunten, agar anak-anak tidak merasa kesulitan,” katanya.

Minimnya buku-buku berbahasa Madura juga ditengarai menjadi penyumbang tergerusnya bahasa Madura. Buku-buku berbahasa Madura sampai saat ini bisa dihitung dengan jari. Sulitnya menemukan tulisan berbahasa Madura menyebabkan generasi muda tidak memiliki dasar untuk menggali Madura lebih banyak. ”Tidak ada sekarang buku-buku berbahasa Madura, sehingga yang membaca karya berbahasa Madura juga tidak ada. Yang tinggal cuma bahasa lisannya saja. Bahasa tertulis tidak ada, padahal sangat penting,” ujar Prof Mien.

Karya dan publikasi seputar Madura menurut Prof Mien masih terbatas. Padahal tulisan adalah elemen yang sangat penting untuk meneruskan budaya dan peradaban suatu masyarakat. Dalam berbagai kesempatan ia mendorong semua kalangan untuk membuat karya tentang Madura, terlebih dalam bahasa Madura, yang mampu mengabadikan Madura melalui tulisan. ”Kita sekarang kekurangan karya-karya tentang Madura. Ada beberapa, tapi dangkal. Saya ingin ada orang Madura yang mau mengembangkan karya berbahasa Madura,” ujarnya.

Penanaman jiwa kemaduraan menjadi penting agar masyarakat Madura tidak melupakan jati dirinya. Dalam hal ini menurut Prof Mien kita harus bisa mencontoh Bali. Di tengah pusaran budaya asing yang selalu berdatangan ke Bali, pulau Dewata itu masih bisa mempertahankan eksistensinya. Bukannya terbawa oleh arus globalisasi, justru bisa memanfaatkan globalisasi untuk mempromosikan budaya. ”Intinya tetap menjadi orang Madura. Memanfaaatkan arus globalisasi, bukan terhanyut,” katanya.

Semua orang bisa ikut serta menjadi penjaga bahasa dan budaya Madura. Keduanya bagi pria kelahiran Gapura Sumenep ini sangat berkaitan. “Sebenarnya kalau Anda bekerja dengan maksimal tanpa melupakan jati diri Madura, bahasa dan budaya Madura akan tetap eksis. Kita harus jadi diri sendiri, tetap menjadi orang Madura, dan harus bangga menjadi orang Madura,” katanya.

Terkait anggapan negatif sebagian masyarakat daerah lain tentang orang Madura, Prof Mien menilai hal itu terjadi karena belum bersentuhan langsung dengan orang Madura. Stigma negatif itu bisa terhapuskan dengan sendirinya apabila orang Madura menunjukkan kemaduraan dalam pergaulan dengan masyarakat dari daerah lain.

Hal lain yang juga tak kalah penting bagi Prof Mien adalah perlunya pakar-pakar yang fokus mendalami bahasa Madura. Hingga saat ini, menurutnya doktor yang mempelajari bahasa Madura bisa dihitung dengan jari. Perlu juga adanya jurusan bahasa Madura agar bisa menghasilkan pakar-pakar baru di bidang ini. ”Harus ada jurusan bahasa Madura. Kita sangat kekurangan doktor di bidang bahasa Madura,” saran Prof Mien.

Ia menekankan pentingnya peran generasi muda untuk mengadakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kemaduraan. Karena ia melihat, jarang sekali pemuda di Madura melakukan hal semacam itu. Apabila pemuda tidak turun tangan dalam melestarikan bahasa dan budaya Madura, ia khawatir suatu saat nanti jiwa kemaduraan yang menjadi ciri khas orang Madura akan hilang. ”Kalau yang tua-tua mungkin masih terpelihara kemaduraannnya, tapi yang muda-muda ini sangat rentan,” ujarnya.

Jamal, Mata Madura

Accepted ISSEL Papers Published online in Journal of Physics: Conference Series

International Symposium on Sun, Earth, and Life
June 3-4, 2016, East Hall – ITB
Accepted papers received: 8 November 2016
Published online: 26 November 2016 in Journal of Physics: Conference Series
OPEN ACCESS
http://iopscience.iop.org/issue/1742-6596/771/1

Steering Committee
1. Hendra Gunawan (ITB and AIPI, Indonesia)
2. Thomas Djamaluddin (LAPAN, Indonesia)
3. Edy Tri Baskoro (ITB, Indonesia)
4. Premana W. Premadi (ITB, Indonesia)
5. Budi Dermawan (ITB, Indonesia)
6. Nat Gopalswamy (Goddard Space Flight Center, NASA, USA)
7. J. N. Goswami (Physical Research Laboratory, India)

Scientific Committee
1. Ikbal Arifyanto (ITB, Indonesia)
2. Lucky Puspitarini (ITB, Indonesia)
3. Hendra Gunawan (ITB and AIPI, Indonesia)
4. Premana W. Premadi (ITB, Indonesia)
5. Taufiq Hidayat (ITB, Indonesia)
6. Budi Dermawan (ITB, Indonesia)
7. Mahasena Putra (ITB, Indonesia)
8. Dhani Herdiwijaya (ITB, Indonesia)
9. E. Sungging Mumpuni (LAPAN, Indonesia)
10. Clara Y. Yatini (LAPAN, Indonesia)
11. Nat Gopalswamy (Goddard Space Flight Center, NASA, USA)
12. J. N. Goswami (Physical Research Laboratory, India)
13. Thierry Fouchet (Observatoire de Paris, Paris)

Organizing Committee
1. Dhani Herdiwijaya (ITB, Indonesia) – Chair
2. Lucky Puspitarini (ITB, Indonesia)
3. Anny Sulaswatty (AIPI, Indonesia)
4. Indra Noviandri (ITB, Indonesia)
5. Clara Y. Yatini (LAPAN, Indonesia)
6. Abdul Waris (ITB, Indonesia)
7. Mahasena Putra (ITB, Indonesia)
8. Evan Irawan Akbar (ITB, Indonesia)
9. Ikbal Arifyanto (ITB, Indonesia)
10. Aprillia (ITB, Indonesia)
11. E. Sungging Mumpuni (LAPAN, Indonesia)
12. M. Zamzam Nurzaman (LAPAN, Indonesia)
13. Dede Enan (ITB, Indonesia)

Keynote Speakers
1. Prof. Bambang Hidayat (Indonesian Academy of Sciences)
“A Recollection of Research Merit ”
2. Prof. Nat Gopalswamy (Goddard Space Flight Center, NASA, USA)
“The Coronal Connection to Space Weather”
3. Prof. J. M. Pasachoff (Williams College, USA) via Skype
“Coronal Science and Outreach at Recent and Future Solar Eclipses”
4. Prof. J. N. Goswami (Physical Research Laboratory, India)
“Water on the Surface and in the Interior of the Moon”
5. Prof. Thomas Djamaluddin (National Institute of Aeronautics and Space)
“New Timau National Observatory: Accelerating Development of Space Science and Technology in Indonesia”
6. Prof. Taufiq Hidayat (Institut Teknologi Bandung)
“Nitrile Compounds on Titan as Observed by ALMA”
doi:10.1088/1742-6596/771/1/011001
011002

OPEN ACCESS
All papers published in this volume of Journal of Physics: Conference Series have been peer reviewed through processes administered by the proceedings Editors. Reviews were conducted by expert referees to the professional and scientific standards expected of a proceedings journal published by IOP Publishing.

A perspective about the total solar eclipse observation from future space settlements and a review of Indonesian space researches
D Sastradipradja, F M Dwivany and L Swandjaja
Viewing astronomy objects from space is superior to that from Earth due to the absence of terrestrial atmospheric disturbances. Since decades ago, there has been an idea of building gigantic spaceships to live in, i.e., low earth orbit (LEO) settlement. In the context of solar eclipse, the presuming space settlements will accommodate future solar eclipse chasers (amateur or professional astronomers) to observe solar eclipse from space. Not only for scientific purpose, human personal observation from space is also needed for getting aesthetical mental impression. Furthermore, since space science indirectly aids solar eclipse observation, we will discuss the related history and development of Indonesian space experiments. Space science is an essential knowledge to be mastered by all nations.
doi:10.1088/1742-6596/771/1/012043 References

Update on the impact of the proton radius on the neutron star radius
T Mart and A Sulaksono
We present the new result of our investigation on the extraction of proton radius and the impact of different proton radii on the radius of neutron star, after correcting the mistake in the previous calculation of the proton radius. The new value of the extracted proton radius is 0.864 fm. The effect of this correction on the calculated neuron star radius is trivial.
doi:10.1088/1742-6596/771/1/012053 References

Papers
012001
An experiment to detect Allais effect around total solar eclipse of 9 March 2016
Putra Mahasena, Mochamad Irfan, Agus Setiawan, Maman Sulaeman and Taufiq Hidayat
012002
Influence of Partial Solar Eclipse 2016 on the surface gravity acceleration using photogate sensor on Kater’s reversible pendulum
M G Nugraha, D Saepuzaman, F N Sholihat, S Ramayanti, A H Setyadin, A R Ferahenki, A Samsudin, J A Utama, H Susanti and K H Kirana
012003
Micro-gravity measurements during the total solar eclipse of 9 March 2016 in Indonesia
Agus Laesanpura, Taufiq Hidayat, Dady Abdurachman, Putra Mahasena, Premana W. Premadi, Hesti Wulandari, Yudi Suharyadi and Achmad Sjarmidi
012004
Preliminary results of the solar corona spectroscopic observation of 9th March 2016 Total Solar Eclipse
Emanuel Sungging Mumpuni, Muhamad Zamzam Nurzaman and Nana Suryana
012005
Ludendorff coronal flattening index of the total solar eclipse on March 9, 2016
Tiar Dani, Rhorom Priyatikanto and Abdul Rachman
View abstract View article PDF
012006
Imaging and spectroscopic observations of the 9 March 2016 Total Solar Eclipse in Palangkaraya
Abdul Majid Al Kholish, Imanul Jihad, Irham Taufik Andika, Evaria Puspitaningrum, Fathin Q. Ainy, Sahlan Ramadhan, M. Ikbal Arifyanto and Hakim L. Malasan
012007
Prominence measurement of total solar eclipse: March 9th 2016, Ternate, Indonesia
Luthfi Naufal, Fargiza Abdan Malikul Mulki, Siti Fatima, Widyanita, Saffanah Zahirah, Christoforus Dimas Satrya and Dhani Herdiwijaya
012008
White light corona during total solar eclipse on March 9, 2016
Irfan Imaduddin, Evan I Akbar and Gerhana P Putri
012009
Analysis on atmospheric pressure, temperature, and wind speed profiles during total solar eclipse 9 March 2016 using time series clustering
Lala Septem Riza, Yaya Wihardi, Enjang Ali Nurdin, Nanang Dwi Ardi, Cahyo Puji Asmoro, Agus Fany Chandra Wijaya, Judhistira Aria Utama and Asep Bayu Dani Nandiyanto
012010
The influences of solar radiation changes on the meteorological variables during the total solar eclipse of 9th March 2016 in Central Bangka, Indonesia
Ryantika Gandini, NanangDwi Ardi and M. Iid Mujtahiddin
012011
A meteorological study of the sea and land breezes in Bangka Indonesia during the total solar eclipse on March 9, 2016
Nanang Dwi Ardi, Yuyu Rachmat Tayubi, Ryantika Gandini, Cahyo Puji Asmoro, Dini Nurfiani, Agus Fany Chandra Wijaya and Taufik Ramlan Ramalis
012012
Zenith sky brightness and celestial objects visibility during total solar eclipse on March 9, 2016 at Terentang Beach Bangka Island
A F C Wijaya, C P Asmoro, A A Rochman, T R Ramalis, J A Utama, N D Ardi, Amsor, M G Nugraha, D Saepuzaman, A Sutiadi and D Nurfiani
012013
The sky brightness measurement during the 2016 solar eclipse in Ternate
Yudhiakto Pramudya and Muchlas Arkanuddin
012014
Impacts of the total solar eclipse of 9 March 2016 on meteorological parameters in Ternate
R Satyaningsih, E Heriyanto, Kadarsah, TA Nuraini, J Rizal, A Sopaheluwakan and E Aldrian
012015
Identification of moon craters and solar corona during total solar eclipse on 9th March 2016
Luthfiandari, N Ekawanti, F G Purwati and D Herdiwijaya
View abstract View article PDF
012016
Investigation the effect of total solar eclipse March 9, 2016 on tidal elevation study cases: Bangka and Belitung islands
I M Radjawane, E M Simanjuntak, A F Adziima and I Sofian
012017
The effect of total solar eclipse on the daily activities of Nasalis larvatus (Wurmb.) in Mangrove Center, Kariangau, East Kalimantan
Sya Sya Shanida, Tiffany Hanik Lestari and Ruhyat Partasasmita
View abstract View article PDF
012018
Astronomy in Buginese-Makassarese culture based on historical and ethnographical sources
N Hasanah and D A Suriamihardja
012019
OPEN ACCESS
Pawukon: from incest, calendar, to horoscope
Agustinus Gunawan Admiranto
012020
The Assembled Solar Eclipse Package (ASEP) in Bangka Indonesia during the total solar eclipse on March 9, 2016
Cahyo Puji Asmoro, Agus Fany Chandra Wijaya, Nanang Dwi Ardi, Arman Abdurrohman, Judhistira Aria Utama, Asep Sutiadi, Hikmat, Taufik Ramlan Ramalis and Bintang Suyardi
012021
Tutulemma of near equator Partial Solar Eclipse 2016
F Mumtahana, Sartika, A G Admiranto, E Sungging, M Z Nurzaman, R Priyatikanto and T Dani
012022
UNAWE Indonesia project: raising total solar eclipse 2016 awareness through educational packages
A. T. Handini, Y. Yulianty, P. W. Premadi and A. Annafi
012023
Public outreach and education during the 2016 total solar eclipse in Palu and Malang
A P Rachmadian, C Kunjaya, W Wahono and A A Anugrah
012024
Outreach activities in anticipation of the 2016 solar eclipse in Sorong
Endra Putra Raharja and Yudhiakto Pramudya
012025
Utilising Raspberry Pi as a cheap and easy do it yourself streaming device for astronomy
F Maulana, W Soegijoko and A Yamani
012026
Measuring the level of public understanding of total solar eclipse from the mass media: Palembang as sample
F. G. Purwati, N. Ekawanti, Luthfiandari and P. W. Premadi
012027
The use of astronomy questions as an instrument to detect student’s misconceptions regarding physics concepts at high school level by using CRI (Certainty of Response Index) as identification methods
D N Utami and H R T Wulandari
012028
Cluster compaction of two-dimension spherical particles binary mixture as model of forming process of an asteroid
S Viridi and B Dermawan
012029
On the nature of type 1 AGN: emission properties and correlations
Irham Taufik Andika, Mochamad Ikbal Arifyanto and Wolfram Kollatschny
012030
Spectroscopy and Photoionization Model of Planetary Nebulae: NGC 6543 and NGC 7662
Evaria Puspitaningrum, Hakim Lutfi Malasan and Hideyo Kawakita
012031
Membership determination of open cluster with parametric method: cross entropy
Itsna Khoirul Fitriana and M. Ikbal Arifiyanto
012032
Search for streams in thick disk and halo of the Milky Way
Dian Puspita Triani and M Ikbal Arifyanto
012033
Sky brightness and twilight measurements at Jogyakarta city, Indonesia
Dhani Herdiwijaya
View abstract View article PDF
012034
Coronal structure analysis based on the potential field source surface modeling and total solar eclipse observation
Johan Muhamad, Farahhati Mumtahana, Heri Sutastio, Irfan Imaduddin and Gerhana P. Putri
012035
Analysis of ionospheric irregularities during total solar eclipse 2016 based on GNSS observation
A Husin, Jiyo, S Anggarani, S Ekawati and V Dear
012036
Effect of March 9, 2016 Total Solar Eclipse on geomagnetic field variation
Mamat Ruhimat, Anton Winarko, Fitri Nuraeni, Harry Bangkit, M. Andi Aris, Suwardi and Sulimin
012037
Changes of NmF2 and hmF2 over Biak (1°S, 136°E) during total solar eclipse on March 9, 2016
Sefria Anggarani, Jiyo Asnawi, Varuliantor Dear and Sri Ekawati
012038
Stellar background observation during Total Solar Eclipse March 9th 2016
Farahhati Mumtahana, Anton Timur Jaelani, Johan Muhamad and Heri Sutastio
012039
The 2016-2100 total solar eclipse prediction by using Meeus Algorithm implemented on MATLAB
A Melati and S Hodijah
012040
The determination of area and time comparison of the partial solar eclipse at space science center, LAPAN
S Filawati, Gammamerdianti, E E Hidayat, Y Suryana and R Kesumaningrum
012041
Prototype of sun projector device
Ihsan and B Dermawan
012042
Chasing the shadows, a trip to spice island
A Yamani, W Soegijoko, A A Baskoro, R Satyaningsih, F M Simatupang, F Maulana, J Suherli, R Syamara, L Canas, T Stevenson, F Oktariani, I Santosa, F Ariadi, N Carvalho and K Soegijoko

012043
A perspective about the total solar eclipse observation from future space settlements and a review of Indonesian space researches
D Sastradipradja, F M Dwivany and L Swandjaja
012044
Total solar eclipse education for young generation at Palangkaraya, Central Kalimantan
S Fatima, Widyanita, H Fahriyah, A K Rhodiyah, C D Satrya, M Hilmi, G E Ramadhania, L Naufal, F A M Mulki and D Herdiwijaya
012045
Effect of microgravity simulation using 3D clinostat on cavendish banana (Musa acuminata AAA Group) ripening process
Fenny Martha Dwivany, Rizkita R. Esyanti, Adeline Prapaisie, Listya Puspa Kirana, Chunaeni Latief and Ari Ginaldi
012046
Physical, chemical and biological characteristics of space flown tomato (Lycopersicum esculentum) seeds
Rizkita R. Esyanti, Fenny M. Dwivany, Maria Almeida and Leonita Swandjaja
012047
Relation between cloud thickness-cloud number concentration differences and rain occurrence based on Koren-Feingold model
R Sulistyowati, S Viridi, R Kurniadi and W Srigutomo
012048
The Effect of atmospheric humidity level to the determination of Islamic Fajr/morning prayer time and twilight appearance
Nihayatur Rohmah
012049
Analysis of high altitude clouds in the martian atmosphere based on Mars Climate Sounder observations
L Puspitarini, A Määttänen, T Fouchet, A Kleinboehl, D M Kass and J T Schofield
012050
Perturbation of circumsolar dust ring on stability of Sun- Earth triangular libration points
B Dermawan

012051
Study of stability of mean-motion resonances in multiexoplanetary systems
M Handayani and B Dermawan
012052
The locations of triangular equilibrium points in elliptic restricted three-body problem under the oblateness and radiation Effects
Ibnu Nurul Huda and Budi Dermawan
012053
Update on the impact of the proton radius on the neutron star radius
T Mart and A Sulaksono
012054
The spectral evolution of nebular phase from Nova V5668 Sgr
Robiatul Muztaba, Hakim L. Malasan and Akira Arai
View abstract View article PDF
012055
Evolution effect of BD+60°2522 to Bubble Nebula NGC 7635
Aprilia and I A Arfianty
012056
Constraining cosmological parameter with SN Ia
A N Indra Putri and H R Tri Wulandari
012057
Study of correlation between ultraluminous X-ray sources and their host galaxies
I G P M Priajana and H R T Wulandari