DAPATKAH MANUSIA MENCAPAI USIA SANGAT LANJUT, MALAHAN HIDUP ABADI?

Mengenang Sumbang tulis yang dimuat di
Buletin Lansia Veteriner Surabaya, Nomor Juni dan Nomor Agustus 2011

dws

DAPATKAH MANUSIA MENCAPAI USIA SANGAT LANJUT, MALAHAN HIDUP ABADI?
Ign. M. D. Sastradipradja
(Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia,Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar)

Terinspirasi oleh sumbangtulis dalam rubrik Humoria dari rekan lansiawan Sukardi Hastiono, Bogor (Bul. No. 48 th IX, Febr 2011 hal. 92-93) berjudul Awal Penciptaan Makhluk, yang isi ringkasnya makhluk-makhluk diciptakan dengan jatah potensi lama hidup yang melebihi waktu umur nyata makhluk-makhluk itu yang dijalani lebih pendek dari potensi-jatahnya dan bahwa kemudian manusia memohon kepada Sang Pencipta untuk menambahkan pada usia manusia kelebihan-kelebihan potensi umur makhluk lain yang tidak digunakan. Dengan demikian usia manusia menjadi cukup panjang mencapai bentangan usia hingga angka 75 tahunan. Tetapi konsekwensinya untuk setiap tahap penambahan itu terbawa pula sifat makhluk donor tersebut yang ikut diterima manusia, sehingga ada tahapan dalam hidup manusia itu yang sifatnya mirip sapi yaitu pada usia produktif bekerja membanting tulang, kemudianmirip monyet pada usia cucu-cucunya mulai di-emong. Si kakek/nenek jadi sumber riang gembira keluarga, dan tahap akhirnya mirip anjing harus waspada terus berjaga-jaga agar tidak sakit-sakitan.Sumbang-tulis dari penulis sekarang ini semoga dapat dimuat Buletin Lansia kita sekitar pertengahan tahun ini menjelang diselenggarakannya oleh AIPI:International Conference on Society, Technology, and The Aging Process, pertengahan October 2011, di Bali, Indonesia. Dengan demikian suatu tulisan mengenai penuaan semoga dapat membantu mensosialisasi akan diselenggarakannya pertemuan tersebut. Sumbangtulis ini juga dimaksudkan sebagai ungkapan terima kasih penulis atas perhatian pimpinan dan redaksi Buletin Lansia Veteriner beserta seluruh sidang pembaca atas perhatian dan doa- selamat atas usia sepuluh windu penulis pada tahun 2010. Kamsya Hamida!
Dari pengalaman kita sehari-hari memang benar bahwa manusia itu mendambakan usia yang panjang. Ingat saja bahwa pada saat kita saling berjumpa, tidak akan lupa kita saling menanyakan khabar keadaan dan kesehatan kita masing-masing dan sewaktu berpisah kita saling mengucapkan salam dan mendoakan agar dikarunia kasih berkah rakhmat kesehatan dan kesejahteraan lahir dan batin dari YME bagi kita semua. Pada ucapan Selamat Ulang Tahun pasti tidak lupa kita mendoakan dan mengucapkan harapan semoga panjang umur. Jadi tidak salah lagi kalau kita simpulkan bahwa umat manusia mendambakan usia panjang. Meskipun kemudian, toh kita menyerahkan semuanya itu kepada penyelenggaraan IlahiYang Diatas, kita berserah diri sepenuhnya, tetapi manusiapun tidak lepas dalam berikhtiar diri untuk mencapai kesehatan yang prima lebih-lebih di usia senja.Buktinya lagi, isi buletin lansia kita ini banyak yang membincangkan perihal upaya-upaya hidup sehat dan benar yang message-nya tidak lain mencapai usia panjang hingga kaken-kaken/ninen-ninen. Mulai dari melakukan berdoa, meditasi, senam sehat, senam tertawa, konsumsi vit Q-10, bekatul dan suplemen lain, propoli,anti-oksidan, acara temu-kangen dengan beraneka ceramahnya dst. Tetapi usia panjang disini bukanlah berarti mengumpulkan tambahan angka-angka tahun semata-mata yang justru akan makin membebani dan memperpanjang derita oleh tubuh yang semakin renta dan sakit-sakitan. Bukan itu arti harapan usia panjang, bukan usia chronologis yang bertambah tahun secara harafiah saja, melainkan pertambahan yang disertai kemampuan fungsional yang meningkat, artinya bertambah usia fisiologisnya menjadi awet fungsional awet muda dan malahan secara fungsional kalau dapat, meningkat. (Mentang-mentang sewaktu tugas aktifnya dulu mengajar matakuliah fisiologi ya ngomongnya jadi macam begini! Tapi kan sarat optimisme toh?). Karena itu doa-harapannya ya tidak hanya usia panjang tetapi juga sehat jasmani-rohani.
Setelah pendahuluan yang cukup panjang ini, mari saya bawa para pembaca kepada isyu upaya manusia (kita sekarang bicara ilmiah populer dan falsafah sedikit, mohon maaf ya!), untuk memperpanjang umur yang sehat rohani-jasmani mendambakan longevity. Pertama-tama kita bicara akan apa proses menua (aging) itu. Tetapi sebelumnya kita perlu mengingat kembali sewaktu belajar fisiologi dulu, kita diajar bahwa organisme hidup itu selamanya akan terpapar kepada rangsangan-rangsangan yang diterima dari lingkungan luar tubuh maupun dari lingkungan dalam makhluk itu sendiri. Walaupun demikian kita melihat bahwa kehidupan memiliki upaya-dayanya sendiri untuk mempertahankan hidupnya agar tetap berjaya yang merupakan azas kemampuan pada tingkat individu maupun tingkat sosial bersama (mempertahankan individu,jenis, bangsa) berkat dimilikinya daya-daya pengaturan (regulasi), penyesuaian diri (adaptasi) dan daya kompensasi menggantikan fungsi yang hilang. Daya-daya macam inilah,termasuk kemampuan reproduksi,yang menggerakkan mekanisme pengaturan dan reparasi yang dikenal dengan istilah homeostasis. Jadi di waktu hidup normal maupun sakit, mekanisme perbaikan dan penggantian fungsi yang mengalami ketunaan itu senantiasa akan mengusahakan agar tubuh menjadi normal dan sehat kembali mengupayakan kelangsungan hidup, paling tidak memperpanjangnya. Di dalam tubuh pengaturan dalam arti luas itu tidak hanya jasmaniah tetapi spiritual juga (brain plasticity), terutama diselenggarakan oleh sistem syaraf dan sistem endokrin. Sistem syaraf yang terdiri atas sistem syaraf pusat (SSP) yaitu otak dan sumsum tulang belakang terdiri atas sel-sel syaraf (neuron) tersambungsecara jaringan tali-temali syaraf dari SSP ke sel-sel di pelosok tubuh (perifer) membentuk susunan syaraf perifer (SSPe) sensoris maupun motoris.Sistem syaraf pada dasarnya mengalirkan rangsangan (suatu fenomena listrik) impuls sinyal syaraf tetapi kemudian dibantu oleh neuro-transmitter(= zat pengantar syaraf) pada hubungan-hubungan ujung syaraf-syarafnya maupun dengan sel-sel yang disambunginya. Sistem pengaturan yang kedua di tubuh adalah sistem endokrin atau hormon hasil kelenjar-kelenjar hormon. Jadi toh pada akhirnya, pengaturan tubuh itu dilakukan memakai hormon dan neurotransmiter yaitu zat-zat kimia terlarut (disebut kemudian sistem gabungan neuro-humoral) yang akan mengatur kerja-kerja (mengaktifkan/menghambat) berbagai molekul protein fungsional seperti enzim, channel protein, protein membran dsb. Dalam pengertian hormon itu termasuk juga zat-zat pengatur lokal (hormon lokal) di periferi yang bekerja untuk tujuan khusus di suatu daerah terbatas saja.Hormon-hormon merangsang pertumbuhan fisik, mengkordinasi jaringan berbagai fungsi di semua organ tubuh, menyeimbangkan proses-proses metabolisme tubuh dan berperan pada keadaan sehat jasmani dan rohani. Hormon-hormon kunci ada sekitar 8 yaitu hormon pertumbuhan (human growth hormon =HGH), melatonin, hormon kelenjar gondok (T3, T4, tiroxin), insulin, dehydroepiandrosterone (DHEA) hasil kelenjar adrenal, estrogen dan progresteron (kelenjar betina) dan testosteron (kelenjar jantan). Pada usia 70 tahunan produksi hormon-hormon ini sangat menurun dibandingakan dengan pada usia menjelang 30 th. Keadaan kekurangan produksi hormon ini yang menyebabkan terjadinya kelainan-kelainan fisiologis pada penuaan seperti impotensi, menurunnya fungsi kognitif sensoris maupun motorik, peningkatan resiko penyakit kardiovaskuler, peningkatan timbunan lemak di perut dan dada, insulin resistance dan diabetes, rambut menipis dan ubanan, kelainan dan nyeri sendi-sendi, penurunan fungsi ginjal-hati-jantung dan paru-paru, dan kulit menjadi kering, keriput, timbul garis-garis dan kerut-kerut ketuaan di wajah. Sedangkan perubahan psikologis adalah lesu, depresi, kehilangan nafsu sex, memperlihatkan sikap-sikap negatif,penurunan daya konsentrasi, peka-iritasi, emosi yang berayun, merasa terisolasi secara sosial. Faktor-faktor lain yang menyebabkan penuaan juga penting a.l. makan tidak sehat tidak seimbang terlalu banyak carbs (=karbohidrat), kurang berolah-raga, minum alkohol yang berlebihan, dampak sampingan pemakaian obat-obatan, stres mental, merokok dan masalah-masalah psikologis.
Menua (aging) itu adalah suatu keadaan pada diri kita yang mengalami kemunduran keadaan/kemampuan mental dan fisik yang tidak terelakkan datang. Bolehlah dikatakan bahwa menua itu merupakan penyakit. Tetapi menua adalah proses yang sebenarnya dapat diatasi, dibetulkan (diobati) dan dicegah. Dengan memanfaatkan homeostasis tubuh dengan daya-dayanya yang disebutkan tadi, hingga tingkatan tertentu kita dapat mengikhtiarkan pembalikan proses degenerasi penuaan. Kini dikenal dalam dunia kesehatan upaya-upaya dengan istilah regenerative medicine, juvenation (memudakan/meremajakan kembali), menangani aging sbg treatable disease, hormonal replacement therapy dsb.
Apa yang dapat kita lakukan untuk menghentikan perubahan-perubahan akibat proses penuaan? Ilmu pengetahuan dan dunia kedokteran/biologikini telah berkembang pesat sedemikian rupa sehingga banyak penyakit yang sudah dapat dikenali penyebabnya dan ditemukan terapi-terapi untuk menghambat proses penuaan, mengubahnya dan jikalau mungkin mencegah terjadinya proses-proses degeneratif terkait penuaan. Sangat dianjurkan untuk melakukan pendekatan holistik dalam pengelolaan kesehatan dan penuaan. Dengan demikian tindakannya adalah kombinasi mengambil manfaat dari cara hidup sehat dan manfaat kedokteran regeneratif. Kini sudah banyak dokter yang ahli menangani proses penuaan. Juga dikenali kenyataan bahwa munculnya kelainan biologis tidak selalu paralel dengan usia khronologisnya. Pada usia mudapun kadang-kadang fenomena degenerasi sudah timbul. Karena itu sebagai pedoman secara garis besar pada umur 0-9 th, kita sudah harus melakukan tindakan-tindakan preventif (memilih pola hidup sehat), 10-19 th, perlu berkonsultasi dengan dokter anti-aging, 20-29 th, siapkan segera program anti penuaan, >30 th, datangilah segera dokter ahli anti-aging untuk minta jasa pertolongannya.
Berkaitan dengan kemajuan iptek kini yang bertalian dengan kesehatan dan pemanjangan umur (longevity), maka timbullah pertanyaan bagaimanakah prospek upaya pencegahan proses penuaan di masa depan jangka dekat ini. Mencermati sejarah perkembangan iptek sejak masa prasejarah hingga sekarang ini ternyata semakin mendekati masa kini, kecepatan perkembangan/kemajuan ipteksemakin cepat. Zaman berburu yang kemudian berubah menjadi zaman bertani/bercocok tanam berlangsung ribuan tahun, tetapi disusul oleh kemajuan peradaban berikut-berikutnya yang berlangsung makin lebih cepat. Manusia ingin terbang didambakan sejak awal sejarah manusia, tetapi baru Leonardo da Vinci di abad pertengahan (1500an) membuat skema membayangkan manusia terbang dengan alat bantu sayap yang difikirkan digerak-gerakkan menirukan kepak-kepak sayap burung. Beberapa abad kemudian ide terbang itu disempurnakan mengubah rancangan sayap yang tidak bergerak untuk kemampuan luncur dan tenaga diperoleh dari putaran baling-baling, lebih kemudian lagi tenaga jet. Dari prototipe awal sehingga hadirnya pesawat concorde relatif sangat cepat dan kini teknologi dirgantara itu sudah berkembang makin dipercepat. Ditahun 1967-an sewaktu saya menyelesaikan disertasi di USA, di kampus UC Davis baru ada sebuah komputer yang diakomodasi dalam gedung cukup besar khusus ber-AC dan pirantinya terutama adalah tabung-tabung elektronik yang makan ruangan. Kalau kita memerlukan memakai komputer tersebut maka harus mengantre dan kita harus mampu membuat program komputer untuk kegunaan kita sendiri. Maka menjadi mode bahwa di kampus tumbuh kegiatan ikut course membuat program komputer (mis. Fortran IV). Sewaktu th 1976 saya sempat kembali ke kampus tersebut, maka ternyata telah dipakai PC portable malahan untuk semua mahasiswa yang ujian masing-masing disediakan sebuah PC dan ujian & jawaban dan pemeriksaan hasil ujian dilakukan on line.Imbas perkembangan komputer ini di Indonesia tentu juga sangat terasa dan makin lama makin canggih berkat penerapan paradigma miniaturisasi. Kini laptop atau notebook berukuran kecil tetapi berkapasitas ratusan GB umum dipakai di mana-mana, tentu termasuk di bidang kesehatan dan kedokteran. Program-program komputer tidak perlu bikin sendiri karena kini tersedia softwares untuk berbagai keperluan. Perkembangan yang makin dipercepat itu (exponensial) dikenal dengan istilah accelerating growth dan teknologi pendukungnya terutama di bidang elektronika,komputasi dan biologi molekul. Internal circuits berbentuk mini karena dipakainya bahan-bahan semikonduktor dan pembuatannya memakai nanoteknologi. Sekwensing genom manusia programnya 15 tahun, di awalnya waktu sudah berjalan 7 tahun, tetapi baru 1% target yang tercapai. Meskidemikian berkat terjadinya kecepatan perkembangan meningkat 2 x dari tahun sebelumnya, maka tugas 99% yang masih harus dikerjakan itu dapat diselesaikan tepat waktu. Sekwensing HIV berlangsung selama 15 tahuntetapi untuk SARS komplit hanya dalam 31 hari saja. Selain itu juga cara kerja DNA pada sistem biologi yang memakai sistem sandi itu juga dapat ditirukan dan dipakai untuk keperluan berbagai produk manufaktur. Tidak lama lagi pasti akan dapat dibuat komputer yang besarnya sangat mini sebesar sel darah merah sudah komplit kapasitasnya yang mudah disuntikkan kedalam tubuh melalui pembuluh darah dan berlabuh mencapai jaringan target. Alat itu dapat berfungsi sebagai sensor mendiagnose kelainan yang ada, kemudian komputer juga dibekali program untuk menangani (terapi) kelainan yang dikesan tersebut. Perkembangan exponensial dari teknologi a.l. terjadi pada
o Kecepatan waktu mikroprosesor
o Transistor-transistor per mikroprosesor
o Penampilan prosesor
o Penampilan harga RAM dinamik membaik secara exponensial
o Random Access Memory bits per dolar
o Magnetic data storage bits per dolar
o Penampilan harga pelayanan Internet dan telepon nirkabel
o Jumlah sitasi ilmiah dalam riset teknologi nano, dsb.
Sedangkan kebalikanya secara eponensial terjadi (makin rendah yang mengagetkan juga!) untuk harga rata-rata transistor, biaya manufaktur transistor, besar RAM dinamik, harga mikroprosesor, ongkos sekwensing DNA per pasangan basa, dll.
Diramalkan bahwa pada tahun-tahun tidak terlalu jauh kedepan ini sudah akan dicapai kemampuan-kemampuan berikut:
2010 (sudah terjadi?): Superkomputer akan mempunyai kekuatan kasar seperti otak manusia, meski perangkat lunaknya belum menyamai. Banyak komputer akan berubah bentuk, kecil dan dapat disembunyikan di lipatan baju, dsb.
Tahun 2010-an: Komputer bentuknya makin mini, dapat dibuat kacamata yang mampu memantulkan pencitraan ke retina manusia yang menghasilkan kesan seperti nyata (virtual reality = VR), VR dapat dilengkapi dengan komputer menjadi mampu menyediakan virtual assistance(VA) programs, yang dapat membantu pengguna dalam pekerjaannya sehari-hari, lalu menciptakan keadaan augmented reality.Misalnya pengguna yang memakai kacamata tersebut, karena juga dilengkapi dengan sound system canggih dan kemampuan penerjemahan shingga pengguna dapat mengikuti pembicaraan dalam bahasa asing yang dapat dimengertinya karena pada layar kacamata itu tertulis teks terjemahannya.
2018-2020-an: Memori komputer mencapai 10 Tb (= 1013 bit) yang kasarnya sama dengan ruang memori otak manusia dan harganya $1000. PC akan mempunyai kemampuan seperti otak manusia. Dalam era 2020-an besar komputer mengecil berukuran 100 nm saja. Alat-alat semacam ini dinamakan mesin nano, nanorobot, nanobot dst akan pertama-tama digunakan di bidang kedokteran dan menemukan aplikasinya dalam penindaan (scanning) otak pasienin vivo, sehingga kerja otak manusia dapat difahami. Kemudian, nanobots yang dapat dimasukkan ikut mengalir dalam peredaran darah akan mensupply “makanan” dan mengambil limbah sel dimungkinkan pada akhir dekade tersebut. Jadi manusia demikian tidak lagi bergantung kepada metabolisme konvensionalnya melainkan sudah berubah lepas dari mekanisme metabolisme normal dan menjadi humanoid cybernetic organisms (nanobot menyerupai manusia) dan sebagian besar manusia akan menjadi seperti itu (tentunya tergantung kepada tersedianya dana yang diperlukan, yang miskin tetap tidak kebagian kesempatan dan tetap terpinggirkan). Proses berlanjut mempengaruhi ekonomi dari berbagai macam produk dan yang mempunyai nilai sebenarnya adalah kebutuhan waktu, untuk mengunduh program rancangan pembuatan produk tersebut.Perkembangan itu makin menjadi-jadi sehingga VR tak bedanya lagi dengan realitas yang sebenarnya. Penanganan penyakit infeksi, pengenalan berbagai/semua kelainan dengan sensormini yang maha akurat tercipta, dan jangan kaget kalau kemudian kita berhadapan dengan zaman artificial (general) intelligence (AI/AGI) yaitu piranti “komputer” yang dapat berfikir seperti manusia yang diramal akan mulai ujud pada 2029 meski kemampuannya, dari bentuk-bentuk awal masih seperti anak-anak TK.Perkembangan ini akan makin “menggila” tak terfahami dengan menggunakan kemampuan daya-fikir manusia masa kini, yaitu akan terciptanya masa singularity di tahun 2045. Mesin nano dalam otak manusia akan memampukan mereka meningkatkan kapabilitas kognitif, memori dan sensoris untuk secara langsung melakukan interface dengan komputer, dan terciptalah komunikasi telepati antara sesama, jadi melalui jaringan nirkabel. Semua zat menyatu menjadikan satu bentuk inteligen tunggal yang makin membesar/menyeluruh merambah ruang angkasa merajai universe/alam semesta.
2045: The Singularity mulai tercipta.Buletin ini tidak cukup menyediakan ruangan untuk bicara mengelantur mengenai topik yang dibahas ini. Pembaca dipersilahkan untuk membuka internet dan membaca tulisan-tulisan: ALL Articles© 2010 KurzweilAINetwork (http://www.kurzweilai.net/articles) yang secara visioner mendiskusikan dengan cara ilmiah dan falsafah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Bagi mereka yang membaca majalah Time (USA) (info dari Prof. Murdiyarso yg sdh membacanya), maka pertengahan Februari 2011 majalah tersebut mengangkat sebagai cover story topik Singularity Kurzweil ini bersama peranan enzim telomerase dari khromosom (hadiah Nobel fisiologi/kedokteran 2009 kepada Elizabeth H. Blackburn, Carol W. Greider & Jack W. Szostak). Mengenai telomerase sendiri, ia adalah enzim untuk pembentukan telomere, cap=topi pada ujung chromosom yang pada pembelahan sel (mitosis) sukar ikut terbentuk oleh kekurangan telomerase,telomer makin memendek dengan usia, sebaliknya aktivitas telomerase malahan makin giat pada sel-sel kanker (yang kita beri julukan punya sifat mampu hidup abadi itu). Telomerase menduduki posisi amat penting dalam proses penuaan. Pada era mendatang itukecepatan berfikir manusia mempunyai kemampuan 109 kali kecepatan kini.
Kembali ke pembicaraan kita mengenai usia panjang sampai abadi maka ada beberapa buku yang bagus untuk dibaca, yaitu pertama: Ray Kurzweil & Terry Grossman (2004). Fantastic Voyage: Live Long Enough to Live Forever. Rodale Books, ISBN 1-57954-954-3.Grossman adalah seorang MD ahli gerontologi, sedangkan Kurweil (yang tulisan-tulisannya saya anjurkan untuk disimak diatas) adalah seorang ilmuwan komputer, pengembang perangkat lunak komputer, inventor, ahli falsafah, dan salah seorang tokoh yang memimpin dalam berfikir mengupayakan pemanjangan hidup secara radikal. Ia membina diri menekuni falsafah mencari kebenaran yang dikaitkan dengan daya kemampuan berfikir manusia. Buku ini sangat mempesona yang mengulas pemanjangan waktu hidup dengan mencontohkan pengalaman para penulis itu sendiri. Pendekatan mereka menelaah kesehatan dan pemanjangan umur itu mengkombinasikan pengetahuan medis praktis terkini dengan perspektif visiuner yang akan terjadi secara penalaran berfikir. Saya belum berkesempatan membaca karya aslinya karena tiada dana pengadaan buku pada diri saya serta tiada sponsor yang mendanai pencarian literatur di internet nir-biaya (karena sudah digolongkan pribadi yang tua-renta tak berguna lagi), tetapi untunglah bahwa karena topiknya itu termasuk sangat penting menarik dan diperlukan sebagai pengatahuan umum, maka di internet beredar banyak ulasan, excerpts,isi ringkas dll sekitar karya itu maupun buku karya Ray Kurzweil yang lebih baru 2005 The Sngularity Is Near, dan follow-up:Fantastic Voyage, Transcend: Nine Steps to Living Well Forever, di edarkan April 28, 2009.Toko buku AMAZON pun berjasa dalam upaya sosialisasi isi buku-buku semacam itu. Saya menyarikan informasinya dari Wilkipedia dan dari wawancara dengan Ray Kurzweil oleh David Jay Brown (Reprogramming your Biochemistry for Immortality: An Interview with David Brown) yang dapat dibaca lengkap secara jelas dan nir-ongkos.Ide dasarnya adalah jika ada seorang yang usianya kini menjelang usia pensiun normal usia awal 50-an,berusaha mampu untuk berumur mencapai sekitar 120 tahun, maka mereka mempunyai kesempatan untuk hidup selamanya sebab mereka memperoleh manfaat dari keadaan dimana semua penyakit dapat ditanggulangi dan proses menjadi tua juga teratasi yang akan terjadi dalam 20-50 tahun saja lagi.Ini akibat telah diketahuinya secara lengkap genom manusia dan difahami dasar genetika dari penyakit-penyakit.Dari pengalaman Kurzweil sendiri yang berusia 57 th waktu itu diceriterakan bahwa selama 17 th terakhir usianya meningkat dari 40 th, ia hanya menjadi 3 th lebih tua. Dari wawancara itu terungkap bahwa keadaan hidup abadi di masa mendatang itu akan dicapai melalui 3 “jembatan” (jalur penghubung).
Dalam wawancara disebutkan diatas yang dimaksudkan dengan jembatan pertama untuk mencapai pemanjangan umur adalah secara “tanpa keraguan” (=aggressive) menerapkan pengetahuan kini, yang tentunya berubah senantiasa bertambah, jadi program kesehatannya tidak statis tetapi senantiasa disetel lebih halus (fine tuning). Termasuk didalamnya pengetahuan hidup sehat, memakai berbagai macam suplemen, menjalani terapi-terapi dan pencegahan medis dan melakukan berbagai uji kesehatan. Tetapi ingat, banyak pakar/pemberi jasa gadungan yang bukannya memberi barang/jasa jujur-manjur melainkan advertensi berlebihan untuk mencari keuntungan. Jembatan kedua adalah ikut dalam revolusi bioteknologi, jadi kita dengan sadar mengikuti perubahan yang exponensial dan bukan linier. Dalam satu– 1.5 dasawarsa dari sekarang kita sudah mencapai tahapan pengobatan dan terapi-terapi sel (gen) yang memungkinkan memprogram-balik kesehatan kita. Untuk memahami upaya-upaya pada era tsb kita perlu memanfaatkan kenyataan bahwa di semua sel tubuh kita itu dilengkapi material gen (DNA) yang lengkap, tetapi hanya pada sel berfungsi khusus (misalnya sel  Langerhans pankreas) yang menghasilkan insulin, sedangkan sel-sel tubuh lainnya tidak mampu meskipun gennya ada di semua sel. Hal ini berarti bahwa alam menyediakan kelimpahan DNA dan kenyataan ini perlu disadari dan dimanfaatkan melalui kemampuan daya-fikir manusia untuk memfungsikan kehadiran gen itu. Dengan mengaktifkan “gen insulin” dari kulit melalui pemberian suatu mRNA yang cocok maka gen tersebut dapat diaktifkan dan dibiakkan secara biakan sel in vitro dan dapat dipakai menggantikan gen DNA pankreas yang rusak/tak berfungsi. Proses sebaliknyapun, yaitu menghambat fungsi gen aktif dapat dilakukan. Upaya-upaya demikian dinamakan trans-diferiensiasi (trans-differientiation). Selain terkait dengan perbaikan terhadap fenomena penuaan, saya melihat adanya peluang untuk menggunakan teknologi pemograman melalui transdiferiensiasi untuk meningkatkan produktivitas ternak/satwa tempatan (indigenous)menjadikan mereka bersifat unggul dan menambah comparative advantage kegunaan bangsa-bangsa ternak/satwa ini. Jembatan ketiga adalah nanoteknologi. Inilah zaman ke-emasan yang akan dicapai dalam 20 tahun mendatang. Nanobots tercipta yang besarnya sebesar sel darah merah yang dimasukkan kedalam tubuh dan mengawal kita dari dalam agar sehat. Konon saat kinipun telah mulai dilakukan experimen awal pada tikus dan biakan jaringan (biologi-fisiologi-kedokteran experimen). Dilaporkan adanya seorang ilmuwan menyembuhkan diabetes tipe I pada tikus memakai kapsul yang dirancang secara nano dan berpori-pori se-renik 7nm. Alat ini dapat mensuplai insulin secara terkontrol dan menahan (memblok) antibodi. Perg. Tinggi MIT di USA juga punya proyek membuat alat nano besarnya lebih kecil dari sel yang mampu mendeteksi secara spesifik antigen yang hanya dibuat oleh semacam sel kanker tertentu. Setelah mendeteksi, ia melekat dan terpendam dalam sel target. Sesaat kemudian alat itu mengeluarkan toksin yang membunuh sel kanker tersebut. Meskipun baru percobaan in vitro, tapi sekejap saja lagi proses in vivo tentu akan ujud.Dengan kecepatan perkembangan exponensial, maka dalam kurun waktu 25-an tahun mendatang teknologi komputasi-komunikasi, dan pemahaman kita mengenai biologi akan bertambah lipat-milyaran kali dari keadaan kini. Nanobots akan mampu meningkatkan sistem imun tubuh dengan membinasakan patogen-patogen, dapat memperbaiki kesalahan DNA, membuang limbah dan membalikkan proses terjadinya arteroskerosis. Apa yang belum dapat diselesaikan dengan bioteknologi, manusia dapat mengusahakannya melalui nanobots berukuran sel darah. Tidak hanya tahun-tahunnya bertambah tetapi kita tidak perlu menua menjadi tua-renta melainkan awet muda dan produktif.
Buku lain yang dianjurkan untuk disimak adalah buku Aubrey de Grey (dibantu Michael Ray) “Ending Aging: The Rejuvenation Breakthroughs that Could Reverse Human Aging in Our Lifetime” diterbitkan 2007. Informasi juga dari bahan bacaan internet yg sangat banyak, de Grey adalah biomedical gerontologist. Buku itu mengulas usulan penelitian mengenai tatacara medis regeneratif yang secara berkala memperbaiki kerusakan, jadi menghilangkan penuaan sebagai penyebab kekurang-mampuan dan kematian manusia serta mengembalikan tubuh ke keadaan muda-belia kembali untuk selamanya. Rencana proyek itu dinamakannya “Strategies for Engineered Negligible Senescence” (strategi mencapai “penuaan yang tak berarti” melalui rekayasa), atau “SENS”;de Grey memberi alasan bahwa mengalahkan penuaan itu dimungkinkan dan dapat dicapai dalam beberapa dasawarsa mendatang. Ia menjelaskan langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk mempercepat perkembangan perlakuan-perlakuan kedokteran regeneratif yang menyelamatkan hidup. Istilah SENS yang mulai diperkenalkannya dalam buku de Grey tahun 1999, tetapi kemudian diperkenalkan dengan istilah singkat “strategies” dalam kata pengantar makalahnya Time to Talk SENS: Critiquing the Immutability of Human Aging, dengan alasan bahwa yang dicari adalah pendekatan yang bertujuan dan bukannya pendekatan yang dibimbing oleh keingin-tahuan mengenai sains penuaan dan potensi kaedah-kaedah tindakannya. Aubrey de Grey mengusulkan 7 strategi yang dinamainya SENS mengatasi Tujuh Dosa Maut:
1. Kehilangan sel dapat diperbaiki hanya dengan latihan fisik untuk otot-otot; untuk jaringan lain diperlukan factor-faktor pertumbuhan untuk menggertak pembelahan sel dan dalam hal tertentu diperlukan sel punca.
2. Sel menua dapat dihilangkan dengan mengaktifkan sistem imun terhadap mereka. Atau dapat juga memakai terapi gen untuk masuknya gen bunuhdiri yang selektif hanya membunuh sel-sel menua.
3. Hubungan melintang (cross linkages) protein dapat dibalikkan dengan obat-obat yang memecahkan hubungan-hubungan melintang itu. Namun beberapa hubungan menuntut kerja enzim.
4. Limbah extrasel seperti amyloid dapat dieliminasi dengan vaksinasi yang membuat sel imun memakan zat-zat limbah.
5. Untuk buangan extraseluler diperlukan enzim-enzim baru (misalnya enzim bakteri tanah yang mampu mendegradasi lipofusin dimana sel tubuh tidak mampu melakukannya sendiri.
6. Untuk mutasi mitokhondria maka rencananya bukanlah untuk memperbaikinya melainkan mencegah bahaya yang timbul dari mutasi dengan memasukkan kopi-kopi gen mitokhondria yang dimodifikasi kedalam inti sel melalui terapi gen. DNA mitokhondria mengalami kerusakan mutagenik yang parah karena banyak radikal bebas akan dibentuk di mitokhondria. Satu kopi DNA mitokhondria yang terdapat di inti sel akan lebih terlindung terhadap radikal bebas dan karenanya akan diperoleh kemampuan reparasi DNA apabila kerusakan terjadi. Semua protein mitokhondria akan diimpor kedalam mitokhondria.
7. Untuk kanker (konsekwensi dari mutasi yang sangat letal) strateginya memakai terapi gen untuk menghapus gen-gen telomerase dan membuang mekanisme-mekanisme yang telomerase-indipenden yang mengubah sel normal menjadi bersifat kanker yang abadi itu. Untuk kompensasi kehilangan telomerase pada sel-sel punca diperlukan pemasukan sel-sel punca baru setiap decade.
Menurut de Grey penyebab-penyebab penuaan ada tujuh yaitu:
1. Kehilangan sel atau atrofi (tanpa penggantian)
2. Mutasi nukleus onkogenik dan epimutasi
3. Senesens sel (sel resisten terhadap kematian)
4. Mutasi mitokhondria
5. Penumpukan intrasel (agregat lisosomal)
6. Penumpukan extrasel atau penumpukan diluar sel (agregat extraseluler)
7. cross-linking extraseluler secara acak
Singkatnya, ide dari de Grey menerangkan bahwa metabolisme (atau hidup) menimbulkan kerusakan sebagai dampak sampingannya dan jika jumlah kerusakan itu menumpuk mencapai suatu nilai ambang maka ia mengakibatkan patologi. Patologi akan menimbulkan lebih banyak lagi patologi dan makin cepat keadaan menurun menuju ke kematian. Karena itu usulan de Grey bukanlah mengutak-atik metabolisme yang kurang lengkap dimengerti itu atau memfokuskan kepada patologi yang akhirnya membenamkan manusia, melainkan harus memfokus kepada reparasi kerusakan sebelum terjadi penumpukan yang berakibat terjadinya patologi. Dibayangkan tindakan rejuvenasi pada orang setengah baya dan dengan memperbaiki separo kerusakan-kerusakannya, maka pribadi ini diperpanjang waktu hidupnya cukup lama hingga masih hidup untuk “menyaksikan” perkembangan teknologi rejuvenasi yang meningkat sedemikian cepat sampaikepada tindakan rejuvenasi berikutnya dari pribadi tersebut, yang katakanlahdapat memperbaiki 75%, yang tentu akan memperpanjang rentang hidupnya lagi dan memberi peluang lagi bagi kesaksian perkembangan rejuvenasi yang lebih efektif lagi dst.
Pendekatan serupa SENS yang semula diperkenalkan David Gobelco-founder Yayasan Methuselah (nama orang tertua yang pernah hidup di dunia) ialah Longivity Escape Velocity (LEV). Aubrey de Grey mendukung pemakaian istilah itu malahan memberikan pembenaran artinya dengan gagasan strategi rejuvenasi diatas. Jadi LEV yang berarti Pemanjangan Usia Meninggalkan/Mendahului Kecepatan Pemanjangannya,dipandang lebih tepat dan LEV lebih andal dari SENS. Kurzweilpun mendukung pendekatan LEV.
Era mendatang yang menjanjikan kemajuan-kemajuan bagi perpanjangan usia manusia itu amat menyenangkan dan membahagiakan. Barangkali hanya satu aspek negatif yang dapat kita kemukakan yaitu bahwa kemajuan-kemajuan itu hanya dapat dinikmati oleh mereka yang secara materi/finansial mampu yang berarti bahwa bagi rakyat miskin negara berkembang tetap saja terpinggirkan. Tetapi lepas dari persoalan ini, saya merasa bahwa ada persoalan yang lebih merisaukan pada era itu nanti yaitu munculnya Era Singularity yang didasari oleh timbulnya kemampuan artificial intelligence, AI. Pada saat ini manusia belum mampu memahami dan menjelaskan apa itu dimensi abstraksi berfikir/pekerjaan mental.Tentunya akan terungkap bahwa ada dasar neurologi dari fungsi abstraksi-psikologi itu. Kita mampu merasakan akibat penerimaan rangsangan(persepsi) sensoris (oleh penginderaan) dan mampu memperoleh sensasi serta melokalisasi tempat anatomis mana yang merasakan terkena rangsangan (kemampunan mental: proyeksi) meskipun kita tahu persyaratan aspek ilmiahnya, bahwa rangsangan syaraf sensoris itu harus terlebih dahulu merambat mencapai sel-sel neuron cortex cerebrum sensoris otak, baru ada kesadaran sensasi lokal anatomis, rasa dan psikologi apa yang terjadi di periferi (proyeksi). Pikiran abstrak, memori dan fungsi-fungsi tinggi daya-fikir manusia, kini belum dapat dijelaskansegi ilmiah dasar hubungan dgn zat materialnya. Apalagi yang menyangkut pilihan kehendak bebas dan inisiatif. Jadi karena dimasa sekarang belum dapat dimengertiapa itu fungsi mental/daya-fikir/kesadaran, maka sukar dibayangkan apa dan bagaimanakah intelligensi itu dapat direka secara buatan?
Di tahun 1959 sewaktu penulis menjalani training dalam fisiologi di LSU Medical School di New Orleans dibawah bimbingan Dr. George D. Davis, beliau sedang melakukan riset pada M. rhesusmengenai hubungan pusat-pusat di otak dengan kemampuan belajar. Hewan-hewan experimen itu dilatih mengenali kotak bertutup yang diwarnai kuning atau biru dan sebutir buah anggur ditempatkan dalam kotak dengan warna tertentu diantara keduanya. Letak kotak diacak dan kera percobaan dilatih sehingga mampu mengasosiasikan adanya buah anggur dengan warna tertentu tersebut. Setelah dicapai kriteria mahir (>95% betul pada uji kepandaiannya), maka kera menjalani perusakan pusat diotak secara operatif dengan bantuan alat stereotaksi. Waktu itu dipelajari pengaruh kerusakan berbagai pusat seperti perlukaan di substansia nigra, globus pallidus, corpus striatum, nucleus caudatus, corpus callosum,putamen dll. Hasilnya kerusakan pusat-pusat tertentu memang menyebabkan kemunduran kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari. Ditambah dengan hasil-hasil dari berbagai experimen di bidang neurosains dan kasus-kasus klinik matisuri hidup tanpa kesadaran,maka jelas bahwa fungsi mental dan kesadaran mempunyai dasar neurologi.
Sinyal sensoris berasal dari sel penginderaan yang diteruskan oleh neuron sensoris ke SSP dimana neuron-neuronnya adalah sel yang fungsinya menciptakan/menerima sinyal syaraf yang lalu dirambatkan melalui tali syaraf ke neuron-neuron lain melalui sinaps-sinaps (hubungan neuron satu dengan yang lain) dan ke efektor motorik. Rambatan sinyal di permukaan neuron dan di tali syaraf termasuk fenomena listrik berdasarkan teori core conduction menurut model Hodgkin dan Huxley yang menyatakan bahwa sinyal merambat sebagai potensial aksi yaitu ion channelsyang voltage gated di membran sel (termasuk axonnya) membuka dan memungkinkan ion-ion masuk kedalam sel dan dengan begitu membuat channel-channel didekatnya ketularan juga membuka dst. Kita bayangkan bahwa aliran listrik (aliran aksi potensial) itu melalui konduktor yang ada unsur-unsur kapasitornya sehingga kecepatan alir sinyal jauh tidak secepat aliran listrik pada kawat.Di tahun 2005 dimunculkan teori rambatan sinyal syaraf menurut model Soliton yang menjelaskan bahwa sinyal merambat sebagai pulsa-pulsa “suara” yang dikenal dengan istilah soliton. Di SSP banyak terdapat hubungan sinaps dan neuron-neuron saling mempengaruhi menggertak atau menghambat sinyal-sinyal. Seperti telah disebutkan didepan maka komunikasi antar neuron di sinaps-sinaps dan di sambungan neuron-efektor berlangsung memakai perantaraan nurotransmiter. Zat-zat ini di sel disintesis secara reaksi enzim, dan enzim (protein) dibuat memakai bantuan siatem sandi DNA/RNA. Dengan demikian maka fungsi syaraf termasuk fungsi mental tidak terkecuali sepertiuntuk sifat tubuh lain, juga tersandikan dalam DNA.Dengan demikian fungsi mental juga tersandikan dalam gen DNA dan ada peluang kerusakan fungsi mental juga dapat diatasi dengan terapi gen. Jadi tentu ada peluang merubah fungsi mental (dan consciousness) dengan me-reprogram gen-gen yang terkait.
Peningkatan kemampuan otak memakai nanobot. Judul pembahasan serial di internet “Brain Augmentation via nano robots”Nano Future 2030,menampilkanJohn Burch 27 Desember, 2006 menulis posting yang isinya mengexplorasi upaya meningkatkan daya-fikir menggunakan nanoteknologi.Pada waktu sekarang orang mengggunakan teknik operasi untuk menanam sensor-sensor pada permukaan otak manusia lalu menyadap sinyal-sinyal untuk mengontrol cursor komputer. Kita ingin menjangkau lebih jauh dengan menyambungkan tambahan memori, menambah fungsionalitas dan memungkinkan sambungan penglihatan dan pendengaran ke internet. Bagaimana melakukannya kalau tidak dengan bantuan nanotech? Nanotek memungkinkan penambahan perangkat keras ke otak tanpa resiko bahaya pembedahan meskipun dengan augmentasi nanotech di awal-awal upayanya itu juga ada resikonya.Burch mengacu gagasan dari seseorang yang ia lupa siapa namanya, yaitu membayangkan memasukkan sercara perlahan satu per satu perangkat keras yang jauh lebih kecil dari neuron. Perangkat keras itu menirukan semua fungsi si neuron otak. Kalau secara perlahan perangkat-perangkat keras mini ini katakanlah dalam 6 bulan dimasukkan satu per satu ke otak, maka tiba saatnya nanorobot itu menginstal program-program neuron satu sel per satu sel, maka setelah 6 bulan itu tanpa disadari orang tersebut,nanobot telah melakukan fungsi otaknya mengikuti fungsi perangkat keras pengganti dengan kemampuan yang menakjubkan. Perangkat ini dapat bekerja sejuta kali lebih cepat dari otak biologis yang lama dan ia mempunyai ruangan untuk memori yang seribu kali lebih luas dan ingat bahwa ia adalah otak anda, salinan sebenarnya dari struktur dan kepribadian yang berlaku sebelum konversi. Ia memiliki sistem kerja yang memungkinkan anda untuk mengontrol kecepatan pemrosesan dari 100 mdetik sewaktu menggunakan otak yang lama menjadi hanya 50 nanodetik saja berarti 20 juta kali lebih cepat, sedangkan pelaksanaan expresi dari fikiran itu tetap mengikuti kelambanan/keterbatasan fisik alat-alat tubuh (mis. darah, tengkorak, seberapa cepat tubuh dapat bergerak) dan berinteraksi secara normal dengan dunia luar.Karena nanobots itu kecilan dari sel neuron asli, maka ada ruangan yang kosong di tengkorak yang dapat menerima tambahan nanobot-nanobot tambahan, jadi kemampuan otak bertambah.Burch beberapa kali menambahkan posting a.l. Maret, April, Nov 2007 dan Jan 2010. Antara lain dijelaskan upaya meng-augment cell yang berarti meng-augment seluruh tubuh, dan disebutkan juga ramalan urutan kejadian menuju augmantasi. Jadinya nampaknya yang penting adalah fungsi daya-fikir katimbang badan, kemampuan daya-fikirlah yang dianggap kehidupan, sedangkan badan dapat diganti sehingga senantiasa dapat dipilihkan yang sehat, berarti jasmaniah awet muda tetapi bukan manusia biasa melainkan menjadihumanoid cybernetic organism (cyborg).
Seperti saya singgung diatas, kita tidak bisa memperkirakan dimensi kekuatan yang mendasari pemilihan kehendak bebas dan inisiatif. Kita dapat memperkirakan akan adanya 2 kemungkinan yang bisa terjadi yaitu kearah positif dan negatif. Kalau negatif asosial maka masyarakat akan jadi kacau memperlihatkan fenomena Darwinisme sosial yang berkepanjangan, lebih hebat, karena augmented, dari kekacauan dunia penuh egoisme dan korupsi seperti yang kita alami sekarang ini. Jadi, etika moral berakhlak tinggi tetap kita perlukan dalam kehidupan sepanjang masa.Bukankah dengan demikian seyogyanya pengembangan iptek perlu dikawal ketat agar tidak keluar dari rel untuk kemaslahatan umat manusia?Namun bagi kebanyakan dari kita kemungkinan mengalami masa itu sangat amat kecil atau malahan tidak ada sama sekali. Dus, untuk masa depan anak-cucu sajalah! Salam sejahtera.

Daftar Bacaan.
Y.M. Wong & Peter K.B. Lim. Aging – The New Perspective. Educattional Resource Jointly Produced By Regenesis Medical Clinic Camden Medical Centre Singapore and Elixit Health Ltd Regional Distrubution Centre Singapore.
All Articles© 2010 KurzweilAINetwork(http://www.kurzweilai.net/articles)
Wilkipedia. The free encyclopedia. Fantastic Voyage: Live Long Enough to Live ForeverRodale Books, ISBN 1-57954-954-3, 2004, A book authored by Ray Kurzweil and Terry Grossman.
Reprogramming your Biochemistry for Immortality: An Interview with Ray Kurzweil by David Jay Brown, March 8, 2006. This interview will be published in Brown’s upcoming book Mavericks of Medicine (2006). Published on KurzweilAI.net March 8, 2006.
Ending Aging: The Rejuvenation Breakthroughs that Could Reverse Human Aging in Our Lifetime . A 2007 book written by Aubrey de Grey, a biomedical gerontologist, with his research assistant Michael Rae, St. Martin’s Press, Sept. 4, 2007, ISBN: 0312367066.
“Brain Augmentation via nano robots”Nano Future 2030. http://www.nanofuture2030.com/?p=12; http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&biw=974&bih=317&q=se+of+nanorobots+to+augment+neural+functions%22&btnG=Penelusuran+Google&aq=f&aqi=&aql=&oq=se+of+nanorobots+to+augment+neural+functions%22&fp=f56bacbeab1ffe8b

Insight: Coastal blue carbon: Why should we care?

daniel-murdiyarso-cifor
Daniel Murdiyarso,
Bogor, West Java | Mon, November,7, 2016

Delegates are gathering for the 22nd session of a climate conference in Marrakech, Morocco, from Nov. 7 to 18. It is interesting to note that after so many years, oceans will be part of the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Conference of the Parties (COP) agenda. Why oceans? Why now?

Do oceans and seas have anything to do with the global climate? As a maritime continent with more than 90,000 kilometers of coastline, Indonesia has a lot of reasons to be concerned with the ocean agenda.

Coastal blue carbon is known as the carbon stored in tidal wetland ecosystems, which includes tidally influenced forests, mangroves, tidal marshes and seagrass meadows. It is kept within soil, living biomass and non-living biomass carbon pools.

Coastal blue carbon is a subset of blue carbon that also includes ocean blue carbon, which represents carbon stored in open ocean carbon pools.

Coastal wetland ecosystems are the most effective carbon storehouse on earth. They are capable of capturing and storing excessive atmospheric carbon with burial rates 20 times larger than any terrestrial ecosystems, including boreal and tropical forests. However, coastal wetlands are among the most threatened natural ecosystems.

Greenhouse gas emissions due to unsustainable coastal development are up to 1 billion tons per annum, 20 percent of the emissions from global deforestation. Indonesia, where almost a quarter of the world’s mangroves reside, contributes one-fifth (200 million tons CO2-eq) of its national emissions — an amount equal to 40 million fewer cars on the roads.

The sediment-trapping capacity of coastal blue carbon when restored and protected properly would facilitate these ecosystems to play an important role as “land builders”, a kind of ecosystem service that has never been monetized, in the face of a 1-meter sea level rise by the end of this century.

Oceans, along with marine and coastal resources, play an essential role in the well-being of people who live in coastal zones. In Indonesia, 60 percent of the population lives in coastal zones and globally it is around 37 percent. Coastal and marine resources contribute an estimated $28 trillion to the global economy each year through ecosystem services.

According to the Sustainable Development Goals (SDGs) Report, however, those resources are extremely vulnerable to environmental degradation, overfishing, climate change and pollution. Its 14th goal, SDG 14 “Life below water”, is to conserve and use the oceans, seas and marine resources for sustainable development.

One of the targets of SDG 14 is that by 2020 marine and coastal ecosystems should be sustainably managed, protected and restored to achieve healthy and productive oceans. We are nowhere near close enough to this target. In contrast, these ecosystems are disappearing very rapidly.

A new global climate treaty, the Paris Agreement, was adopted in December 2015. Its central aim is to strengthen the global response to the threat of climate change by keeping the global temperature rise this century well below 2 degrees Celsius above pre-industrial levels, and to pursue efforts to limit the temperature increase even further to 1.5 degrees C.

The agreement requires all parties to put forward their best efforts through nationally determined contributions (NDCs) and to report regularly on their emissions and implementation efforts. Considering the potential of blue carbon to mitigate climate change, it is timely that blue carbon should be part of the national climate strategy.

In response to the new climate treaty, the International Partnership for Blue Carbon (IPBC) was established and participated in by a large number of countries, including Indonesia and various organizations. The momentum to work together to use the opportunities is ripe.

Blue carbon has huge potential for climate change mitigation and adaption. Mechanisms such as Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+), Nationally Appropriate Mitigation Actions (NAMA) and Joint Mitigation and Adaptation (JMA) should be utilized to enhance the resilience of coastal ecosystems and communities to cope with the changing climate and rising sea levels.

As far as the agreement is concerned, the financial arrangements may be consulted with the Green Climate Fund (GCF) through the Nationally Designated Authority (NDA). A number of accredited entities have been approved by the GCF’s board to implement the programs and projects at various levels.

There are also a range of initiatives and like-minded groups, such as the Blue Carbon Initiative from Conservational International (CI), the International Union for the Conservation of Nature (IUCN) and UNESCO’s Intergovernmental Oceanographic Commission (IOC), as well as the United Nations Environment Programme’s (UNEP) Blue Carbon Initiative, which are ready to lend their hands for capacity development purposes. They may be engaged in joint restoration and protection efforts.

Further steps need to be taken to improve the accountability of measurement, reporting and verification efforts in national communication and project development.

Blue carbon science is advancing to support policymakers with credible scientific information to make sound decisions relating to the sustainable use of coastal and marine resources. Scientists from research organizations and universities are continuously improving their understanding, hence reducing uncertainties around the fate of blue carbon.

At the Marrakech COP 22, where oceans will for the first time be part of the agenda, Indonesian delegates should strive to pave the way to meet common goals for humanity.

The suffering planet earth and vulnerable coastal communities cannot wait any longer for strong and ambitious decisions related to climate change mitigation and adaptation, of which blue carbon is an important component.
———————————————————–
The writer is a professor at the Department of Geophysics and Meteorology at the Bogor Agriculture University (IPB), principal scientist at the Center for International Forestry Research (CIFOR), member of the Indonesian Academy of Sciences (AIPI) and former national focal point to the UNFCCC.

Sumber:
1.http://www.thejakartapost.com/news/2016/11/07/insight-coastal-blue-carbon-why-should-we-care.html
2.http://blog.cifor.org/46249/cop22-special-why-should-we-care-about-coastal-blue-carbon?fnl=en

HENDRA GUNAWAN DI AJANG “BICARA INDONESIA”

Talkshow bersama Hendra Gunawan Matematikawan dari ITB, Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar-AIPI dengan pewawancara Vela Andapita dari Jawapos TV, 7 Nov 2016, mengangkat tajuk “Bicara Indonesia seputar Matematika”hg-2.

Matematika selama ini kita kenal sebagai ilmu menghitung. Namun lebih dari itu, matematika mempelajari gagasan dan logika. Sosok yang satu ini berupaya menyampaikan hal tersebut melalui banyak cara, agar lebih banyak orang dapat memahami matematika.

Pada Segmen 1 dan 2, selain kegiatan Hendra Gunawan di kampus sehari-hari, terdapat testimoni dari beberapa rekan kerja dan mahasiswa beliau.
hg-4

hg-5

hg-6
Selengkapnya silahkan tengok di:
Segmen1: https://www.youtube.com/watch?v=cCy5d_Q1HqU&feature=youtu.be
Segmen2: https://www.youtube.com/watch?v=psyk7Ryrls8
Segmen3: https://www.youtube.com/watch?v=wi6eaS32VgU
Segmen4: https://www.youtube.com/watch?v=teORIKjyKb4
hg-1

INSIGHT Paris Agreement to test Jakarta’s Commitment on carbon emissions

By: Daniel Murdiyarso; Bogor, West Java | October 19, 2016;  http://www.thejakartapost.com/academia/2016/10/19/insight-paris-agreement-to-test-jakartas-commitment-on-carbon-emissions.html

2016_10_19_14081_1476836334-_large(In this July 30, 2015 file photo, air conditioners and power generators are displayed on a street in central Baghdad, Iraq. Nations reached a deal Saturday, Oct. 15, 2016 to limit the use of hydrofluorocarbons, or HFCs – greenhouse gases far more powerful than carbon dioxide that are used in air conditioners and refrigerators, in a major effort to fight climate change. (AP/Khalid Mohammed)).

The ratification of the Paris Agreement by the EU, representing 28 countries, on Oct. 4 marked the surpassing of the 55 percent global emissions threshold for the agreement to enter into force. Having been ratified by 75 countries that account for 58.9 percent of global emissions, the agreement will enter into force on Nov. 4 (30 days after EU submission), just a few days before the 22nd session of the Conference of Parties ( COP22 ) starts on Nov. 7 in Marrakech, Morocco.
Although Indonesia is not one of the parties that make the Paris Agreement enter into force, the House of Representatives’ Commission VII approved its ratification bill on Monday. The House has set Oct. 19 as date for ratifying the agreement.
Like in other cases of international treaty ratification, the House only adopts one article stating that Indonesia ratifies the treaty. The process took longer than expected because the Nationally Determined Contribution (NDC) document was attached to it. Lawmakers needed to be convinced that the intention to reduce national emissions by 29 percent from the business-as-usual level in 2030 will not harm economic development.
Now, Indonesian delegates are full of confidence as they head to Marrakech. There are at least four reasons for Indonesia to get excited and work harder.
First, ratification will allow Indonesia to sit in the first Conference of the Parties serving as the Meeting of the Parties to the Paris Agreement, known as CMA1. Indonesia can take part in shaping the new treaty that will be implemented in 2020. It is important to set the new tone of the common but differentiated responsibility and respective capacity (CBDR-RC) principle.
Second, Indonesia can start interacting in the funding mechanism under the Paris Agreement, including the Green Climate Fund. It is well known that Indonesia’s bulk work in the NDC is land use. Early action may be pursued to realize the implementation of the long-awaited REDD+ mechanism under the Paris Agreement.
Third, being an archipelagic country that is vulnerable to sea level rise, it is also timely to explore adaptation mechanisms under the Paris Agreement, such as joint mitigation and adaptation and legally binding loss and damage.
Fourth, Indonesia is to expand coal-fired power generation, which will be the biggest emission factor after land use. Technology transfer under the Paris Agreement has to be tapped and integrated into the domestic development agenda.
The main goal of the Paris Agreement is to strengthen the global response to the threat of climate change by keeping the global temperature rise this century well below 2 degrees Celsius above pre-industrial levels. The Paris Agreement pursues efforts to limit the temperature increase even further to 1.5 degrees. That does not mean that the agreement only deals with climate change mitigation. The Paris Agreement also aims at strengthening the ability of countries to adapt to the impacts of climate change.
After two decades of climate negotiations, Paris finally managed to put mitigation and adaptation measures on equal footing. The notion of integrating climate change adaptation and mitigation in the Paris Agreement is very strong. To meet these ambitious goals, a new technology framework and an enhanced capacity building framework will be put in place, supporting action by developing countries and the most vulnerable countries in line with their national objectives. Starting in 2020 the Green Climate Fund will be mobilized to raise US$100 billion per annum.
Globally, under the Intergovernmental Panel on Climate Change high scenario parties have pledged to reduce greenhouse gas emissions by 36 billion tons of CO2 equivalent by 2030. The pledge was initiated at COP15 in Copenhagen in 2009, known as the Copenhagen Accord, within which countries were encouraged to state their emission reduction target, base year and date of achievement.
After five years of waiting, COP20 in Lima came out with the so-called Intended Nationally Determined Contribution to guide parties to submit their pledge prior to COP21 in Paris, which then transformed into NDC to be submitted prior to Marrakech’s COP22 this year.
Domestically, Indonesia will have to nurture the submitted pledge. Ratification places responsibility on the entire society. It is the role of the government to address any identified weaknesses and mobilize strength, including by enhancing the capacity to combat land-based emissions, which are by far the largest burden as far as emission reduction is concerned.
___________________________
The writer is a professor at the Department of Geophysics and Meteorology at the Bogor Agriculture University (IPB), principal scientist at the Center for International Forestry Research (CIFOR), member of the Indonesian Academy of Sciences (AIPI) and former national focal point to the UNFCCC.

AKI 2016 Bidang Komunikasi Pendidikan Diraih Prof Hendra Gunawan

Anugerah Komunikasi Indonesia (AKI) kedua digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) pada hari kedua pelaksanaan Hari Komunikasi Nasional (Harkomnas) Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) di Hotel Gammara, 12 Oktober.

Pada AKI 2016 ini, ada dua kategori penerima penghargaan, yaitu pegiat komunikasi publik dan lembaga komunikasi publik. Untuk pegiat diberikan kepada empat orang penerima penghargaan, sementara untuk lembaga diberikan kepada tiga penerima. Empat pegiat itu terpilih untuk kategori penggiat komunikasi publik bidang komunikasi sosial, bidang komunikasi perdamaian, bidang komunikasi pendidikan, dan bidang komunikasi kebangsaan.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo, Rosita Niken Widyastuti, menjelaskan, pemberian penghargaan ini sangat penting, lantaran komunikasi merupakan interaksi seseorang untuk menyampaikan pesan. Proses tersebut akan memberi manfaat, jika pesannya informatif, edukatif, dan layak, serta disampaikan secara benar.

Untuk tiga lembaga penerima AKI 2016, yaitu pada kategori Lembaga Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Sosial, Bidang Literasi Media, dan Bidang Komunikasi Pemberdayaan.
“Saat ini, kemajuan teknologi komunikasi dan informatika, tidak serta merta membuat masyarakat menjadi pandai dalam melakukan aktivitas komunikasi. Terbukti, adanya fenomena sosial di masyarakat yang menyebar informasi untuk menghasilkan konflik. Itu terjadi karena tidak berimbangnya informasi,” jelas Rosita.

Mereka yang menerima penghargaan tersebut, baik yang perorangan atau lembaga, merupakan orang atau lembaga terpilih yang mampu menyampaikan pesan positif, dan memberi manfaat, inspirasi, serta kegiatan komunikasi lainnya, bagi orang dan lingkungan di sekitarnya. Setelah dilakukan penjurian, maka ditentukanlah penerima penghargaan AKI 2016, dari pegiat yaitu Edi Fadhil dari Pontianak untuk kategori Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Sosial, Prof Yusny Saby dari Banda Aceh untuk kategori bidang komunikasi perdamaian, Prof Hendra Gunawan dari ITB Bandung, untuk kategori bidang komunikasi pendidikan dan Romses Ohee dari Papua, untuk komunikasi kebangsaan.
img-20161013-wa001

img-20161013-wa002

AKI ini, merupakan stimulus untuk membangkitkan semangat diseminasi informasi yang cerdas dan berkualitas melalui media di ruang publik. Tujuan utamanya juga, bisa berimplementasi agar stabilitas sosial terjaga,” lanjut Rosita. Ia juga menjelaskan, AKI 2016 ini bisa menyadarkan, meningkatkan, mengajak, meningkatkan partispasi masyarakat, akan pentingnya memproduksi informasi dan memanfaatkan media publik secara etis dan berkualitas. Serta menjadikan komunikasi media publik Indonesia beretika dan berkualitas.

Sementara itu, Ketua Tim Juri AKI 2016 Prof Sasa Djuarsa, yang merupakan seorang akademisi menambahkan, AKI kali ini mengambil tema ‘Komunikasi Cerdas dan Mencerahkan’, yang menganut tujuh prinsip, yaitu informatif, bermanfaat, inspiratif, inovatif, edukatif, etis, dan partisipatif.

“Para penerima AKI 2016 ini, terbagi dari Sabang sampai Merauke. Yang mencakup seluruh lapisan masyarakat, tergantung segmen demografi, segmen geografi, dan segmen psikografi,” kata Prof Sasa.

Para penerima penghargaan tersebut tidak asal langsung jadi penerima. Ada riset yang dilakukan selama enam bulan di lima kota, yaitu Bandung-Jabar, Pontianak-Kalbar, Banda Aceh-Aceh, Makassar-Sulsel, dan Denpasar-Bali.

Penjurian pun berlangsung terbuka. Dan dewan juri berasal dari tokoh media, akademisi komunikasi, pengamat media serta praktisi komunikasi. Sedangkan untuk lembaga, tiga penerima AKI 2016 adalah Kelompok Informasi Masyarakat Mekarjaya, dari Bandung, untuk kategori komunikasi publik bidang komunikasi sosial, kemudian Ruang Antara dari Makassar untuk kategori bidang literasi media, serta yang terakhir Sloka Institute dari Denpasar dengan kategori bidang komunikasi pemberdayaan.

Malam Anugerah Komunikasi Indonesia (AKI) 2016, penghargaan diberikan pada penggiat dan lembaga komunikasi dengan 7 kategori.
Adapun 7 penggiat dan lembaga peraih Anugerah Komunikasi Indonesia 2016, sebagai berikut :
1) Edi Fadli, Banda Aceh
Kategori Penggiat Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Sosial
2) Prof Yusni Sabri, Banda Aceh
Kategori Penggiat Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Perdamaian
3) Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Mekarjaya, Bandung
Kategori Lembaga Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Sosial
4) Prof Hendra Gunawan, Bandung
Kategori Penggiat Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Pendidikan.
5) Ruang Antara, Makassar
Kategori Lembaga Komunikasi Publik Bidang Literasi Media
6) Sloka Institute, Bali
Kategori Lembaga Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Pemberdayaan
7) Ramse Ohee, Papua
Kategori Penggiat Komunikasi Publik Bidang Komunikasi Kebangsaan.

Ketujuh peraih penghargaan AKI 2016, dipilih berdasar atas inspiratif, edukatif, dan partisipatif. Peraih AKI 2016 bidang Komunikasi Kebangsaan, Ramse Ohee, mengatakan jiwa nasionalisme masyarakat papua dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah diturunkan dari leluhur tanah papua.

Sumber: http://mediaindonesia.com/news/read/72093/kemenkominfo-beri-anugerah-komunikasi-indonesia/2016-10-13#; http://inspiratifnews.com/raih-anugerah-komunikasi-indonesia-ini-pesan-ramse-ohee/; dll.