International Symposium on Sun Earth and Life (ISSEL): Pengembangan Sains Dasar, Matahari, Bumi dan Kehidupan (SDMBK)

Matahari, satu-satunya bintang yang mempengaruhi kehidupan semua makhluk di Tata Surya. Pada tanggal 9 Maret 2016 yang lalu, gerhana matahari total melintasi 12 (60%) provinsi di Indonesia. Bumi dan makhluk hidup terasa berhenti dan senyap saat Matahari totalitas tertutup oleh Bulan. Fenomena alam ini memberi kesempatan tak hanya kepada masyarakat untuk menikmati dan mengabadikan momen langka ini, namun juga kepada ilmuwan untuk mempelajari hubungan antara Matahari dan ruang angkasa terhadap kehidupan di Bumi.

Oleh karena itu, Institut Teknologi Bandung melalui Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA ITB), bekerja sama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN)  menyelenggarakan International Symposium on Sun, Earth, and Life pada tanggal 3 dan 4 Juni 2016 di Aula Timur ITB. Kegiatan berbentuk Simposium internasional, yang  diikuti oleh pegiat dan peneliti dalam bidang yang terkait dengan Pengembangan Sains Dasar Matahari, Bumi, dan Kehidupan (SDMBK) yang dilaksanakan secara kombinasi (Presentasi Oral dan Poster).

1. ISSEL1

Hasil penelitian multidisiplin tentang gerhana matahari dan dampaknya bagi kehidupan akan dibahas dalam sesi khusus di hari pertama, bersama dengan pemaparan hasil penelitian di bidang cuaca antariksa, sains atmosfer, astrofisika, astrobiologi dan astrokimia, planet ekstrasolar, serta kehidupan di luar bumi. Pada hari kedua, topik yang tidak kalah menariknya adalah konfirmasi adanya air di Bulan, yang akan semakin meyakinkan bahwa satelit Bumi tersebut dapat dihuni manusia di masa depan. Kemajuan perwujudan realita Observatorium Nasional Timau, Kupang juga dilaporkan secara komprehensif. Demikian pula, pemaparan penemuan molekul-molekul yang kompleks di planet lain. Di sesi lain, ada pemaparan kajian arkeoastronomi, etnoastronomi, dan pendidikan sains bagi masyarakat.

Peserta symposium Oral dan Poster sejumlah lebih dari 120 berasal dari AIPI, ITB, LAPAN, dan peneliti SDMBK dari berbagai institusi dalam dan luar negeri. Pembicara utama dalam simposium ini adalah pakar terbaik di bidangnya, yang berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan peserta. Pembicara utama berasal dari AIPI, ITB, LAPAN, Goddard Space Flight Center NASA (USA), William College (USA), dan Physical Research Laboratory (India) adalah:

1.Prof.Dr. Bambang Hidayat (Indonesian Academy of Sciences):  A Recollection of Research Merit.

2.Prof.Dr.Nat Gopalswamy (Goddard Space Flight Center, NASA, USA) : Coronal Science and Outreach at Recent and Future Solar Eclipses 

3.Prof.Dr.J. M. Pasachoff (Williams College, USA):   The Coronal Connection to Space Weather

  1. Prof. J.N.Goswamy ( India) :Water on the Surface and in the Interior of the Moon
  2. Kepala LAPAN Prof.Dr. Thomas Djamaluddin: . New Timau National Observatory: Accelerating Development of Space Science and Technology in Indonesia
  3. Prof.Dr.Taufik Hidayat Astronomi ITB : Nitrile Compounds on Titan as Observed by ALMA

2. ISSEL2

Simposium ini merupakan kesempatan berharga untuk mencari solusi nyata permasalahan keberlangsungan kehidupan di Bumi dan menjalin kerjasama penelitian internasional.

Bersamaan dengan acara simposium ini, Selain paparan hasil riset gerhana matahari total pada 9 Maret 2016 dan diskusi, dipamerkan pula foto-foto gerhana dan astronomi yang unik berjudul “Chasing the Shadows”  yang didukung oleh Tim Langt Selatan, terbuka untuk umum. Masyarakat yang ingin mengunjungi pameran ini dipersilahkan langsung datang tanpa perlu melakukan pendaftaran sebelumnya.

Buku program dan buku abstrak simposium serta artikel   secara lengkap dapat diunduh dari laman http://portal.fi.itb.ac.id/issel2016/

Narahubung: Hendra  Gunawan  FMIPA, ITB Jalan Ganesa 10, Bandung, E-mail: issel.contact@gmail.com.

3. ISSEL3

AIPI Sosialisasi Gerhana Matahari Total (GMT) di Palu

Dalam sejarah perkembangannya, ilmu pengetahuan atau sains sering dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok ilmu murni dan kelompok ilmu terapan. Sesuai dengan penamaannya, kelompok ilmu murni, yang lebih dikenal pula sebagai ilmu dasar atau sains dasar, dikembangkan dengan tujuan utama memperluas cakrawala ilmu pengetahuan tentang alam, melalui pengamatan, penemuan dan pemahaman perilaku dan hukum-hukum alam, dengan tanpa harus memperhatikan kegunaan hasilnya secara langsung. Sebaliknya, kelompok ilmu terapan sedari awal dalam rencana pengembangannya memang ditujukan untuk mendapatkan kegunaan dan manfaat dari sifat-sifat dan hukum alam yang telah diketahui dan difahami. Walau pada awal pengembangannya tidak ditujukan mencari kegunaaan, namun banyak pula hasil-hasil pengembangan sains dasar yang memiliki potensi kegunaan, terutama yang membuka wacana keilmuan yang baru.
Cabang sains dasar yang berurusan dengan fenomena dan benda-benda di angkasa luar adalah astronomi. Benda-benda angkasa luar, tidak diragukan, pasti telah menarik perhatian manusia sejak jaman prasejarah. Bagaimana tidak, Bulan yang biasanya berwarna kuning tiba-tiba, pada saat terjadinya gerhana bulan total, warnanya berubah menjadi merah. Atau lebih dahsyat lagi, Matahari yang biasanya bersinar terang tiba-tiba, pada saat terjadinya gerhana matahari total, menjadi gelap. Seiring dengan berkembangnya ilmu astronomi, sekarang manusia sudah memahami bahwa fenomena gerhana terjadi mengikuti hukum-hukum gerak dan gravitasi. Kapan suatu gerhana akan terjadi, dan dari daerah mana di muka Bumi gerhana tersebut dapat diamati, saat ini sudah dapat diramalkan dengan presisi yang sangat tinggi.
Indonesia kembali akan menjadi negara yang beruntung karena sebuah gerhana matahari total (GMT) akan melintasinya pada tanggal 9 Maret 2016 (untuk selanjutnya disebut GMT 2016). Jalur totalitasnya hanya akan melalui samudera Hindia, Indonesia, dan samudera Pasifik. Daratan berpenghuni yang dilalui jalur totalitas GMT 2016 tersebut antara lain adalah Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.
Gerhana matahari total yang pernah melintasi Indonesia pada tahun 1983 dapat menjadi pelajaran bagi pemerintah dan masyarakat. Di tahun 1983 semua orang dilarang untuk menyaksikan Gerhana Matahari Total, dokter-dokter menghimbau dengan ancaman mereka akan buta karena menatap cahaya ultraviolet. Hal itu tidak boleh terulang pada GMT 2016. Perkembangan teknologi yang pesat dewasa ini diharapkan dapat menjadi media yang efektif untuk menyampaikan potensi nasional yang seharusnya dapat mengembangkan Indonesia khususnya di sektor pariwisata. GMT 2016 ini membawa peluang besar bagi seluruh daerah di Indonesia baik dari segi bisnis maupun pengenalan budaya, khususnya daerah-daerah yang dilintasi GMT.
GMT 2016 yang layak disebut “gerhana matahari Indonesia” itu tentu akan menjadi “terlalu besar” jika hanya diantisipasi oleh sekelompok orang yang profesi atau minatnya berkaitan dengan benda langit. Saat ini bahkan ribuan orang dari luar negeri telah memesan tempat penginapan untuk sekitar tanggal 9 Maret 2016, di semua kota yang dekat dengan lintasan GMT 2016. Peristiwa alam langka ini harus diantisipasi/dipersiapkan infra-strukturnya oleh berbagai pihak antar-disiplin. Tengok misalkan, bagaimana daerah-daerah favorit harus menangani ribuan wisatawan yang datang dan pergi pada waktu yang bersamaan. Atau, bagaimana pihak yang berwenang “mendidik” masyarakat di sekitar lintasan totalitas GMT 2016 tentang bagaimana mengamati GMT dengan aman.
Gerhana matahari total dalam sejarah telah tercatat pernah menjadi saat yang unik untuk dilakukannya sebuah pengamatan/pengukuran ilmiah. Misalnya, kelengkungan ruang waktu yang diramalkan oleh teori Relativitas Umum Einstein, salah-satunya, dapat dilihat dengan berubahnya letak semu bintang-bintang yang posisinya dekat dengan piringan Matahari. Pengukuran posisi itu hanya dapat dilakukan pada saat GMT terjadi.
Ketika perhatian masyarakat banyak sedang tertarik ke sebuah fenomena alam yang berkaitan dengan Matahari, sangat relevan jika informasi-informasi ilmiah yang berkaitan dengan interaksi Bumi-Matahari juga disampaikan. Informasi itu misalnya tentang climate change, biodiversity, atau bahkan tentang aspek-aspek yang tidak berkaitan dengan Matahari secara langsung seperti pariwisata, sosial-budaya, dan lain sebagainya. Adalah wajar jika AIPI, dalam hal ini Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, memberi perhatian pada masalah ini, melalui penyelenggaraan ”Sosialisasi Gerhana Matahari Total”.

Maksud dan Tujuan
Sejalan tujuan tersebut, Sosialisasi ini dirancang selain untuk menggali berbagai masalah yang menyangkut pegembangan sains antardisiplin terkait GMT, tetapi juga akan memberikan informasi mengenai potensi ilmu-ilmu antardisiplin, baik sebagai ajang pengembangan ilmu yang subur maupun sebagai penunjang dalam pemecahan berbagai masalah terapan. antara lain:
•Menyajikan gambaran tentang perlu dikembangkannya bidang-bidang sains antar-disiplin sebagai bidang-bidang ilmu yang subur untuk dilakukan penelitian, yang tumbuh sebagai simbiosis antara dua atau lebih bidang ilmu yang kajiannya bersinggungan dalam berbagai masalah, serta potensinya sebagai penunjang dalam berbagai pengembangan ilmu terapan maupun dalam penanggulangan berbagai permasalahan.
•Memperkenalkan permasalahan-permasalahan nyata, dimana diperlukan potensi dari sains-sains antar-disiplin dalam memberi sumbangan bagi pemecahannya, serta effek timbal-balik yang didapat bagi mendorong pengembangannya, melalui paparan dari para pelaku, tentang perannya dalam memecahkan berbagai permasalahan ilmu dasar, rekayasa, kedokteran, lingkungan dan sosial di Indonesia.
•Mengungkap berbagai macam kendala dalam pengembangan bidang-bidang ilmu antar-disiplin terkait GMT, sebagai akibat kebijakan peraturan pemerintah, dan keterbukaan lapangan kerja di luar pemereintah. Khusus bagi pengembangan aspek akademik adalah peran peraturan kurikulum dalam permasalahan perpindahan antar jalur pendidikan.
•Menggali dan mendapatkan pemahaman tentang peran sains dasar antar-disiplin dalam menunjang pengembangan ilmu-ilmu rekayasa, serta berbagai upaya yang perlu dilakukan berbagai pemangku kepentingan di Indonesia, seperti: perguruan tinggi, pemerintah dan industri untuk mewujudkannya, yang akan membuat studi tentang sains dasar antar-disiplin menarik, menjamin kelestarian dan ketersediaan pakarnya terkait GMT
•Mendapatkan masukan dari dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, tentang kemampuannya menghasilkan pakar-pakar ilmu antardisiplin terkait keastronomian, khususnya program-program pasca sarjana yang tersedia dan rentang bidang-bidang yang mampu disajikannya, serta program-program lain dalam rangka pelestariannya. Selain itu juga mengungkap kendala-kendala yang dihadapi dalam usaha tersebut, antara lain peraturan kurikulum dan kepagawaian, serta upaya mengatasinya.
•Hasil Lokakarya/diskusi ini diharapkan dapat menjadi bahan bagi penyusunan rekomendasi AIPI kepada pemerintah dalam mengantisipasi perkembangan sains ke masa depan.

Pelaksanaan Kegiatan
•Tanggal 8-9 Maret 2016, Di Universitas Tadulako dengan peserta 200 org, TVRI Palu, dan Pelataran Pantai Pemda Palu Sulawesi Tengah dengan pengunjung umum.
•Pelaksanaan “Sosialisasi Gerhana Matahari Total” dilakukan atas kerja sama antara AIPI, LAPAN, ITB dengan Universitas Tadulako dan Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah. Penyelenggaraan ini telah mendapatkan kesanggupan dari Universitas Tadulako Palu, khususnya Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, TVRI Palu, dan Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah sebagai Tuan Rumah, dimana kegiatan akan diselenggarakan sebagai kegiatan terbuka.

Inti sambutan Prof. Hendra Gunawan mewakili AIPI berintikan:
•Pemilihan hari kegiatan sosialisasi lebih awal terkait dengan alasan padatnya kesibukan padap H-2 atau H-1 dari GMT.
•Tugas utama AIPI adalah mengawal dan mengawasi pengembagan ilmu pengetahuan di Indonesia. Untuk itu AIPI sangat tertarik untuk mensosialisasikan keterkaitan GMT dengan ilmu dengan pengetahuan
•GMT bukan fenomena alam biasa namun terkait dengan banyak fenomena ilmiah yang terjadi, misalnya: – Penentuan jarak bumi-matahari atau bumi-bulan dilakukan pada saat gerhana matahari,
•Ilmuwan Inggris pada Tahun 1919, memanfaatkan GM untuk membuktikan Teorema
Einstein.
•GMT akan berulang pada tempat yang sama dalam kurun waktu ±350 tahun ( 5-6 turunan lagi).
•Palu akan tercatat dalam sejarah dengan adanya fenomena penting ini. Untuk itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam kerangka pengembangan ilmu pengetahuan.

Inti sambutan Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata Kota Palu (Goenawan, S.SPT.)
•Apresiasi akan pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini.
•Fasilitas yang mendukung Kota Palu menjadi destinasi para tamu pada saat GMT dipersiapkan
•Tempat-tempat tujuan: – Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tojo Una Una, dan Kabupaten Luwuk
•Kegiatan yang akan dilakukan:
*) Penyambutan wisatawan di Bandara Udara Mutiara-Sis Aljufri
*) Event-event, seperti penyajian kuliner asli Sulawesi Tengah, Pagelaran wisata, Marchandise, dsb
*) Pendataan tamu hotel untuk alasan keamanan dan kenyamanan selama berada di Kota Palu

Inti sambutan Rektor Untad (Prof. Dr. Ir. Muhammad Basir, MS.) sekaligus membuka acara:
•Kebanggaan dan rasa terima kasih kepada para pemateri dan Tim AIPI atas terlaksananya kegiatan ini. Ini merupakan suatu kepercayaan bagi Universitas Tadulako.
•Ada dua segi yang terkait dengan GMT: Segi Ilmu pengetahuan dalam rangka GMT (ada banyak hasil penelitian yang diperoleh melalui GMT ini) dan segi fenomena religi (ada kekuatan yang luar biasa (Tuhan) yang mengatur semuanya itu terjadi).
•GMT juga mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat, misalnya: hotel-hotel dan penginapan penuh dan hasil-hasil kerajinan, kuliner, dan lainnya akan terjual baik.
•GMT menjadi catatan sejarah yang menjadi bagian dari Kota Palu dan Universitas Tadulako

Materi 1: Prof. Dr. Bambang Hidayat (AIPI).
•Memperlihatkan hasil pemantauan awal lokasi-lokasi yang strategis di Kota Palu untuk pengamatan GMT, seperti Pantai Talise, Jembatan Kuning, dan lapangan depan Univeristas Tadulako.
•Tiga (3) unsur yang ada pada peristiwa GMT adalah: Sains Matahari/Bumi/Bulan, Sains Tentang Alam kita, dan Sains Ekologi
•Hal lain yang terkait adalah perekonomian. Hal ini sangat berkolerasi dengan jumlah pengunjung/wisatawan local maupun wisatawan asing pada saat GMT.
•Sektor pariwisata juga mengalami peningkatan. Sebagai bandingan, akan datang 5000 wisatawan mancanegara yang sebagian besar merupakan ilmuwan. Para ilmuwan akan membawa 15 buah teropong pengamatan untuk keperluan penelitan mereka.
•Apakah dinas pariwisata sudah siap untuk itu? Misalnya:
•Penyiapan masyarakat akan kedatangan para wisatawan/ilmuwan luar negeri (Sosial)
•IPTEK (Apakah peneliti Untad siap untuk menerbitkan paper sehubungan dengan GMT)
•Kenyamanan/Keamanan dan Kesehatan, misalnya: tersedianya toilet umum
•Rekapitulasi selama GMT
•Contoh peneltian yang terkait dengan IPTEK, pada peristiwa GMT 1983 yang melewati daerah Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan, peneliti Inggris, John Parkinson memamfaatkan siswa-siswa di daerah Pekalongan untuk melihat perubahan jari-jari matahari pada saat GMT. Mengapa hal ini dilakukan? Pekalongan adalah wilayah yang menjadi daerah terluar yang dilintasi GMT. Metodenya adalah pada setiap jarak 2km tegak lurus lintasan berdiri 10 orang siswa dan mengamati besar diameter matahari. Hasil yang diperoleh adalah adanya perubahan jari-jari matahari. Ini sangat menarik untuk diulang pada saat GMT nanti. Persoalannya apakah ada yang mau jadi relawan untuk itu?
•Tahapan terjadinya gerhana matahari total tebagi atas 5 tahap kontak yaitu:
•K1 adalah kontak pertama piringan luar bulan dan piringan luar matahari
•K2 adalah kontak awal piringan dalam bulan dan piringan luar matahari
•M adalah tahap dimana seluruh bagian matahari tertutupi oleh bulan
•K3 adalah kontak akhir piringan dalam bulan dan piringan luar matahari
•K4 adalah kontak terakhir piringan luar bulan dan piringan luar matahari

Untuk Kota Palu, waktu untuk setiap tahapan tersebut adalah:
•K1 pada 07:27:51 WITA
•K2 pada 08:37:47 WITA
•M pada 08:38:50 WITA
•K3 pada 08:39:53 WITA
•K4 pada 10:00:35 WITA

•Mengapa tidak setiap bulan terjadi gerhana matahari? Hal ini tidak terjadi karena lintasan/orbit bulan dan orbit bumi berbentuk elips dan tidak sebidang. Sudut maksimum yang terjadi antara bidang orbit bumi dan bidang orbit bulan adalah 5°. Gerhana matahari total akan terjadi jika keduanya sebidang.
•Hal yang dapat teramati secara langsung pada saat GMT adalah Bailey’s beads dan beberapa planet terlihat Merkurius dan Venus.
•Adakah cerita rakyat atau mitos tentang gerhana matahari dan apakah sudah dibukukan? Jika belum maka saatnya untuk membuatnya dan mensosialisasikannya.
•Kalau pada Tahun 1983, pemerintah dengan terang-terangan melarang masyarakat tidak melakukan pengamatan langsung pada saat GMT dan melarang aktivitas diluar rumah pada saat itu. Ini adalah suatu sosialisasi yang tidak benar. GMT adalah hal yang langkah maka perlu dinikmati oleh seluruh masyarakat yang dilalui GMT tersebut. Yang utama adalah sosialisasi yang benar berdasar ilmu pengetahuan.
• Pada dasarnya terdapat banyak objek penelitian yang potensial untuk diteliti berkaitan dengan GMT, misalnya: bidang biologi khususnya perilaku hewan/binatang 3 hari sebelum, selama, dan 3 hari setelah GMT, perilaku tumbuhan fototaksis (Mimosa/Caliandra/Crotalaria/Trembesi), dampak sosial GMT, pengaruh GMT terhadap budaya, melakukan pemotretan multiexplosure dan diabadikan dalam suatu album dengan judul GMT dan lain sebagainya.

Materi 2: Keunikan Sulawesi, Gerhana Matahari, dan Perilaku Satwa Dr. Jatna Supriatna (AIPI/UI)
•Indonesia merupakan daerah dengan megadiversity untuk flora dan fauna. Khusus untuk daerah Sulawesi merupakan suatu wilayah yang unik yang diapit oleh dua lempeng (Lempeng Sunda dan Lempeng Sahul).
•Sulawesi kaya akan biodiversity endemic dan merupakan Laboratorium Alam (Research Station) terbagus di Indonesia dan dunia (Zona Wallacea). Sebagai contoh: keanekaragaman monyet di Sulawesi. Daerah Kebun Kopi merupakan daerah pertemuan monyet dari utara (Ampibabo) dan monyet dari daerah selatan Kebun Kopi. Dari perkawinan silang spesies ini sangat potensial untuk menghasilkan semua ekspresi genetik. Untuk itu research station ini perlu dijaga kelestatiannya.
•Contoh lain adalah adanya keanekaragaman binatang Tarsius di Sulawesi, di mana terdapat banyak spesies (lebih dari 5 spesies) sementara di Kalimatan dan Filipina masing-masing hanya memiliki 1 species. Masih banyak spesies endemik lagi yang terdapat di Sulawesi seperti: Burung Maleo dan Cecak Terbang. Keanekaragaman ini perlu dijaga dan diupayakan dikembangkan sebagai objek wisata wildlife sama seperti Komodo (NTT) dan orang utan (Kalimantan).
•Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) sangat potensial untuk pengamatan/penelitian ilmiah:
a.Bagaimana perilaku satwa untuk aktivitas persiapan tidur (roosting) dan tidur (bedding)?
b.Bagaimana panic behavior pada hewan endemik seperti Tarsius dan monyet? Bagaimana kalau Tarsius dikandangkan dan diamati perilakunya sebelum, selama, dan sesudah peristiwa gerhana matahari dalam hubungannya dengan persepsi terhadap cahaya dan perubahan suhu.
Penelitian ini sangat publicible karena meninjau perilaku hewan endemik Sulawesi.

Matri 3: “Bagaimana Gerhana Matahari Total (GMT) Mempengaruhi Cuaca Bumi?” (Prof. Dr.Daniel Murdiyarso)
•Pada saat GMT terjadi penurunan radiasi matahari. Hal ini akan berpengaruh pada perubahan suhu udara dan kecepatan angin.
•Pada saat GMT di Inggris tahun 2015 (20 Maret 2015) dilakukan penelitian tentang bagaimana perubahan temperatur udara. Diperoleh kesimpulan bahwa suhu turun sebesar 2°C dalam beberapa saat selama GMT tersebut.
•Akan dilakukan kerja sama dengan BMKG untuk melakukan eksperimen kecil di mana dilakukan pengamatan suhu setiap setengah jam, tinggi tempat sensor/termometer 2 meter di atas tanah, dan dilakukan oleh banyak orang. Untuk pengambilan data dilakukan mulai dari 07.30 – 11.00 WITA dan dicatat setiap 30 menit. Kirim datanya kepada BMKG Bandara Mutiara Bp Kasiron (HP 081341080675). Hal ini tentu sangat memotivasi siswa-siswi untuk mengamati peristiwa ilmiah.

Materi 4: “Peranan Pemerintah Kota Palu Dalam Menyambut Fenomena Gerhana Matahari Total 2016?” (Goenawan, S.SPT).
•Pemateri memberikan paparan tentang sekilas Kota Palu, Reservasi Hotel oleh Ilmuwan/wisatawan mancanegara, itenaray perjalanan wisata selama GMT, dan pernak-pernik sebagai kenangan GMT 2016 yang membawa Palu sebagai destinasi para wisatawan/ilmuwan mancanegara.
•Kota Pulu dipilih sebagai tujuan utama karena tempa ini mengalami durasi GMT yang lebih lama dari Kota Palu dan tempat yang memadai untuk pengamatan GMT.
•Dibuka peluang untuk menjadi relawan Tour Guide pada even GMT. Untuk hal ini silahkan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kota Palu.

Sesi Diskusi:
1.Azwar, Jurusan Fisika, FMIPA
Bagaimana kondisi cuaca pada saat GMT?
Jawaban Bpk. Warjono dari BMKG Kota Palu:
Pola hujan di Kota Palu selama ini adalah pada siang hari dan terjadi setiap dua mingguan. Dengan demikian pada saat GMT, cuaca diperkirakan cerah. Hal lain yang mendukung adalah selama ini Kota Palu memiliki curah hujan yang rendah. Untuk melihat perubahan cuaca tersebut BMKG membuat akun di Facebook dengan nama BMKG Kota Palu untuk keadaan seminggu sebelum dan sesudah GMT.

2.Dwi Setyo Wardani, Fak. Ilmu Kedokteran dan Kesehatan untuk Dinas Pariwisata Kota Palu
Apa ada fasilitas untuk warga Kota Palu dan apa ada kegiatan lain seperti festival?
Jawaban dari Bpk. Goenawan BMKG:
Kegiatan yang dilakukan dalam bentuk pameran jadi dapat dinikmati oleh siapa saja. Selain itu ada souvenir untuk dijadikan ole-oleh para wisatawan mancanegara maupun lokal. Kegiatan lain adalah dibuka peluang untuk menjadi relawan guide.
Tambahan jawaban dari Prof. Bambang Hidayat:
Selain hal di atas, coba ikut dalam kegiatan penelitian yang menyangkut GMT dan publikasi.

3.Eko Putra, FKIP Pordi Pendidikan Kimia
1.Palu tidak masuk dalam zona utama dari jalur GMT. Apakah pengambilan data di Palu layak dibandingkan dengan daerah yang dilalui jalur utama (yang terlama peristiwa GMT)?
2.Untuk dinas Pariwisata
Apakah ada jaminan untuk mengakses tempat-tempat yang strategis yang telah ditujukan untuk wisatawan/ilmuwan mancanegara?
Jawaban:
1.Data tetap layak, persoalan hanya pada durasi GMT.
2.Untuk mengakses tempat strategis tidak ada masalah walaupun nantinya ada pemeriksaan dari petugas keamanan. Hal ini ditujukan untuk menjamin keamanan dan keselamatan semuanya.

4.Fajri, Jurusan Fisika FMIPA
Bagaimana kondisi pasang surut pada saat GMT dan bagaimana anomaly medan magnet bumi? Apakah berbeda dari hari biasanya?
Jawaban:
Apakah yang kamu maksud pasang surut air laut? Kalau ya, maka GMT tidak memberi perubahan signifikan pada peristiwa pasang surut air laut tersebut karena pasang surutnya air laut tidak hanya ditentukan oleh benda-benda angkasa tersebut namun oleh suhu dana rah angina juga. Demikian juga dengan medan magnet bumi.

5.Kurniawan, Jurusan Biologi FMIPA
Apakah ada adaptasi tingkah laku hewan dan bagaimana pula dengan tumbuhan seperti trembesi, mimosa, dan tumbuhan endemik (pitopangi)?
Jawaban:
Apresiasi yang tinggi bagi dosen yang peduli tentang penelitian dan bangga akan adanya Prof Ramadhanil yang terus mendukung mahasiswanya. Tentu akan ada adaptasi tersebut dan seperti yang disebutkan sebelumnya untuk GMT 2016 ini perlu dilakukan penelitian yang sama dengan penelitian sebelumnya untuk melihat kembali tentang apa yang terjadi.

6.Hapsah, dosen Fakultas Pertanian untuk Dr. Jatna
Apakah selama ini ada dampak GMT terhadap perilaku satwa?
Jawaban:
Tentu ada dampaknya namun tidak permanen. Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa Sulawesi Tengah adalah Laboratorium Alam terbesar dan terhebat dunia, miris kalua orang lokal tidak siap untuk bekompetisi dengan turis asing yang rela datang ke daerah ini hanya untuk GMT. Jadi, jangan terpesona dengan datangnya turis/ilmuwan asing tersebut.

7.Siswa SMP Neg. 1: Ardhian
1.Banyak orang asing yang datang untuk meneliti dalam rangka GMT, bagaimana dengan orang lokal?
2.Bagaimana cara menampilkan kuliner dan fauna? Apakah ditampilkan pada saat itu?
Jawaban:
1.Orang asing harus jadi motivasi bagi orang lokal dalam hal “Temper Ilmiah” untuk melakukan penelitian-penelitian yang menyangkut peristiwa-peristiwa penting dan langkah seperti GMT ini.
2.Penyajian kuliner dalam bentuk pameran dan demonstrasi langsung.

8.Siswa SMP Neg.1: Brenda Wongsonegoro
Banyak turis asing yang datang ke Palu, bagaimana kesiapan pemerintah?
Jawaban:
Pemerintah melalui Dinas Pariwisata siap untuk menerima dengan menyiapkan penyambutan, tempat/destinasi para tamu tersebut dan juga penjagaan keamanan yang menjamin bagi para wisatawan dan lainnya.

UN SDSN National Workshop Solutions Initiatives for Urban Development in Island and Coastal Environment: Water, Food Security and Waste Management

Hotel Margo Depok, 16 – 17 September 2015

Currently, most of citizens live in the city. More than 3.5 million people occupy only 2 percent of the Earth’s land, but account for 60 – 80 percent of energy consumption and 75 per cent of carbon emissions. The number of population in urban areas will rapidly increase by almost 60 percent in 2030. Along with global trends, urbanization in Indonesia rose slightly from 42% in 2000 to 52% in 2013 which created challenges such as low funding to ensure basic public services, energy efficiency, pollution, transportation, water availability, food security and waste management. Moreover, this citification trends not only occur in the capital but also in small yet growing city in island and coastal environment. Island is facing variety challenges like natural resources dependency from larger island, expensive transportation and communication cost, threaten by climate change and sea level rises, as well as water availability, food security and waste management.
There are three basic needs of sustainability on urban development in island and coastal environment that will be discussed in SDSN National meeting 2015: clean water, food security and waste management. Clean water is a vital needs of living. However, clean water still become expensive natural resource in some island and coastal environment. Millions of people die each year, most of them children, from largely preventable diseases caused by a lack of access to clean water and proper sanitation. In East Nusa Tenggara, water demand deficiency reach more than 50 percent of total available water by 2015, as well as in Bali, Jawa and Sumatra.
As one of the most populuous country in the world, citizen of Indonesia face the challenge of food security. In islands and coastal area, this issue has been a major problems since the land limitation, clean water availability and less human resource. Furthermore, climate change will make it worse through all component of food systems, as changing on rainfall patterns, rising temperature, more pests attack, loss of pollinators and climate uncertainty. This matter increase small island dependency from larger island.
Waste problems not only affected due to climate change but also created environmental and health concerns related to air pollution such as NOx, SO2, dioxin, and fine particles. If it not handled properly the cost of waste management will be significantly higher in the future. In Indonesia, several waste problems became popular to its chaotic. In 2008, Bandung was called as ‘Bandung Sea of Garbage’, in 2011 Time magazine criticized Bali’s waste management under the headline “Holidays in Hell: Bali’s Ongoing Woes” and also Jakarta which has been continuously discussed. Sustainable waste management reflects how community acts for environment in a large scale. In addition, sustainable waste management also protects people’s health, property, environment and human resources.
National Sustainable Development Solution Network (SDSN) purposed to mobilize universities, research centers, civil society organization, business, another knowledge centers around practical problem solving for sustainable development. This time we will engage in the discussion to find solution initiative for sustainable development in Indonesia, especially for water, food security and waste management in islands and coastal. The outcome of the meetings will be presented on SDSN Regional Meeting 2015 and hopefully could be implemented in Indonesia.
The workshop has the following aims:
• To identify and discuss challenges for achieving sustainable island and coastal
• To discuss practical sustainable solutions for sustainable island and coastal
• To create manuals for sustainable island and coastal
• To empower Indonesian youth to create sustainable development solutions
The workshop organized by Universitas Indonesia, United in Diversity Forum (UID), and Indonesian Academics of Sciences (AIPI).

Agenda Day 1, 16 September 2015:Session1: Opening by Jatna Supriatna, Keynote by Prof. Dr. Sangkot Marzuki (AIPI) “The role of science and scientists in surtainable development of islands and cities”

Session 2.How do we make sustainable city and island?
What is sustainable city and island? How to achieve sustainability? What should we do to maintain the sustainability? What kind of enforcement from stakeholders to make sure sustainability can be achieved? What are the outcome from previous summit or seminars?
Plenary chair Prof. Dr. Komara Djaya, Pusat Studi Perkotaan UI, with Speakers Mayor of Bandung, Sustainable City Landscape in Bandung, Mayor of Denpasar, Challenges in waste management, Bupati Karawang, Challenges in food security; Bupati Wakatobi, Challenges in clean water management

Session 3:Breakout Groups: What does the challenges, trends and pressures facing island and coastal today, in terms of water, food security and waste management?Briefing Group 1 : island environment ,Group 2: coastal cities with Facilitators Triarko, Discussion Identification of problems and challenges

Session 4:Plenary: What does the challenges, trends and pressures facing island and coastal to day, in terms of water, food security and waste management?. Group 1 and Group 2 present their results
Invited Speaker: Prof.Muladno, Dirjen Peternakan dan Penyakit Hewan Kementan RI.

UN SDSN National Workshop Solutions Initiatives for Urban Development in Island and Coastal Environment:Water, Food Security and Waste Management
16 – 17 September 2015
Kesimpulan
1. Akademisi, ilmuwan memiliki peran vital dalam menjelaskan fakta, menciptakan dan membangun solusi untuk membantu menyelesaikan dimensi yang sangat kompleks dari pemasalahan perubahan iklim serta kebutuhan dasar berkelanjutan pembangunan perkotaan di pulau-pulau kecil dan pesisir.
2. Sains adalah alat inovasi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan social. Data sangat penting dalam membantu memecahkan masalah-masalah pengelolaan air, sampah dan ketahan pangan dan kebutuhan berkelanjutan bagi pulau-pulau kecil dan kota pesisir.
3. Keharusan untuk menggunakan sains dan hasil riset sebagai dasar kebijakan pembangunan.
4.Keharusan untuk memasukkan pemahaman lebih dalam tentang alam lingkungan dan ekologi dalam sistem pendidikan nasional sebagai dasar pembangunan di masa depan.
5.Pengetahuan budaya, keunikan, dan kekayaan pulau-pulau kecil dan kota pesisir dapat mengangkat perekonomian setempat dan dapat berkelanjutan selama dikelola dengan prinsip-prinsip berkelanjutan
6.Pembangunan dengan menggunakan ‘warna lokal’ karena keragaman Indonesia yang sangat tinggi, baik dari sisi kondisi alam, sosial masyarakat maupun masalah-masalah yang dihadapi.
7.Selalu menggunakan prinsip ‘environmentally sustainable’, economically profitable, technologically manageable dan ‘socially acceptable’ dalam pembangunan.
8.Bagi pulau-pulau kecil:
a.Diperlukan pemahaman proses-proses hidrogeologi dan proses alam lainnya pada pulau-pulau kecil membantu memecahkan dan mencari solusi berkelanjutan
b.Pengembangan teknologi yang mudah dan murah untuk diaplikasikan (seperti pengembangan raingarden, dll)
9.Bagi kota-kota pesisir:
a.Pentingnya melihat DAS dan tata ruang hulu-hilir secara menyeluruh dalam pembangunan.
b.Menyeleraskan antara kepentingan manuasia dengan kaidah-kadiah alam.
c.Penegasan peraturan-peraturan pembatasan alih lahan terutama untuk DAS dan bantaran sungai.
d.Pentingnya membangun inovasi-inovasi bersifat lokal untuk ‘clean water availability’, ‘food security’ dan ‘waste management’.
10.Pengembangan Triple Helix antara pemerintah – masyarakat – industri, yang diperkuat dengan universitas (terutama universitas setempat) dapat mendukung penerapan solusi yang berkelanjutan (Integrated approach).
11.Dengan diresmikannya SDSN Youth Network Indonesia atau generasi muda SDSN Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan peran serta generasi muda dalam mencari soulusi-solusi pembangunan berkelanjutan.

 

The potential of Indonesian mangrove forests for global climate change mitigation

Mangroves provide a wide range of ecosystem services, including nutrient cycling, soil formation, wood production, fish spawning grounds, ecotourism and carbon (C) storage1. High rates of tree and plant growth, coupled with anaerobic, water-logged soils that slow decomposition, result in large long-term C storage. Given their global significance as large sinks of C, preventing mangrove loss would be an effective climate change adaptation and mitigation strategy. It has been reported that C stocks in the Indo-Pacific region contain on average 1,023 MgC ha−1 (ref. 2). Here, we estimate that Indonesian mangrove C stocks are 1,083 ± 378 MgC ha−1. Scaled up to the country-level mangrove extent of 2.9 Mha (ref. 3), Indonesia’s mangroves contained on average 3.14 PgC. In three decades Indonesia has lost 40% of its mangroves4, mainly as a result of aquaculture development5. This has resulted in annual emissions of 0.07–0.21 Pg CO2e. Annual mangrove deforestation in Indonesia is only 6% of its total forest loss6; however, if this were halted, total emissions would be reduced by an amount equal to 10–31% of estimated annual emissions from land-use sectors at present. Conservation of carbon-rich mangroves in the Indonesian archipelago should be a high-priority component of strategies to mitigate climate change.(Daniel Murdiyarso et.al.).
view

AIPI – the Indonesian Academy of Sciences: Responding to the Challenge while Comprehending the Past

A Historical Sketch

This is a story of an intercultural transmission, because science is a cultural construct, driven by the paradigm of development. Modern science, natural sciences in particular, were developed in the beginning of the 16th century, almost exclusively in Western Europe and, to some extent, in North America and were spread to all corners of the world in pursue of western hegemony. In this period scientific power and the power of reasoning have shown that they helped to develop welfare, to speed up physical development and, perhaps above all, to free mankind from the fear of natural occurrences.

There is growing evidence that the spread of European science into their Asian colonies was closely tied with the imperialism and colonialism. Starting in the 19th century science became inseparable part from economic opportunity, the promise of natural wealth and material return. Undoubtedly colonization entailed a massive cultural effort which influenced significantly the cognitive and, perhaps, material existence of both the colonizer and the colonized. In its encounter with “Indie”, the Dutch sought to change, based on their own scientific experience, the Indie archipelagoes in its own image. By using the newly acquired sciences of biology, meteorology and geophysics, to learn more what were hidden behind the lush tropical nature.

There were several periods in the West’s face-to-face interaction with Asia. In general it began with a crusade and was followed by an age of conquest and exploitation. The need for educating the natives came later along with the demand for expanding power and influence. The formation of tertiary education in the colony came much later when the paradigm of economy and health began to surface. Thus the native were largely inactive in acquiring new knowledge.

The flourishing science in the “Indie” (now Indonesia) and the need to communicate with each other led to the foundation of the Bataviaasch Genootschap voor Kunsten and Wetenschappen on April 24, 1778. Its motto was Ten nutte van ‘t gemeen (for the benefit of public). The Academy was clearly a design of pure minded scholars for developing arts and sciences which already manifested in the crowning achievements of western civilization. This paved the way for the entrepreneurial development of scientific enterprise. Some were driven by the mandate of pure science others were influenced by the birth of the moral of economy of science. The progress of scientific endeavor in Indie was significant as history had shown. It took a long time for that society to be decorated with the magnificent prefix koninklijk (Royal). It was only in 1923 that the Royal Dutch Crown officially accorded that symbol, which testified the successful Dutch enterprise in the colony. By that time the natural and physical sciences in the former Dutch Indie had become towering phenomena. Unfortunately, only few endogenous people were able to enjoy the fruit of the new way of life. Scientific development was still left to the foreign scientists in the colony. The natives were witnessing only the promise and, at the same time, the peril of modern science and the imbalance in the transfer of technology and science.

Indie witnessed the struggle between the mandate of pure science on one hand and the practical motivation of applied science on the other hand as a “colonial duty”. Scientific activities in the colonies were accepted as the element for elevating international prestige. As Treub observed: “The power and prestige of minor nations is in the works of peace”, meaning science should be dedicated to promote the welfare of mankind. Unfortunately the line that borders different types of “mankind” was indeed very thin, as national and colors are sometimes more important than basic traits. Paramount were the interests and status of the rising Dutch, or metropolitan, welfare. The ideology of pure science as a driving force for technological and social progresses, are sometimes left intact.

A closer look at the growth of science at its origin indicates that there must have been a prerequisite for developing science. In the first place in order to accept change there must have been preparedness for ethical “mutation”. Some expounded the view of the cause of scientific revolution in the west as the realization of the hedonist-libertarian ethics, which drove the thinkers and philosophers of that time with the possibility to pursue their own interest and pleasure for the sake of uncovering the secrets of nature. This was a difficult choice to be made by the revenue-minded planters or industrialists in the colony. It then became more apparent, in later years, when science established many interfaces with other human interests, social structures and the language system, that other factors were necessary in order to make science as it is now.

Changing the Guard While Guarding the Changes

The need for a scientific body which can oversee the intricate policy and problem of science and technology practices have already been felt since the early hour, in our independence days (in 1945-1949). The body should not only to document the past but also should be able to anticipate significant social and political changes in the next decades across a wide range of human endeavors. Even in the late 40’s, amidst the struggle of independence, Indonesia had already declared a view of our era as one of rapid change that it sets apart from both past and future. Demography, economy and social change within the half of the 20th century had in fact been faster on a “global” scale (the term was coined in the late 20th century) than ever before. Therefore the body which is charged to coordinate scientific activities should be able to balance of context of demographic growth and the economic imperative in the framework of scientific growth. The Indonesian Law no 6, 1956, declared the founding of MIPI (i.e. Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia; Indonesian Science Council) whose tasks were, among others, to prepare the foundation of an independent scientific body, with prominent advisory capacity.

Political life in Indonesian during the period of late 50’s until the middle of the 60’s had put the formation of an Academy aside. In 1967, after a series of changes in the higher level of scientific organizations, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia: Indonesian Institute of Sciences) was founded. LIPI, beside its honourable operating activities to develop science, was also charged to found the “Academy of Sciences”. With the support of the Minister of Research and Technology the first draft for the law regarding the formation of the “Academy” was ready by 1983 to be submitted to the Parliament to be amended. The Government thanks the futuristic outlook of the Minister of Research and Technology, who persistently insisted that the Parliament accept the “Law of the Academy”. On 13 October
1990 the law was ratified by the Parliament. The first 27 chartered members of the Academy were swore in by the President of the Republic of Indonesia, on November 16, 1991.

The main feature of the “Academy”, like any other Academy, is its independency from the executive branch of the government in the country. The academy strives to promote and to

elevate the intrinsic values of mankind, the function of society and the agility of the nation. It should accommodate environmental ethics in the process of sustainable development, while maintaining its autonomous stature. While the assessing scientific situation and progress the Academy should provide guidance to the government and scientific societies with the trend setting for sciences, rather than confining itself in fact-finding issues. While doing that we have tried, and will always try, to keep the Academy alert by hearing political and cultural debates so that the Academy is in position to generate the civilizing power which is called science. The Academy is aware that environmental problems exist that threaten and, perhaps shake science in such a way they force scientists to abandon many of their cherished customs. Aware that the close link between social norms and philosophical principles is no accident, the Academy should therefore encourage scientists apply the noble, and time tested, principles in their front line scientific research.

Jakarta, December 2003,
Bambang Hidayat
Indonesian Academy of Sciences
Prepared for and communicated to the Association of Academies of Sciences in Asia
(AASA)