Madurologi: Lahan Penelitian Tak Terjamah!

OLEH : MOHAMMAD SUBHAN ZAMZAMI, http://stainpamekasan.ac.id/detberita/177-madurologi-lahan-penelitian-tak-terjamah.  Selasa, 8 Nopember 2016

Pernahkah kita berpikir bahwa banyak orang Madura justru menyianyiakan Madura, bahkan memandangnya sebelah mata? Apakah kita belum sadar betul bahwa Madura sangat kaya, baik dari SDA, SDM, dan kebudayaan? Percayakah kita bahwa Madura benar-benar unik, sehingga diam-diam banyak mata tertuju padanya? Ataukah kita baru akan menyadari semua itu setelah kita dikejutkan oleh, salah satunya, sebagian lahan di pesisir timur Madura sudah dikuasi oleh investor-investor luar? Atau kita hanya akan menutup mata dengan semua itu tanpa mau melakukan penelitian tentang Madura yang akan membuat kita lebih bangga menjadi orang Madura, sehingga kita bisa membangun jiwa dan raganya? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini muncul saat kita berdiskusi tentang Madura, tapi kita masih sulit menjawabnya karena data penelitian tentang Madura masih sangat terbatas. Di tengah kegetiran seperti ini, Prof. Mien A. Rifai, M. Sc., Ph. D., turut mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk meneliti Madura, terutama pada aspek kebudayaannya. Di saat usianya tak belia lagi, ia masih mampu menghasilkan sejumlah karya ilmiah tentang Madura dan mempresentasikannya di seminar tentang Madura berskala nasional dan internasional. Menurutnya, Madurologi merupakan objek penelitian yang belum banyak dijamah orang, padahal masih banyak celah yang bisa diteliti. Bahkan 70% artikel tentang Madura yang dipresentasikan dalam kongres tentang Madura ditulis oleh bukan orang Madura.

Sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional yang sedang go international dan menjadi Madurologi sebagai brandnya, KARSA: Jurnal Sosial & Budaya Keislaman STAIN Pamekasan memprakarsai Seminar Peta Riset Sosial Budaya Keislaman Madura Untuk Peningkatan Mutu Artikel Jurnal Terakreditasi Menuju Jurnal Internasional dengan menghadirkan pemerhati budaya Madura dan dewan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tersebut sebagai narasumber. KARSA, menurutnya, sebagai jurnal yang paling banyak memuat artikel penelitian tentang Madura harus benar-benar menjaga dan meningkatkan mutu jurnal, baik dari segi kualitas artikel, lay out, transliterasi, dan pengelolaan secara elektronik, setidaknya karena dua faktor utama: kesatu, standar internasionalisasi jurnal sangat berat, sehingga mutu jurnal harus dipertahakankan. Scopus, misalnya, menghapus banyak jurnal dari indexingnya karena tidak bisa mempertahankan mutu. Kedua, DIKTI mengurangi nilai jurnal yang tidak dikelola secara elektronik.

Sebagai peneliti Madura sekaligus panitia Akreditasi Jurnal Ilmiah Direktorat Pendidikan Tinggi, Rifai menginginkan KARSA membulatkan tekad, tidak setengah hati, untuk go international. Wujud kebulatan tekad tersebut, misalnya, dengan membuat KARSA seperti betul-betul baru lahir; penampilan baru dengan merujuk pada penampilan jurnal-jurnal internasional, pengelolaan full elektronik (OJS), survei kepuasan dari penulis, dan penerjemahan bahasa artikel sesuai dengan jiwa bahasa pemakainya. Dengan demikian, artikel tentang Madura yang dipublikasikannya akan diakses para peneliti tentang Madura di seluruh dunia. Selain itu, karena peserta seminar berasal dari para pengelola jurnal di lingkungan STAIN Pamekasan, ia juga menginginkan adanya kesamaan transliterasi yang digunakan oleh jurnal-jurnal di lingkungan STAIN Pamekasan, sehingga memudahkan para peneliti yang ingin mempublikasikan artikelnya. Bahkan lebih dari itu, STAIN Pamekasan diharapkan bisa membangun unit khusus untuk penerjemahan artikel. Di sesi diskusi, Zainal Abidin, Umar Bukhory, Hafid Effendy, dan Usman mengajukan pertanyaan dan usulan tentang Madurologi. Abidin mempertanyakan tentang globalisasi dan pola pikir deadline method serta kaitannya dengan kuantitas dan kualitas artikel penelitian, sedangkan Bukhory dan Effendy mempersoalkan tentang penelitian Madurologi yang menyita waktu sangat lama, asal-usul sebagian kosakata bahasa Madura, dan wacana tentang kepunahan bahasa Madura. Agak sedikit berbeda, selain bertanya tentang generalisasi dan spesialisasi peta riset Madura, Usman juga mengusulkan tentang kemungkinan mengumpulkan para periset tentang Madura dari kampus-kampus dalam satu pertemuan.

Menanggapi pertanyaan dan usulan tersebut, Rifai menegaskan bahwa globalisasi mengharuskan kita untuk ikut di dalam persaingan. Bila tidak, kita ketinggalan. Nguan bhekto atau jam karet adalah tradisi buruk yang harus ditinggalkan. Berhubungan dengan nguan bhekto, sebagian kita memang masih menggunakan pola pikir deadline method, sehingga perlu diubah dan kita bisa menghasilkan artikel yang baik dari segi kualitas dan kuantitas. Penelitian tentang Madurogi yang berkualitas, misalnya, bisa dimulai dengan hal sepele, seperti meneliti tentang macam-macam rujak di Madura. Perlu diketahui, penelitian tentang rujak ini sudah berhasil mengantarkan peserta didik Rifai menyandang gelar doktor. “Doktor rujak,” selorohnya. Selain rujak, bahasa Madura juga menarik dikaji. Ia menegaskan, “Tidak benar orang Madura buta warna karena tidak persoalan warna hijau. Dalam warna, bahasa Madura justru lebih kaya daripada bahasa Indonesia.” Jawaban Rifai bukan sekadar kelakar kosong, karena ia

tercatat sebagai salah satu penyusun KBBI dan kini sedang merampungkan ensiklopedi serapan kosakata Madura dari bahasa Arab. Menanggapi usulan terakhir, ia mengatakan bahwa pertemuan itu sudah dilakukan. Bahkan ia berharap STAIN Pamekasan menggagas International Workshop of Madurology tahun depan.

Melalui Madurologi, KARSA bisa menjadi wadah utama penelitian tentang Madura. Penelitian adalah, sebagaimana ditegaskan Rifai, berpikir lain dan didukung dengan data-data yang tidak bisa dibantah. Orang Madura sebagai pemilik sah Madura yang tahu betul dan menjiwai Madura seharusnya berada di garis terdepan Madurologi, sehingga Madurologi tidak lagi dikuasai oleh bukan orang Madura. Sebagai jurnal ilmiah terakreditasi nasional dan terindeks di lembaga-lembaga index jurnal internasional, KARSA dengan brand Madurologinya siap membantu merealisasikannya. [Mohammad Subhan Zamzami]

Bagaimana Merawat Budaya Madura? Berikut Nasihat Mien Achmad Rifai

Jiwa kemaduraan dan bahasa berperan penting dalam menjaga jati diri. Generasi muda harus berperan aktif. Sederhananya, menjaga Madura ialah merawat bahasanya dan menggunakannya dengan bangga, begitu yang diyakini Mien Achmad Rifai.

mien-rifai

MataMaduraNews.comPAMEKASAN-Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat agamis, ramah dan menjunjung tinggi harga diri. Dalam perkembangannya, nilai-nilai kemaduraan mulai tergerus oleh pengaruh budaya asing. Salah satu indikasi yang paling nampak adalah semakin berkurangnya penutur bahasa Madura di kalangan generasi muda.

Dua pekan lalu, Mata Madura berhasil menemui Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Mien Achmad Rifai, M.Sc.,Ph.D. untuk berbincang seputar budaya Madura. Menurutnya, untuk merawat budaya Madura bisa dilakukan dengan hal yang sangat sederhana, yakni merawat bahasa Madura dan menggunakannya dengan bangga. Ia yakin budaya Madura yang khas dan unik tidak akan lenyap apabila para generasi muda memiliki akar budaya yang kuat. Dan bahasa, menurutnya, adalah inti dari budaya. Bahasa juga menunjukkan jati diri suatu masyarakat. ”Budaya itu intinya di bahasa. Kalau hilang ya sudah,” katanya di salah satu hotel di Pamekasan.

Menurut Pak Mien, panggilan akrabnya, ada anggapan yang keliru tentang bahasa Madura. Masyarakat banyak yang menganggap bahasa Madura sebagai bahasa daerah. Padahal istilah yang tepat adalah bahasa ibu. Penggunaan bahasa Madura misalnya, tidak terbatas pada daerah tertentu. Karena masyarakat Madura atau keturunan Madura yang berada di daerah lain juga masih memakai bahasa Madura untuk berkomunikasi. ”Bahasa Indonesia banyak yang tercampur-campur. Bahasa lokal, dalam hal ini dikatakan sebagai bahasa ibu, semakin terpinggirkan, semakin hilang, dianggap tidak gaul, ketinggalan zaman,” terang putra Gapura Sumenep ini.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2012 menunjukkan, ada sebanyak 546 bahasa di seluruh nusantara. Dari sekian banyak bahasa yang ada di nusantara, bahasa Madura berada di urutan ketiga dalam hal jumlah penutur terbanyak. Namun menurut Pak Mien ia beberapa kali menemukan orang Madura yang enggan menggunakan bahasa Madura di daerah lain. “Orang Madura di luar Madura terkadang merasa malu untuk mengaku sebagai orang Madura, merasa tidak percaya diri,” katanya.

Secara umum menurut Pak Mien tidak ada perbedaan yang kentara antara penutur bahasa Madura yang menetap di Madura dan yang berada di luar Madura. Hanya saja dialeknya cenderung berbeda. ”Kalau saya dialeknya agak campur dengan Sunda karena sekarang tinggal di Bogor. Tapi istri saya jawanya medok sekali. Namun sehari-hari saya di rumah tetap memaka bahasa Madura,” ujarnya.

Mien A. Rifa’i mengatakan, kita sudah kehilangan dua generasi pembicara bahasa Madura. Bahkan sejumlah kajian menunjukkan, anak-anak sekarang sudah mulai kehilangan bahasa ibu, bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Sejak kecil anak-anak sudah diajari bahasa Indonesia atau bahasa asing. Bahasa Madura dianggap berada di urutan kedua. Padahal selain penguasaan bahasa asing, ada hal lain yang perlu ditonjolkan, yakni bahasa ibu. ”Yang lebih penting adalah bahasa ibu kita, bahasa Madura,” katanya.

Ia merasa sebaiknya di usia dini, anak-anak tidak usah diajari bahasa lain selain bahasa Madura. Hal ini agar fondasi bahasa Madura dalam diri sang anak terbangun dengan baik. Lagipula, bahasa lain di luar bahasa ibu akan lebih mudah dipelajari ketika usia anak sudah beranjak remaja. ”Selain itu menurut saya kalau masih anak-anak tidak perlu diajari bahasa Madura yang enggi bunten, agar anak-anak tidak merasa kesulitan,” katanya.

Minimnya buku-buku berbahasa Madura juga ditengarai menjadi penyumbang tergerusnya bahasa Madura. Buku-buku berbahasa Madura sampai saat ini bisa dihitung dengan jari. Sulitnya menemukan tulisan berbahasa Madura menyebabkan generasi muda tidak memiliki dasar untuk menggali Madura lebih banyak. ”Tidak ada sekarang buku-buku berbahasa Madura, sehingga yang membaca karya berbahasa Madura juga tidak ada. Yang tinggal cuma bahasa lisannya saja. Bahasa tertulis tidak ada, padahal sangat penting,” ujar Prof Mien.

Karya dan publikasi seputar Madura menurut Prof Mien masih terbatas. Padahal tulisan adalah elemen yang sangat penting untuk meneruskan budaya dan peradaban suatu masyarakat. Dalam berbagai kesempatan ia mendorong semua kalangan untuk membuat karya tentang Madura, terlebih dalam bahasa Madura, yang mampu mengabadikan Madura melalui tulisan. ”Kita sekarang kekurangan karya-karya tentang Madura. Ada beberapa, tapi dangkal. Saya ingin ada orang Madura yang mau mengembangkan karya berbahasa Madura,” ujarnya.

Penanaman jiwa kemaduraan menjadi penting agar masyarakat Madura tidak melupakan jati dirinya. Dalam hal ini menurut Prof Mien kita harus bisa mencontoh Bali. Di tengah pusaran budaya asing yang selalu berdatangan ke Bali, pulau Dewata itu masih bisa mempertahankan eksistensinya. Bukannya terbawa oleh arus globalisasi, justru bisa memanfaatkan globalisasi untuk mempromosikan budaya. ”Intinya tetap menjadi orang Madura. Memanfaaatkan arus globalisasi, bukan terhanyut,” katanya.

Semua orang bisa ikut serta menjadi penjaga bahasa dan budaya Madura. Keduanya bagi pria kelahiran Gapura Sumenep ini sangat berkaitan. “Sebenarnya kalau Anda bekerja dengan maksimal tanpa melupakan jati diri Madura, bahasa dan budaya Madura akan tetap eksis. Kita harus jadi diri sendiri, tetap menjadi orang Madura, dan harus bangga menjadi orang Madura,” katanya.

Terkait anggapan negatif sebagian masyarakat daerah lain tentang orang Madura, Prof Mien menilai hal itu terjadi karena belum bersentuhan langsung dengan orang Madura. Stigma negatif itu bisa terhapuskan dengan sendirinya apabila orang Madura menunjukkan kemaduraan dalam pergaulan dengan masyarakat dari daerah lain.

Hal lain yang juga tak kalah penting bagi Prof Mien adalah perlunya pakar-pakar yang fokus mendalami bahasa Madura. Hingga saat ini, menurutnya doktor yang mempelajari bahasa Madura bisa dihitung dengan jari. Perlu juga adanya jurusan bahasa Madura agar bisa menghasilkan pakar-pakar baru di bidang ini. ”Harus ada jurusan bahasa Madura. Kita sangat kekurangan doktor di bidang bahasa Madura,” saran Prof Mien.

Ia menekankan pentingnya peran generasi muda untuk mengadakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kemaduraan. Karena ia melihat, jarang sekali pemuda di Madura melakukan hal semacam itu. Apabila pemuda tidak turun tangan dalam melestarikan bahasa dan budaya Madura, ia khawatir suatu saat nanti jiwa kemaduraan yang menjadi ciri khas orang Madura akan hilang. ”Kalau yang tua-tua mungkin masih terpelihara kemaduraannnya, tapi yang muda-muda ini sangat rentan,” ujarnya.

Jamal, Mata Madura

Accepted ISSEL Papers Published online in Journal of Physics: Conference Series

International Symposium on Sun, Earth, and Life
June 3-4, 2016, East Hall – ITB
Accepted papers received: 8 November 2016
Published online: 26 November 2016 in Journal of Physics: Conference Series
OPEN ACCESS
http://iopscience.iop.org/issue/1742-6596/771/1

Steering Committee
1. Hendra Gunawan (ITB and AIPI, Indonesia)
2. Thomas Djamaluddin (LAPAN, Indonesia)
3. Edy Tri Baskoro (ITB, Indonesia)
4. Premana W. Premadi (ITB, Indonesia)
5. Budi Dermawan (ITB, Indonesia)
6. Nat Gopalswamy (Goddard Space Flight Center, NASA, USA)
7. J. N. Goswami (Physical Research Laboratory, India)

Scientific Committee
1. Ikbal Arifyanto (ITB, Indonesia)
2. Lucky Puspitarini (ITB, Indonesia)
3. Hendra Gunawan (ITB and AIPI, Indonesia)
4. Premana W. Premadi (ITB, Indonesia)
5. Taufiq Hidayat (ITB, Indonesia)
6. Budi Dermawan (ITB, Indonesia)
7. Mahasena Putra (ITB, Indonesia)
8. Dhani Herdiwijaya (ITB, Indonesia)
9. E. Sungging Mumpuni (LAPAN, Indonesia)
10. Clara Y. Yatini (LAPAN, Indonesia)
11. Nat Gopalswamy (Goddard Space Flight Center, NASA, USA)
12. J. N. Goswami (Physical Research Laboratory, India)
13. Thierry Fouchet (Observatoire de Paris, Paris)

Organizing Committee
1. Dhani Herdiwijaya (ITB, Indonesia) – Chair
2. Lucky Puspitarini (ITB, Indonesia)
3. Anny Sulaswatty (AIPI, Indonesia)
4. Indra Noviandri (ITB, Indonesia)
5. Clara Y. Yatini (LAPAN, Indonesia)
6. Abdul Waris (ITB, Indonesia)
7. Mahasena Putra (ITB, Indonesia)
8. Evan Irawan Akbar (ITB, Indonesia)
9. Ikbal Arifyanto (ITB, Indonesia)
10. Aprillia (ITB, Indonesia)
11. E. Sungging Mumpuni (LAPAN, Indonesia)
12. M. Zamzam Nurzaman (LAPAN, Indonesia)
13. Dede Enan (ITB, Indonesia)

Keynote Speakers
1. Prof. Bambang Hidayat (Indonesian Academy of Sciences)
“A Recollection of Research Merit ”
2. Prof. Nat Gopalswamy (Goddard Space Flight Center, NASA, USA)
“The Coronal Connection to Space Weather”
3. Prof. J. M. Pasachoff (Williams College, USA) via Skype
“Coronal Science and Outreach at Recent and Future Solar Eclipses”
4. Prof. J. N. Goswami (Physical Research Laboratory, India)
“Water on the Surface and in the Interior of the Moon”
5. Prof. Thomas Djamaluddin (National Institute of Aeronautics and Space)
“New Timau National Observatory: Accelerating Development of Space Science and Technology in Indonesia”
6. Prof. Taufiq Hidayat (Institut Teknologi Bandung)
“Nitrile Compounds on Titan as Observed by ALMA”
doi:10.1088/1742-6596/771/1/011001
011002

OPEN ACCESS
All papers published in this volume of Journal of Physics: Conference Series have been peer reviewed through processes administered by the proceedings Editors. Reviews were conducted by expert referees to the professional and scientific standards expected of a proceedings journal published by IOP Publishing.

A perspective about the total solar eclipse observation from future space settlements and a review of Indonesian space researches
D Sastradipradja, F M Dwivany and L Swandjaja
Viewing astronomy objects from space is superior to that from Earth due to the absence of terrestrial atmospheric disturbances. Since decades ago, there has been an idea of building gigantic spaceships to live in, i.e., low earth orbit (LEO) settlement. In the context of solar eclipse, the presuming space settlements will accommodate future solar eclipse chasers (amateur or professional astronomers) to observe solar eclipse from space. Not only for scientific purpose, human personal observation from space is also needed for getting aesthetical mental impression. Furthermore, since space science indirectly aids solar eclipse observation, we will discuss the related history and development of Indonesian space experiments. Space science is an essential knowledge to be mastered by all nations.
doi:10.1088/1742-6596/771/1/012043 References

Update on the impact of the proton radius on the neutron star radius
T Mart and A Sulaksono
We present the new result of our investigation on the extraction of proton radius and the impact of different proton radii on the radius of neutron star, after correcting the mistake in the previous calculation of the proton radius. The new value of the extracted proton radius is 0.864 fm. The effect of this correction on the calculated neuron star radius is trivial.
doi:10.1088/1742-6596/771/1/012053 References

Papers
012001
An experiment to detect Allais effect around total solar eclipse of 9 March 2016
Putra Mahasena, Mochamad Irfan, Agus Setiawan, Maman Sulaeman and Taufiq Hidayat
012002
Influence of Partial Solar Eclipse 2016 on the surface gravity acceleration using photogate sensor on Kater’s reversible pendulum
M G Nugraha, D Saepuzaman, F N Sholihat, S Ramayanti, A H Setyadin, A R Ferahenki, A Samsudin, J A Utama, H Susanti and K H Kirana
012003
Micro-gravity measurements during the total solar eclipse of 9 March 2016 in Indonesia
Agus Laesanpura, Taufiq Hidayat, Dady Abdurachman, Putra Mahasena, Premana W. Premadi, Hesti Wulandari, Yudi Suharyadi and Achmad Sjarmidi
012004
Preliminary results of the solar corona spectroscopic observation of 9th March 2016 Total Solar Eclipse
Emanuel Sungging Mumpuni, Muhamad Zamzam Nurzaman and Nana Suryana
012005
Ludendorff coronal flattening index of the total solar eclipse on March 9, 2016
Tiar Dani, Rhorom Priyatikanto and Abdul Rachman
View abstract View article PDF
012006
Imaging and spectroscopic observations of the 9 March 2016 Total Solar Eclipse in Palangkaraya
Abdul Majid Al Kholish, Imanul Jihad, Irham Taufik Andika, Evaria Puspitaningrum, Fathin Q. Ainy, Sahlan Ramadhan, M. Ikbal Arifyanto and Hakim L. Malasan
012007
Prominence measurement of total solar eclipse: March 9th 2016, Ternate, Indonesia
Luthfi Naufal, Fargiza Abdan Malikul Mulki, Siti Fatima, Widyanita, Saffanah Zahirah, Christoforus Dimas Satrya and Dhani Herdiwijaya
012008
White light corona during total solar eclipse on March 9, 2016
Irfan Imaduddin, Evan I Akbar and Gerhana P Putri
012009
Analysis on atmospheric pressure, temperature, and wind speed profiles during total solar eclipse 9 March 2016 using time series clustering
Lala Septem Riza, Yaya Wihardi, Enjang Ali Nurdin, Nanang Dwi Ardi, Cahyo Puji Asmoro, Agus Fany Chandra Wijaya, Judhistira Aria Utama and Asep Bayu Dani Nandiyanto
012010
The influences of solar radiation changes on the meteorological variables during the total solar eclipse of 9th March 2016 in Central Bangka, Indonesia
Ryantika Gandini, NanangDwi Ardi and M. Iid Mujtahiddin
012011
A meteorological study of the sea and land breezes in Bangka Indonesia during the total solar eclipse on March 9, 2016
Nanang Dwi Ardi, Yuyu Rachmat Tayubi, Ryantika Gandini, Cahyo Puji Asmoro, Dini Nurfiani, Agus Fany Chandra Wijaya and Taufik Ramlan Ramalis
012012
Zenith sky brightness and celestial objects visibility during total solar eclipse on March 9, 2016 at Terentang Beach Bangka Island
A F C Wijaya, C P Asmoro, A A Rochman, T R Ramalis, J A Utama, N D Ardi, Amsor, M G Nugraha, D Saepuzaman, A Sutiadi and D Nurfiani
012013
The sky brightness measurement during the 2016 solar eclipse in Ternate
Yudhiakto Pramudya and Muchlas Arkanuddin
012014
Impacts of the total solar eclipse of 9 March 2016 on meteorological parameters in Ternate
R Satyaningsih, E Heriyanto, Kadarsah, TA Nuraini, J Rizal, A Sopaheluwakan and E Aldrian
012015
Identification of moon craters and solar corona during total solar eclipse on 9th March 2016
Luthfiandari, N Ekawanti, F G Purwati and D Herdiwijaya
View abstract View article PDF
012016
Investigation the effect of total solar eclipse March 9, 2016 on tidal elevation study cases: Bangka and Belitung islands
I M Radjawane, E M Simanjuntak, A F Adziima and I Sofian
012017
The effect of total solar eclipse on the daily activities of Nasalis larvatus (Wurmb.) in Mangrove Center, Kariangau, East Kalimantan
Sya Sya Shanida, Tiffany Hanik Lestari and Ruhyat Partasasmita
View abstract View article PDF
012018
Astronomy in Buginese-Makassarese culture based on historical and ethnographical sources
N Hasanah and D A Suriamihardja
012019
OPEN ACCESS
Pawukon: from incest, calendar, to horoscope
Agustinus Gunawan Admiranto
012020
The Assembled Solar Eclipse Package (ASEP) in Bangka Indonesia during the total solar eclipse on March 9, 2016
Cahyo Puji Asmoro, Agus Fany Chandra Wijaya, Nanang Dwi Ardi, Arman Abdurrohman, Judhistira Aria Utama, Asep Sutiadi, Hikmat, Taufik Ramlan Ramalis and Bintang Suyardi
012021
Tutulemma of near equator Partial Solar Eclipse 2016
F Mumtahana, Sartika, A G Admiranto, E Sungging, M Z Nurzaman, R Priyatikanto and T Dani
012022
UNAWE Indonesia project: raising total solar eclipse 2016 awareness through educational packages
A. T. Handini, Y. Yulianty, P. W. Premadi and A. Annafi
012023
Public outreach and education during the 2016 total solar eclipse in Palu and Malang
A P Rachmadian, C Kunjaya, W Wahono and A A Anugrah
012024
Outreach activities in anticipation of the 2016 solar eclipse in Sorong
Endra Putra Raharja and Yudhiakto Pramudya
012025
Utilising Raspberry Pi as a cheap and easy do it yourself streaming device for astronomy
F Maulana, W Soegijoko and A Yamani
012026
Measuring the level of public understanding of total solar eclipse from the mass media: Palembang as sample
F. G. Purwati, N. Ekawanti, Luthfiandari and P. W. Premadi
012027
The use of astronomy questions as an instrument to detect student’s misconceptions regarding physics concepts at high school level by using CRI (Certainty of Response Index) as identification methods
D N Utami and H R T Wulandari
012028
Cluster compaction of two-dimension spherical particles binary mixture as model of forming process of an asteroid
S Viridi and B Dermawan
012029
On the nature of type 1 AGN: emission properties and correlations
Irham Taufik Andika, Mochamad Ikbal Arifyanto and Wolfram Kollatschny
012030
Spectroscopy and Photoionization Model of Planetary Nebulae: NGC 6543 and NGC 7662
Evaria Puspitaningrum, Hakim Lutfi Malasan and Hideyo Kawakita
012031
Membership determination of open cluster with parametric method: cross entropy
Itsna Khoirul Fitriana and M. Ikbal Arifiyanto
012032
Search for streams in thick disk and halo of the Milky Way
Dian Puspita Triani and M Ikbal Arifyanto
012033
Sky brightness and twilight measurements at Jogyakarta city, Indonesia
Dhani Herdiwijaya
View abstract View article PDF
012034
Coronal structure analysis based on the potential field source surface modeling and total solar eclipse observation
Johan Muhamad, Farahhati Mumtahana, Heri Sutastio, Irfan Imaduddin and Gerhana P. Putri
012035
Analysis of ionospheric irregularities during total solar eclipse 2016 based on GNSS observation
A Husin, Jiyo, S Anggarani, S Ekawati and V Dear
012036
Effect of March 9, 2016 Total Solar Eclipse on geomagnetic field variation
Mamat Ruhimat, Anton Winarko, Fitri Nuraeni, Harry Bangkit, M. Andi Aris, Suwardi and Sulimin
012037
Changes of NmF2 and hmF2 over Biak (1°S, 136°E) during total solar eclipse on March 9, 2016
Sefria Anggarani, Jiyo Asnawi, Varuliantor Dear and Sri Ekawati
012038
Stellar background observation during Total Solar Eclipse March 9th 2016
Farahhati Mumtahana, Anton Timur Jaelani, Johan Muhamad and Heri Sutastio
012039
The 2016-2100 total solar eclipse prediction by using Meeus Algorithm implemented on MATLAB
A Melati and S Hodijah
012040
The determination of area and time comparison of the partial solar eclipse at space science center, LAPAN
S Filawati, Gammamerdianti, E E Hidayat, Y Suryana and R Kesumaningrum
012041
Prototype of sun projector device
Ihsan and B Dermawan
012042
Chasing the shadows, a trip to spice island
A Yamani, W Soegijoko, A A Baskoro, R Satyaningsih, F M Simatupang, F Maulana, J Suherli, R Syamara, L Canas, T Stevenson, F Oktariani, I Santosa, F Ariadi, N Carvalho and K Soegijoko

012043
A perspective about the total solar eclipse observation from future space settlements and a review of Indonesian space researches
D Sastradipradja, F M Dwivany and L Swandjaja
012044
Total solar eclipse education for young generation at Palangkaraya, Central Kalimantan
S Fatima, Widyanita, H Fahriyah, A K Rhodiyah, C D Satrya, M Hilmi, G E Ramadhania, L Naufal, F A M Mulki and D Herdiwijaya
012045
Effect of microgravity simulation using 3D clinostat on cavendish banana (Musa acuminata AAA Group) ripening process
Fenny Martha Dwivany, Rizkita R. Esyanti, Adeline Prapaisie, Listya Puspa Kirana, Chunaeni Latief and Ari Ginaldi
012046
Physical, chemical and biological characteristics of space flown tomato (Lycopersicum esculentum) seeds
Rizkita R. Esyanti, Fenny M. Dwivany, Maria Almeida and Leonita Swandjaja
012047
Relation between cloud thickness-cloud number concentration differences and rain occurrence based on Koren-Feingold model
R Sulistyowati, S Viridi, R Kurniadi and W Srigutomo
012048
The Effect of atmospheric humidity level to the determination of Islamic Fajr/morning prayer time and twilight appearance
Nihayatur Rohmah
012049
Analysis of high altitude clouds in the martian atmosphere based on Mars Climate Sounder observations
L Puspitarini, A Määttänen, T Fouchet, A Kleinboehl, D M Kass and J T Schofield
012050
Perturbation of circumsolar dust ring on stability of Sun- Earth triangular libration points
B Dermawan

012051
Study of stability of mean-motion resonances in multiexoplanetary systems
M Handayani and B Dermawan
012052
The locations of triangular equilibrium points in elliptic restricted three-body problem under the oblateness and radiation Effects
Ibnu Nurul Huda and Budi Dermawan
012053
Update on the impact of the proton radius on the neutron star radius
T Mart and A Sulaksono
012054
The spectral evolution of nebular phase from Nova V5668 Sgr
Robiatul Muztaba, Hakim L. Malasan and Akira Arai
View abstract View article PDF
012055
Evolution effect of BD+60°2522 to Bubble Nebula NGC 7635
Aprilia and I A Arfianty
012056
Constraining cosmological parameter with SN Ia
A N Indra Putri and H R Tri Wulandari
012057
Study of correlation between ultraluminous X-ray sources and their host galaxies
I G P M Priajana and H R T Wulandari

DAPATKAH MANUSIA MENCAPAI USIA SANGAT LANJUT, MALAHAN HIDUP ABADI?

Mengenang Sumbang tulis yang dimuat di
Buletin Lansia Veteriner Surabaya, Nomor Juni dan Nomor Agustus 2011

dws

DAPATKAH MANUSIA MENCAPAI USIA SANGAT LANJUT, MALAHAN HIDUP ABADI?
Ign. M. D. Sastradipradja
(Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia,Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar)

Terinspirasi oleh sumbangtulis dalam rubrik Humoria dari rekan lansiawan Sukardi Hastiono, Bogor (Bul. No. 48 th IX, Febr 2011 hal. 92-93) berjudul Awal Penciptaan Makhluk, yang isi ringkasnya makhluk-makhluk diciptakan dengan jatah potensi lama hidup yang melebihi waktu umur nyata makhluk-makhluk itu yang dijalani lebih pendek dari potensi-jatahnya dan bahwa kemudian manusia memohon kepada Sang Pencipta untuk menambahkan pada usia manusia kelebihan-kelebihan potensi umur makhluk lain yang tidak digunakan. Dengan demikian usia manusia menjadi cukup panjang mencapai bentangan usia hingga angka 75 tahunan. Tetapi konsekwensinya untuk setiap tahap penambahan itu terbawa pula sifat makhluk donor tersebut yang ikut diterima manusia, sehingga ada tahapan dalam hidup manusia itu yang sifatnya mirip sapi yaitu pada usia produktif bekerja membanting tulang, kemudianmirip monyet pada usia cucu-cucunya mulai di-emong. Si kakek/nenek jadi sumber riang gembira keluarga, dan tahap akhirnya mirip anjing harus waspada terus berjaga-jaga agar tidak sakit-sakitan.Sumbang-tulis dari penulis sekarang ini semoga dapat dimuat Buletin Lansia kita sekitar pertengahan tahun ini menjelang diselenggarakannya oleh AIPI:International Conference on Society, Technology, and The Aging Process, pertengahan October 2011, di Bali, Indonesia. Dengan demikian suatu tulisan mengenai penuaan semoga dapat membantu mensosialisasi akan diselenggarakannya pertemuan tersebut. Sumbangtulis ini juga dimaksudkan sebagai ungkapan terima kasih penulis atas perhatian pimpinan dan redaksi Buletin Lansia Veteriner beserta seluruh sidang pembaca atas perhatian dan doa- selamat atas usia sepuluh windu penulis pada tahun 2010. Kamsya Hamida!
Dari pengalaman kita sehari-hari memang benar bahwa manusia itu mendambakan usia yang panjang. Ingat saja bahwa pada saat kita saling berjumpa, tidak akan lupa kita saling menanyakan khabar keadaan dan kesehatan kita masing-masing dan sewaktu berpisah kita saling mengucapkan salam dan mendoakan agar dikarunia kasih berkah rakhmat kesehatan dan kesejahteraan lahir dan batin dari YME bagi kita semua. Pada ucapan Selamat Ulang Tahun pasti tidak lupa kita mendoakan dan mengucapkan harapan semoga panjang umur. Jadi tidak salah lagi kalau kita simpulkan bahwa umat manusia mendambakan usia panjang. Meskipun kemudian, toh kita menyerahkan semuanya itu kepada penyelenggaraan IlahiYang Diatas, kita berserah diri sepenuhnya, tetapi manusiapun tidak lepas dalam berikhtiar diri untuk mencapai kesehatan yang prima lebih-lebih di usia senja.Buktinya lagi, isi buletin lansia kita ini banyak yang membincangkan perihal upaya-upaya hidup sehat dan benar yang message-nya tidak lain mencapai usia panjang hingga kaken-kaken/ninen-ninen. Mulai dari melakukan berdoa, meditasi, senam sehat, senam tertawa, konsumsi vit Q-10, bekatul dan suplemen lain, propoli,anti-oksidan, acara temu-kangen dengan beraneka ceramahnya dst. Tetapi usia panjang disini bukanlah berarti mengumpulkan tambahan angka-angka tahun semata-mata yang justru akan makin membebani dan memperpanjang derita oleh tubuh yang semakin renta dan sakit-sakitan. Bukan itu arti harapan usia panjang, bukan usia chronologis yang bertambah tahun secara harafiah saja, melainkan pertambahan yang disertai kemampuan fungsional yang meningkat, artinya bertambah usia fisiologisnya menjadi awet fungsional awet muda dan malahan secara fungsional kalau dapat, meningkat. (Mentang-mentang sewaktu tugas aktifnya dulu mengajar matakuliah fisiologi ya ngomongnya jadi macam begini! Tapi kan sarat optimisme toh?). Karena itu doa-harapannya ya tidak hanya usia panjang tetapi juga sehat jasmani-rohani.
Setelah pendahuluan yang cukup panjang ini, mari saya bawa para pembaca kepada isyu upaya manusia (kita sekarang bicara ilmiah populer dan falsafah sedikit, mohon maaf ya!), untuk memperpanjang umur yang sehat rohani-jasmani mendambakan longevity. Pertama-tama kita bicara akan apa proses menua (aging) itu. Tetapi sebelumnya kita perlu mengingat kembali sewaktu belajar fisiologi dulu, kita diajar bahwa organisme hidup itu selamanya akan terpapar kepada rangsangan-rangsangan yang diterima dari lingkungan luar tubuh maupun dari lingkungan dalam makhluk itu sendiri. Walaupun demikian kita melihat bahwa kehidupan memiliki upaya-dayanya sendiri untuk mempertahankan hidupnya agar tetap berjaya yang merupakan azas kemampuan pada tingkat individu maupun tingkat sosial bersama (mempertahankan individu,jenis, bangsa) berkat dimilikinya daya-daya pengaturan (regulasi), penyesuaian diri (adaptasi) dan daya kompensasi menggantikan fungsi yang hilang. Daya-daya macam inilah,termasuk kemampuan reproduksi,yang menggerakkan mekanisme pengaturan dan reparasi yang dikenal dengan istilah homeostasis. Jadi di waktu hidup normal maupun sakit, mekanisme perbaikan dan penggantian fungsi yang mengalami ketunaan itu senantiasa akan mengusahakan agar tubuh menjadi normal dan sehat kembali mengupayakan kelangsungan hidup, paling tidak memperpanjangnya. Di dalam tubuh pengaturan dalam arti luas itu tidak hanya jasmaniah tetapi spiritual juga (brain plasticity), terutama diselenggarakan oleh sistem syaraf dan sistem endokrin. Sistem syaraf yang terdiri atas sistem syaraf pusat (SSP) yaitu otak dan sumsum tulang belakang terdiri atas sel-sel syaraf (neuron) tersambungsecara jaringan tali-temali syaraf dari SSP ke sel-sel di pelosok tubuh (perifer) membentuk susunan syaraf perifer (SSPe) sensoris maupun motoris.Sistem syaraf pada dasarnya mengalirkan rangsangan (suatu fenomena listrik) impuls sinyal syaraf tetapi kemudian dibantu oleh neuro-transmitter(= zat pengantar syaraf) pada hubungan-hubungan ujung syaraf-syarafnya maupun dengan sel-sel yang disambunginya. Sistem pengaturan yang kedua di tubuh adalah sistem endokrin atau hormon hasil kelenjar-kelenjar hormon. Jadi toh pada akhirnya, pengaturan tubuh itu dilakukan memakai hormon dan neurotransmiter yaitu zat-zat kimia terlarut (disebut kemudian sistem gabungan neuro-humoral) yang akan mengatur kerja-kerja (mengaktifkan/menghambat) berbagai molekul protein fungsional seperti enzim, channel protein, protein membran dsb. Dalam pengertian hormon itu termasuk juga zat-zat pengatur lokal (hormon lokal) di periferi yang bekerja untuk tujuan khusus di suatu daerah terbatas saja.Hormon-hormon merangsang pertumbuhan fisik, mengkordinasi jaringan berbagai fungsi di semua organ tubuh, menyeimbangkan proses-proses metabolisme tubuh dan berperan pada keadaan sehat jasmani dan rohani. Hormon-hormon kunci ada sekitar 8 yaitu hormon pertumbuhan (human growth hormon =HGH), melatonin, hormon kelenjar gondok (T3, T4, tiroxin), insulin, dehydroepiandrosterone (DHEA) hasil kelenjar adrenal, estrogen dan progresteron (kelenjar betina) dan testosteron (kelenjar jantan). Pada usia 70 tahunan produksi hormon-hormon ini sangat menurun dibandingakan dengan pada usia menjelang 30 th. Keadaan kekurangan produksi hormon ini yang menyebabkan terjadinya kelainan-kelainan fisiologis pada penuaan seperti impotensi, menurunnya fungsi kognitif sensoris maupun motorik, peningkatan resiko penyakit kardiovaskuler, peningkatan timbunan lemak di perut dan dada, insulin resistance dan diabetes, rambut menipis dan ubanan, kelainan dan nyeri sendi-sendi, penurunan fungsi ginjal-hati-jantung dan paru-paru, dan kulit menjadi kering, keriput, timbul garis-garis dan kerut-kerut ketuaan di wajah. Sedangkan perubahan psikologis adalah lesu, depresi, kehilangan nafsu sex, memperlihatkan sikap-sikap negatif,penurunan daya konsentrasi, peka-iritasi, emosi yang berayun, merasa terisolasi secara sosial. Faktor-faktor lain yang menyebabkan penuaan juga penting a.l. makan tidak sehat tidak seimbang terlalu banyak carbs (=karbohidrat), kurang berolah-raga, minum alkohol yang berlebihan, dampak sampingan pemakaian obat-obatan, stres mental, merokok dan masalah-masalah psikologis.
Menua (aging) itu adalah suatu keadaan pada diri kita yang mengalami kemunduran keadaan/kemampuan mental dan fisik yang tidak terelakkan datang. Bolehlah dikatakan bahwa menua itu merupakan penyakit. Tetapi menua adalah proses yang sebenarnya dapat diatasi, dibetulkan (diobati) dan dicegah. Dengan memanfaatkan homeostasis tubuh dengan daya-dayanya yang disebutkan tadi, hingga tingkatan tertentu kita dapat mengikhtiarkan pembalikan proses degenerasi penuaan. Kini dikenal dalam dunia kesehatan upaya-upaya dengan istilah regenerative medicine, juvenation (memudakan/meremajakan kembali), menangani aging sbg treatable disease, hormonal replacement therapy dsb.
Apa yang dapat kita lakukan untuk menghentikan perubahan-perubahan akibat proses penuaan? Ilmu pengetahuan dan dunia kedokteran/biologikini telah berkembang pesat sedemikian rupa sehingga banyak penyakit yang sudah dapat dikenali penyebabnya dan ditemukan terapi-terapi untuk menghambat proses penuaan, mengubahnya dan jikalau mungkin mencegah terjadinya proses-proses degeneratif terkait penuaan. Sangat dianjurkan untuk melakukan pendekatan holistik dalam pengelolaan kesehatan dan penuaan. Dengan demikian tindakannya adalah kombinasi mengambil manfaat dari cara hidup sehat dan manfaat kedokteran regeneratif. Kini sudah banyak dokter yang ahli menangani proses penuaan. Juga dikenali kenyataan bahwa munculnya kelainan biologis tidak selalu paralel dengan usia khronologisnya. Pada usia mudapun kadang-kadang fenomena degenerasi sudah timbul. Karena itu sebagai pedoman secara garis besar pada umur 0-9 th, kita sudah harus melakukan tindakan-tindakan preventif (memilih pola hidup sehat), 10-19 th, perlu berkonsultasi dengan dokter anti-aging, 20-29 th, siapkan segera program anti penuaan, >30 th, datangilah segera dokter ahli anti-aging untuk minta jasa pertolongannya.
Berkaitan dengan kemajuan iptek kini yang bertalian dengan kesehatan dan pemanjangan umur (longevity), maka timbullah pertanyaan bagaimanakah prospek upaya pencegahan proses penuaan di masa depan jangka dekat ini. Mencermati sejarah perkembangan iptek sejak masa prasejarah hingga sekarang ini ternyata semakin mendekati masa kini, kecepatan perkembangan/kemajuan ipteksemakin cepat. Zaman berburu yang kemudian berubah menjadi zaman bertani/bercocok tanam berlangsung ribuan tahun, tetapi disusul oleh kemajuan peradaban berikut-berikutnya yang berlangsung makin lebih cepat. Manusia ingin terbang didambakan sejak awal sejarah manusia, tetapi baru Leonardo da Vinci di abad pertengahan (1500an) membuat skema membayangkan manusia terbang dengan alat bantu sayap yang difikirkan digerak-gerakkan menirukan kepak-kepak sayap burung. Beberapa abad kemudian ide terbang itu disempurnakan mengubah rancangan sayap yang tidak bergerak untuk kemampuan luncur dan tenaga diperoleh dari putaran baling-baling, lebih kemudian lagi tenaga jet. Dari prototipe awal sehingga hadirnya pesawat concorde relatif sangat cepat dan kini teknologi dirgantara itu sudah berkembang makin dipercepat. Ditahun 1967-an sewaktu saya menyelesaikan disertasi di USA, di kampus UC Davis baru ada sebuah komputer yang diakomodasi dalam gedung cukup besar khusus ber-AC dan pirantinya terutama adalah tabung-tabung elektronik yang makan ruangan. Kalau kita memerlukan memakai komputer tersebut maka harus mengantre dan kita harus mampu membuat program komputer untuk kegunaan kita sendiri. Maka menjadi mode bahwa di kampus tumbuh kegiatan ikut course membuat program komputer (mis. Fortran IV). Sewaktu th 1976 saya sempat kembali ke kampus tersebut, maka ternyata telah dipakai PC portable malahan untuk semua mahasiswa yang ujian masing-masing disediakan sebuah PC dan ujian & jawaban dan pemeriksaan hasil ujian dilakukan on line.Imbas perkembangan komputer ini di Indonesia tentu juga sangat terasa dan makin lama makin canggih berkat penerapan paradigma miniaturisasi. Kini laptop atau notebook berukuran kecil tetapi berkapasitas ratusan GB umum dipakai di mana-mana, tentu termasuk di bidang kesehatan dan kedokteran. Program-program komputer tidak perlu bikin sendiri karena kini tersedia softwares untuk berbagai keperluan. Perkembangan yang makin dipercepat itu (exponensial) dikenal dengan istilah accelerating growth dan teknologi pendukungnya terutama di bidang elektronika,komputasi dan biologi molekul. Internal circuits berbentuk mini karena dipakainya bahan-bahan semikonduktor dan pembuatannya memakai nanoteknologi. Sekwensing genom manusia programnya 15 tahun, di awalnya waktu sudah berjalan 7 tahun, tetapi baru 1% target yang tercapai. Meskidemikian berkat terjadinya kecepatan perkembangan meningkat 2 x dari tahun sebelumnya, maka tugas 99% yang masih harus dikerjakan itu dapat diselesaikan tepat waktu. Sekwensing HIV berlangsung selama 15 tahuntetapi untuk SARS komplit hanya dalam 31 hari saja. Selain itu juga cara kerja DNA pada sistem biologi yang memakai sistem sandi itu juga dapat ditirukan dan dipakai untuk keperluan berbagai produk manufaktur. Tidak lama lagi pasti akan dapat dibuat komputer yang besarnya sangat mini sebesar sel darah merah sudah komplit kapasitasnya yang mudah disuntikkan kedalam tubuh melalui pembuluh darah dan berlabuh mencapai jaringan target. Alat itu dapat berfungsi sebagai sensor mendiagnose kelainan yang ada, kemudian komputer juga dibekali program untuk menangani (terapi) kelainan yang dikesan tersebut. Perkembangan exponensial dari teknologi a.l. terjadi pada
o Kecepatan waktu mikroprosesor
o Transistor-transistor per mikroprosesor
o Penampilan prosesor
o Penampilan harga RAM dinamik membaik secara exponensial
o Random Access Memory bits per dolar
o Magnetic data storage bits per dolar
o Penampilan harga pelayanan Internet dan telepon nirkabel
o Jumlah sitasi ilmiah dalam riset teknologi nano, dsb.
Sedangkan kebalikanya secara eponensial terjadi (makin rendah yang mengagetkan juga!) untuk harga rata-rata transistor, biaya manufaktur transistor, besar RAM dinamik, harga mikroprosesor, ongkos sekwensing DNA per pasangan basa, dll.
Diramalkan bahwa pada tahun-tahun tidak terlalu jauh kedepan ini sudah akan dicapai kemampuan-kemampuan berikut:
2010 (sudah terjadi?): Superkomputer akan mempunyai kekuatan kasar seperti otak manusia, meski perangkat lunaknya belum menyamai. Banyak komputer akan berubah bentuk, kecil dan dapat disembunyikan di lipatan baju, dsb.
Tahun 2010-an: Komputer bentuknya makin mini, dapat dibuat kacamata yang mampu memantulkan pencitraan ke retina manusia yang menghasilkan kesan seperti nyata (virtual reality = VR), VR dapat dilengkapi dengan komputer menjadi mampu menyediakan virtual assistance(VA) programs, yang dapat membantu pengguna dalam pekerjaannya sehari-hari, lalu menciptakan keadaan augmented reality.Misalnya pengguna yang memakai kacamata tersebut, karena juga dilengkapi dengan sound system canggih dan kemampuan penerjemahan shingga pengguna dapat mengikuti pembicaraan dalam bahasa asing yang dapat dimengertinya karena pada layar kacamata itu tertulis teks terjemahannya.
2018-2020-an: Memori komputer mencapai 10 Tb (= 1013 bit) yang kasarnya sama dengan ruang memori otak manusia dan harganya $1000. PC akan mempunyai kemampuan seperti otak manusia. Dalam era 2020-an besar komputer mengecil berukuran 100 nm saja. Alat-alat semacam ini dinamakan mesin nano, nanorobot, nanobot dst akan pertama-tama digunakan di bidang kedokteran dan menemukan aplikasinya dalam penindaan (scanning) otak pasienin vivo, sehingga kerja otak manusia dapat difahami. Kemudian, nanobots yang dapat dimasukkan ikut mengalir dalam peredaran darah akan mensupply “makanan” dan mengambil limbah sel dimungkinkan pada akhir dekade tersebut. Jadi manusia demikian tidak lagi bergantung kepada metabolisme konvensionalnya melainkan sudah berubah lepas dari mekanisme metabolisme normal dan menjadi humanoid cybernetic organisms (nanobot menyerupai manusia) dan sebagian besar manusia akan menjadi seperti itu (tentunya tergantung kepada tersedianya dana yang diperlukan, yang miskin tetap tidak kebagian kesempatan dan tetap terpinggirkan). Proses berlanjut mempengaruhi ekonomi dari berbagai macam produk dan yang mempunyai nilai sebenarnya adalah kebutuhan waktu, untuk mengunduh program rancangan pembuatan produk tersebut.Perkembangan itu makin menjadi-jadi sehingga VR tak bedanya lagi dengan realitas yang sebenarnya. Penanganan penyakit infeksi, pengenalan berbagai/semua kelainan dengan sensormini yang maha akurat tercipta, dan jangan kaget kalau kemudian kita berhadapan dengan zaman artificial (general) intelligence (AI/AGI) yaitu piranti “komputer” yang dapat berfikir seperti manusia yang diramal akan mulai ujud pada 2029 meski kemampuannya, dari bentuk-bentuk awal masih seperti anak-anak TK.Perkembangan ini akan makin “menggila” tak terfahami dengan menggunakan kemampuan daya-fikir manusia masa kini, yaitu akan terciptanya masa singularity di tahun 2045. Mesin nano dalam otak manusia akan memampukan mereka meningkatkan kapabilitas kognitif, memori dan sensoris untuk secara langsung melakukan interface dengan komputer, dan terciptalah komunikasi telepati antara sesama, jadi melalui jaringan nirkabel. Semua zat menyatu menjadikan satu bentuk inteligen tunggal yang makin membesar/menyeluruh merambah ruang angkasa merajai universe/alam semesta.
2045: The Singularity mulai tercipta.Buletin ini tidak cukup menyediakan ruangan untuk bicara mengelantur mengenai topik yang dibahas ini. Pembaca dipersilahkan untuk membuka internet dan membaca tulisan-tulisan: ALL Articles© 2010 KurzweilAINetwork (http://www.kurzweilai.net/articles) yang secara visioner mendiskusikan dengan cara ilmiah dan falsafah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Bagi mereka yang membaca majalah Time (USA) (info dari Prof. Murdiyarso yg sdh membacanya), maka pertengahan Februari 2011 majalah tersebut mengangkat sebagai cover story topik Singularity Kurzweil ini bersama peranan enzim telomerase dari khromosom (hadiah Nobel fisiologi/kedokteran 2009 kepada Elizabeth H. Blackburn, Carol W. Greider & Jack W. Szostak). Mengenai telomerase sendiri, ia adalah enzim untuk pembentukan telomere, cap=topi pada ujung chromosom yang pada pembelahan sel (mitosis) sukar ikut terbentuk oleh kekurangan telomerase,telomer makin memendek dengan usia, sebaliknya aktivitas telomerase malahan makin giat pada sel-sel kanker (yang kita beri julukan punya sifat mampu hidup abadi itu). Telomerase menduduki posisi amat penting dalam proses penuaan. Pada era mendatang itukecepatan berfikir manusia mempunyai kemampuan 109 kali kecepatan kini.
Kembali ke pembicaraan kita mengenai usia panjang sampai abadi maka ada beberapa buku yang bagus untuk dibaca, yaitu pertama: Ray Kurzweil & Terry Grossman (2004). Fantastic Voyage: Live Long Enough to Live Forever. Rodale Books, ISBN 1-57954-954-3.Grossman adalah seorang MD ahli gerontologi, sedangkan Kurweil (yang tulisan-tulisannya saya anjurkan untuk disimak diatas) adalah seorang ilmuwan komputer, pengembang perangkat lunak komputer, inventor, ahli falsafah, dan salah seorang tokoh yang memimpin dalam berfikir mengupayakan pemanjangan hidup secara radikal. Ia membina diri menekuni falsafah mencari kebenaran yang dikaitkan dengan daya kemampuan berfikir manusia. Buku ini sangat mempesona yang mengulas pemanjangan waktu hidup dengan mencontohkan pengalaman para penulis itu sendiri. Pendekatan mereka menelaah kesehatan dan pemanjangan umur itu mengkombinasikan pengetahuan medis praktis terkini dengan perspektif visiuner yang akan terjadi secara penalaran berfikir. Saya belum berkesempatan membaca karya aslinya karena tiada dana pengadaan buku pada diri saya serta tiada sponsor yang mendanai pencarian literatur di internet nir-biaya (karena sudah digolongkan pribadi yang tua-renta tak berguna lagi), tetapi untunglah bahwa karena topiknya itu termasuk sangat penting menarik dan diperlukan sebagai pengatahuan umum, maka di internet beredar banyak ulasan, excerpts,isi ringkas dll sekitar karya itu maupun buku karya Ray Kurzweil yang lebih baru 2005 The Sngularity Is Near, dan follow-up:Fantastic Voyage, Transcend: Nine Steps to Living Well Forever, di edarkan April 28, 2009.Toko buku AMAZON pun berjasa dalam upaya sosialisasi isi buku-buku semacam itu. Saya menyarikan informasinya dari Wilkipedia dan dari wawancara dengan Ray Kurzweil oleh David Jay Brown (Reprogramming your Biochemistry for Immortality: An Interview with David Brown) yang dapat dibaca lengkap secara jelas dan nir-ongkos.Ide dasarnya adalah jika ada seorang yang usianya kini menjelang usia pensiun normal usia awal 50-an,berusaha mampu untuk berumur mencapai sekitar 120 tahun, maka mereka mempunyai kesempatan untuk hidup selamanya sebab mereka memperoleh manfaat dari keadaan dimana semua penyakit dapat ditanggulangi dan proses menjadi tua juga teratasi yang akan terjadi dalam 20-50 tahun saja lagi.Ini akibat telah diketahuinya secara lengkap genom manusia dan difahami dasar genetika dari penyakit-penyakit.Dari pengalaman Kurzweil sendiri yang berusia 57 th waktu itu diceriterakan bahwa selama 17 th terakhir usianya meningkat dari 40 th, ia hanya menjadi 3 th lebih tua. Dari wawancara itu terungkap bahwa keadaan hidup abadi di masa mendatang itu akan dicapai melalui 3 “jembatan” (jalur penghubung).
Dalam wawancara disebutkan diatas yang dimaksudkan dengan jembatan pertama untuk mencapai pemanjangan umur adalah secara “tanpa keraguan” (=aggressive) menerapkan pengetahuan kini, yang tentunya berubah senantiasa bertambah, jadi program kesehatannya tidak statis tetapi senantiasa disetel lebih halus (fine tuning). Termasuk didalamnya pengetahuan hidup sehat, memakai berbagai macam suplemen, menjalani terapi-terapi dan pencegahan medis dan melakukan berbagai uji kesehatan. Tetapi ingat, banyak pakar/pemberi jasa gadungan yang bukannya memberi barang/jasa jujur-manjur melainkan advertensi berlebihan untuk mencari keuntungan. Jembatan kedua adalah ikut dalam revolusi bioteknologi, jadi kita dengan sadar mengikuti perubahan yang exponensial dan bukan linier. Dalam satu– 1.5 dasawarsa dari sekarang kita sudah mencapai tahapan pengobatan dan terapi-terapi sel (gen) yang memungkinkan memprogram-balik kesehatan kita. Untuk memahami upaya-upaya pada era tsb kita perlu memanfaatkan kenyataan bahwa di semua sel tubuh kita itu dilengkapi material gen (DNA) yang lengkap, tetapi hanya pada sel berfungsi khusus (misalnya sel  Langerhans pankreas) yang menghasilkan insulin, sedangkan sel-sel tubuh lainnya tidak mampu meskipun gennya ada di semua sel. Hal ini berarti bahwa alam menyediakan kelimpahan DNA dan kenyataan ini perlu disadari dan dimanfaatkan melalui kemampuan daya-fikir manusia untuk memfungsikan kehadiran gen itu. Dengan mengaktifkan “gen insulin” dari kulit melalui pemberian suatu mRNA yang cocok maka gen tersebut dapat diaktifkan dan dibiakkan secara biakan sel in vitro dan dapat dipakai menggantikan gen DNA pankreas yang rusak/tak berfungsi. Proses sebaliknyapun, yaitu menghambat fungsi gen aktif dapat dilakukan. Upaya-upaya demikian dinamakan trans-diferiensiasi (trans-differientiation). Selain terkait dengan perbaikan terhadap fenomena penuaan, saya melihat adanya peluang untuk menggunakan teknologi pemograman melalui transdiferiensiasi untuk meningkatkan produktivitas ternak/satwa tempatan (indigenous)menjadikan mereka bersifat unggul dan menambah comparative advantage kegunaan bangsa-bangsa ternak/satwa ini. Jembatan ketiga adalah nanoteknologi. Inilah zaman ke-emasan yang akan dicapai dalam 20 tahun mendatang. Nanobots tercipta yang besarnya sebesar sel darah merah yang dimasukkan kedalam tubuh dan mengawal kita dari dalam agar sehat. Konon saat kinipun telah mulai dilakukan experimen awal pada tikus dan biakan jaringan (biologi-fisiologi-kedokteran experimen). Dilaporkan adanya seorang ilmuwan menyembuhkan diabetes tipe I pada tikus memakai kapsul yang dirancang secara nano dan berpori-pori se-renik 7nm. Alat ini dapat mensuplai insulin secara terkontrol dan menahan (memblok) antibodi. Perg. Tinggi MIT di USA juga punya proyek membuat alat nano besarnya lebih kecil dari sel yang mampu mendeteksi secara spesifik antigen yang hanya dibuat oleh semacam sel kanker tertentu. Setelah mendeteksi, ia melekat dan terpendam dalam sel target. Sesaat kemudian alat itu mengeluarkan toksin yang membunuh sel kanker tersebut. Meskipun baru percobaan in vitro, tapi sekejap saja lagi proses in vivo tentu akan ujud.Dengan kecepatan perkembangan exponensial, maka dalam kurun waktu 25-an tahun mendatang teknologi komputasi-komunikasi, dan pemahaman kita mengenai biologi akan bertambah lipat-milyaran kali dari keadaan kini. Nanobots akan mampu meningkatkan sistem imun tubuh dengan membinasakan patogen-patogen, dapat memperbaiki kesalahan DNA, membuang limbah dan membalikkan proses terjadinya arteroskerosis. Apa yang belum dapat diselesaikan dengan bioteknologi, manusia dapat mengusahakannya melalui nanobots berukuran sel darah. Tidak hanya tahun-tahunnya bertambah tetapi kita tidak perlu menua menjadi tua-renta melainkan awet muda dan produktif.
Buku lain yang dianjurkan untuk disimak adalah buku Aubrey de Grey (dibantu Michael Ray) “Ending Aging: The Rejuvenation Breakthroughs that Could Reverse Human Aging in Our Lifetime” diterbitkan 2007. Informasi juga dari bahan bacaan internet yg sangat banyak, de Grey adalah biomedical gerontologist. Buku itu mengulas usulan penelitian mengenai tatacara medis regeneratif yang secara berkala memperbaiki kerusakan, jadi menghilangkan penuaan sebagai penyebab kekurang-mampuan dan kematian manusia serta mengembalikan tubuh ke keadaan muda-belia kembali untuk selamanya. Rencana proyek itu dinamakannya “Strategies for Engineered Negligible Senescence” (strategi mencapai “penuaan yang tak berarti” melalui rekayasa), atau “SENS”;de Grey memberi alasan bahwa mengalahkan penuaan itu dimungkinkan dan dapat dicapai dalam beberapa dasawarsa mendatang. Ia menjelaskan langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk mempercepat perkembangan perlakuan-perlakuan kedokteran regeneratif yang menyelamatkan hidup. Istilah SENS yang mulai diperkenalkannya dalam buku de Grey tahun 1999, tetapi kemudian diperkenalkan dengan istilah singkat “strategies” dalam kata pengantar makalahnya Time to Talk SENS: Critiquing the Immutability of Human Aging, dengan alasan bahwa yang dicari adalah pendekatan yang bertujuan dan bukannya pendekatan yang dibimbing oleh keingin-tahuan mengenai sains penuaan dan potensi kaedah-kaedah tindakannya. Aubrey de Grey mengusulkan 7 strategi yang dinamainya SENS mengatasi Tujuh Dosa Maut:
1. Kehilangan sel dapat diperbaiki hanya dengan latihan fisik untuk otot-otot; untuk jaringan lain diperlukan factor-faktor pertumbuhan untuk menggertak pembelahan sel dan dalam hal tertentu diperlukan sel punca.
2. Sel menua dapat dihilangkan dengan mengaktifkan sistem imun terhadap mereka. Atau dapat juga memakai terapi gen untuk masuknya gen bunuhdiri yang selektif hanya membunuh sel-sel menua.
3. Hubungan melintang (cross linkages) protein dapat dibalikkan dengan obat-obat yang memecahkan hubungan-hubungan melintang itu. Namun beberapa hubungan menuntut kerja enzim.
4. Limbah extrasel seperti amyloid dapat dieliminasi dengan vaksinasi yang membuat sel imun memakan zat-zat limbah.
5. Untuk buangan extraseluler diperlukan enzim-enzim baru (misalnya enzim bakteri tanah yang mampu mendegradasi lipofusin dimana sel tubuh tidak mampu melakukannya sendiri.
6. Untuk mutasi mitokhondria maka rencananya bukanlah untuk memperbaikinya melainkan mencegah bahaya yang timbul dari mutasi dengan memasukkan kopi-kopi gen mitokhondria yang dimodifikasi kedalam inti sel melalui terapi gen. DNA mitokhondria mengalami kerusakan mutagenik yang parah karena banyak radikal bebas akan dibentuk di mitokhondria. Satu kopi DNA mitokhondria yang terdapat di inti sel akan lebih terlindung terhadap radikal bebas dan karenanya akan diperoleh kemampuan reparasi DNA apabila kerusakan terjadi. Semua protein mitokhondria akan diimpor kedalam mitokhondria.
7. Untuk kanker (konsekwensi dari mutasi yang sangat letal) strateginya memakai terapi gen untuk menghapus gen-gen telomerase dan membuang mekanisme-mekanisme yang telomerase-indipenden yang mengubah sel normal menjadi bersifat kanker yang abadi itu. Untuk kompensasi kehilangan telomerase pada sel-sel punca diperlukan pemasukan sel-sel punca baru setiap decade.
Menurut de Grey penyebab-penyebab penuaan ada tujuh yaitu:
1. Kehilangan sel atau atrofi (tanpa penggantian)
2. Mutasi nukleus onkogenik dan epimutasi
3. Senesens sel (sel resisten terhadap kematian)
4. Mutasi mitokhondria
5. Penumpukan intrasel (agregat lisosomal)
6. Penumpukan extrasel atau penumpukan diluar sel (agregat extraseluler)
7. cross-linking extraseluler secara acak
Singkatnya, ide dari de Grey menerangkan bahwa metabolisme (atau hidup) menimbulkan kerusakan sebagai dampak sampingannya dan jika jumlah kerusakan itu menumpuk mencapai suatu nilai ambang maka ia mengakibatkan patologi. Patologi akan menimbulkan lebih banyak lagi patologi dan makin cepat keadaan menurun menuju ke kematian. Karena itu usulan de Grey bukanlah mengutak-atik metabolisme yang kurang lengkap dimengerti itu atau memfokuskan kepada patologi yang akhirnya membenamkan manusia, melainkan harus memfokus kepada reparasi kerusakan sebelum terjadi penumpukan yang berakibat terjadinya patologi. Dibayangkan tindakan rejuvenasi pada orang setengah baya dan dengan memperbaiki separo kerusakan-kerusakannya, maka pribadi ini diperpanjang waktu hidupnya cukup lama hingga masih hidup untuk “menyaksikan” perkembangan teknologi rejuvenasi yang meningkat sedemikian cepat sampaikepada tindakan rejuvenasi berikutnya dari pribadi tersebut, yang katakanlahdapat memperbaiki 75%, yang tentu akan memperpanjang rentang hidupnya lagi dan memberi peluang lagi bagi kesaksian perkembangan rejuvenasi yang lebih efektif lagi dst.
Pendekatan serupa SENS yang semula diperkenalkan David Gobelco-founder Yayasan Methuselah (nama orang tertua yang pernah hidup di dunia) ialah Longivity Escape Velocity (LEV). Aubrey de Grey mendukung pemakaian istilah itu malahan memberikan pembenaran artinya dengan gagasan strategi rejuvenasi diatas. Jadi LEV yang berarti Pemanjangan Usia Meninggalkan/Mendahului Kecepatan Pemanjangannya,dipandang lebih tepat dan LEV lebih andal dari SENS. Kurzweilpun mendukung pendekatan LEV.
Era mendatang yang menjanjikan kemajuan-kemajuan bagi perpanjangan usia manusia itu amat menyenangkan dan membahagiakan. Barangkali hanya satu aspek negatif yang dapat kita kemukakan yaitu bahwa kemajuan-kemajuan itu hanya dapat dinikmati oleh mereka yang secara materi/finansial mampu yang berarti bahwa bagi rakyat miskin negara berkembang tetap saja terpinggirkan. Tetapi lepas dari persoalan ini, saya merasa bahwa ada persoalan yang lebih merisaukan pada era itu nanti yaitu munculnya Era Singularity yang didasari oleh timbulnya kemampuan artificial intelligence, AI. Pada saat ini manusia belum mampu memahami dan menjelaskan apa itu dimensi abstraksi berfikir/pekerjaan mental.Tentunya akan terungkap bahwa ada dasar neurologi dari fungsi abstraksi-psikologi itu. Kita mampu merasakan akibat penerimaan rangsangan(persepsi) sensoris (oleh penginderaan) dan mampu memperoleh sensasi serta melokalisasi tempat anatomis mana yang merasakan terkena rangsangan (kemampunan mental: proyeksi) meskipun kita tahu persyaratan aspek ilmiahnya, bahwa rangsangan syaraf sensoris itu harus terlebih dahulu merambat mencapai sel-sel neuron cortex cerebrum sensoris otak, baru ada kesadaran sensasi lokal anatomis, rasa dan psikologi apa yang terjadi di periferi (proyeksi). Pikiran abstrak, memori dan fungsi-fungsi tinggi daya-fikir manusia, kini belum dapat dijelaskansegi ilmiah dasar hubungan dgn zat materialnya. Apalagi yang menyangkut pilihan kehendak bebas dan inisiatif. Jadi karena dimasa sekarang belum dapat dimengertiapa itu fungsi mental/daya-fikir/kesadaran, maka sukar dibayangkan apa dan bagaimanakah intelligensi itu dapat direka secara buatan?
Di tahun 1959 sewaktu penulis menjalani training dalam fisiologi di LSU Medical School di New Orleans dibawah bimbingan Dr. George D. Davis, beliau sedang melakukan riset pada M. rhesusmengenai hubungan pusat-pusat di otak dengan kemampuan belajar. Hewan-hewan experimen itu dilatih mengenali kotak bertutup yang diwarnai kuning atau biru dan sebutir buah anggur ditempatkan dalam kotak dengan warna tertentu diantara keduanya. Letak kotak diacak dan kera percobaan dilatih sehingga mampu mengasosiasikan adanya buah anggur dengan warna tertentu tersebut. Setelah dicapai kriteria mahir (>95% betul pada uji kepandaiannya), maka kera menjalani perusakan pusat diotak secara operatif dengan bantuan alat stereotaksi. Waktu itu dipelajari pengaruh kerusakan berbagai pusat seperti perlukaan di substansia nigra, globus pallidus, corpus striatum, nucleus caudatus, corpus callosum,putamen dll. Hasilnya kerusakan pusat-pusat tertentu memang menyebabkan kemunduran kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari. Ditambah dengan hasil-hasil dari berbagai experimen di bidang neurosains dan kasus-kasus klinik matisuri hidup tanpa kesadaran,maka jelas bahwa fungsi mental dan kesadaran mempunyai dasar neurologi.
Sinyal sensoris berasal dari sel penginderaan yang diteruskan oleh neuron sensoris ke SSP dimana neuron-neuronnya adalah sel yang fungsinya menciptakan/menerima sinyal syaraf yang lalu dirambatkan melalui tali syaraf ke neuron-neuron lain melalui sinaps-sinaps (hubungan neuron satu dengan yang lain) dan ke efektor motorik. Rambatan sinyal di permukaan neuron dan di tali syaraf termasuk fenomena listrik berdasarkan teori core conduction menurut model Hodgkin dan Huxley yang menyatakan bahwa sinyal merambat sebagai potensial aksi yaitu ion channelsyang voltage gated di membran sel (termasuk axonnya) membuka dan memungkinkan ion-ion masuk kedalam sel dan dengan begitu membuat channel-channel didekatnya ketularan juga membuka dst. Kita bayangkan bahwa aliran listrik (aliran aksi potensial) itu melalui konduktor yang ada unsur-unsur kapasitornya sehingga kecepatan alir sinyal jauh tidak secepat aliran listrik pada kawat.Di tahun 2005 dimunculkan teori rambatan sinyal syaraf menurut model Soliton yang menjelaskan bahwa sinyal merambat sebagai pulsa-pulsa “suara” yang dikenal dengan istilah soliton. Di SSP banyak terdapat hubungan sinaps dan neuron-neuron saling mempengaruhi menggertak atau menghambat sinyal-sinyal. Seperti telah disebutkan didepan maka komunikasi antar neuron di sinaps-sinaps dan di sambungan neuron-efektor berlangsung memakai perantaraan nurotransmiter. Zat-zat ini di sel disintesis secara reaksi enzim, dan enzim (protein) dibuat memakai bantuan siatem sandi DNA/RNA. Dengan demikian maka fungsi syaraf termasuk fungsi mental tidak terkecuali sepertiuntuk sifat tubuh lain, juga tersandikan dalam DNA.Dengan demikian fungsi mental juga tersandikan dalam gen DNA dan ada peluang kerusakan fungsi mental juga dapat diatasi dengan terapi gen. Jadi tentu ada peluang merubah fungsi mental (dan consciousness) dengan me-reprogram gen-gen yang terkait.
Peningkatan kemampuan otak memakai nanobot. Judul pembahasan serial di internet “Brain Augmentation via nano robots”Nano Future 2030,menampilkanJohn Burch 27 Desember, 2006 menulis posting yang isinya mengexplorasi upaya meningkatkan daya-fikir menggunakan nanoteknologi.Pada waktu sekarang orang mengggunakan teknik operasi untuk menanam sensor-sensor pada permukaan otak manusia lalu menyadap sinyal-sinyal untuk mengontrol cursor komputer. Kita ingin menjangkau lebih jauh dengan menyambungkan tambahan memori, menambah fungsionalitas dan memungkinkan sambungan penglihatan dan pendengaran ke internet. Bagaimana melakukannya kalau tidak dengan bantuan nanotech? Nanotek memungkinkan penambahan perangkat keras ke otak tanpa resiko bahaya pembedahan meskipun dengan augmentasi nanotech di awal-awal upayanya itu juga ada resikonya.Burch mengacu gagasan dari seseorang yang ia lupa siapa namanya, yaitu membayangkan memasukkan sercara perlahan satu per satu perangkat keras yang jauh lebih kecil dari neuron. Perangkat keras itu menirukan semua fungsi si neuron otak. Kalau secara perlahan perangkat-perangkat keras mini ini katakanlah dalam 6 bulan dimasukkan satu per satu ke otak, maka tiba saatnya nanorobot itu menginstal program-program neuron satu sel per satu sel, maka setelah 6 bulan itu tanpa disadari orang tersebut,nanobot telah melakukan fungsi otaknya mengikuti fungsi perangkat keras pengganti dengan kemampuan yang menakjubkan. Perangkat ini dapat bekerja sejuta kali lebih cepat dari otak biologis yang lama dan ia mempunyai ruangan untuk memori yang seribu kali lebih luas dan ingat bahwa ia adalah otak anda, salinan sebenarnya dari struktur dan kepribadian yang berlaku sebelum konversi. Ia memiliki sistem kerja yang memungkinkan anda untuk mengontrol kecepatan pemrosesan dari 100 mdetik sewaktu menggunakan otak yang lama menjadi hanya 50 nanodetik saja berarti 20 juta kali lebih cepat, sedangkan pelaksanaan expresi dari fikiran itu tetap mengikuti kelambanan/keterbatasan fisik alat-alat tubuh (mis. darah, tengkorak, seberapa cepat tubuh dapat bergerak) dan berinteraksi secara normal dengan dunia luar.Karena nanobots itu kecilan dari sel neuron asli, maka ada ruangan yang kosong di tengkorak yang dapat menerima tambahan nanobot-nanobot tambahan, jadi kemampuan otak bertambah.Burch beberapa kali menambahkan posting a.l. Maret, April, Nov 2007 dan Jan 2010. Antara lain dijelaskan upaya meng-augment cell yang berarti meng-augment seluruh tubuh, dan disebutkan juga ramalan urutan kejadian menuju augmantasi. Jadinya nampaknya yang penting adalah fungsi daya-fikir katimbang badan, kemampuan daya-fikirlah yang dianggap kehidupan, sedangkan badan dapat diganti sehingga senantiasa dapat dipilihkan yang sehat, berarti jasmaniah awet muda tetapi bukan manusia biasa melainkan menjadihumanoid cybernetic organism (cyborg).
Seperti saya singgung diatas, kita tidak bisa memperkirakan dimensi kekuatan yang mendasari pemilihan kehendak bebas dan inisiatif. Kita dapat memperkirakan akan adanya 2 kemungkinan yang bisa terjadi yaitu kearah positif dan negatif. Kalau negatif asosial maka masyarakat akan jadi kacau memperlihatkan fenomena Darwinisme sosial yang berkepanjangan, lebih hebat, karena augmented, dari kekacauan dunia penuh egoisme dan korupsi seperti yang kita alami sekarang ini. Jadi, etika moral berakhlak tinggi tetap kita perlukan dalam kehidupan sepanjang masa.Bukankah dengan demikian seyogyanya pengembangan iptek perlu dikawal ketat agar tidak keluar dari rel untuk kemaslahatan umat manusia?Namun bagi kebanyakan dari kita kemungkinan mengalami masa itu sangat amat kecil atau malahan tidak ada sama sekali. Dus, untuk masa depan anak-cucu sajalah! Salam sejahtera.

Daftar Bacaan.
Y.M. Wong & Peter K.B. Lim. Aging – The New Perspective. Educattional Resource Jointly Produced By Regenesis Medical Clinic Camden Medical Centre Singapore and Elixit Health Ltd Regional Distrubution Centre Singapore.
All Articles© 2010 KurzweilAINetwork(http://www.kurzweilai.net/articles)
Wilkipedia. The free encyclopedia. Fantastic Voyage: Live Long Enough to Live ForeverRodale Books, ISBN 1-57954-954-3, 2004, A book authored by Ray Kurzweil and Terry Grossman.
Reprogramming your Biochemistry for Immortality: An Interview with Ray Kurzweil by David Jay Brown, March 8, 2006. This interview will be published in Brown’s upcoming book Mavericks of Medicine (2006). Published on KurzweilAI.net March 8, 2006.
Ending Aging: The Rejuvenation Breakthroughs that Could Reverse Human Aging in Our Lifetime . A 2007 book written by Aubrey de Grey, a biomedical gerontologist, with his research assistant Michael Rae, St. Martin’s Press, Sept. 4, 2007, ISBN: 0312367066.
“Brain Augmentation via nano robots”Nano Future 2030. http://www.nanofuture2030.com/?p=12; http://www.google.co.id/#hl=id&source=hp&biw=974&bih=317&q=se+of+nanorobots+to+augment+neural+functions%22&btnG=Penelusuran+Google&aq=f&aqi=&aql=&oq=se+of+nanorobots+to+augment+neural+functions%22&fp=f56bacbeab1ffe8b